Sabtu, Jun 24, 2017

Kisah Para Sahabat Dgn Harta

Sedekah Abu Darda
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ 
يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245)

Suatu ketika Rasulullah saw. membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Darda r.a. berdiri, ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.” Abu Darda kembali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”

“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Darda r.a. tiba-tiba. Rasulullah saw. balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Darda menjelaskan, “Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Darda,” kata Rasulullah saw.

Abu Darda mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.

“Wahai Ummu Darda, wahai Ummu Darda! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Darda.

Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt. Ladang ini sudah menjadi milik Allah swt.,” ujarnya kepada sang anak.

Subhanallah! Begitulah Ummu Darda, seorang wanita yang begitu yakin rezki datang dari Allah swt. dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah swt. Kalau saja para suami zaman ini punya istri seperti Ummu Darda, pasti mereka akan mudah saja berinfak tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para istri zaman sekarang punya suami model Abu Darda, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Allah.
Sekarang simaklah kisah kedua ini. 

Kisah Sahabat2 Dgn Harta

Kisah Umar Dgn Abu Ubaidah

Suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan wang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar kepadanya.

Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubaidah, ia berkata, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’.”

Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat.” Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!.” Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.Pembantu Umar pun kembali . Umar memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.

Umar Dgn Muaz

Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz berkata, “Ambillah dua dirham saja.”
Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”

Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tidak sampai sehari harta itu diinfakkan dengan begitu ringannya.
Yang ini kisah ketiga. Munginkah kita bisa mencontohnya?

Talhah Dgn Harta

Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham. Istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih.
Sang istri bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?” Thalhah menjawab, “Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan Allah, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu per satu.”
Istrinya lalu berkata, “Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada para fakir miskin yang ada di Kota Madinah.”
Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu membagi-bagikan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci.”
Subhanallah! Sungguh mereka orang-orang langit yang ringan melepas dunia


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/03/12/428/tiga-kisah-lima-sahabat/#ixzz4ksV9erTb 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Khamis, Jun 15, 2017

Kenapa Janin Luar Nikah Kuat

Pasti ramai tertanya-tanya kenapa wanita yang mengandung anak di luar nikah lebih mudah jika dibandingkan dengan wanita yang telah menikah.
Jika diperhatikan selama di dalam tempoh kehamilan, tidak ramai orang yang akan melihat perubahan fizik wanita yang belum menikah jika dibandingkan dengan yang telah menikah sehingga proses bersalin.
Rata-ratanya wanita yang belum menikah ini dapat bersalin dengan mudahnya di lokasi manapun tanpa bantuan sesiapapun. Aneh bukan?
Ketakutan yang amat sangat membuat seorang gadis dapat melahirkan anaknya dengan mudah. Mulai dari hubungan yang salah, ketika hamil tidak timbul kesusahan sebagaimana wanita-wanita biasa ketika sedang hamil.
Allah mencabut rasa kesusahan itu sehingga tidak mendapatkan pahala sebagaimana wanita-wanita lain yang bersusah payah ketika hamil hasil pernikahan yang sah.
Kadang-kadang, tanda-tanda sebagai orang hamil juga tidak dapat dilihat. Perutnya tidak nampak besar, dapat pula berjalan dengan gagah. Kadang-kadang, boleh pergi ke sekolah dan membuat kegiatan lapang seperti pelajar lain, sedangkan sebenarnya sedang mengandung. Itu satu lagi nikmat yang dicabut oleh Allah SWT.
Kemudian ketika melahirkan nanti, mudah saja anak itu keluar. Pahala sakit kerana melahirkan anak itu telah diangkat darinya. Wanita biasa, pada keadaan begini harus dibantu oleh bidan, itu pun susah dan sakit untuk melahirkan anak, tetapi wanita yang telah berzina itu mudah saja.
Setelah anak itu lahir, mereka bunuh agar tidak meninggalkan jejak. Mengapa sampai begitu kejam? Kerana perasaan kasih sayang sudah dicabut juga darinya.
Jadi, kepada semua gadis, jangan mendekati zina. Sebaik apapun seorang lelaki kepadamu, jangan kamu serahkan diri kamu dengan cara yang salah. Kamu akan dihantui perasaan bersalah seumur hidup kamu.
Mari kita sama-sama bantu share tulisan ini agar para gadis yang belum menikah dapat renungan

Ahad, Jun 11, 2017

Iman Atha' Bin Yasar Amat Cemerlang

Suatu Ketika `Atha bin Yasar, Sulaiman bin Yasar dan beberapa sahabat pergi dari madinah untuk berhaji. Dalam perjalanannya mereka singgah di Abwa dan menginap di sebuah rumah, Sulaiman dan para sahabat keluar untuk suatu keperluan. Sementara `Atha bin Yasar tetap tinggal di rumah dalam keadaan berdiri sholat. 

Tiba tiba masuk kedalam rumah tersebut seorang wanita cantik dari suku badui, Melihat ada seseorang masuk maka `Atha mempercepat sholatnya. Setelah selesai beliau bertanya 
“Apakah engkau memerlukan sesuatu” Kata `Atha bin Yasar
“Ya, aku memintamu untuk mencumbui aku, sungguh aku sudah rindu dan tidak lagi memiliki suami” Jawab wanita itu
“Menjauhlah dariku,Janganlah engkau membakarku dan dirimu dengan api neraka” Hardik `Atha bin Yasar

Wanita itu terus berusaha menggodanya namun `Atha bin Yasar tidak menghiraukannya. `Atha bin yasar kemudian menangis dan berkata : “Celakalah kamu, menjauhlah dariku, menjauhlah.”
Semakin lama Tangisan `Atha semakin keras, melihat `Atha menangis maka wanita itupun ikut menangis di hadapannya.  Tak berapa lama kemudian Sulaiman datang dan melihat `Atha dan seorang wanita sedang menangis dihadapannya maka sulaiman pun duduk dan menangis di serambi rumah tanpa tahu apa yang membuat `Atha dan wanita di dalam rumah menangis. 
Para sahabat datang dan melihat seisi rumah sedang menangis, para sahabatpun ikut menangis tanpa menanyakan sebab mereka menangis. Karena tangisan mereka yang semakin banyak dan keras, Wanita itupun berdiri dan keluar dari rumah. Melihat hal itu para sahabat dan sulaiman masuk kedalam rumah.

Sulaiman pun tetap terdiam dan tidak bertanya perihal apa yang terjadi untuk menjaga kehormatan dan kewibawaannya. Setelah Ibadah haji mereka pergi ke mesir dan tinggal disana dalam waktu yang di tentukan oleh Allah swt
Pada suatu malam saat `Atha tidur, tiba tiba ia terbangun dan menangis. Maka berkatalah sulaiman kepadanya

“Apa yang membuatmu menangis wahai saudaraku?” Tanya sulaiman
“Mimpi yang aku lihat malam ini”Jawab `Atha
“Mimpi apakah itu?”Tanya Sulaiman
“Jangan engkau beritahu kepada siapapun selagi aku masih hidup” pinta `Atha
“Baiklah” Jawab Sulaiman

“Aku melihat nabi Yusuf as. Akupun datang melihat kepada beliau di tengah tengah orang yang melihat kepada beliau. Tak kala aku melihat ketampanannya aku menangis. Beliaupun melihat kepadaku di tengah tengah manusia seraya berkata: Apa yang membuatmu menangis wahai manusia?” Aku menjawab :”Bapak dan ibuku sebagai tebusanmu, aku ingat akan diri anda dan istri al Aziz, dan apa yang dengannya anda di uji, apa yang anda temui di penjara, dan perpisahan dengan ya`qub as. Maka akupun menangis karenanya dan karena kagum terhadap perkaranya. Maka berkatalah beliau:”Tidakkah engkau kagum terhadap seorang laki laki dan wanita di abwa?” Aku pun mengerti yang beliau maksudkan. Akupun menangis dan terbangun karenanya.” Cerita `Atha kepada sulaiman
“Wahai saudaraku,apakah gerangan yang terjadi dengan wanita tersebut?” Tanya Sulaiman

`Atha bin Yasar akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu. 

Jumaat, Jun 09, 2017

NUZUL AL QURAN

PENDAHULUAN

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ
 “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29).”

WAHYU TERPUTUS DARI LANGIT
روى مسلم في صحيحه عَنْ أَنَسٍ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ أَبُو بَكْرٍ - رضي الله عنه - بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللهِ - صلى الله عليه وآله وسلم - لِعُمَرَ: «انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللهِ - صلى الله عليه وآله وسلم - يَزُورُهَا»، فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ، فَقَالَا لَهَا: «مَا يُبْكِيكِ؟ مَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ - صلى الله عليه وآله وسلم -»، فَقَالَتْ: «مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ - صلى الله عليه وآله وسلم -،
وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدْ انْقَطَعَ مِنْ السَّمَاءِ»،
فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا
AKu Menangis kerana Wahyu terputus dari langit dengan kewafatan Rasululllah sollahu alaihi wasallam.

KELEBIHAN ORANG YANG BELAJAR AL QURAN
عَن عَائِشَةَ رَضي اللٌهُ عَنهاَ قَالَتُ:
قَالَ رَسُولُ اللٌهِ صَلٌي اللٌهُ عَلَيهِ وَ سَلٌم الَماهر باِلقُرانِ مَعَ السَفَرَةَ الكِرَامِ الَبَرَرَةِ وَاٌلَذِي يَقُراٌ القُرانَ وَيَتَتَعتَعُ فِيه وَهُوَ عَلَيهِ شَاقٌ لَه اَجَران (رواه البخارى ومسلم وابو داوود والترمذى وابن ماجه).
Dari Aisyah r.h.a berkata bahwa Rasulullah saw.bersabda , “Orang yang ahli dalam al Qur’an akan berada bersama malaikat pencatat yang mulia lagi benar, dan orang terbata-bata membaca al Qur’an sedang ia bersusah payah (mempelajarinya), maka baginya pahala dua kali.” (Hr. bukhari, Nasa’I, Muslim, Abu Daud, Tarmidzi, dan ibnu Majah)
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengamalkannya.” (HR. Bukhari).

AYAT-AYAT QURAN BUKTI PENURUNAN AL QURAN
ِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran itu pada malam yang berkat.” (Surah al-Dukhan ayat 3).
إنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
 “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada Malam Lailatul-Qadar.” (Surah al-Qadr, ayat 1).
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekelian manusia, dan menjadi keterangan yang menjelaskan petunjuk dan menjelaskan perbezaan antara yang benar dan yang salah.”  (Surah al-Baqarah, ayat 185)

TARIKH PENURUNAN AL QURAN
Dari segi tarikh diturunkan
Peristiwa agung dan istimewa dalam sejarah umat ialah malam diturunkan al-Quran (Nuzul al-Quran) yang berlaku pada 24 Ramadhan.
Ia juga disebut Allah sebagai malam yang diberkati (lailatin mubarakah).
Nuzul al-Quran bererti penurunan al-Quran dari langit kepada Nabi Allah yang terakhir.

PERINGKAT PENURUNAN AL QURAN
Pertama - Penurunan al-Quran dari Allah SWT ke al-Lauh al-Mahfuz;
Kedua - Dari al-Lauh al-Mahfuz ke Bait al-‘Izzah
di langit dunia; dan
Ketiga - Penurunan kepada Jibril a.s. dalam tempoh 20 malam.

KALAM INSAN TENTANG AL QURAN
Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Bagian dunia yang kucintai ada tiga:
1.    Mengenyangkan orang yang lapar,
2.    Memberi pakaian mereka yang tak punya,
3.    Membaca Al Quran”.
Utsman berkata, “Ada empat hal ketika nampak merupakan keutamaan. Jika tersembunyi menjadi kewajiban.
(1) Berkumpul bersama orang-orang shaleh adalah keutamaan dan mencontoh mereka adalah kewajiban.
(2) Membaca Alquran adalah keutamaan dan mengamalkannya adalah kewajiban.
(3) Menziarahi kubur adalah keutamaan dan beramal sebagai persiapan untuk mati adalah kewajiban.
(4) Dan membesuk orang yang sakit adalah keutamaan dan mengambil wasiat darinya adalah kewajiban”. (Irsyadul Ibad li Isti’dadi li Yaumil Mi’ad, Hal: 90). Kata Usman bin Affan ……
Ada 10 hal yang disia-siakan:
1.    Orang yang berilmu tapi tidak ditanyai.
2.    Ilmu yang tidak diamalkan.
3.    Pendapat yang benar namun tidak diterima.
4.    Senjata yang tidak digunakan.
5.    Masjid yang tidak ditegakkan shalat di dalamnya.
6.    Mushaf Al Quran yang tidak dibaca.
7.    Harta yang tidak diinfakkan.
8.    Kendaraan yang tidak dipakai.
9.    Ilmu tentang kezuhudan bagi pencinta dunia.
10.  Dan usia panjang yang tidak menambah bekal untuk safarnya (ke akhirat).” (Irsyadul Ibad li Isti’dadi li Yaumil Mi’ad, Hal: 91).

Kata Usman bin Affan …….
“Jika hati kita suci, maka ia tidak akan pernah puas dari kalam Tuhan nya.”
“Sungguh aku membenci, satu hari berlalu tanpa melihat (membaca) Alquran.”

BERTAMBAH IMAN JIKA BACA AL QURAN
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.

BANDINGAN PEMBACA AL QURAN
Dari Abu Musa al-Asy`ari radhiAllahu `anhu katanya Rasulullah sallAllahu `alaihi wa sallam telah bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ
1.    “Perumpamaan orang mu’min yang membaca al-Quran ialah seperti buah utrujjah (الأُتْرُجَّةِ), baunya enak dan rasanya pun enak.
2.    Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Quran ialah seperti buah kurma (التَّمْرَةِ), tidak ada baunya, tetapi rasanya manis.
3.    Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca al-Quran ialah seperti tumbuhan harum raihanah (الرَّيْحَانَةِ), baunya enak sedang rasanya pula pahit.
4.    Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Quran ialah seperti buah hanzolah (الْحَنْظَلَةِ), tidak ada baunya dan rasanya pun pahit.”
(Muttafaq ‘alaih)

PERINGKAT PENURUNAN KEPADA RASULULLAH
Penurunan 3 Kitab
نْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَهِيْمَ فِي اَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ, وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتِّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ, وَالْإِنْجِيْلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ, وَاَنْزَلَ اللهُ الْقُرْاَنَ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ.
lembaran-lembaran nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadhan dan kitab Tauarat diturunkan pada tanggal enam Ramadhan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadhan, sedangkan al-Quran diturunkan pada tanggal duapuluh empat Ramadhan. hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal dan Abu Said dari Imran Abul Awwam, dari Qatadah, dari Abul Falih, dari Abul Iswa, mengatakan:

Penurunan Al Quran Kepada Rasulullah
Cara penurunan Al-Qur’an dari Bait Al-Izzah kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam.

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam dengan dua cara, yakni secara Ibtida'i dan Sababi.
Pertama : Turun Secara Ibtida'i yaitu ayat Al-Qur’an yang turun tanpa didahului oleh suatu sebab yang melatarbelakanginya. Dan mayoritas ayat - ayat Al-Qur’an turun secara ibtida'i ini.
Diantara ayat yang turun secara ibtida’i ini. Firman Allah Subhanahu wa ta'ala :
ومنهم مّن عهد الله لئن ءاتنا من فضله لنصدّقنّ ولنكو ننّ من الصّليحين
"Dan diantara mereka ada yang menjanjikan kepada Allah “ Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, sungguh kami akan bershadaqah dan sungguh kami akan menjadi orang-orang yang termasuk dalam orang-orang yang shaleh." [al-Quran Surat At-Taubah ayat 75]

Sesungguhnya ayat ini mula-mula turun untuk menjelaskan keadaan sebagian orang-orang munafik. Adapun mengenai berita yang masyhur (terkenal) bahwa ayat ini (Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 75) turun berkenaan dengan Tsa'labah bin Hathib dalam suatu kisah yang panjang merupakan riwayat yang LEMAH, yang tidak dapat dibenarkan.

Kedua : Turun Secara Sababi yaitu ayat Al-Qur’an yang turun dengan didahului oleh suatu sebab yang melatarbelakanginya. Sebab-sebab itu bisa berupa pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, bisa berupa suatu kejadian atau peristiwa yang membutuhkan penjelasan dan peringatan, atau suatu permasalahan yang membutuhkan penjelasan hukum.

a.Sebab berupa pertanyaan.
Contoh Firman Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :
يسئلونك عن الأهلّة . قل هى موقيت للنّاس والحجّ
"Mereka bertanya kepada mu (Muhammad) tentang bulan Sabit. Katakanlah : "Bulan sabit itu adalah tanda - tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji." [Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 189]

b.Sebab berupa kejadian sebuah peristiwa yang membutuhkan penjelasan dan peringatan.
Contoh firman Allah Subhanahu wa ta'ala :
ولئن سأتـهم ليقولنّ إنّما كنّانخوض ونعلب . قل أبا الله وءايته ورسوله كنتم تستهزءون
"Dan jika kamu bertanya kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab : "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" [Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 65]
Ayat ini turun berkenaan seseorang laki-laki munafik yang berkata dalam suatu majelis pada waktu perang tabuk : "Kami tidak melihat orang semisal para pembaca Al-Qur’an kita ini, mereka paling besar perutnya, paling dusta lisan nya, dan paling penakut ketika bertemu dengan musuh"

Apa yang dia maksud didalam ucapan nya adalah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam dan para Sahabat beliau. Kemudian ucapan nya sampai kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam, kemudian turun ayat Al-Qur’an ini. Kemudian laki-laki tersebut datang kepada Rasulullah untuk meminta maaf kepada beliau, maka beliau menjawab dengan membaca firman Allah lanjutan ayat tadi :
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ

"Apakah dengan Allah, dan ayat-ayat Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” [Al-Qur’an Surat At-Taubat ayat 65-66]

c. Suatu permasalahan yang membutuhkan penjelasan hukum.
Contoh nya firman Allah Subhanahu wa ta'ala :
قد سمع الله قوالّتى تجدلك في زوجها وتشتكى إلى الله , والله يسمع تحاوركما , إنّ الله سميع بصير
"Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan hal nya kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" [Al-Qur’an Surat al-Mujadilah ayat

BINATANG KELDAI DALAM AL QURAN
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

LALAT DALAM AL QURAN
يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.

KISAH ZAMAN DAHULU DALAM AL QURAN DAN KATA-KATA DR MORRIS BUKAY
Di dalam bukunya, “al-Qur’an Dan Ilmu Modern”, Dr Morris Bukay[1] mengungkap kesesuaian informasi al-Qur’an mengenai nasib Fir’aun Musa setelah ia tenggelam di laut dan realita di mana itu tercermin dengan masih eksisnya jasad Fir’aun Musa tersebut hingga saat ini. Ini merupakan pertanda kebesaran Allah Subhanahu wa ta’ala saat berfirman,
فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ
“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” [QS.Yunus:92]
Dr. Bukay berkata, “Riwayat versi Taurat mengenai keluarnya bangsa Yahudi bersama Musa Alaihissalam dari Mesir menguatkan ‘statement’ yang menyatakan bahwa Mineptah, pengganti Ramses II adalah Fir’aun Mesir pada masa nabi Musa Alaihissalam. Penelitian medis terhadap mumi Mineptah membeberkan kepada kita informasi-informasi berguna lainnya mengenai dugaan sebab kematian Fir’aun ini.

KATA WALID AL MUGHIRAH TENTANG AL QURAN

وماذا أقول؟ فوالله! ما فيكم رجل أعلم بالأشعار مني، ولا أعلم برجز ولا بقصيدة مني، ولا بأشعار الجن، والله! ما يشبه الذي يقول شيئا من هذا، ووالله! إن لقوله الذي يقول حلاوة، وإن عليه لطلاوة، وإنه لمثمر أعلاه مغدق أسفله، وإنه ليعلو وما يعلى، وإنه ليحطم ما تحته
“Apa menurutmu yang harus kukatakan pada mereka? Demi Allah! Tidak ada di tengah-tengah kalian orang yang lebih memahami syair Arab daripada aku. Tidak juga pengetahuan tentang rajaz dan qashidahnya yang mengungguli diriku. Tapi apa yang diucapkan Muhammad itu tidak serupa dengan ini semua. Juga bukan sihir jin. Demi Allah! Apa yang ia ucapkan (Alquran) itu manis. Memiliki thalawatan (kenikmatan, baik, dan ucapan yang diterima jiwa). Bagian atasnya berbuah, sedang bagian bawahnya begitu subur. Perkataannya begitu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta menghantam apa yang ada dibawahnya.”

KATA GARY MILLER TENTANG AL QURAN

Dr Gary Miller (Kini Dr Abdul Ahad) adalah seorang pendakwah yang sangat aktif dan sangat berpengetahuan tentang Alkitab. Lelaki ini terlalu suka matematik, itulah sebabnya dia suka logik. Pada suatu hari, beliau memutuskan untuk membaca al-Quran untuk cuba mencari apa-apa kesilapan yang dia mungkin boleh diambil kesempatan bagi menarik orang Islam memeluk agama Kristian

Beliau menyangka Al-Quran adalah sebuah buku lama bertulis 14 abad yang lalu, sebuah buku yang bercakap tentang padang pasir dan sebagainya. Apa yang dijumpainya selepas itu amat mengejutkannya dan beliau begitu kagum. Beliau dapati Al-Quran ini mempunyai sesuatu yang tidak ada pada semua kitab lain di dunia ini. Beliau menjangkakan untuk mencari cerita-cerita tentang masa sukar Nabi Muhammad (SAW) hadapi, seperti kematian isterinya Khadijah (RA) atau kematian anak-anak lelaki dan anak-anak perempuannya.
Bagaimanapun, beliau tidak menemui apa-apa seperti itu. Dan apa yang membuatkan beliau lebih keliru adalah bahawa dia menemui satu penuh “surah” (bab) dalam Al-Quran yang dinamakan “Maryam” yang mengandungi banyak berkenaan dengan Maryam yang tidak pernah dijumpai walaupun dalam buku-buku yang ditulis oleh orang Kristian mahupun dalam Al-kitab mereka (bible). Dia tidak menjumpai surah dinamakan sempena “Fatimah” (anak nabi) atau “Aishah” (isteri Rasulullah saw), semoga Allah rahmati kedua-dua mereka.

Beliau juga mendapati bahawa nama Isa (AS) telah disebut dalam Al-Quran 25 kali manakala nama “Muhammad” (saw) hanya disebut sebanyak 4 kali, maka dia menjadi lebih keliru. Dia mula membaca Al-Quran dengan lebih teliti dengan harapan untuk mencari kesilapan tetapi dia terkejut apabila dia membaca ayat yang besar yang merupakan nombor ayat 82 dalam Surah Al-Nisa’a (Wanita) yang bermaksud:
فَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا
“Patutkah mereka (bersikap demikian), tidak mahu memikirkan isi Al-Quran? Dan kalaulah Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan mendapati di dalamnya banyak perselisihan “.

Dr Miller berkata tentang ayat ini: “Salah satu prinsip saintifik yang terkenal adalah prinsip mencari kesilapan atau mencari kesilapan dalam teori sehingga ia terbukti benar (Ujian Pemalsuan). Apa yang menakjubkan ialah Al-Quran meminta orang Islam dan bukan Islam untuk cuba mencari kesalahan dalam buku ini dan ia memberitahu mereka bahawa mereka tidak akan mencari mana-mana “.

Beliau juga berkata tentang ayat ini: “Tidak ada penulis di dunia mempunyai keberanian untuk menulis buku dan mengatakan bahawa ia kosong daripada kesilapan, tetapi al-Quran, sebaliknya, memberitahu anda bahawa ia tidak mempunyai kesalahan dan meminta anda untuk cuba untuk mencari satu dan anda tidak akan mencari mana-mana.

Satu lagi ayat yang Dr Miller ditunjukkan untuk masa yang panjang adalah nombor ayat 30 dalam Surah ‘Al-Anbiya’(Nabi-nabi) :
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Adakah orang-orang kafir melihat bahawa langit dan bumi itu pada asal mulanya bercantum (sebagai benda yang satu), sebelum Kami pisahkan antara keduanya? Daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapa mereka tidak mahu beriman? “