Rabu, Disember 27, 2017

Qabil - Orang ke 5 Dijamin Masuk Neraka


Habil dan Qabil adalah putra Nabi Adam as. Kedua putra ini diperintahkan oleh Adam as. (lewat wahyu Allah) untuk mengadakan kurban dari hasil pertaniannya atau peternakannya. Dari hasil persembahan kurbannya itu, Habil diterima kurbannya sedangkan Qabil ditolaknya(tidak diterima kurbannya). Sebab Qabil sewaktu mempersembahkan kurbannya dipilihkan dari barang-barang yang terjelek sedangkan Habil diambilkan dari barang-barang yang baik (Barang-barang pilihan).

Sejak itu Qabil menaruh dendam kepada Habil untuk dibunuhnya. Niat dendam si Qabil itu terlaksana. Dengan demikian si Qabil telah menanggung du dosa, yaitu dosa pertama ialah dosa membunuh saudaranya sendiri, sedangkan dosa kedua adalah dosanya sendiri dihadapan Allah SWT (tidak mengindahkan perintah Allah, menyalahi larangan Allah SWT). Perbuatan Qabil itu menyebabkan dirinya menjadi penghuni neraka.
Kisah Pembunuhan Qabil yang pertama kali di muka bumi ini telah diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah (5) ayat 27-32.

Di antara kisah-kisah yang perlu diluruskan terkait para Nabi dan Rasul serta dakwahnya adalah kisah Qabil dan Habil. Pasalnya, kisah ini banyak diselewengkan oleh oknum-oknum yang tidak berilmu atau musuh-musuh Islam yang sengaja mendistorsi ajaran Islam yang mulia. Di antara yang paling masyhur terkait kisah ini, bahwa Qabil membunuh adiknya, Habil, hanya karena wanita. Padahal, ada hal lain yang lebih penting dan luput diceritakan.

Berdasarkan al-Qur’an

Oleh karena itu, jika hendak mengetahui kisah ini secara detail dan runut, maka kaum Muslimin harus merujuknya kepada sumber yang senantiasa jernih, telaga yang tak pernah keruh, dan berita yang senantiasa benar hingga akhir zaman, al-Qur’an al-Karim.
Di antara ayat yang megisahkan Qabil dan Habil adalah surat al-Maidah [5] ayat 27-31. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

Al-Ma'idah Ayat 27

۞ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

27. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".

Surat Al-Ma'idah Ayat 28

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
28. "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam".

Surat Al-Ma'idah Ayat 29

إِنِّي أُرِيدُ أَنْ تَبُوءَ بِإِثْمِي وَإِثْمِكَ فَتَكُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
29. "Sesungguhnya aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim".

Surat Al-Ma'idah Ayat 30

فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ
30. Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi

l-Ma'idah Ayat 31

فَبَعَثَ اللَّهُ غُرَابًا يَبْحَثُ فِي الْأَرْضِ لِيُرِيَهُ كَيْفَ يُوَارِي سَوْءَةَ أَخِيهِ ۚ قَالَ يَا وَيْلَتَا أَعَجَزْتُ أَنْ أَكُونَ مِثْلَ هَٰذَا الْغُرَابِ فَأُوَارِيَ سَوْءَةَ أَخِي ۖ فَأَصْبَحَ مِنَ النَّادِمِينَ

31. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.

Surat Al-Ma'idah Ayat 32

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
32. Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi

Menafsirkan rangkaian ayat yang panjang ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam Tafsirnya, “Allah Ta’ala menjelaskan buruknya akibat kejahatan, kedengkian, dan kezaliman dalam kisah dua orang putra Nabi Adam ‘Alaihis salam dari keturunannya langsung.”
Terkait nama kedua anak Nabi Adam ‘Alaihis salam itu, Imam Ibnu Katsir menyatakan, “Jumhur ulama sepakat bahwa nama kedua anak Nabi Adam itu adalah Qabil dan Habil

Kronologi Kisah yang Beredar

Setiap kali hamil, istri Nabi Adam (Hawa) melahirkan dua anak kembar (laki-laki dan perempuan). Allah Ta’ala pun mensyariatkan agar menikahkan putra Nabi Adam dengan putrinya dari pasangan kembaran yang berbeda (bersilangan).
Qabil dilahirkan bersama dengan kembarannya yang berparas cantik. Sedangkan Habil dilahirkan bersamaan dengan kembarannya yang tidak terlalu cantik. Sesuai syariat tersebut, Qabil akan dinikahkan dengan saudara kembar dari Habil, begitu pun sebaliknya.
Namun, sebab mendapati isteri yang tidak terlalu cantik, Qabil berkeinginan menikah dengan saudara kembarnya sendiri yang cantik. Karenanya, Nabi Adam tidak memberi izin kecuali setelah keduanya saling memberi kurban (persembahan) kepada Allah Ta’ala. Siapa yang kurbannya diterima, demikian petunjuk dari Nabi Adam, maka wanita itu menjadi miliknya.

Berdasarkan Hadits Nabi

Hadits yang akan kami ringkas dalam tulisan ini diriwayatkan oleh al-‘Aufi dari ‘Abdullah bin ‘Abbas. Sedangkan yang meriwayatkannya adalah Imam Ibnu Jarir ath-Thabari sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya.

Saat itu belum ada orang miskin yang perlu disedekahi. Maka, dalam mempersembahkan kurban, Allah Ta’ala menerima kurban hamba-hamba-Nya dengan mengirimkan api untuk membakar apa yang dipersembahkan untuk-Nya. Kurban sendiri, saat itu, diniatkan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Lalu tersebutlah dua orang hamba yang tengah duduk-duduk. Kemudian, satu di antara mereka berkata, “Bagaimana kalau kita mempersembahkan kurban?”
Keduanya pun sepakat. Orang pertama adalah seorang penggembala, sedangkan yang satunya adalah petani. Si penggembala memberikan persembahan berupa kambing kibas terbaik (paling gemuk) yang dimilikinya. Sedangkan si petani memberikan kurban berupa hasil pertaniannya.

“Lalu,” tutur Ibnu Jarir dalam riwayat ini, “datanglah api di antara kedua persembahan itu. Maka api itu melahap kambing yang gemuk dan membiarkan hasil tanaman tersebut.”
Melihat ini, si petani pun berkata dengan nada mengancam, “Apakah kamu berpikir bahwa aku akan membiarkanmu pergi dari tempat ini sehingga orang-orang mengetahui bahwa kurbanmu diterima dan kurbanku ditolak?”

“Demi Allah,” lanjutnya berapi-api, “orang-orang tidak akan melihatku karena engkau lebih baik dari diriku.” Lanjutnya sampaikan ancaman serius, “Aku akan membunuhmu.”
“Apa salahku?” tanya si penggembala. “Sesungguhnya,” terangnya berkata, “Allah Ta’ala hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”

Penjelasan Imam Ibnu Katsir

Setelah mengetengahkan atsar di atas dalam Tafsirnya, Imam Ibnu Katsir berkata, “Atsar ini memberikan pengertian bahwa persembahan kurban itu bukan disebabkan untuk memperebutkan seorang wanita sebagaimana yang diceritakan oleh sekelompok kaum Muslimin.”

Lanjutnya menjelaskan makna ayat surat al-Maidah [5] ayat 27, “Redaksi ayat tersebut menunjukkan bahwa ia (Qabil) marah dan dengki atas diterimanya kurban saudaranya (Habil), sedangkan kurbannya sendiri ditolak.”


Demikian kisah ini kami ketengahkan sebagai salah satu upaya memahamkan diri dan kaum Muslimin atas apa yang termaktub dalam al-Qur’an dan Sunnah yang lurus. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari berbagai macam jenis kesalahan dalam memahami Islam yang amat mulia ini.

Qarun - Orang Ke 4 Di jamin Masuk Neraka


Qarun adalah nama salah seorang yang telah dinaskan dalam Al Quran sebagai penghuni neraka karena sikap kesombongannya dan kebakhilannya.
Qarun adalah nama salah seorang anak paman Nabi Musa as, yang dikaruniai oleh Allah kekayaan yang melimpah ruah yang tiada bandingannya. Namun ia tidak mengaku bahwa kekayaan melimpah ruah itu datangnya dari Allah, akan tetapi kekayaan yang melimpah ruah itu diraihnya berkat usahanya, kepandaiannya dalam berdagang.

Al-Qur’an menggambarkan bahwa kekayaan Qarun itu tiada tandingannya, kuncinya gudang-gudang saja tidak seorangpun yang kuat memikulnya, karena terlalu banyak. Namun malang bagi Qarun, kekayaannnya yang melimpah ruah itu membuat dirinya sombong, bakhil, kejam serta berbuat zalim bahkan kufur kepada Allah. Maka dari itulah Qarun termasuk Salah satu orang yang dinash oleh Allah SWT sebagai Penghuni neraka.
إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسٰى فَبَغٰى عَلَيْهِمْ 
“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka.” (QS Al-Qashash, 76)
Tentang firman Allah di atas, para ahli tafsir tradisional menyebutkan bahwa Qarun termasuk salah satu kaum kerabat Nabi Musa as. Adapula yang berpendapat bahwa ia adalah putra saudara perempuan Nabi Musa as, ada pula yang berpendapat bahwa ia adalah saudara lelaki Nabi Musa as. Itulah penafsiran sebagian ahli tafsir tradisional. Kesimpulannya, meskipun Qarun termasuk kerabat dekat Nabi Musa as, tetapi ia tidak dapat menerima petunjuk Allah dari Nabi Musa as.
Perlu diketahui bahwa sebenarnya antara Qarun dan Nabi Musa as tidak ada hubungan kekerabatan apapun, baik menurut Al-Qur’an maupun menurut hadits-hadits Nabi Saw.. Karena itu, kami wajib mencari penafsiran yang lain sebagai berikut, sesungguhnya Qarun adalah seorang dari Bani Israil. Karena itu, Al-Qur’an menyebutnya,
۞ إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ ۖ
 “Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka.” (QS Al-Qashash, 76)
Maksudnya, Qarun termasuk kaum Musa as yang menentang ajaran Nabi Musa as. Ia sama dengan Samiri yang menentang ajaran Nabi Musa as, meskipun Nabi Musa as sangat peduli dengan mereka untuk mengajak mereka ke jalan Allah, sehingga Nabi Musa as selalu berusaha keras untuk mengajak keduanya ke jalan Allah. Tetapi, Qarun tidak dapat menerima ajaran Nabi Musa as, sehingga ia tidak akan memperoleh kebahagiaan surga di akhirat kelak.
وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ
Selanjutnya, firman Allah tersebut menerangkan, “Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS Al-Qashash, 76)
Telah kami terangkan sejak pertama bahwa kisah-kisah yang disebutkan oleh Al-Qur’an adalah kisah-kisah yang pernah terjadi, bukan kisah-kisah bohong atau kisah-kisah yang dibuat secara berlebihan. Karena itu, kita harus mempercayai kisah Qarun seperti yang disebutkan oleh Al-Qur’an. Maksudnya, Allah memberinya sejumlah kekayaan yang berlebihan, sehingga kunci-kuncinya sangat berat untuk dipikul oleh sejumlah orang-orang yang kuat.
Firman Allah di atas menunjukkan betapa banyaknya jumlah kekayaan harta Qarun, sehingga kunci-kuncinya harus dipikul oleh sejumlah orang-orang kuat dan mereka merasa keberatan untuk memikul kunci-kunci kekayaan harta Qarun. Karena itu, Qarun bersikap sombong dan sewenang-wenang dengan kekayaannya itu terhadap kaumnya. Karena itu, Allah menyebutkan bahwa sebagian kaumnya berkata kepadanya, seperti yang disebutkan dalam firman Allah,
إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
Artinya, (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS.Al-Qashash,76)
Akan tetapi, Qarun menjawab nasihat kaumnya dengan kata-kata yang penuh bongkak, seperti yang disebutkan dalam firman Allah,
قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي ۚ
Artinya, Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS Al-Qashash, 78)
Kecongkakan Qarun tidak hanya dilakukan oleh Qarun sendiri, tetapi sejarah telah mencatat bahwa orang-orang terdahulu yang diberi kekayaan atau kekuatan, maka mereka selalu bersikap seperti Qarun, karena mereka mempunyai watak, tabiat dan perilaku seperti Qarun. Karena itu, kita sebaiknya hanya membicarakan kisah Qarun saja. Adapun orang-orang yang ingin diberi kekayaan seperti Qarun, mereka berkata seperti yang disebutkan dalam firman Allah,
يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
Artinya, “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Al-Qashash, 79)
Tetapi, ketika mereka menyaksikan Qarun mendapat siksa dari Allah, yaitu ia dibenamkan di dalam bumi, maka kaumnya yang berharap mendapat kekayaan seperti yang diberikan kepada Qarun, maka mereka berkata seperti yang disebutkan dalam firman Allah,
وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِالْأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ ۖ لَوْلَا أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا ۖ وَيْكَأَنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Artinya, Dan jadilah orang-orang yang kelmarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (QS Al-Qashash, 82)
Maksudnya, karena Qarun selalu bersikap congkak dengan kekayaannya, maka Allah menghukumnya dengan hukuman yang sangat berat, yaitu ia dibenamkan ke dalam bumi beserta tempat tinggal dan seluruh kekayaannya, seperti yang disebutkan oleh Al-Qur’an dalam firman Allah,
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
Artinya, “Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS Al-Qashash, 81)
Perlu diketahui bahwa Qarun mempunyai dua kesalahan,
Pertama, ia merasa sombong, karena ia diberi karunia harta yang berlimpah ruah, sehingga ia menyepelekan semua orang, bahkan ia menyepelehkan kemuliaan Allah, sehingga di mata Allah ia termasuk orang-orang yang tidak akan mendapat pahal surga di akhirat. Sebaliknya, karena ia bersikap sombong dan sewenang-wenang, maka Allah memberinya hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Ia dibenamkan beserta rumah dan harta kekayaannya ke dalam perut bumi, meskipun pada waktu sebelumnya ia merasa bahwa ia akan menikmati kekayaannya sepanjang masa. Karena itu, Allah membenamkannya ke dalam perut bumi sebagai siksa baginya. Padahal semestinya segala karunia Allah harus disyukuri sebanyak-banyaknya dan harus dihormati, karena telah menjadi undangundang Allah di alam semesta ini bahwa siapapun yang merasa rendah kalbu kepada Allah, maka Allah akan memberinya kedudukan yang tinggi, tetapi siapapun yang merasa sombong kepada Allah, maka Allah akan memberinya kedudukan yang paling hina.[1]
Kedua, jika orang-orang kaya jumlahnya sangat banyak di suatu kaum dan semuanya bersikap sombong dan sewenang-wenang seperti yang dilakukan oleh Qarun, maka di kalangan masyarakat itu akan timbul perpecahan dan terputusnya kesatuan dan persatuan di antara mereka, karena di antara mereka ada yang mempunyai kekayaan yang berlimpah ruah, sehingga tidak memikirkan orangorang lemah yang mati dalam keadaan lapar, seperti yang terjadi di masa modern, sehingga masyarakat modern terbagi menjadi dua bahagian, yaitu kelompok kapitalis yang mempunyai harta berlimpah ruah dan kelompok komunis yang sangat miskin, dan kedua kelompok ini mempunyai perbedaan dalam gaya hidupnya masingmasing. Karena itu, Allah sengaja menyebutkan kisah Qarun dan orang-orang yang sepertinya agar dijadikan pelajaran yang baik bagi orang-orang yang datang setelah mereka.
Demikian pula, perlu diketahui bahwa Allah sengaja menyebutkan kisah Qarun agar dijadikan pelajaran yang baik bahwa orang-orang yang memperhatikan kehidupan dan kesenangan duniawi, maka mereka akan terperosok dalam kesalahan yang besar, karena semua kekayaan akan punah, sedang Allah akan memberi kekayaan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya dan Allah dapat juga menarik kekayaan dari siapapun yang dikehendaki-Nya.

Sebagai kesimpulannya, Qarun telah memiliki kekayaan emas dan perak yang berlimpah ruah. Ia tidak peduli darimanakah ia mendapatkan kekayaan itu, apakah dari sumber yang halal ataukah dari sumber yang haram. Pokoknya, ia mempunyai nafsu serakah, sehingga dalam waktu singkat ia dapat mengumpulkan harta yang berlimpah ruah yang disimpan di berbagai tempat yang dikunci rapat, sehingga kunci-kunci tempat-tempat kekayaan Qarun tidak bisa dipikul, kecuali oleh orang-orang yang kuat.
Kisah di atas mengisyaratkan bahwa sifat Qarun adalah manusia paling serakah dan kikir atau pelit. Ada kemungkinan juga ia mengumpulkan harta yang berlimpah ruah itu dari menggali harta yang tersimpan di bawah tanah milik para penguasa sebelumnya atau boleh juga ia mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dengan cara praktek riba. Karena itu, ia dapat menggunakan sejumlah orang-orang kuat untuk membentengi dirinya dan kekayaannya dari gangguan orang lain yang merasa hasud terhadap dirinya. Karena itu, Al-Qur’an menyebutkan bahwa ada sebagian kaumnya yang menasihatinya,
إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لَا تَفْرَحْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ
Artinya, (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (QS Al-Qashash, 76)

Qarun mudah mendapat harta yang berlimpah ruah, ia bersikap tamak dan rakus, sehingga ia lupa kepada orang-orang lemah yang berada di sekitarnya. Pokoknya, segala sikap yang buruk itu hanya timbul dari kalbu yang kotor, karena ia meyakini bahwa harta kekayaan di dunia akan menyebabkan ia bahagia dalam hidupnya sepanjang masa. Padahal, tidak seorangpun yang merasa senang dengan kehidupan dunia, kecuali jika kalbunya sudah kotor, karena ia lebih mengutamakan kehidupan dunia dan kesenangannya daripada kehidupan di akhiratnya, salah satunya adalah Qarun.

Selasa, Disember 26, 2017

Sekadar keluhan....

Bila jiwa terasa panggilannya semakin hampir, ku tenung wajah anak-anak dan isteriku, sebak datang menerpa bertalu-talu. Anak-anak yang masih bersekolah memerlukan ayahnya untuk teruskan hidup mereka. Tapi kukira penjagaan Allah lebih sempurna dari penjagaan seorang ayah. 

Terkadang terfikir di benak, bagaimana keadaan isteriku yang keseorangan mendidik anak-anak? Mampukah dia mengharunginya seorang diri, selama ini walaupun masih kurang sempurna pendidikan anak-anak, tapi sekurang-kurangnya aku masih di sisinya buat penguat jiwa.

Inilah butiran hidup yang dibimbangi oleh setiap manusia. Bimbang sesuatu terjadi kepada keluarganya ketika ketiadaannya. Padahal manusia lupa bahawa kehidupannya di barzakh jauh lebih berat dari kehidupannya di dunia. Jika ingin dibandingkan dengan kehidupan di dunia fana' tiada langsung tandingannya. Seterusnya di sambung pula kehidupan di alam akhirat, alam ini jauh lebih hebat dari alam barzakh lagi. 

Memang jika didalami, alam fana ini sang lekeh jika dibandingkan dengan alam barzakh dan alam akhirat. Melepaskan dunia yang lekeh ini adalah untuk melangsungkan perjalanan selanjutnya ke dua alam yang maha hebat.

.... bersambung

Isnin, Disember 25, 2017

Mutiara Kata Tentang Pendidikan

Data bukanlah informasi, informasi bukanlah pengetahuan, pengetahuan bukanlah pemahaman, dan pemahaman bukanlah kebijaksanaan
Dengan mencari dan Berspekulasi maka kita akan belajar dan mendapatkan hal-hal yang baru
Filosofi dari pendidikan saat ini akan menjadi filosofi pemerintahan dimasa yang akan datang
Hal yang paling baru didunia ini adalah sejarah yang tidak kau ketahui
ilmu adalah pembeda antara orang besar, dengan orang kelas rendahan.
jadikan buku adalah sahabat karibmuKarena ia akan membimbimmnu kearah kebaikan
jika anda merasa berilmu, tapi belum mampu mengubah kualitas hidup anda di berbagai sisiMaka sebenarnya anda masih belum berilmu.
Kebijaksanaan bukanlah dilihat dari usia, tapi dilihat dari pengalaman dan pengetahuannya
Kulit dari pendidikan itu memang pahit, namun buahnya sangatlah manis dan aromanya wangi
mengapa kita harus belajarKarena semua pencapaian awalnya dimulai dari sebuah proses pembelajaran
menjadi pintar itu terasa beratDan menjadi orang bodo, justru lebih beratHal ini dikarenakan beban yang ditimbulkan oleh kebodohan
Pendidikan adalah bagaimanaa kita bertahan ketika kita lupa terhadap apa yang telah kita pelajari
Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup, ia adalah hidup itu sendiri
Pendidikan merupakan senjata yang memiliki kekuatan untuk mengubah dunia
Pendidikan tetaplah pendidikanKita harus belajar apapun, kemudian memutuskan mana yang akan kita ikutiKarena pendidikan bukanlah persoalan hitam atau putih, barat atau timur, pendidikan adalah manusia itu sendiri
Pengetahuan akan membawa kita kepada kesempatan untuk membuat perbedaan
Perpustakaan adalah surga bagi para pembaca
saat dunia menjadi kacau balauMaka yang paling diperlukan adalah orang-orang baik yang berilmuDan aktifitas yang termuliah adalah melatih seseoranguntuk menjadi berilmu.
semakin anda membagikan pengetahuan anda, semakin ia bertambahDan jika anda tidak pernah membagikannya, maka bisa jadi ia akan menghilang.
tak ada kata henti dalam menuntut ilmuOrang-orang hebat tidak akan pernah berhenti, jika anda berhenti, maka anda bukan orang hebat.

Ahad, Disember 24, 2017

Guru Yang Berkesan



Makalah 1
Ciri-ciri Guru Berkesan
Konsep sekolah berkesan yang diperkenalkan dalam sistem pendidikan adalah bermatlamat untuk membawa sistem  pendidikan ke arah kecemerlangan. Seiring dengan slogan “Pendidikan Bertaraf dunia” konsep sekolah berkesan menuntut warga pendidik khususnya untuk mencapai tahap kualiti yang tinggi dalam pendidikan. Dato' Dr. Abdul Shukor Abdullah(1995) telah menyenaraikan 17 ciri guru yang berkesan, namun berdasarkan pengalaman 30 tahun sebagai seorang guru, saya merumuskan 5 ciri utama guru berkesan dalam bilik darjah.

1.       Berilmu Pengetahuan
Guru berkesan adalah mereka yang menguasai  pengetahuan dan kemahiran untuk meningkatkan keberkesanan pengajaran dan pembelajaran. Sentiasa berusaha menambah ilmu pengetahuan samada melalui pembacaan buku atau media elekronik, mengikuti kursus, bengkel dan seminar. Pengetahuan berkaitan penggunaan teknologi ICT dalam pengajaran juga penting kerana ini akan memberi dampak yang positif kepada minat pelajar. Membuat penilaian juga memerlukan pengetahuan dan kemahiran kerana dengan penilaian telus dan sistematik akan membantu guru memberi nilai tambah dalam pengajarannya.

2.       Kreatif
Guru yang kreatif akan sentiasa mencari idea baru dan menarik dalam kaedah dan teknik pengajarannya serta menghasilkan Bahan Bantu Mengajar yang berkesan. Selain itu, sentiasa menyesuaikan bentuk pengajarannya dengan pelajar yang berbeza minat dan tahap kebolehan.  Dengan ini, pelajar berasa seronok, bertambah minat, faham, menghayati bahan yang diajar, meningkatkan kemahiran dan aspek kognitif pelajar serta dapat melakukan aktiviti yang berkaitan dengan pembelajaran yang telah dijalani.
3.       Komunikasi Berkesan
Kemahiran berkomunikasi adalah kebolehan menyampaikan isi pelajaran dengan jelas dan menarik agar mudah difahami pelajar. Selain itu cara guru berkomunikasi dengan pelajar hendaklah menggunakan stail komunikasi menyokong yakni dengan menjadi pendengar yang baik, memahami , menghargai dan tidak melukakan perasaan pelajar. Sikap guru yang pandai menjaga hati pelajar mereka seperti kerap menegur sapa, berbual-bual, dan mudah dibawa berbincang akan memberi keyakinan pada pelajar untuk bertanya dan mengemukakan masalah yang dihadapi, dengan ini pengajaran akan lebih berkesan. Interaksi dua hala yang wujud akibat berkomunikasi yang baik ilihat sebagai satu medium yang penting kea rah pembelajaran berkesan .

4.      Dedikasi
Guru yang dedikasi sentiasa ikhlas dan sabar ketika mengajar terutamanya kepada murid-murid yang lemah tanpa mengabaikan pelajar yang cerdas. Seorang yang berdedikasi  tidak kedekut ilmu, tidak terlalu serius dan boleh menyelitkan unsur-unsur humor dalam pengajarannya. Guru yang dedikasi juga adalah guru yang tidak kedekut dan berkira dalam pekerjaannya misalnya membeli dan menyediakan BBM, mengadakan hiasan kelas seperti bunga, alas meja dan langsir, menyediakan suasana pembelajaran yg sesuai, menarik dan selesa dalam bilik darjah. Kelas yang kondusif akan menyeronokkan pelajar. Keadaan itu akan memudahkan guru melaksanakan pengajaran .

5.       Kasih sayang
Perbuatan, tuturkata dan tingkahlaku guru yang menggambarkan sifat kasih sayang dapat  membantu guru melaksanakan tugas dengan  gembira dan berkesan. Guru yang tidak pilih kasih, prihatin terhadap anak-anak muridnya sebagai seseorang manusia, dan turut mengambil berat tentang masa depan mereka akan memberikan kesan yang mendalam di jiwa pelajar. Pelajar yang terasa di sayangi akan dapat menumpuhkan perhatian dalam pembelajarannya. Kasih saying juga penting bagi perkembangan sahsiah dan emosi pelajar.
Salah satu strategi untuk melahirkan guru yang berkualiti ialah dengan meningkatkan keberkesanan proses pembelajaran. Bilik darjah adalah medan perjuangan utama kepada kerjaya seorang guru. Di bilik inilah mereka menunjukkan kebolehan dan keupayaan melaksanakan tugas pengajaran dan pembelajaran. Oleh itu, adalah penting seorang guru mengurus bilik darjahnya dengan baik bagi membolehkan pelajar mengikuti pengajaran guru dengan mudah dan berkesan. Guru yang berkesan adalah adalah tonggak kecemerlangan sistem pendidikan  sebagaimana hasrat  Falsafah pendidikan Kebangsaan  selaras kehendak  masyarakat dan Negara.
📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚


Makalah Ke 2
Menjadi guru yang berkesan

Pelajar menengah mungkin inginkan guru yang `handsome', `cun', kemas, pandai mengajar, tidak kedekut markah, tidak cerewet...

Ibu bapa pula mungkin mengharapkan guru yang penyayang, pandai mengajar, banyak ilmu, pandai bergaul dengan ahli masyarakat, berakhlak mulia, rajin ke surau, rajin ke masjid...

Sebenarnya, guru bukan seorang tetapi bermacam-macam orang. Pastinya bermacam-macam ragam!

Pengajaran pula bermaksud memberi arahan, memberitahu atau menjelaskan.
Dengan perkataan lain, guru dan pengajaran merupakan bidang kerjaya yang penting tetapi penuh cabaran.

Pengajaran memerlukan banyak usaha. Namun, ia mungkin memudaratkan guru dan pengajarannya apabila dilaksanakan dengan cara yang salah.

Seorang yang bekerja sebagai guru pastinya menerima banyak anugerah mental dan spiritual lantaran `mulia'nya tugas sebagai guru.

Walau bagaimanapun, tugas untuk mencungkil dan membina bakat seseorang menerusi pengajaran ini bukan mudah.
Di Malaysia, guru dikehendaki bertugas menurut ukuran (standard) yang ditentukan oleh Kementerian Pendidikan, walaupun ukuran yang terbaik ialah ukuran yang digembleng sendiri.

Menurut ukuran yang ideal, seorang guru adalah contoh kepada anak didik. Namun guru tidak terhindar daripada melakukan kesilapan lantaran guru adalah manusia biasa!

Guru perlu bersikap objektif, iaitu lurus dan tepat. Walau bagaimanapun, hubungan guru dengan anak didik yang `terlalu rapat' akan menyulitkan sikap objektif itu.

Ada kemungkinan si anak didik akan `memijak kepala' guru berkenaan.

Pengajaran begitu luas cakupannya dan sangat berkait rapat dengan orang. Ia kerap berubah dan penyelesaian terakhir mustahil dapat ditemui.

Aspek-aspek penting dalam situasi pengajaran-pembelajaran, dihasilkan oleh sebab-sebab terdekat dalam proses berkenaan.

Dengan yang demikian, kita mungkin tidak mengetahui apa yang akan terjadi dan bagaimana mengawalnya. Namun, pengajaran masih mempunyai erti, tujuan dan reka bentuk.

Pengajaran, sebagaimana yang kita maklumi, merupakan suatu cara membimbing anak-anak didik untuk memperoleh sejumlah pengalaman bermutu dalam usaha mengembangkan bakat dan kebolehan mereka sebagai insan yang kamil.

Guru perlu mengetahui banyak perkara. Dia mesti mengetahui hakikat bahawa dia ada tanggungjawab, iaitu untuk mengajar subjek kepakarannya. Ini demikian, kerana pengajaran adalah suatu sains dan seni.

Guru mesti mempunyai pengetahuan tentang beberapa subjek yang berkait dengan subjek kepakarannya. Dia mesti mempelajari psikologi manusia, dan memahami susunan sosial tempat berlakunya proses pendidikan.

Namun demikian, guru yang mengetahui semua perkara pun tidak terlepas daripada menghadapi masalah di dalam bilik darjah.

Tanggapan ini ada benarnya kerana pengajaran dalam persembahan sebenar, merupakan suatu seni yang mengutamakan perseimbangan antara banyak faktor, iaitu pengetahuan, ketrampilan dan mutu peribadi.

Anak didik tidak selalunya belajar daripada pengajaran guru. Ia bergantung kepada beberapa syarat, yang seandainya dipenuhi, seseorang anak didik dapat belajar dengan sewajarnya.

Antaranya, motivasi dan kesediaan anak didik untuk belajar, tahap perkembangan emosi dan minda, hubungannya dengan guru, keupayaan belajar makna perkataan, dan kemahiran guru mengongsi ilmu dan pengalaman.

Seterusnya, bagaimanakah seseorang guru menjadikan sesuatu pengajaran yang sukar menjadi mudah?

Pertama
Beri contoh. Kaitkan perkara yang akan diajar kepada sesuatu yang diketahui anak didik, dan pada masa yang sama, memberikan mereka pengalaman.
Kedua
Sebutkan perkara yang diajar dalam bahasa atau istilah yang mudah. Jelaskan masalah yang timbul dalam jangkaan pengalaman dan kefahaman anak didik.
Ketiga
Bahagikan masalah ke bahagian-bahagian yang mudah.
Keempat, cantumkan bahagian-bahagian bermasalah supaya keseluruhannya mudah difaham, dan supaya seluruh masalah merentasi kesemua bahagian yang bermasalah.
Kelima
Tanya soalan-soalan yang sesuai supaya perkara yang dipelajari mudah difahami.
Keenam, berikan reaksi terhadap soalan yang menyatakan minat dan tumpuan anak didik. Pengajaran mungkin lebih berkesan sekiranya ia dilakukan sebagai hasil daripada soalan-soalan anak didik.
Ketujuh
Dengari anak didik menyatakan kesukarannya dalam pembelajaran, sama ada kepada guru atau kepada dirinya sendiri.
Kelapan,
Timbulkan keyakinan. Ulang proses yang diajar kepada anak didik sehingga meyakinkannya.
Kesembilan,
Erikan pelbagai pendapat. Lihat perkara yang akan diajar daripada pelbagai sudut, dan lihat masalah daripada pelbagai kemungkinan.
Kesepuluh,
Sediakan pelbagai pengalaman atau pembelajaran yang berkait dengan perkara yang dipelajari.
Kesebelas,
Tukar kaedah penjelasan bersesuaian dengan keupayaan dan tahap perkembangan pembelajaran anak didik dan kaitkan pembelajaran baharu kepada perkara yang telah diketahui.
Kedua belas,
Timbulkan suasana pembelajaran yang bererti, kondusif dan menyeronokkan menerusi pengajaran yang hidup, riang dan memberansangkan.
Sebagai kesimpulan, dalam proses pengajaran dan pembelajaran, seorang guru adalah segala-galanya.
Guru bukan seorang guru semata-mata tetapi dia juga laksana seorang pemandu, kaunselor, pencipta, pemberi teladan, pekerja rutin, pendakwah, pemantau dan penerima kenyataan.
Guru juga laksana pencetus wawasan, pendengar, penasihat, penilai, pelakon, penghibur, dan malah 1001 macam watak yang sentiasa berubah demi keberkesanan pengajaran dan pembelajaran anak-anak didik

Selasa, Disember 12, 2017

Nabi Isa AKan Muncul Sebagai Manusia Paling Maju Di Dunia

Beratus-ratus laman web dari seluruh dunia menceritakan dan menghebahkan tentang Dajjal atau Antichrist ini. Setiap pendedahan yang dinyatakan boleh disimpulkan kepada beberapa perkara:

Keupayaan Dajjal meracuni pemikiran umat manusia terutama umat Islam telah berlangsung sejak tahun 1800 lagi, Cuma ramai yang tidak sedar.

Keupayaan proksi-proksi Dajjal menguasai ekonomi dunia, mereka mengumpul kekayaan yang sangat banyak untuk menjadi pihak yang berpengaruh. Juga menjadikan kebendaaan seperti wang ringgit umpan kepada manusia.

Keupayaan organisasi-organisasi sulit Dajjal menguasai pemerintahan dalaman setiap negara di dunia, bagi tujuan memporak perandakan negara tersebut ataupun untuk menggunakan negara tersebut untuk melaksanakan cita-cita mereka.

Keupayaan agen-agen Dajjal menggunakan teknologi terkini dalam meneroka dunia angkasa melalui UFO. Teknoligi setelit juga menjadi cara untuk melebarkan maklumat bohong mereka.

Kesimpulannya, Dajjal yang kita kenali itu merupakan manusia yang maju gaya pemikirannya. Seperti kata Muhammad Isa Dawud, “….dia adalah anak yang genius..”

Tapi kita terlupa akan seseorang yang ditakdirkan akan melawannya…

Iaitu Nabi Isa a.s.

Ciri-Ciri Manusia Maju

Dajjal dikatakan maju dan menguasai segala ilmu disebabkan perkara-perkara berikut:

Hidup terlalu lama sejak sebelum kelahiran Nabi Musa.
Telah merantau seluruh pelusuk dunia sejak beribu-ribu tahun.
Mempelajari pelbagai bahasa di dunia.

Melihat sendiri perkembangan tamadun masyarakat dunia.
Mengetahui selok-belok tempat di dunia.

Dan lain-lain lagi…
Maka, saya percaya Nabi Isa a.s. yang ditakdirkan Allah SWT untuk melawan Dajjal dibekalkan juga dengan perkara-perkara berikut:

Kemajuan pemikiran dan teknologi setanding atau lebih daripada Dajjal.
Kekuasaan ilmu teknologi moden yang melampaui pemikiran manusia.
Strategi peperangan yang lebih maju.

Nabi Isa adalah manusia maju yang bakal diturunkan Allah SWT sesuai dengan tempoh masa hidupnya yang lama seperti Dajjal. Adakah Allah akan menurunkan hamba-Nya ini dengan tangan kosong sahaja untuk melawan makhluk termaju.

Apa yang perlu dibimbangi?

Sebagai umat Islam, saya amat bimbang tentang tiga perkara:

Pada ketika Dajjal muncul di tengah-tengah masyarakat, tiada seorang pun tahu ia adalah Dajjal. Mungkin disebabkan wajahnya telah diubah.

Pada ketika munculnya Imam Mahdi, tiada seorang pun sedar dia adalah Imam Mahdi kecuali orang-orang tertentu yang ditakdirkan Allah sahaja.

Pada ketika turunnya Nabi Isa, tiada seorang pun sedar ia adalah Nabi Isa kerana ketika itu manusia berada dalam keadaan jahil dan sentiasa merasakan dunia masih lagi bukan era akhir zaman.

Apabila membaca hadith Rasulullah SAW, kita mungkin hanya berfikir Nabi Isa turun dari langit kemudian terus membunuh Dajjal. Anggapan sebegini mungkin timbul kerana hadith berikut ringkas sahaja dan kita akan mengandaikan kejadian tersebut hanya berlaku sekejap sahaja.

Tetapi sebaliknya, kemungkinan kejadian tersebut lebih lama dari yang kita dijangkakan.

Wallahu’alam…

Selasa, Disember 05, 2017

Sebenarnya Anggapanmu semua salah


إني رأيت بعض الخلق ظن أنه شرفه وعزه في كثرة الأقوام والعشائر، فاغتر بهم
Aku lihat ade org yg menyangka kemuliaan itu pd byknya pengikut, maka kamu jgn tertipu dengannya.

وزعم آخرون أنه في ثروة الأموال وكثرة الأولاد، فافتخروا بها
Dan ade juga yg menyangka kemuliaan tu pada kekayaan harta dan byknya anak, maka mereka berbangga².

وحسب بعضهم العز والشرف في غصب أموال الناس وظلمهم وسفك دمائهم
Dan ada yg menyangka kemuliaan itu dgn merampas harta manusia dan menumpahkan darah mereka.

واعتقدت طائفة أنه في إتلاف المال وإسرافه وتبذيره
Ada yg menyangka dgn membazirkn harta, dan melampau

فتأملت في قوله تعالى : أن أكرمكم عند الله أتقكم
فاخترت التقوى، واعتقدت أن القرآن حق صادق،
Maka aku pilih Al Quran kerana ia adalah benar

وظنهم وحسبانهم وكلها باطل زائل
Dan sangkaan serta perkiraan manusia tadi semuanya batil dan binasa

أبو عبد الرحمن حاتِم بن علوان الأَصَمْ

Hari ini ramai yg melihat kebenaran dan kemuliaan itu dgn kemasyhuran atau populariti....
Maka lihat dan ukurlah ia berpandukan Al Quran dan Sunnah.