Jumaat, Jun 08, 2018

KEHEBATAN SIFAT PEMAAF


PENDAHULUAN

Suatu sifat mulia yang perlu ada pada setiap mukmin ialah sifat pemaaf. Memaafkan kesalahan orang bukan suatu yang mudah. Malah ianya sangat sukar kerana hati yang telah tercalar, hati yang telah terguris sukar diubati.

ALLAH BERSIFAT PEMAAF

Satu doa yang dianjurkan kepada setiap mukmin sebagaimana doa yang dianjurkan dibaca semasa malam-malam Ramadhan. Apabila Saidatuna Aisyah ra bertanyakan baginda :

قالت يا رسول الله أرأيت إن علمت أي ليلة ليلة القدر ما أقول فيها قال
🤚 قولي اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني
الترمذي  حسن صحيح
Aishah bertanyakan Rasulullah, wahai Rasulallah adakah apabila aku bertemu dengan Malam Qodar, apa yang patut aku minta dengan Allah, lalu Rasulullah menjawab, katakanllah Wahai Allah yang maha pemaaf, sangat kasih kepada kemaafan, maafkanlah aku.

Oleh itu, setiap mukmin perlu dan sangat dituntut memaafkan segala kesalahan yang dilakukan orang kepdanya, firman Allah :
 Ali 'Imran Ayat 133

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa
Tetapi sebesar apapun kesalahan tersebut, kita sebagai manusia harus mampu untuk memaafkannya. Karena dengan begitu kita akan terhindar dari bahaya tidak memaafkan, yaitu menghancurkan rantai dendam dalam diri dan melangkah menuju ke kehidupan yang lebih baik.

Bahkan dalam agama islam sendiripun memaafkan adalah hal yang sangat dianjurkan, diterangkan dalam ayat al-qur’an dan hadits bahwa ketika manusia memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain. Allah akan memberikan kepadanya ketenangan jiwa dan kekuatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

ANJURAN SUPAYA MEMAAFKAN

Seringkali kita dengar ada orang kata boleh maaf tetapi tidak boleh lupa. Hakikatnya seseorang itu masih belum memaafkan. Firman Allah Ta’ala :

At-Tagabun Ayat 14
وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
 jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

An-Nur Ayat 22
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

RASULULLAH BERSUMPAH DENGAN 3 GOLONGAN MANUSIA

Rasululllah bersabda,
ثَلَاثٌ أُقْسِمُ عَلَيْهِنَّ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْداً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Ada tiga golongan yang berani bersumpah untuknya, tidaklah berkurang harta karena shodaqoh, dan tidaklah menambah bagi seorang pemaaf melainkan kemulyaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (rendah hati) melainkan akan diangkat derajatnya oleh Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR.Tirmidzi)

KEMULIAAN ORANG YANG MEMAAFKAN

Rasulullah juga menjelaskan bahwa balasan bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain adalah Surga. Beliau bersabda dalam hadits Ibnu Abbas;

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ يُنَادِي مُنَادٍ فَيَقُولُ : أَيْنَ الْعَافُونَ عَنِ النَّاسِ ؟ هَلُمُّوا إِلَى رَبِّكُمْ خُذُوا أُجُورَكُمْ ، وَحَقَّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ إِذَا عَفَا أَنْ يُدْخِلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ ” .
“Kelak pada hari kiamat, ada pemanggil yang menyeru, “Dimanakah orang-orang yang memaafkan orang lain? Kemarilah kepada Rabb kalian dan ambillah pahala kalian!” Dan wajib bagi setiap muslim bila suka memaafkan maka Allah masukkan dia ke dalam Surganya.”

Islam mengajarkan pada umatnya bahwa memberi maaf tak menunjukkan seseorang itu lemah karena tidak mampu membalas. Sebab memaafkan orang lain terutama seseorang mampu membalas merupakan kemuliaan karena ia belajar dari sifat-sifat Allah, yaitu Al-‘Afuwwu Al-Qoodiru (Yang Maha Memaafkan dan Maha Berkuasa).

MASA KEMAAFAN YG AFDHAL

Janji Allah, siapa yang memaafkan disaat dia mampu membalas, ia akan meraih Surga Allah.
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُشْرَفَ لَهُ الْبُنْيَانُ ، وَتُرْفَعَ لَهُ الدَّرَجَاتُ فَلْيَعْفُ عَمَّنْ ظَلَمَهُ ، وَلْيُعْطِ مَنْ حَرَمَهُ ، وَلْيَصِلْ مَنْ قَطَعَهُ
“Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya bangnan di Surga, hendaknya ia memafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya.” (HR. Thabrani).*/Imron Mahmud

HADIS MEMAAFKAN KESALAHAN ORANG

1. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Tidak halal apabila seorang Muslim menjauhi kawannya lebih dari tiga hari. Apabila telah lewat waktu tiga hari tersebut maka berbicaralah dengannya dan beri salam. Jika ia menjawab salam maka keduanya akan mendapat pahala dan jika ia tidak membalasnya maka sungguhlah dia kembali dengan membawa dosanya, sementara orang yang memberi salah akan keluar dari dosa.”(HR. Muslim)

2. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Pintu-pintu surga akan dibukakan pada hari Isnin dan Kamis, lalu Allah akan memberi ampunan kepada siapapun yang tidak menyekutukan-Nya kecuali seorang laki-laki yang berpisah dengan saudaranya. Maka Allah berkata: tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga ia berdamai, tangguhkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai.” (HR. Muslim)
3. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain

“Maukah aku ceritakan kepadamu mengenai sesuatu yang membuat Allah memualiakan bangunan dan meninggikan derajatmu? Para sahabat menjawab; tentu. Rasul pun bersabda; Kamu harus bersikap sabar kepada orang yang membencimu, kemudian memaafkan orang yang berbuat dzalim kepadamu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan juga menghubungi orang yang telah memutuskan silaturahmi denganmu.”(HR. Thabrani)

4. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Sungguh aku benar-benar tahu akan penghuni neraka yang keluar terakhir dan penghuni surga terakhir yang masuk kedalamnya, yaitu mereka yang keluar dari nerka dengan merangkak dan mendatangi surga, tapi terkhayal padanya bahwa surga itu penuh lalu ia kembali pada Allah(hingga berkali-kali) Allah berkata: Masuklah ke dalam surga karena sesungguhnya telah menjadi milikmu bagaikan dunia dan sepuluh kali kelipatannya atau sepuluh kali lipat dunia. Orang itu berkata; Apakah engkau mengejekku. Dikatakan bahwa itu adalah penghuni surga yang rendah kedudukannya.” (HR. Bukhari)

5. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Jika kamu membuat suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan suatu kesalahan orang lain, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (HR. Bukhari)

6. Hadits Memaafkan Kesalahan Orang Lain
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah dan jika ada kebaikan sebesar zarrah, maka Allah akan melipatgandakan dan memberikan pahala yang besar di sisinya.” (HR. Bukhari)

Demikianlah berbagai kumpulan hadits memaafkan kesalahan orang lain dalam islam. Saya berharap setelah Anda membaca kumpulan hadits diatas akan tersadar untuk bisa mampu memaafkan kesalahan orang lain.

NABI MAAFKAN KAUM THAQIF

“Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan penolakan mereka kepadamu.Dan Allah juga telah mengutus kepada malaikat penjaga gunung untuk melakukan apa saja yang engkau kehendaki!”. Maka Malaikat penjaga gunung pun berkata Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam., “Wahai Muhammad, kalau engkau berkenan aku akan menimpakan Al-Akhbasain (dua gunung besar yang ada di Makkah, yaitu gunung Abu Qubais dan Gunung Al-Ahmar) kepada mereka.”

Namun tak disangka, jawaban Nabiullah Muhammad justru sebaliknya;

لَا بَلْ أَرْجُوْ أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ، وَلَا يُشْرِكُ ِبهِ شَيْئًا

“Tidak, bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun juga.” [HR. Muslim]

ISTANANYA SANG PEMAAF

Pada suatu hari, Rasulullah SAW sedang berkumpul dengan para sahabatnya...
Di tengah perbincangan dengan para sahabat, tiba-tiba Rasulullah SAW tertawa ringan sampai terlihat gigi depannya.

Umar r.a. yang berada di situ, bertanya :
" apa yang membuatmu tertawa wahai Rasulullah ?"

Rasulullah SAW menjawab :
" Aku diberitahu Malaikat, bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala di hadapan Allah SWT."

"Salah seorang mengadu kepada Allah sambil berkata :
‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan dari orang ini untukku karena dulu ia pernah berbuat zalim kepadaku."

Allah SWT berfirman :
"Bagaimana mungkin Aku mengambil kebaikan saudaramu ini, karena tidak ada kebaikan di dalam dirinya sedikitpun..?"

Orang itu berkata,:
" Ya Rabb, kalau begitu, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya"
Sampai di sini, mata Rasulullah SAW berkaca-kaca. Rasulullah SAW tidak mampu menahan tetesan airmatanya. Beliau menangis...

Lalu, beliau Rasulullah berkata,:
 *_"Hari itu adalah hari yang begitu mencekam, di mana setiap manusia ingin agar ada orang lain yang memikul dosa-dosa nya."_*

Rasulullah SAW  melanjutkan kisahnya.
Lalu Allah berkata kepada orang yang mengadu tadi :
*" Sekarang angkat kepalamu.."*
Orang itu mengangkat kepalanya, lalu ia berkata :

" _Ya Rabb, aku melihat di depan ku *ada istana-istana yang terbuat dari emas, dengan puri dan singgasananya yang terbuat dari emas & perak bertatahkan intan berlian*..! "_
" _Istana-istana itu untuk Nabi yang mana, ya Rabb?"

_" Untuk orang shiddiq yang mana, ya Rabb?
_"Untuk Syuhada yang mana, ya Rabb?"_

Allah SWT berfirman : " Istana itu diberikan kepada orang yang mampu membayar harganya."

Orang itu berkata,: "Siapakah yang  mampu membayar harganya, ya Rabb?"_*
Allah berfirman : "Engkaupun mampu membayar harganya."

Orang itu terheran-heran, sambil berkata,:  Dengan cara apa aku membayarnya, ya Rabb?"

Allah berfirman,: ‘CARAnya, engkau MAAFkan saudaramu yang duduk di sebelahmu, yang kau adukan kezalimannya kepada-Ku’.

Orang itu berkata,: "Ya Rabb, kini aku memaafkannya."

Allah berfirman : Kalau begitu, gandeng tangan saudaramu itu, dan ajak ia masuk surga bersamamu.

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah Saw. berkata,: Bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya kalian SALING BERDAMAI dan MEMAAFkan, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin."

KISAH ABU BAKAR MENERIMA CACIAN

Kisah yang menarik untuk dikongsikan bersama.
Ibnu 'Ajlan rhm. meriwayatkan daripada Sa'id al-Maqburi rhm, daripada Abu Hurairah r.a :
أَنَّ رَجُلًا سَبَّ أَبَا بَكْرٍ عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم، وَالنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم جَالِسٌ لَا يَقُولُ شَيْئًا. فَلَمَّا سَكَتَ، ذَهَبَ أَبُو بَكْرٍ يَتَكَلَّمُ. فَقَامَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم، وَاتَّبَعَهُ أَبُو بَكْرٍ. فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ! كَانَ يَسُبُّنِيْ، وَاَنْت جَا لِسٌ. فَلَمَّا ذَهَبـْتُ أَتَكَلَّمُ، قُمْتَ. قَالَ : إَنَّ الْمَلَكَ كَانَ يَرُدُّ عَنْكَ. فَلَمَّا تَكَلَّمْتَ، ذَهَبَ الْمَلَكُ، وَوَقَعَ الشَّيْطَانُ، وَكَرِهْتُ أَنْ أَجْلِسَ.

Maksudnya :" Sesungguhnya seorang lelaki telah memaki Abu Bakar r.a di sisi Nabi SAW,sedangkan Nabi SAW duduk tanpa berkata apa-apa. Tatkala lelaki itu diam (dan habis memaki), Abu Bakar r.a pula pergi bercakap ( membalas makian tersebut). Lalu Rasulullah SAW bangun ( beredar dari tempat itu), dan dikejar oleh Abu Bakar r.a seraya berkata: "Wahai Rasulullah ! Dia telah memaki saya,sedangkan Tuan duduk( dan diam sahaja). Tetapi ketika saya pergi bercakap, Tuan bangun ( dan beredar)." Baginda pun bersabda : " Sesungguhnya malaikat telah mempertahankan kamu (ketika kamu diam). Tatkala kamu bercakap, malaikat itu pun pergi dan syaitan datang. Jadi, aku tidak suka duduk (di tempat yang didatangi syaitan).-Riwayat oleh al- Baihaqi-

SIKAP UMAR RD
قدم عيينة بن حصن بن حذيفة بن بدر، فنزل على بن أخيه الحر بن قيس بن حصن، وكان من النفر الذين يدنيهم عمر، وكان القراء أصحاب مجلس عمر ومشاورته، كهولا كانوا أو شبانا، فقال عيينة لابن أخيه : يا ابن أخي، هل لك وجه عند هذا الأمير فتستأذن لي عليه ؟ قال : سأستأذن لك عليه، قال ابن عباس : فاستأذن لعيينة، فلما دخل قال : يا ابن الخطاب، والله ما تعطينا الجزل، ولا تحكم بيننا بالعدل، فغضب عمر حتى هم بأن يقع به، فقال الحر : يا أمير المؤمنين، إن الله تعالى قال لنبيه صلى الله عليه وسلم : وإن هذا من الجاهلين، فوالله ما جاوزها عمر حين تلاها عليه، وكان وقافا عند كتاب الله
Kisah Uyainna bin Husn sampai ke Madinah, dia ke tempat anak saudaranya Al Hur bin Qais. A Hur adalah orang kuat Saidina Umar al Khattab, merupakan ahli mesyuarat Saidina Umar. Lalu Uyainah minta dari Al Hur supaya berikan dia satu ruang untuk bertemu dengan Saidina Umar, permintaan ini dipenuhi. Apabila Uyainah bertemu dengan Saidina Umar; Uyainah telah mengatakan bahawa Umar tidak berlaku adil, lalu marahlah Saidina Umar hingga hampir memukul Uyainah. Sebelum Umar memukul Uyainah, beliau membaca satu firman Allah, iaitu :

Al-A’raf Ayat 199
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
199. Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
Kemarahan ini adalah dari sifat Jahiliyah, demi Allah Umar langsung tidak bertindak kepada Uyainah setelah mendengar ayat tersebut dibaca oeh Uyainah. Adalah Umar sangat patuh dengan ayat Allah Ta’ala. Itulah sifat pemaaf Umar al Khattab.
*(Kisah di atas terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim, dengan sanad yang shahih.)*

PENUTUP

Justeru pahala memaafkan kesalahan orang lain adalah sangat besar, maka kita sangat digalalkkan supaya memaafkan kesalahan orang. Malah Allah akan menanggung pahala sesiapa sahaja yang memaafkan, firman Allah Ta’ala :

Asy-Syura Ayat 40
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

40. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

Bila kita sanggup memaafkan kesalahan orang, satu hal yang akan menjauhi kita ialah sifat ego dan sombong, kerana orang yang tidak memaafkan orang lain akan terdedah kepada sifat-sifat tersebut.

Khamis, Mei 31, 2018

Antara Muttaqîn Dan Muhsinîn

Article CNP
Muttaqîn dan muhsinîn adalah dua posisi (maqam) manusia di hadapan Allah. Kedua posisi ini didapatkan manusia sebagai anugerah Allah atas kepatuhannya kepada Allah. Namun demikian, para ulama berbeda pendapat tentang yang manakah dari keduanya yang lebih tinggi dan lebih mulia. Dalam tulisan ini, kita akan mencoba melihat keduanya berdasarkan informasi al-Qur’an. Ada beberapa cara yang bisa dipakai untuk melihat yang manakah dari kedua posisi ini yang lebih mulia.

👉 Pertama, dari pemahaman terhadap makna akar kata.

Kata muttaqîn berasal dari taqwa yang secara harfiyah berarti takut dan terpelihara. Kata taqwa kemudian diartikan sebagai rasa takut seorang hamba kepada Allah, sehingga membuatnya terpelihara dari perbutan melanggar aturan Allah swt. dan pada akhirnya menjadikan seseorang terhindar dan terpelihara dari murka Allah dan siksa neraka-Nya.

Sementara kata Muhsinîn berasal dari kata ihsan secara harfiyah berarti berbuat kebaikan. Ihsan kepada sesama adalah memberikan lebih banyak dari yang seharusnya diberikan dan mengambil lebih sedikit dari yang semestinya diambil.

Ihsan juga berarti memperlakukan orang lain lebih baik dari memperlakukan diri sendiri. Sedangkan ihsan kepada Allah adalah bahwa ketika seseorang beribadah kepada Allah, dia larut dengan cintanya sehingga dia tidak melihat dirinya dan yang dilihatnya hanyalah Allah semata.

Dengan demikian, ihsan kepada Allah adalah rasa cinta seorang hamba kepada-Nya, sehingga dia melakukan sesuatu perintah dan menjauhi suatu larangan bukan karena mengharap imbalan.

Ibadah atas dasar cinta tentu lebih mulia dari rasa takut. Oleh karena itu muhsinîn tentu lebih tinggi dan lebih mulia dari muttaqîn.

👉 Kedua dari penggunaan kedua kata tersebut di dalam al-Qur’an.

Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa seseorang menjadi muttaqîn setelah sebelumnya berada dalam posisi mukminin (orang beriman). Seperti yang terdapat dalam surat al-Baqarah [2]: 183

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

Sementara, Muhsinîn dicapai seseorang setelah sebelumnya mereka berada dalam posisi muttaqîn. Seperti yang terdapat di dalam surat Ali ‘Imran [3]: 133-134

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ(133)الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(134)
Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,133(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

👉 Ketiga, dari segi penempatan mereka di hadapan Allah.

Di mana muttaqîn di tempatkan Allah sebagai kelompok manusia yang paling mulia dan paling tinggi kedudukannya di hadapan-Nya. Seperti yang disebutkan di dalam surat al-Hujurat [49]:13

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Sementara Muhsinîn dijadikan Allah sebagai kekasih dan orang yang paling di sayang-Nya. Seperti yang disebutkan dalam surat surat Ali ‘Imran (3): 134.
…وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “… Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
Kita tentu memahami, bahwa kedudukan kekasih dan orang yang di sayangi lebih mulia daripada orang yang diberikan kedudukan yang tinggi.

Contoh yang sederhana dapat dikemukan, seorang menteri adalah pegawai presiden yang paling tinggi kedudukannya di mata presiden. Akan tetapi, dia belum tentu menjadi kekasih atau orang yang paling disayangi presiden. Lalu apa perbedaan antara orang yang paling tinggi kedudukannya dengan seorang kekasih?

Seorang menteri misalnya, walaupun memiliki kedudukan yang paling tinggi di antara sekian banyak pegawai, namun dia hanya bisa bertemu dengan presiden pada saat dan waktu yang telah ditentukan. Akan tetapi, kekasih atau orang yang paling disayang presiden, tentu bisa bertemu dengannya kapan saja dan di mana saja, bahkan bisa di dalam kamar presiden.

Sekalipun kata kekasih juga diberikan kepada muttaqîn, namun dalam jumlah yang tidak lebih banyak dari Muhsinîn.

Di dalam al-Qur’an, kata yuhibbu (menyayangi dan mencintai) yang mana Allah sebagai “Subjeknya” terdapat sebanyak 40 kali.

23 kali di awali dengan lâ (tidak), dan 17 kali tanpa lâ. (baca: M.Quraish Shihab, Tafsir al-Qur’an al-Karim, h. 127).

Rincian dari yang 17 itu adalah:
1. 5 untuk Muhsinîn (al-Baqarah [2]: 195, Ali ‘Imaran [3]: 134, Ali ‘Imaran [3]: 148, Al-Ma’idah [5]:13, dan al-Ma’idah [5]: 93).

2. 3 untuk muttaqîn ( Ali ‘Imaran [3]: 76, at-Taubah [9]: 4 dan 7

3. 3 untuk muqsithîn (al-Ma’idah [5]: 42, al-Hujurat [49]: 9, dan al-Mumtahanah [60]: 8

4. 2 untuk muthathahirîn (al-Baqarah [ 2]: 222, dan at-Taubah [9]: 108

5. 1 untuk mutawakkilîn [3]:159

6. 1 tauwabin (al-Baqarah [2]: 222

7. 1 untuk shabirîn (Ali ‘Imran [3]:146

8. 1 muttahidîn (at-Taghabun [64]:

4 Dari jumlah penggunaan kata yuhibbu tersebut, juga dapat dipahami bahwa Muhsinîn lebih mulia dan lebih tinggi dari muttaqîn.

👉 Keempat, dari bentuk ibadah yang menghasilkan kedua posisi tersebut. Jika muttaqîn diperoleh setelah seseorang melaksanakan ibadah puasa yang merupakan hasil dari melatih, menahan serta memelihara diri dari kehendak nafsu (puasa secara harfiyah imask atau menahan).

Sementara, Muhsinîn adalah hasil dari kemampuan seseorang mengalahkan egoisme dirinya. Mengalahkan egoisme berarti jika berbenturan keinginannya dengan kehendak Allah, maka dia mendahulukan kehendak Allah. Begitulah yang dipahami dari kisah penyembelihan Isma’il oleh Ibrahin seperti diceritakan dalam surat ash-Shafat [37]: 102-105

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَابُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ(102)فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ(103)وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ(104)قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ(105)
Artinya: “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar (102), Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya) (103), Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim (104), sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105).”

Puasa adalah kewajiban yang diasosiasikan dengan perintah, tekanan, paksaan dan ancaman. Sementara qurban adalah sunat yang lebih menuntut kesadaran dan dasarnya adalah cinta dan pengorbanan.

Sehingga, hasil dari kedua ibadah ini juga berbeda posisinya. Dan tentu, posisi yang didapatkan dengan kesadaran, lebih mulia dari yang didapatkan melalui perintah dan paksaan.

👉 Kelima, di dalam al-Qur’an ditemukan ciri-ciri kedua kelompok ini. Ciri-ciri orang yang bertaqwa disebutkan Allah dalm surat al-Baqarah [2]: 2-5.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ(2)الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ(3)وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ(4)أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(5)
Artinya: “Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (2). (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka (4). dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat (4). Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (5).”
Sementara cirri orang ihsan (muhsinin), disebutkan dalam surat Luqman [31]: 2-5.

تِلْكَ ءَايَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ(2)هُدًى وَرَحْمَةً لِلْمُحْسِنِينَ(3)الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ(4)أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(5)
Artinya: “Inilah ayat-ayat Al Qur'an yang mengandung hikmat (2). menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan (3). (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat (4) Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung (5).”

Dalam kedua ayat di atas, terdapat perbedaan jumlah ciri-ciri kedua kelompok manusia tersebut. Muttaqin disebutkan Allah dengan lima ciri; beriman dengan yang gaib, mendirikan shalat, berinfak, beriman dengan al-Kitab, dan yakin dengan hari akhirat.

Sementara Muhisinin disebutkan dengan tiga ciri; mendirikan shalat, membayarkan zakat dan yakin dengan hari akhirat.

Di dalam kehidupan manusia, biasanya manusia yang sedikit disebutkan ciri dan identitasnya menunjukan bahwa dia manusia yang sudah dikenal oleh orang banyak. Sementara yang membutuhkan ciri dan identitas yang banyak menunjukan bahwa seseorang belumlah dikenal banyak orang. Dan tentu saja manusia yang dikenal orang banyak memiliki kedudukan lebih tinggi dari yang kurang dikenal manusia lain. Begitulah bukti bahwa posisi muhsinin lebih tinggi darai muttaqin.

DIPOSTING OLEH DR. SYOFYAN HADI, SS, M.AG,MA.HUM DI 20.25

LABEL: CERAMAH DAN KHUTBAH

Ahad, Mei 27, 2018

PENJELASAN TENTANG PEMBOHONGAN TERHADAP NABI DAUD YG DIKATAKAN MENGAMBIL ISTERI PEGAWAINYA


Dalam kitab dongeng orang Yahudi banyak kisah yang tersasar dari kebenaran, mereka sengaja mereka-reka cerita agar pembohongan terus berleluasa. Antara kisah yang mereka reka ialah kisah Nabi Daud alaihissalam.

Kisah Nabi Daud as dengan dua orang lelaki yang mengadu tentang kambing masing-masing. Terdapat kesilapan tanggapan terhadap Nabi Daud as mengenai kes baginda menyelesaikan kes ini. Kononnya dua orang lelaki ini adalah malaikat yang datang dengan menyamar sebagai lelaki bertujuan menegur Nabi Daud AS.

Kerana Nabi Daud AS telah terpikat dengan isteri seorang dari pegawai tenteranya. Untuk merampas isteri pegawai tersebut Nabi Daud telah sengaja menghantarnya ke merata tempat menyertai peperangan agar terkorban lalu senanglah dia merampas isterinya. Ditakdirkan dalam salah satu peperangan pegawai tersebut di dapati hilang dan tiada khabar berita. Dengan alasan itu Nabi Daudpun mengahwini isteri pegawainya kerana disangka telah mati.

Tidak berapa lama pegawai tersebut tiba-tiba pulang, tetapi dia sangat sedih dengan apa yang berlaku terhadap isterinya. Dia tiada cara untuk menyelesaikannya melainkan dengan hanya membiarkannya saja.

Untuk menyedarkan Nabi Daud tentang kesilapannya maka dua malaikat yang menyamar sebagai lelaki telah diutuskan kepadanya ketika baginda sedang beribadah. Firman Allah Ta’ala :
۞ وَهَلْ أَتَاكَ نَبَأُ الْخَصْمِ إِذْ تَسَوَّرُوا الْمِحْرَابَ
Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat pagar? – Sod 21

Kedatangan mereka menyebabkan Nabi Daud terkejut, kerana masa itu adalah masa yang dikhususkannya untuk beribadat, bukanya masa untuk rakyat buat pengaduan. Kedatangan dua orang lelaki ini bertujuan menyedarkan Nabi Daud as. Mereka berlakun dengan cara mengadu tentang perbalahan di antara mereka. Firman Allah Ta’ala

إِذْ دَخَلُوا عَلَىٰ دَاوُودَ فَفَزِعَ مِنْهُمْ ۖ قَالُوا لَا تَخَفْ ۖ خَصْمَانِ بَغَىٰ بَعْضُنَا عَلَىٰ بَعْضٍ فَاحْكُمْ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَلَا تُشْطِطْ وَاهْدِنَا إِلَىٰ سَوَاءِ الصِّرَاطِ
22. Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena kedatangan) mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus – Sod 22

Perbalahan yang berkaitan dengan pemilikan kambing di antara mereka berdua, firman Allah Ta’ala :

إِنَّ هَٰذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُونَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ
Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: "Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan" – Sod 23

Pengaduan ini berkisar tentang sahabatnya ingin merampas kambing yang dimilikinya sedangkan sahabatnya itu telahpun memilikin Sembilan puloh Sembilan ekor. Lalu Nabi Daud as telah mengadili antara mereka berdua. Firman Allah Ta’ala :

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِ ۖ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ ۗ وَظَنَّ دَاوُودُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ ۩
Daud berkata: "Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini". Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. – Sod 24

فَغَفَرْنَا لَهُ ذَٰلِكَ ۖ وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ مَآبٍ
Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik – Sod 25

Ayat 25 Surah Sod adalah suatu pernyataan Allah mengenai keampunanNya terhadap Nabi Daud as. Persoalannya apakah kesalahan Nabi Daud as? Dalam keadaan inilah Israeliyat telah mengatakan bahawa sebab Nabi Daud bertaubat kerana dia merampas isteri pegawainya.

Sebenarnya Nabi Daud bertaubat dan diampun Allah adalah kerana baginda bersangka bahawa dua orang yang datang bertujuan memudharatkannya. Sangkaan inilah yang menyebabkan baginda rasa bersalahan lalu bertaubat kepada Allah, bukannya berkaitan dengan isteri pegawai tenteranya.

Kisah Nabi Daud as menyelesaikan kes dua lelaki itu sebenarnya tiada langsung kaitan dengan kisah mengambil isteri pegawai tenteranya. Malah kisah Nabi Daud as merampas isteri pegawainya adalah rekaan israliyaat semata-mata.

PENDAPAT PARA ILMUAN

Imam Ibnu Hazm dalam Al-Fishol berkata, “Ini adalah sebuah dongeng yang dihasilkan oleh orang-orang Yahudi.”

Imam Ibnu ul Arabi Al-Maliki berkata, “Adapun ucapan mereka bahwa tatkala wanita ini membuat tertarik Nabi Daud maka beliau memerintahkan suaminya berperang sehingga terbunuh di jalan Allah, maka ini dipastikan kebathilannya, karena Nabi Daud tidak mungkin menumpahkan darahnya hanya untuk kesenangan dirinya saja.” Sebagaimana dinukil oleh Al-Qurthubi dalam tafsir beliau 15:176.

Al-Hafidz Ibnu Katsir, “Para ulama tafsir menyebutkan sebuah kisah yang kebanyakan terambil dari israiliyyat dan tidak shahih dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib untuk diikuti, namun hanya diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, sanadnya tidak shahih karena dari jalan Yazid Ar-Ruqasyi dari Anas. Dan Yazid ini meskipun seorang yang shaleh namun hadisnya lemah menurut para ulama.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4:31)

Jumaat, Mei 25, 2018

CITA-CITA YANG TIDAK KESAMPAIAN



Ayat-ayat berikut adalah beberapa potong ayat yang menjelaskan tentang keluhan beberapa jenis manusia setelah mereka dibangkitkan di Padang Mahsyar. Keluhan supaya mereka dapat hidup semula untuk mereka taat dan patuh kepada segala perintah Allah. Semua keluhan adalah sia-sia dan tidak dapat diubah apa-apa.

PERTAMA
Al-Furqan Ayat 27 – 28
Bercita-cita Untuk Mengikuti Rasul Setelah Berada di Mahsyar


وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا
Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".

يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

Kecekalakaan  besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku)

Sebab Nuzul Ayat
Ayat ini turun mengisahkan tentang seorang kuffar Quraisy bernama Uqbah bin Abi Mu’ith, dengan teman karibnya iaitu Umayyah bin Khalaf Al-Jumhi.

Ibnu Katsir juga mengatakan yang serupa dengan tafsiran Imam Qurthubi bahwa kelak dihari Kiamat orang zalim ini akan menyesal disaat penyesalanya tersebut tidak bermanfaat baginya dan kedua tanganya akan meraih kerugian dan penyesalan.

Ayat ini iaitu ayat 27 hingga 28 surah al Furqan, baik sebab turunnya kepada Uqbah bin Abu Mu’ith atau kepada selainya dari orang-orang yang celaka, maka ia tetap berlaku umum untuk setiap orang yang zalim, sebagaimana firman Allah SWT:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا

66. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul" Al-Ahzab Ayat 66

: يَلَيْتَنِيْ اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا﴿ 27﴾ يَوَيْلَتَى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا.

“Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan (yang lurus) bersama Rasul. Kecelakaan besar bagiku, kiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Yaitu orang yang telah memalingkannya dari hidayah dan menyimpangkannya ke arah kesesatan

Dikisahkan Uqbah bin Abi Mu’it sering berada dengan Rasulillah SAW, dia tidak menyakiti baginda. Berbeza dengan kuffar quraisy yang lain sering sangat menyakiti baginda. Hal ini menyebabkan Uqbah dianggap telah masuk Islam. Hal telah diviralkan di kalangan kuffar quraisy.

Apabila kawan karib Uqbah iaitu Umaiyyah bin Khalaf mendengar akan hal hal ini sekembalinya dari Syam, maka Umaiyyahpun ingin mengetahui kebenaran kisah ini dengan bertanya sendiri akan Uqbah. Apabila jelas bahawa Uqbah masih musyrik, Cuma masalahnya ialah dia telah dikatakan masuk Islam. Maka Umaiyyah menyuruh Uqbah menemui Rasulullah dan meludah muka baginda. Ternyata Uqbah menerima pandangan Umaiyyah dan beliau telah meludahi muka Rasulullah SAW dan baginda tidak bertindak membalas apa-apa selain menyapu wajah baginda dari ludah, namun begitu Rasulullah membalasnya dengan sabdanya “Jika aku mendapatimu keluar dari gunung-gunung Makkah, aku akan memenggal lehermu dalam keadaan terbelenggu”.

Pada saat perang Badar dan para sahabatnya keluar untuk berperang, ia menolakk untuk keluar. Para sahabatmnya bertanya: “Keluarlah bersama kami”. Ia berkata: “Orang itu (Nabi) telah berjanji kepadaku sekiranya mendapatkanku keluar dari gunung-gunung Makkah ia akan memenggal leherku dalam keadaan diborgol.” Mereka lalu mengatakan: “Engkau mempuyai unta merah yang tidak bisa dikejar. Seandainya kita terdesak dan kalah, engkau bisa lari dengannya.”

Akhirnya Abu Mu’ith pun keluar bersama sahabatnya. Pada saat itu kaum musyrikin kalah dan kaum Muslimin membawa 70 orang tawanan dan salah satu diantaranya adalah Uqbah bin Abu Mu’ith. Lalu ia mendatangi Rasulallah seraya berkata: “Engkau akan membunuhku di antara mereka semua?. Baginda menjawab: “Ya, disebabkan engkau telah meludahi wajahku”. Dan Allah menurutkan ayat ini: “Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, sampai ayat “Dan adalah syaithan itu tidak  mau menolong manusia”.[3]


KEDUA
An-Naba’ Ayat 40
Bercita-cita Untuk Menjadi Tanah

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا

40. Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah"

As Syahid Syed Qutb menjelaskan ayat ini secara padat untuk diambil pengajaran oleh setiap Muslim. Tulis beliau ketika mengulas ayat ini:
“Tidaklah orang berkata begini (alangkah baiknya aku menjadi tanah) melainkan dia berada dalam kesempitan dan kesedihan yang tersangat.

Ini adalah kalimat yang memberikan bayang-bayang ketakutan dan penyesalan. Sehingga dia berangan-angan untuk tidak menjadi manusia, dan(mahu) menjadi unsur yang diabaikan dan disia-siakan(tak diperhitungkan). Dia melihat bahawa dengan demikian itu(menjadi tanah) adalah lebih ringan dari menghadapi keadaan yang menakutkan dan mengerikan. Ini satu sikap yang berlawanan dengan keadaan ketika mereka mempertanyakan dan meragukan berita besar tersebut (perihal wujudnya hari akhirat dan pembalasan).”

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?  Al-Mu’minun Ayat 115

Ayat 40 Surah An-Naba’ hakikatnya adalah ayat yang sangat mendalam. Seakan-akan Allah SWT hendak berkata kepada kita yang masih hidup: “Engkau masih lagi hidup, jangan sampai menyesal seperti apa yang telah Aku khabarkan.”

Kiamat belum berlaku, hari pembalasan belum berlangsung. Namun kasihnya Allah SWT, Dia mengkhabarkan kepada kita apa akan berlaku pada hari tersebut, sekiranya kita mendurhakaiNya.

KISAH AL-WALID BIN MUGHIRAH MENDAKI GUNUNG DALAM NERAKA

Di Jahannam terdapat sebuah gunung api Shu’uda yang Allah memerintahkan orang kafir iaitu Al-Walid bin Mughirah untuk mendakinya sebagaimana dalam Surah Al Muddatshir Ayat 17 :

سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا

Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan – Al Muddatshir
Menurut riwayat Imam Ahmad, setiap kali dia meletakkan tangannya di atas gunung tersebut, maka tangannya langsung meleleh. Dan ketika diangkat kembali seperti semula. Dia akan menghabiskan waktu selama 70 tahun untuk mendakinya, dan menuruninya selama 70 tahun juga.

KETIGA
Al-Fajr Ayat 24
Cita-cita Untuk Beramal Soleh Ketika Di Dunia

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

24. Dia mengatakan: "Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini".
Dia akan berkata begitu kerana dia akan menyesal sesangatnya. Kerana dia sudah tahu yang dia akan mengalami masalah yang berat nanti. Dia tahu yang dia sudah celaka nasibnya. Tidak ada harapan untuk balik ke dunia untuk memperbaiki amalannya.

قَدَّمتُ لِحَياتي

Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini”
Dia juga alangkah baiknya kalau قَدَّمتُ (aku menyimpan dengan menghantar amal) untuk hidupku yang sebenarnya di akhirat. Ini adalah kerana hidup yang kekal adalah di akhirat nanti, bukannya di dunia ini. Mereka amat menyesal kerana dulu mereka sibuk kumpul untuk dunia tapi sekarang mereka dah tahu yang kehidupan dunia tidak ada apa pun, tidak ada nilai langsung.

Begitulah sepatutnya kita menabung untuk kehidupan yang sebenarnya, iaitu di akhirat kelak. Malangnya manusia sibuk mengumpul untuk dunia mereka sahaja. sebagaimana firman Allah: Al-Munafiqun Ayat 10

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

10. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?

Kenapa dia tidak mengatakan,“Maka aku dapat melaksanakan haji atau umrah” atau “Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa” dan lain-lain lagi dari ibadat.

Berkata para ulama, tidaklah seorang mayit menyebutkan “sedekah” kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal…Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya…

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad)

  ورد في الأثر ان رجلا كان مريضا .. وكان النبي يسال عنه دائما
فسال عنه ذات قال كيف فلان .. فقالوا له الصحابه لقد مات .. فقال ألم يقل شيئا قبل ان يمو
فقالوا له : بلا .. قال (ليتها كانت كثيره .. ليتها كانت جديده .. ليتها كانت كامله ) .. ولكننا لم نفهم ماذا اراد بها

Terdapat satu Athar seorang lelaki sedang sakit. Rasulullah sentiasa menanyakan khabarnya. Satu hari diberitahu kepada baginda bahawa lelaki ini telah wafat, lalu Rasulullah bertanya apakah ada sesuatu yang disebutnya sebelum ia wafat, kata sahabat ada. Kata lelaki itu alangkah baik jika banyak, alangkah baik jika baharu dan alangkah baik jika penuh.

Para Sahabat menjawab, bahkan dia berkata : Alangkah baik jika banyak... alangkah baik jika ia baharu .... alangkah baiknya jika ia penuh, tetapi kami tidak memahami apakah maksudnya. Lantas Rasulullah menjelaskan

فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ( ذاك رجلا خرج في صلاه الفجر ذات مره .. فوجد رجلا اعمى في الطريق .. فأخذ بيده حتى أوصله الى المسجد .. فلما رأى أجر هذه الخطوات قال يا ليتها كانت كثيره .

Simati pernah menolong seorang buta ke masjid, ketika hampir nazaknya dibentangkan kepadanya pahalanya. Lalu kerana sangat besar pahalanya dia bercita-cita untuk menolong orang buta itu berkali-kali lagi tetapi tidak kesampaian.

وخرج مره اخرى الى المسجد فوجد رجلا مريضا لا حله عليه .. وكان يرتدي حلتين .. واحده جديده والاخرى قديمه .. فاخذ القديمه واكساها الرجل . فلما رأى أجرها قال يا ليتها كانت الجديده

Pernah juga satu ketika ketika dalam perjalanan ke masjid dijumpai seorang lelaki yang sakit serta tidak berpakaian. Ketika itu si mati memakai dua pakaian, satu yang baharu dan satu yang lama. Disedekahkan yang lama dengan memakaikannya kepada lelaki yang sakit tadi. Apabila Allah memperlihatkan pahala jika bersedekah yang baharu ketika nazaknya maka dia mengeluh “alangkah baiknya kalau ia baharu!”

وذات مره سأل زوجته ما عندنا من طعام ؟ فقالت له ما عندنا غير رغيف من شعير .. فأخذه واذا بالباب يطرق .. فذاك سائل يسال الطعام .. فقسم له نصف الرغيف واعطاه اياه .. فلما رأى اجره قال يا ليتها كانت كامله )

Ada berlaku satu perkara si mati bertanyakan isterinya tentang simpanan makanan yang mereka ada. Isterinya menjawab mereka hanya ada sedikit dari bijian syair, lalu diambilnya sambil ketika itu ada orang mengetuk pintu rumahnya. Kelihatan yang datang seorang yang mohon bantuan makanan, lalu dia berikan separuh dari syair yang ada di tangannya. Ketika dia nazak, Allah perlihatkan ganjaran yang akan diperolehi jika diberikannya semua, lalu dia berkata “Alangkah baiknya jikan semua!”

KEEMPAT 
AL HAQQAH Ayat 25
Bercita-cita Supaya Tidak diberikan Kitab Amalan

وَأَمَّا مَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِشِمَالِهِ فَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُوتَ كِتَابِيَهْ

25. Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).
Segala amalan manusia akan didedahkan di padang mahsyar. Kesemua amalannya tercatat dalam buku amalannya, manusia hairan dan rasa pelik dengan catatan yang sangat terperinci, tidak tertinggal walaupun sebesar biji sawi dari amalannya ketika di dunia. Firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-Kahf Ayat 49

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَٰذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا ۚ وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا ۗ وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun".

Ketika di padang mahsyar nanti setiap manusia akan diberikan buku amalannya samada dari arah kanan atau dari arah kiri. Berbahagialah manusia yang diberikan buku amalannya dari sebelah kanan kerana ia menandakan dia adalah ahli syurga. Tapi ada manusia yang memiliki dosa yang banyak sehingga berlipat-lipat buku amalannya yang tercatat segala dosanya di dalamnya. Namun jika dia diberikan rahmat oleh Allah maka tiada rasa bimbang padanya tentang neraka.

وروى أحمد وغيره عن عبد الله بن عمرو قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "إن الله سيخلص رجلاً من أمتي على رؤوس الخلائق يوم القيامة، فينشر عليه تسعةً وتسعين سجلاً، كل سجل مدّ البصر، ثم يقول له أتنكر من هذا شيئاً؟ أظلمتك كتبتي الحافظون؟ قال: لا يارب، فيقول ألك عذر أو حسنة؟ فيبهت الرجل، فيقول: لا، يارب، فيقول: بلى، إن لك عندنا حسنة واحدة، لا ظلم اليوم عليك، فتخرج له بطاقة فيها: أشهد أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله. فيقول أحضروه، فيقول: يارب وما هذه البطاقة مع هذه السجلات؟ فقال: إنك لا تظلم، قال: فتوضع السجلات في كفه، والبطاقة في كفة، قال: فطاشت السجلات، ولا يثقل شيء بسم الله الرحمن الرحيم".

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): “Sungguh Allah akan membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh manusia pada hari Kiamat dimana ketika itu dibentangkan 99 gulungan catatan (dosa) miliknya. Setiap gulungan panjangnya sejauh mata memandang, kemudian Allah berfirman: ‘Apakah ada yang engkau ingkari dari semua catatan ini? Apakah para (Malaikat) pencatat amal telah menganiayamu?,’
Dia menjawab: ‘Tidak wahai Rabbku,’ Allah bertanya: ‘Apakah engkau memiliki uzor (alasan)?,’ Dia menjawab: ‘Tidak Wahai Rabbku.’ Allah berfirman: “Bahkan sesungguhnya engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku dan sungguh pada hari ini engkau tidak akan dianiaya sedikitpun. Kemudian dikeluarkanlah sebuah kartu (bithoqoh) yang di dalamnya terdapat kalimat:
.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
.
Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Lalu Allah berfirman: ‘Hadirkan timbanganmu.’ Dia berkata: ‘Wahai Rabbku, apalah artinya kartu ini dibandingkan seluruh gulungan (dosa) itu?,’ Allah berfirman: ‘Sungguh kamu tidak akan dianiaya.’

Kemudian diletakkanlah gulungan-gulungan tersebut pada satu daun timbangan dan kartu itu pada daun timbangan yang lain. Maka gulungan-gulungan (dosa) tersebut terangkat dan kartu (laa ilaaha illallah) lebih berat. Demikianlah tidak ada satu pun yang lebih berat dari sesuatu yang padanya terdapat Nama Allah.”