Khamis, Julai 12, 2018

10 Janji Allah Kepada Orang Mukminin


Ketahuilah bahwa di dalam Al Quran Allah swt menjanjikan 10 perkara kepada orang mukmin, yaitu :

1. Menjanjikan kesabaran dengan pahala.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS.az-Zumar:10)
Sabar dalam tiga keadaan iaitu :
1.    Sabar ketika melaksanakan kefardhuan yang diperintahkan Allah.
2.    Sabar dalam menjauhi segala larangan Allah.
3.    Sabar dalam menghadapi segala musibah yang diberikan Allah.

2. Menjanjikan syukur dengan tambahan (nikmat).

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ
Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu Memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan Menambah (nikmat) kepadamu.” (QS.Ibrahim:7)
Aisyah menegur ketika melihat Rasulullah Sollahu Alaihi Wasallam pecah-pecah kakinya justeru terlalu kuat beribadah, lalu kata Rasulullah Sollahu Alaihi Wasallam :

أفلا أحب أن أكون عبداً شكوراً
Tidakah boleh aku menjadi hamba yang bersyukur.

3. Menjanjikan infaq dengan ganti dari-Nya.

 وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ
“Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan Menggantinya.” (QS.Saba’:39)
Al-Baqarah Ayat 261

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
261. Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui

4. Menjanjikan yang mengingat Allah, pasti diingat oleh-Nya.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ
 “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan Ingat kepadamu.” (QS.al-Baqarah:152)
علامة إعراض الله تعالى عن العبد؛ هو إشتغاله بما لا يعنيه فمن ذهبت ساعة من عمره فى غير ما خلق له جدير بأن تطول حسرته يوم القيامة. ومن جاوز الأربعين ولم يغلب خيرُه شرّه فليتجهّز إلى النار.
Tanda Allah tidak peduli kpd seseorg...
Buat perkara tdk ada manafaat, melakukan perkara yg bukan jad isebab ia diciptakan dan bila dah sampai 40 tahun jahatnya masih lagi lebih dari baiknya. Jika berlaku kesemua ini makan bersiap-siaplah kamu untuk mash neraka.

 Al-Ahqaf Ayat 15

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
15. Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri

5. Menjanjikan tawakal dengan kecukupan.

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan Mencukupkan (keperluan)nya.” (QS.at-Thalaq:3)
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ﴿٥٨ الفرقان﴾

Ambil pengajaran dari kisah Semut dengan Nabi Sulaiman alaihissalam.

6. Menjanjikan takwa dengan jalan keluar.

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Membukakan jalan keluar baginya.” (QS.at-Thalaq:2)
Kisah Raja dengan Sialim yang ditangkapnya.

7. Menjanjikan doa dengan ijabah.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhan-mu Berfirman, ”Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku Perkenankan bagimu.” (QS.Ghofir:60)

Doa Nabi Ayyub ini disebutkan dalam Surat Al Anbiya’ ayat 83-84.

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ . فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ وَآَتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَى لِلْعَابِدِينَ

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah disentuh bahaya (musibah/penyakit) dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadaya dan Kami lipatgandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah” (QS. Al Anbiya’ : 83-84

8. Menjanjikan yang menolong (agama) Allah dengan pertolongan dari-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan Menolongmu.”(QS.Muhammad:7)


Apa yang dimaksud dalam surat-surat tersebut diatas ” Menolong Agama Allah ” ?

وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

Artinya : “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (QS. Al Hajj : 40)
Ath Thobari mengatakan bahwa makna dari “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.” Yaitu Allah swt pasti meonolong orang-orang yang berperang di jalan-Nya agar kalimat-Nya tinggi terhadap musuh-musuh-Nya. Maka makna pertolongan Allah kepada hamba-Nya adalah bantuan-Nya kepadanya sedangkan makna pertolongan hamba-Nya kepada Allah adalah jihad orang itu dijalan-Nya untuk meninggikan kalimat-Nya.” (Tafsir At Thobari juz XVII hal 651

9. Menjanjikan istighfar dengan ampunan.

وَمَن يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّهَ يَجِدِ اللّهَ غَفُوراً رَّحِيماً
“Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS.an-Nisa’:110)

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الأَخِيْرِ يَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِيْ فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ, مَنْ يَسْأَلُنِيْ فَأُعْطِيَهُ, مَنْ يَسْتَغْفِرُنِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni


10. Menjanjikan yang menjauhi dosa-dosa besar dengan lunturnya dosa-dosa.
إِن تَجْتَنِبُواْ كَبَآئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

 “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami Hapus kesalahan-kesalahanmu.” (QS.an-Nisa’:31)

Semoga kita tergolong sebagai hamba yang dapat meraih janji-janji Allah untuk orang-orang mukmin

Umor 40 ke 90

سؤال: أولى رسائل هذه الحلقة رسالة وصلت إلى البرنامج من إحدى الأخوات المستمعات تقول: المرسلة ( نورة . أ. أ) من الرياض، أختنا لها ستة أسئلة في سؤالها الأول تقول: ما صحة هذا الحديث جزاكم الله خيرا: روى الحافظ الموصلي عن عثمان  عن النبي ﷺ قال: العبد المسلم إذا بلغ أربعين سنة خفف الله تعالى حسابه، وإذا بلغ ستين سنة رزقه الله تعالى الإنابة إليه، وإذا بلغ سبعين سنة أحبه أهل السماء، وإذا بلغ ثمانين سنة ثبت الله تعالى حسناته ومحا سيئاته، وإذا بلغ تسعين سنة غفر الله ما تقدم من ذنبه وما تأخر وشفعه الله تعالى في أهل بيته وكتب في السماء أسير الله في أرضه أخرجه الحافظ الموصلي ، وروي من غير هذا الوجه في مسند الإمام أحمد . ثم إني قرأت هذا الحديث في كتاب مختصر تفسير ابن كثير جزاكم الله خيرا، وإذا كان هذا الحديث صحيحاً فاشرحوه لنا بالتفصيل؟ جزاكم الله خيرا. 

Ahad, Julai 01, 2018

10 Sifat Zalim Menurut Sufiyah Ath Thani


Ulama sufi Sufiyah Ath-Thani menyebut 10 jenis sifat zalim yang selalu melingkari hidup manusia. Berikut dicatatkan sifat zalim untuk renungan bersama. Dengan kekuatan jiwa insya-Allah kita akan dapat berusaha menghindarkannya daripada membenih di dalam diri.

📪 PERTAMA 👉 SOLAT JUMAAT
orang yang sampai atau singgah di sesuatu tempat pada Jumaat, dia sengaja mengelak diri dan tidak mahu menunaikan solat Jumaat, sedangkan orang ramai menunaikannya.

Firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

يَآاَيُّهَاالَّذِيْنَ ءٰمَنُوْآإِذَانُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللهِ وَذَرُواالْبَيْعَ ۗ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan solat Jumaat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”(al-Jumu’ah: 9)

📪 KEDUA 👉 MELALUI PERKUBURAN
orang yang melintasi kawasan perkuburan tetapi tidak mahu mengucapkan 'Assalamualaikum' kepada penghuni kubur.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian

📪 KETIGA 👉 SOLAT TAHIYYATUL MASJID
Orang yang masuk ke dalam masjid, tetapi keluar semula tanpa mengerjakan solat sunat Tahiyyatul Masjid sebanyak dua rakaat.

Sabda baginda Sollahu alaihi wasallam

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ
(رواه البخاري)

Maksudnya: “Apabila seseorang daripada kamu masuk ke dalam masjid, maka janganlah dia duduk sehinggalah dia mendirikan solat dua rakaat (tahiyyat) terlebih dahulu.” (Hadits riwayat al-Bukhari)

📪 KEEMPAT 👉 ENGGAN BACA AL QURAN

Orang yang tahu membaca al-Quran, tetapi tidak mahu membacanya sekurang kurangnya satu ayat sehari. Tetapi jika seorang yang menunaikan solat lima waktu setiap hari, pasti dia akan membaca lebih daripada 100 ayat.

Sabda baginda Sollahu alaihi wasallam

الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ وَهُوَ مَاهِرٌ بِهِ مَعَ السَّفَرَةِ الكِرَامِ البَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أجْرَانِ ))متفقٌ عَلَيْهِ

“Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.”
[Al Bukhari 4937, Muslim 244]

📪 KELIMA 👉 ORANG DOAKAN UNTUK DIRINYA SAHAJA

Orang yang berdoa untuk kebaikan diri sendiri dan tidak mendoakan kesejahteraan orang lain. Termasuklah seorang imam yang hanya mendoakan untuk dirinya saja, sedang makmum turut sama mengaminkan doa yang dibacanya.

Sabda baginda Sollahu alaihi wasallam

ثَلَاثٌ لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَفْعَلَهُنَّ : لَا يَؤُمُّ رَجُلٌ قَوْمًا فَيَخُصُّ نَفْسَهُ بِالدُّعَاءِ دُونَهُمْ

Tiga hal yg tidak halal bagi seseorang untuk melakukannya (salah satunya disebut):

Janganlah seseorang mengimami suatu kaum dia berdoa untuk dirinya sendiri tanpa mereka. (HR. At Tirmidzi no. 357, Abu Daud no. 90. Imam At Tirmidzi mengatakan: Hasan)

📪 KEENAM 👉 ORANG TIDAK AMBIL MANAFAAT ILMU ORANG ALIM

Apabila seorang alim dan berilmu pengetahuan datang ke sesebuah tempat tidak ada yang datang untuk menuntut ilmu daripadanya, sedangkan dia dihantar ke tempat itu untuk memberi tunjuk ajar, khususnya dalam bidang keagamaan.

Sabda baginda Sollahu alaihi wasallam

وَإِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ ، لَمْ يُوَرِّثوا دِيْنَارًا ، وَلَا دِرْهَمًا ، إِنَّمَا وَرّثوا العِلْمَ ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Maksudnya: “Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi. Sungguhpun para nabi tidak mewariskan dinar atau dirham tetapi mereka telah mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil warisan tersebut maka dia telah mengambil bahagian yang banyak.”. [Riwayat Abu Daud (3157)][Menurut Syeikh al-Arna’outh hadith ini adalah hasan dengan syawahidnya]

Sabda baginda Sollahu alaihi wasallam

مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

Maksudnya: “Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang tukang besi. Adapun, penjual minyak wangi akan memberi kamu (minyak wangi tersebut), atau kamu membeli daripadanya, atau kamu mendapat bau yang harum daripadanya. Sedangkan tukang besi pula, akan membakar bajumu dan juga kamu  mendapatkan bau yang busuk.” [Riwayat al-Bukhari (5534) dan Muslim (2628)]

📪 KETUJUH 👉 ORANG YANG TIDAK MEMENUHI JEMPUTAN

Orang yang dijemput untuk menghadiri sesuatu majlis tetapi sengaja tidak menghadirkan diri tanpa alasan munasabah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : .... وَمَنْ لَمْ يُجِبْ الدَّعْوَةَ فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَرَسُولَهُ "

Dari Abi Hurairah ra
Sesiapa yang tidak hadir jemputan orang sesungguhnya dia berdosa dengan Allah dan rasulNya
(Muttafaqun alaihi)

📪 KELAPAN 👉 ORANG YANG TIDAK BERTANYAKAN NAMA

Dua orang yang bertemu dalam perjalanan lalu mereka berbual mesra, namun tidak bertanyakan nama masing-masing.

📪 KESEMBILAN 👉 ORANG YANG TIADA KERJA DAN TIDAK MENUNTUT ILMU

Orang yang tidak mempunyai sebarang pekerjaan, tetapi tidak pula mengambil kesempatan daripada masa yang terluang untuk mencari ilmu pengetahuan.

Mari kita lihat sejenak beberapa hadith kelebihan orang yang bekerja sendiri :

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عُمَّالَ أَنْفُسِهِمْ

Maksudnya : ”Bahawasanya sahabat-sahabat Rasulullah itu bekerja sendiri [Sahih Bukhari, Hadith No 1929]

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

Maksudnya : ”Tidaklah seseorang itu makan makanan melainkan lebih baik ia makan dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Daud ‘Alaihissalam menikmati makan hanya dari hasil usahanya sendiri” [Sahih Bukhari, Hadith No 1930]

📪 KE 10 👉 ORANG YANG TIDUR SEDANGKAN JIRANNYA LAPAR

Orang yang tidur dalam kekenyangan, sedangkan jiran atau penduduk di sekitar tempat tinggalnya menderita kelaparan.

لَيْسَ المُؤْمِنُ الَّذِيْ يَشْبَعُ وَ جَارُهُ جَائِعٌ إلى جَنْبِهِ

Bukanlah seorang mukmin, orang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya. (HR Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad no: 112)

خَيْرُ الأصْحَابِ عِنْدَ الله خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَ خَيْرُ الجِيْرَانِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

Sebaik-baik sahabat adalah yang paling baik terhadap sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik terhadap tetangganya. (HR Tirmidzi no: 1867, Shahih)

Apakah kita tergolong dalam salah satu golongan di atas? Fikir-fikirkan lah..

Sabtu, Jun 30, 2018

TANDA KALAH HUJAH ADALAH SERANG PERIBADI

TANDA KALAH HUJAH ADALAH SERANG PERIBADI

Oleh: Abdullah Bukhari bin Abdul Rahim.

Tadabbur ringkas juzuk 25 sempena hari ke 25 Ramadhan (Surah al-Zukhruf).

Selepas meneliti beberapa surah yang membicarakan dialog Fir’awn dengan nabi Musa, saya boleh katakan dia adalah MAHAGURU POLITIK JAHAT LICIK seluruh dunia. Dalam surah al-Zukhruf Allah sebut bagaimana Fir’awn menyerang peribadi nabi Musa AS. Firman Allah:

وَنَادَى فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَاقَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي أَفَلَا تُبْصِرُونَ (51) أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ (52)

Ertinya: Dan Firaun pula menyeru (dengan mengisytiharkan) kepada kaumnya, katanya: "Wahai kaumku! Bukankah kerajaan negeri Mesir ini - akulah yang menguasainya, dan sungai ini mengalir di bawah (istana) ku? Tidakkah kamu melihatnya?  "Bahkan bukankah aku lebih baik daripada orang yang hina keadaannya ini, dan yang hampir-hampir tidak dapat menjelaskan perkataannya? (al-Zukhruf  43:51-52).

Fir’awn menyerang peribadi nabi Musa dengan gelaran "HINA dan GAGAP CAKAP TAK JELAS" bagi mempengaruhi rakyatnya, sedangkan ia tiada kaitan langsung dengan isi dakwah baginda. Ini tanda Fir’awn sudah muflis  hujah. Pun begitu, ada juga para pengikutnya yang fanatic dengan Fir’awn dan menerima teknik serang peribadi itu.

Bukan hanya teknik serang peribadi, Fir’awn turut menggunakan beberapa kaedah lain bagi mempengaruhi rakyatnya yang bodoh, iaitu:

1) Memainkan isu patriotism dan kepentingan menjaga kedaulatan Negara. Sering didengar dialog ini: “Jangan gadai nasib bangsa, negara dan anak cucu dengan menyokong parti itu. Pemimpinnya adalah AGEN ASING YANG MAHU MENGGADAI NEGARA.” Lihat apa yang Fir’awn ucapkan kepada kaumnya:

قَالَ لِلْمَلَإِ حَوْلَهُ إِنَّ هَذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ (34) يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ (35)

Ertinya: Firaun berkata kepada ketuaketua kaum yang ada dikelilingnya: "Sesungguhnya orang ini (Musa) ialah seorang ahli sihir yang mahir. "DIA BERTUJUAN HENDAK MENGELUARKAN KAMU DARI NEGERI KAMU DENGAN SIHIRNYA, maka apa yang kamu syorkan?" (al-Syu’ara’[26:34-35]).

2) Memutar belit fakta. Yang fakta dikatakan auta, manakala auta diyakinkan sebagai fakta. Lihat sahaja nasib Islam yang nampak sesat, jahat lagi hina dengan label pengganas oleh media Barat yang dipegang oleh pembenci Islam. Ini juga strategi Fir’awn di kala pakar sihirnya tersungkur kalah pada mukjizat nabi Musa AS:

قَالَ آَمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آَذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلَسَوْفَ تَعْلَمُونَ لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ

Ertinya: Firaun berkata: "Patutkah kamu beriman kepadanya sebelum aku izinkan kamu? SESUNGGUHNYA DIA LAH (MUSA) KETUA KAMU YANG MENGAJAR KAMU ILMU SIHIR; oleh itu kamu akan mengetahui kelak (akibatnya). Demi sesungguhnya, aku akan memotong tangan dan kaki kamu dengan bersilang kemudian aku akan memalang kamu semuanya" (al-Syu’ara’[26:49]).

Tuduhan palsu ke“KETUA”an nabi Musa AS ke atas para ahli sihir turut disebut dalam surah lain:

قَالَ فِرْعَوْنُ آَمَنْتُمْ بِهِ قَبْلَ أَنْ آَذَنَ لَكُمْ إِنَّ هَذَا لَمَكْرٌ مَكَرْتُمُوهُ فِي الْمَدِينَةِ لِتُخْرِجُوا مِنْهَا أَهْلَهَا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Ertinya: Firaun berkata: "Patutkah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepada kamu? SESUNGGUHNYA INI ADALAH PERBUATAN TIPU DAYA YANG KAMU (WAHAI MUSA DAN AHLI SIHIR) LAKUKAN DALAM BANDAR INI KERANA KAMU HENDAK MENGELUARKAN PENDUDUKNYA DARI PADANYA. Oleh itu, kamu akan mengetahui (akibatya) (al-A’raf[7:123]).

Tuduhan Fir’awn sebenarnya sangat mengarut kerana Musa AS belum pernah bertemu dengan seluruh pakar dan johan sihir dalam empayar Mesir, namun kenyataan tersebut tetap dikeluarkan Fir’awn sejurus kekalahannya. Mengapa? Tidak lain, ini antara strategi Fir’awn bagi mengelirukan sesetengah rakyatnya yang bodoh. Strategi inilah yang banyak digunakan oleh sesetengah ahli politik sepanjang zaman bagi mengekalkan kuasanya.

Dunia ini berputar dengan putaran yang sama daripada dahulu sehingga kiamat. Kisah lampau dinamakan sejarah, namun paparannya tetap sama. Yang berbeza hanya masa, lokasi dan watak yang memainkan peranan dalam sejarah. Semoga kita selamat daripada teknik politik anak-anak murid atau anak cucu Fir’awn.

RASULULLAH SAW SIMPAN DOA TERBAIK DEMI UMAT

RASULULLAH SAW SIMPAN DOA TERBAIK DEMI UMAT

Oleh: Abdullah Bukhari bin Abdul Rahim.

Jika ada sebiji peluru ditembak tepat ke dada Rasulullah SAW, kita wajib segera tampil menahan dada bagi menyelamatkan baginda. Biar kita cedera atau mati, jangan Rasulullah SAW!! Inilah yang dilakukan oleh para sahabat pada zaman Rasulullah dahulu. Contohnya, dalam perang Uhud ketika tentera Musyrikin Quraysh datang menerpa, sejumlah besar sahabat nabi gugur syahid kerana menggadai tubuh mereka mempertahankan baginda. Bahkan jari Talhah cedera parah kecacatan kerana mempertahan baginda dalam kegemparan perang Uhud:

عَنْ قَيْسٍ قَالَ رَأَيْتُ يَدَ طَلْحَةَ شَلَّاءَ وَقَى بِهَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ أُحُدٍ

Ertinya: Qays berkata: “Aku lihat tangan Talhah (bin ‘Ubaydillah RA) lumpuh tidak bergerak (kerana) menggunakannya untuk mempertahankan nabi SAW dalam perang Uhud (Sahih al-Bukhari & Sunan al-Nasa’i).

Subhanallah! Hebat sekali pengorbanan para sahabat. Pun begitu, semua pengorbanan itu masih kecil jika mahu dibandingkan pengorbanan baginda yang “satu ini” iaitu PENGORBANAN MENYIMPAN DOA MUSTAJAB UNTUK UMATNYA. Sabda Rasulullah SAW:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا

Ertinya: Abu Hurayrah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Setiap nabi memiliki doa (khusus) yang akan dikabulkan. Setiap nabi tergesa-gesa menggunakan doanya. (Manakala) aku menyimpan doaku untuk memberi syafa'at kepada ummatku (kelak) pada hari kiamat. Ia (habuan syafaat) itu akan diperolehi oleh orang yang mati antara umatku yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun” (Sahih Muslim)

Jika diperhatikan, para nabi lain sudah menggunakan doa istimewa yang diperuntukkan Allah pada mereka seperti nabi Nuh AS:

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا (26) إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا (27)

Ertinya: Dan Nabi Nuh (merayu lagi dengan) berkata: "Wahai Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan seorangpun dari orang kafir itu hidup di atas muka bumi! "Kerana sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka (hidup), nescaya mereka akan menyesatkan hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan anak melainkan yang berbuat dosa lagi kufur ingkar (Nuh [71:26-27]).

Juga nabi Saleh AS:

وَيَاقَوْمِ هَذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ قَرِيبٌ (64) فَعَقَرُوهَا فَقَالَ تَمَتَّعُوا فِي دَارِكُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ ذَلِكَ وَعْدٌ غَيْرُ مَكْذُوبٍ (65) فَلَمَّا جَاءَ أَمْرُنَا نَجَّيْنَا صَالِحًا وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ بِرَحْمَةٍ مِنَّا وَمِنْ خِزْيِ يَوْمِئِذٍ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ (66) وَأَخَذَ الَّذِينَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دِيَارِهِمْ جَاثِمِينَ (67)

Ertinya: " Dan wahai kaumku! Ini adalah unta betina daripada Allah untuk kamu sebagai tanda (mukjizat) yang membuktikan kebenaranku. Oleh itu, biarkanlah ia mencari makan di bumi Allah dan janganlah kamu menyentuhnya dengan sesuatu yang menyakitinya, (kalau kamu menyakitinya) maka kamu akan ditimpa azab seksa yang dekat masa datangnya".
Mereka kemudiannya menyembelih unta itu, lalu berkatalah Nabi Soleh kepada mereka: Bersenang-senanglah kamu di tempat masing-masing selama tiga hari; tempoh yang demikian itu, ialah suatu janji yang tidak dapat didustakan".
Maka ketika datang azab kami, kami selamatkan Soleh beserta umatnya yang beriman, dengan rahmat dari Kami, dan Kami selamatkan mereka dari azab serta kehinaan hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia lah Yang Maha Kuat, lagi Maha Kuasa. Dan orang yang zalim itu, dibinasakan oleh satu letusan suara yang menggempakan bumi, lalu menjadilah mereka mayat yang tersungkur di tempat tinggal masing-masing (Hud [11:64-67]).

Ia pernah juga digunakan oleh nabi Musa AS terhadap Fir’awn:

وَقَالَ مُوسَى رَبَّنَا إِنَّكَ آتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَأَهُ زِينَةً وَأَمْوَالًا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا رَبَّنَا لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِكَ رَبَّنَا اطْمِسْ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوا حَتَّى يَرَوُا الْعَذَابَ الْأَلِيمَ

Ertinya: Dan Nabi Musa (merayu dengan) berkata: "Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau telah memberikan kepada Firaun dan ketua kaumnya barang perhiasan dan harta benda yang mewah dalam kehidupan dunia ini. Wahai Tuhan kami! (Kemewahan yang Engkau berikan kepada mereka) akibatnya menyesatkan mereka dari jalanMu (dengan sebab kekufuran mereka). Wahai Tuhan kami! Binasakanlah harta benda mereka dan meteraikanlah hati mereka (sehingga menjadi keras membatu), maka dengan itu mereka tidak akan dapat beriman sehingga mereka melihat azab yang tidak terperi sakitnya (Yunus [10:88]).

Setelah tahu betapa sayangnya Rasulullah SAW kepada kita sehingga sanggup menyimpan doa istimewa yang diperuntukkan khusus kepada baginda untuk memberikan bantuan atau syafaat kepada kita di akhirat kelak, maka sudah sewajibnya kita semua membalas penghargaan serta menyambut cinta baginda dengan benar-benar menjadi Muslim sejati sebagaimana manual yang baginda tinggalkan.

Mungkin ada yang menganggap remeh simpanan doa syafaat di akhirat kelak. Ketahuilah! Usahkan kita, para nabi pun gentar dan resah mengenangkan kegemparan kiamat sehingga mereka mengucapkan:

نَفْسِي نَفْسِي اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي.

Ertinya: (Pada hari ini iaitu hari kiamat, urusan kalian) adalah sendiri-sendiri. Pergilah kamu meminta bantuan (syafaat) kepada nabi lain selain aku …. [ini adalah petikan pendek daripada sebuah hadith yang panjang] (Sahih al-Bukhari dan Muslim).

Ayuh! Marilah kita berdoa agar dikurniai cinta kepada Rasulullah SAW dan berpeluang mendapat siraman doa yang baginda simpan untuk kita semua di akhirat kelak. Allahumma Solli Wa Sallim Wa Barik ‘Ala Muhammad!

Beza فعل Dgn تفعل

BANYAK KALI JUMPA MAKNA DALAM KEJUTAN TANPA RANCANG.. OOOO BEGITU RUPANYA!

2-3 hari ini berbincang tentang wazan bahasa Arab dengan seorang lecturer senior CELPAD, Dr Mahadi Mas'oud. Kata beliau, antara keunikan bahasa Arab adalah perubahan WAZAN walaupun sedikit mampu membawa perubahan makna.

Contohnya WAZAN IFTA'ALA - افْتَعَلَ - membawa maksud sesuatu yang berlaku dengan perancangan. Manakala "ANTARA" peranan  WAZAN TAFA'ALA  - تَفَعَّلَ - menggambarkan  sesuatu yang berlaku tanpa perancangan.

Cthnya - اجتمع الناس بعد الصلاة - (seperti yang sudah dirancang) orang ramai berkumpul selepas solat. Ia berbeza makna dengan ayat ini - تجَمَّعَ الناس بعد الصلاة - (tanpa dirancang) orang ramai berkumpul selepas solat.

Apabila mengarahkan agar makna al-Quran diperhatikan Allah guna WAZAN - تَفَعَّلَ - iaitu perkataan TADABBARA atau TADABBUR - تَدَبُّر ...Mengapa?

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

(Setelah diterangkan yang demikian) maka adakah mereka sengaja tidak berusaha memahami serta memikirkan isi Al-Quran? Atau telah ada di atas hati mereka kunci penutup (yang menghalangnya daripada menerima ajaran Al-Quran)?

Juga terjemahan Inggerisnya:

Then, do they not give serious thought to the Qur’ān, or do they have locks on their hearts?(Muhammad 47:24).

Rupanya banyak sekali kita bertemu makna tersembunyi di sebalik ayat al-Quran ketika usaha tadabbur dilakukan. Banyak sekali terpacul daripada mulut kita sesuatu yang tak kita rancang seperti...

"OOOO! BEGINI RUPANYA MAKSUD ALLAH DALAM AYAT INI...."

Subhanallah! Kayanya bahasa Arab dan inilah sebabnya Allah guna bahasa Arab utk turunkan Firman-Nya. Ayuh kita sama2 dalami bahasa Arab agar kita benar2 faham apa yang Allah nak sampaikan pada kita.

- Abdullah Bukhari @ 27 Jun 2018 -

Tanda Orang Mendapat Hidayah Allah

Tiga ciri menurut Imam Ghazali, tanda orang mendapat hidayah Allah :

Pertama, senang beribadah. Walau sibuk macam mana pun kita masih sempat dan mengutamakan ibadah, contoh solat seawal waktu.

Kedua, payah melakukan kejahatan. Kalau ada niat hendak melakukan kejahatan, ada sahaja halangan.

Ketiga, sibuk dengan keaiban diri. Maknanya sibuk periksa diri dari segi amalan dengan Allah dan perbuatan dengan sesama manusia, hingga tiada masa hendak melihat keaiban orang.

Jom audit diri, adakah kita memiliki ciri-ciri tersebut?

Jumaat, Jun 08, 2018

KEHEBATAN SIFAT PEMAAF


PENDAHULUAN

Suatu sifat mulia yang perlu ada pada setiap mukmin ialah sifat pemaaf. Memaafkan kesalahan orang bukan suatu yang mudah. Malah ianya sangat sukar kerana hati yang telah tercalar, hati yang telah terguris sukar diubati.

ALLAH BERSIFAT PEMAAF

Satu doa yang dianjurkan kepada setiap mukmin sebagaimana doa yang dianjurkan dibaca semasa malam-malam Ramadhan. Apabila Saidatuna Aisyah ra bertanyakan baginda :

قالت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال
🤚 قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
الترمذي  حسن صحيح
Aishah bertanyakan Rasulullah, wahai Rasulallah adakah apabila aku bertemu dengan Malam Qodar, apa yang patut aku minta dengan Allah, lalu Rasulullah menjawab, katakanllah Wahai Allah yang maha pemaaf, sangat kasih kepada kemaafan, maafkanlah aku.

Oleh itu, setiap mukmin perlu dan sangat dituntut memaafkan segala kesalahan yang dilakukan orang kepdanya, firman Allah :
 Ali 'Imran Ayat 133

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa
Tetapi sebesar apapun kesalahan tersebut, kita sebagai manusia harus mampu untuk memaafkannya. Karena dengan begitu kita akan terhindar dari bahaya tidak memaafkan, yaitu menghancurkan rantai dendam dalam diri dan melangkah menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Bahkan dalam agama islam sendiripun memaafkan adalah hal yang sangat dianjurkan, diterangkan dalam ayat al-qur’an dan hadits bahwa ketika manusia memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain. Allah akan memberikan kepadanya ketenangan jiwa dan kekuatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

ANJURAN SUPAYA MEMAAFKAN

Seringkali kita dengar ada orang kata boleh maaf tetapi tidak boleh lupa. Hakikatnya seseorang itu masih belum memaafkan. Firman Allah Ta’ala :

At-Tagabun Ayat 14
وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
 jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

An-Nur Ayat 22
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

RASULULLAH BERSUMPAH DENGAN 3 GOLONGAN MANUSIA

Rasululllah bersabda,
ثَلَاثٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Ada tiga golongan yang berani bersumpah untuknya, tidaklah berkurang harta karena shodaqoh, dan tidaklah menambah bagi seorang pemaaf melainkan kemulyaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR.Tirmidzi)

KEMULIAAN ORANG YANG MEMAAFKAN

Rasulullah juga menjelaskan bahwa balasan bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain adalah Surga. Beliau bersabda dalam hadits Ibnu Abbas;

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُنَادِي مُنَادٍ فَيَقُولُ : أَيْنَ الْعَافُونَ عَنِ النَّاسِ ؟ هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ خُذُوا أُجُورَكُمْ ، وَحَقَّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِذَا عَفَا أَنْ يُدْخِلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ ” .
“Kelak pada hari kiamat, ada pemanggil yang menyeru, “Dimanakah orang-orang yang memaafkan orang lain? Kemarilah kepada Rabb kalian dan ambillah pahala kalian!” Dan wajib bagi setiap muslim bila suka memaafkan maka Allah masukkan dia ke dalam Surganya.”

Islam mengajarkan pada umatnya bahwa memberi maaf tak menunjukkan seseorang itu lemah karena tidak mampu membalas. Sebab memaafkan orang lain terutama seseorang mampu membalas merupakan kemuliaan karena ia belajar dari sifat-sifat Allah, yaitu Al-‘Afuwwu Al-Qoodiru (Yang Maha Memaafkan dan Maha Berkuasa).

MASA KEMAAFAN YG AFDHAL

Janji Allah, siapa yang memaafkan disaat dia mampu membalas, ia akan meraih Surga Allah.
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ ، وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ
“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya bangnan di Surga, hendaknya ia memafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.” (HR. Thabrani).*/Imron Mahmud

HADIS MEMAAFKAN KESALAHAN ORANG

1. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Tidak halal apabila seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Apabila telah lewat waktu tiga hari tersebut maka berbicaralah dengannya dan beri salam. Jika ia menjawab salam maka keduanya akan mendapat pahala dan jika ia tidak membalasnya maka sungguhlah dia kembali dengan membawa dosanya, sementara orang yang memberi salah akan keluar dari dosa.”(HR. Muslim)

2. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Pintu-pintu surga akan dibukakan pada hari Isnin dan Kamis, lalu Allah akan memberi ampunan kepada siapapun yang tidak menyekutukan-Nya kecuali seorang laki-laki yang berpisah dengan saudaranya. Maka Allah berkata: tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga ia berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai.” (HR. Muslim)
3. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain

“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(HR. Thabrani)

4. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Sungguh aku benar-benar tahu akan penghuni neraka yang keluar terakhir dan penghuni surga terakhir yang masuk kedalamnya, yaitu mereka yang keluar dari nerka dengan merangkak dan mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh lalu ia kembali pada Allah(hingga berkali-kali) Allah berkata: Masuklah ke dalam surga karena sesungguhnya telah menjadi milikmu bagaikan dunia dan sepuluh kali kelipatannya atau sepuluh kali lipat dunia. Orang itu berkata; Apakah engkau mengejekku. Dikatakan bahwa itu adalah penghuni surga yang rendah kedudukannya.” (HR. Bukhari)

5. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Jika kamu membuat suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (HR. Bukhari)

6. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, maka Allah akan melipatgandakan dan memberikan pahala yang besar di sisinya.” (HR. Bukhari)

Demikianlah berbagai kumpulan hadits memaafkan kesalahan orang lain dalam islam. Saya berharap setelah Anda membaca kumpulan hadits diatas akan tersadar untuk bisa mampu memaafkan kesalahan orang lain.

NABI MAAFKAN KAUM THAQIF

“Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan penolakan mereka kepadamu.Dan Allah juga telah mengutus kepada malaikat penjaga gunung untuk melakukan apa saja yang engkau kehendaki!”. Maka Malaikat penjaga gunung pun berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam., “Wahai Muhammad, kalau engkau berkenan aku akan menimpakan Al-Akhbasain (dua gunung besar yang ada di Makkah, yaitu gunung Abu Qubais dan Gunung Al-Ahmar) kepada mereka.”

Namun tak disangka, jawaban Nabiullah Muhammad justru sebaliknya;

لَا بَلْ أَرْجُوْ أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ، وَلَا يُشْرِكُ ِبهِ شَيْئًا

“Tidak, bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga.” [HR. Muslim]

ISTANANYA SANG PEMAAF

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya...
Di tengah perbincangan dengan para sahabat, tiba-tiba Rasulullah SAW tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Umar r.a. yang berada di situ, bertanya :
" apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah ?"

Rasulullah SAW menjawab :
" Aku diberitahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah SWT."

"Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkata :
‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku."

Allah SWT berfirman :
"Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun..?"

Orang itu berkata,:
" Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya"
Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis...

Lalu, beliau Rasulullah berkata,:
 *_"Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya."_*

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.
Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi :
*" Sekarang angkat kepalamu.."*
Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata :

" _Ya Rabb, aku melihat di depan ku *ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas & perak bertatahkan intan berlian*..! "_
" _Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb?"

_" Untuk orang shiddiq yang mana, ya Rabb?
_"Untuk Syuhada yang mana, ya Rabb?"_

Allah SWT berfirman : " Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya."

Orang itu berkata,: "Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb?"_*
Allah berfirman : "Engkaupun mampu membayar harganya."

Orang itu terheran-heran, sambil berkata,:  Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?"

Allah berfirman,: ‘CARAnya, engkau MAAFkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.

Orang itu berkata,: "Ya Rabb, kini aku memaafkannya."

Allah berfirman : Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Saw. berkata,: Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian SALING BERDAMAI dan MEMAAFkan, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin."

KISAH ABU BAKAR MENERIMA CACIAN

Kisah yang menarik untuk dikongsikan bersama.
Ibnu 'Ajlan rhm. meriwayatkan daripada Sa'id al-Maqburi rhm, daripada Abu Hurairah r.a :
أَنَّ رَجُلًا سَبَّ أَبَا بَكْرٍ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم جَالِسٌ لَا يَقُولُ شَيْئًا. فَلَمَّا سَكَتَ، ذَهَبَ أَبُو بَكْرٍ يَتَكَلَّمُ. فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَاتَّبَعَهُ أَبُو بَكْرٍ. فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ! كَانَ يَسُبُّنِيْ، وَاَنْت جَا لِسٌ. فَلَمَّا ذَهَبـْتُ أَتَكَلَّمُ، قُمْتَ. قَالَ : إَنَّ الْمَلَكَ كَانَ يَرُدُّ عَنْكَ. فَلَمَّا تَكَلَّمْتَ، ذَهَبَ الْمَلَكُ، وَوَقَعَ الشَّيْطَانُ، وَكَرِهْتُ أَنْ أَجْلِسَ.

Maksudnya :" Sesungguhnya seorang lelaki telah memaki Abu Bakar r.a di sisi Nabi SAW,sedangkan Nabi SAW duduk tanpa berkata apa-apa. Tatkala lelaki itu diam (dan habis memaki), Abu Bakar r.a pula pergi bercakap ( membalas makian tersebut). Lalu Rasulullah SAW bangun ( beredar dari tempat itu), dan dikejar oleh Abu Bakar r.a seraya berkata: "Wahai Rasulullah ! Dia telah memaki saya,sedangkan Tuan duduk( dan diam sahaja). Tetapi ketika saya pergi bercakap, Tuan bangun ( dan beredar)." Baginda pun bersabda : " Sesungguhnya malaikat telah mempertahankan kamu (ketika kamu diam). Tatkala kamu bercakap, malaikat itu pun pergi dan syaitan datang. Jadi, aku tidak suka duduk (di tempat yang didatangi syaitan).-Riwayat oleh al- Baihaqi-

SIKAP UMAR RD
قدم عيينة بن حصن بن حذيفة بن بدر، فنزل على بن أخيه الحر بن قيس بن حصن، وكان من النفر الذين يدنيهم عمر، وكان القراء أصحاب مجلس عمر ومشاورته، كهولا كانوا أو شبانا، فقال عيينة لابن أخيه : يا ابن أخي، هل لك وجه عند هذا الأمير فتستأذن لي عليه ؟ قال : سأستأذن لك عليه، قال ابن عباس : فاستأذن لعيينة، فلما دخل قال : يا ابن الخطاب، والله ما تعطينا الجزل، ولا تحكم بيننا بالعدل، فغضب عمر حتى هم بأن يقع به، فقال الحر : يا أمير المؤمنين، إن الله تعالى قال لنبيه صلى الله عليه وسلم : وإن هذا من الجاهلين، فوالله ما جاوزها عمر حين تلاها عليه، وكان وقافا عند كتاب الله
Kisah Uyainna bin Husn sampai ke Madinah, dia ke tempat anak saudaranya Al Hur bin Qais. A Hur adalah orang kuat Saidina Umar al Khattab, merupakan ahli mesyuarat Saidina Umar. Lalu Uyainah minta dari Al Hur supaya berikan dia satu ruang untuk bertemu dengan Saidina Umar, permintaan ini dipenuhi. Apabila Uyainah bertemu dengan Saidina Umar; Uyainah telah mengatakan bahawa Umar tidak berlaku adil, lalu marahlah Saidina Umar hingga hampir memukul Uyainah. Sebelum Umar memukul Uyainah, beliau membaca satu firman Allah, iaitu :

Al-A’raf Ayat 199
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
199. Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
Kemarahan ini adalah dari sifat Jahiliyah, demi Allah Umar langsung tidak bertindak kepada Uyainah setelah mendengar ayat tersebut dibaca oeh Uyainah. Adalah Umar sangat patuh dengan ayat Allah Ta’ala. Itulah sifat pemaaf Umar al Khattab.
*(Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.)*

PENUTUP

Justeru pahala memaafkan kesalahan orang lain adalah sangat besar, maka kita sangat digalalkkan supaya memaafkan kesalahan orang. Malah Allah akan menanggung pahala sesiapa sahaja yang memaafkan, firman Allah Ta’ala :

Asy-Syura Ayat 40
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

40. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

Bila kita sanggup memaafkan kesalahan orang, satu hal yang akan menjauhi kita ialah sifat ego dan sombong, kerana orang yang tidak memaafkan orang lain akan terdedah kepada sifat-sifat tersebut.

Khamis, Mei 31, 2018

Antara Muttaqîn Dan Muhsinîn

Article CNP
Muttaqîn dan muhsinîn adalah dua posisi (maqam) manusia di hadapan Allah. Kedua posisi ini didapatkan manusia sebagai anugerah Allah atas kepatuhannya kepada Allah. Namun demikian, para ulama berbeda pendapat tentang yang manakah dari keduanya yang lebih tinggi dan lebih mulia. Dalam tulisan ini, kita akan mencoba melihat keduanya berdasarkan informasi al-Qur’an. Ada beberapa cara yang bisa dipakai untuk melihat yang manakah dari kedua posisi ini yang lebih mulia.

👉 Pertama, dari pemahaman terhadap makna akar kata.

Kata muttaqîn berasal dari taqwa yang secara harfiyah berarti takut dan terpelihara. Kata taqwa kemudian diartikan sebagai rasa takut seorang hamba kepada Allah, sehingga membuatnya terpelihara dari perbutan melanggar aturan Allah swt. dan pada akhirnya menjadikan seseorang terhindar dan terpelihara dari murka Allah dan siksa neraka-Nya.

Sementara kata Muhsinîn berasal dari kata ihsan secara harfiyah berarti berbuat kebaikan. Ihsan kepada sesama adalah memberikan lebih banyak dari yang seharusnya diberikan dan mengambil lebih sedikit dari yang semestinya diambil.

Ihsan juga berarti memperlakukan orang lain lebih baik dari memperlakukan diri sendiri. Sedangkan ihsan kepada Allah adalah bahwa ketika seseorang beribadah kepada Allah, dia larut dengan cintanya sehingga dia tidak melihat dirinya dan yang dilihatnya hanyalah Allah semata.

Dengan demikian, ihsan kepada Allah adalah rasa cinta seorang hamba kepada-Nya, sehingga dia melakukan sesuatu perintah dan menjauhi suatu larangan bukan karena mengharap imbalan.

Ibadah atas dasar cinta tentu lebih mulia dari rasa takut. Oleh karena itu muhsinîn tentu lebih tinggi dan lebih mulia dari muttaqîn.

👉 Kedua dari penggunaan kedua kata tersebut di dalam al-Qur’an.

Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa seseorang menjadi muttaqîn setelah sebelumnya berada dalam posisi mukminin (orang beriman). Seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah [2]: 183

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Sementara, Muhsinîn dicapai seseorang setelah sebelumnya mereka berada dalam posisi muttaqîn. Seperti yang terdapat di dalam surat Ali ‘Imran [3]: 133-134

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ(133)الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(134)
Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,133(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

👉 Ketiga, dari segi penempatan mereka di hadapan Allah.

Di mana muttaqîn di tempatkan Allah sebagai kelompok manusia yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya di hadapan-Nya. Seperti yang disebutkan di dalam surat al-Hujurat [49]:13

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sementara Muhsinîn dijadikan Allah sebagai kekasih dan orang yang paling di sayang-Nya. Seperti yang disebutkan dalam surat surat Ali ‘Imran (3): 134.
…وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “… Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Kita tentu memahami, bahwa kedudukan kekasih dan orang yang di sayangi lebih mulia daripada orang yang diberikan kedudukan yang tinggi.

Contoh yang sederhana dapat dikemukan, seorang menteri adalah pegawai presiden yang paling tinggi kedudukannya di mata presiden. Akan tetapi, dia belum tentu menjadi kekasih atau orang yang paling disayangi presiden. Lalu apa perbedaan antara orang yang paling tinggi kedudukannya dengan seorang kekasih?

Seorang menteri misalnya, walaupun memiliki kedudukan yang paling tinggi di antara sekian banyak pegawai, namun dia hanya bisa bertemu dengan presiden pada saat dan waktu yang telah ditentukan. Akan tetapi, kekasih atau orang yang paling disayang presiden, tentu bisa bertemu dengannya kapan saja dan di mana saja, bahkan bisa di dalam kamar presiden.

Sekalipun kata kekasih juga diberikan kepada muttaqîn, namun dalam jumlah yang tidak lebih banyak dari Muhsinîn.

Di dalam al-Qur’an, kata yuhibbu (menyayangi dan mencintai) yang mana Allah sebagai “Subjeknya” terdapat sebanyak 40 kali.

23 kali di awali dengan lâ (tidak), dan 17 kali tanpa lâ. (baca: M.Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al-Karim, h. 127).

Rincian dari yang 17 itu adalah:
1. 5 untuk Muhsinîn (al-Baqarah [2]: 195, Ali ‘Imaran [3]: 134, Ali ‘Imaran [3]: 148, Al-Ma’idah [5]:13, dan al-Ma’idah [5]: 93).

2. 3 untuk muttaqîn ( Ali ‘Imaran [3]: 76, at-Taubah [9]: 4 dan 7

3. 3 untuk muqsithîn (al-Ma’idah [5]: 42, al-Hujurat [49]: 9, dan al-Mumtahanah [60]: 8

4. 2 untuk muthathahirîn (al-Baqarah [ 2]: 222, dan at-Taubah [9]: 108

5. 1 untuk mutawakkilîn [3]:159

6. 1 tauwabin (al-Baqarah [2]: 222

7. 1 untuk shabirîn (Ali ‘Imran [3]:146

8. 1 muttahidîn (at-Taghabun [64]:

4 Dari jumlah penggunaan kata yuhibbu tersebut, juga dapat dipahami bahwa Muhsinîn lebih mulia dan lebih tinggi dari muttaqîn.

👉 Keempat, dari bentuk ibadah yang menghasilkan kedua posisi tersebut. Jika muttaqîn diperoleh setelah seseorang melaksanakan ibadah puasa yang merupakan hasil dari melatih, menahan serta memelihara diri dari kehendak nafsu (puasa secara harfiyah imask atau menahan).

Sementara, Muhsinîn adalah hasil dari kemampuan seseorang mengalahkan egoisme dirinya. Mengalahkan egoisme berarti jika berbenturan keinginannya dengan kehendak Allah, maka dia mendahulukan kehendak Allah. Begitulah yang dipahami dari kisah penyembelihan Isma’il oleh Ibrahin seperti diceritakan dalam surat ash-Shafat [37]: 102-105

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ(102)فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ(103)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ(104)قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ(105)
Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (102), Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya) (103), Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim (104), sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105).”

Puasa adalah kewajiban yang diasosiasikan dengan perintah, tekanan, paksaan dan ancaman. Sementara qurban adalah sunat yang lebih menuntut kesadaran dan dasarnya adalah cinta dan pengorbanan.

Sehingga, hasil dari kedua ibadah ini juga berbeda posisinya. Dan tentu, posisi yang didapatkan dengan kesadaran, lebih mulia dari yang didapatkan melalui perintah dan paksaan.

👉 Kelima, di dalam al-Qur’an ditemukan ciri-ciri kedua kelompok ini. Ciri-ciri orang yang bertaqwa disebutkan Allah dalm surat al-Baqarah [2]: 2-5.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ(2)الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ(3)وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ(4)أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(5)
Artinya: “Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (2). (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (4). dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (4). Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (5).”
Sementara cirri orang ihsan (muhsinin), disebutkan dalam surat Luqman [31]: 2-5.

تِلْكَ ءَايَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ(2)هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ(3)الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ(4)أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(5)
Artinya: “Inilah ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung hikmat (2). menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (3). (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat (4) Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (5).”

Dalam kedua ayat di atas, terdapat perbedaan jumlah ciri-ciri kedua kelompok manusia tersebut. Muttaqin disebutkan Allah dengan lima ciri; beriman dengan yang gaib, mendirikan shalat, berinfak, beriman dengan al-Kitab, dan yakin dengan hari akhirat.

Sementara Muhisinin disebutkan dengan tiga ciri; mendirikan shalat, membayarkan zakat dan yakin dengan hari akhirat.

Di dalam kehidupan manusia, biasanya manusia yang sedikit disebutkan ciri dan identitasnya menunjukan bahwa dia manusia yang sudah dikenal oleh orang banyak. Sementara yang membutuhkan ciri dan identitas yang banyak menunjukan bahwa seseorang belumlah dikenal banyak orang. Dan tentu saja manusia yang dikenal orang banyak memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang kurang dikenal manusia lain. Begitulah bukti bahwa posisi muhsinin lebih tinggi darai muttaqin.

DIPOSTING OLEH DR. SYOFYAN HADI, SS, M.AG,MA.HUM DI 20.25

LABEL: CERAMAH DAN KHUTBAH