Ahad, Mei 10, 2020

Ustaz Dituduh Mencuri Duit 1000


 Seorang ustaz diundang makan malam oleh sepasang suami isteri di rumah mereka . Setelah Ustaz itu pergi, si isteri berkata kepada suaminya, “Wang kita hilang, saya fikir ustaz yang ambil wang RM1,000 di meja itu.” . "Padahal wang itu kita akan berikan kepadanya." . Dengan marahnya si suami berkata, "Jika begitu dia pencuri. Jadi kita tidak perlu datang ke pengajiannya lagi!” .

Dua bulan kemudian si isteri terserempak dengan ustaz itu. Dengan terpaksa, si isteri menyapa sang ustaz. . "Assalamualaikum ustaz. Mesti ustaz perasan yang kami sudah lama tidak hadir ke pengajian.

Sebenarnya ustaz, kami suami isteri marah pada ustaz.” . “Ketika ustaz makan malam di rumah kami, wang RM1,000 yang kami letak di meja, hilang setelah ustaz pulang. Dan ustazlah satu-satunya orang yang datang ke rumah kami hari itu." .

Ustaz tersenyum menjawab, “Ya benar. Sayalah yang mengambil wang itu dan meletakkannya dalam al-Quran di rak buku rumah puan, agar tidak terkena tumpahan gulai." . “Maafkan saya kerana tidak memberitahu puan atau suami puan.

Saya fikir kalian pasti membuka al-Quran setiap hari,” jelas sang ustaz. . Wanita itu berasa amat malu dan meminta maaf kepada ustaz. .

Sekembali ke rumah, dia mengambil al-Quran dan menemukan RM1,000 terselit di celah lembarannya.

Sudah dua bulan si isteri dan suami tidak membuka dan membaca al-Quran. . Selama dua bulan mereka menuduh ustaz itu mencuri wang mereka.

Sahabat... semoga kita tidak seperti kisah suami dan isteri itu. Jarang membaca al-Quran, berprasangka buruk dan menghakimi orang lain yang belum tentu bersalah. Selamat memperingati Malam Nuzul Quran Tiada hari tanpa membaca al-Quran . #nuzulQuran #ustirwanzahuri

Sabtu, April 25, 2020

Kisah Wanita Yg Bijaksana Di hadapan Hajjaj

Diceritakan AlHajjaj pernah menangkap dan memenjarakan 3 org penjenayah. Lalu dijatuhkan hukuman bunuh ke atas mereka bertiga.

Sebaik-sahaja ketiga2 penjenayah itu dibawa ke hadapan tukang pancung, alHajjaj terlihat seorang wanita cantik menangis teresak-esak. Kata alHajjaj: "Bawakan wanita itu ke mari." Wanita itupun dibawa ke hadapan alHajjaj. Kata alHajjaj: "Apa yg menyebabkan kamu menangis?" Jawab wanita itu: "mereka bertiga yg engkau telah jatuhkan hukuman pancung itu, salah seorgnya adalah suamiku, seorg lagi saudara kandungku dan seorg lagi adalah anak, buah hatiku, bagaimana aku tidak menangis?"

Simpati dgn wanita tersebut, alHajjaj bersetuju utk memberi kemaafan kpd salah seorg dr mereka bertiga yg lebih disayangi olehnya. Kata alHajjaj: "pilihlah mana2 salah seorg dr mereka bertiga utk diberikan kemaafan." alHajjaj menyangka sudah tentu wanita tersebut akan memilih anaknya.

Suasana menjadi senyap seketika. Semua penglihatan tertumpu kpd wanita tersebut, siapakah yg akan dipilihnya utk mendapat keampunan dan bebas dr hukuman pancung? Tiba2 wanita itu bersuara memecahkan kesunyian, kata beliau: "AKU MEMILIH SAUDARA KANDUNGKU."

Terpanjat alHajjaj... dgn segera beliau bertanya kenapa kamu memilih saudaramu? Tidak yang lain? Jawab wanita itu dgn bijaksana: "Adapun suami itu masih ada." iaitulah suami boleh sahaja diperolehi dgn mengahwini lelaki yang lain. Adapun anak, boleh sahaja dilahirkan lagi. Manakala saudara kandung adalah suatu yg tidak mungkin diperolehi lagi, kerana mustahil utk aku menghidupkan semula bapa dan ibuku."

AlHajjaj berasa kagum dgn wanita tersebut lalu diberikan kemaafan kepada ketiga2 pesalah.

Pengajaran:

Saudara kandung tiada gantinya. Biasanya kita tidak merasai nilai saudara kandung melainkan setelah mereka tiada. Justeru jagalah hubungan dgn mereka kerana ketiadaan mereka tiada gantinya lagi.

Ahad, Mac 29, 2020

BEZA ISTIGHFAR DENGAN TAUBAT


Article ini adalah article copy n paste, semoga Allah memberikan pahala yang banyak kepada penulisnya. Saya baiki sedikit mengikut kemampuan.

Seringkali kita mendengar orang menyebut beristighfar, kadang-kadang juga disebut bertaubat. Adakah di sana perbedaan antara istighfar dan taubat? Apakah ketika seseorang itu beristighfar serta merta dianggap juga sebagai sedang bertaubat?

Dua istilah yang tampak sama ini, ternyata pada hakikatnya terdapat perbedaan. Berikut perbedaannya :

Pertama :

Taubat ada batas waktunya, sementara istighfar tidak ada batas waktunya.

Oleh karenanya sampai orang yang sudah meninggal masih boleh dimohonkan ampunan. Adapun taubat tak diterima ketika nyawa seorang sampai pada kerongkongan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda seperti berikut :

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan” (HR. Tirmidzi, dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma).

Oleh karenanya seorang yang telah meninggal dunia tidak ditaubatkan, namun mungkin baginya untuk dimohonkan ampunan atau didoakan istighfar. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hashr :10).

Kedua :

Taubat hanya boleh dilakukan oleh pelaku dosa itu sendiri, adapaun istighfar boleh dipohon oleh pelaku dosa serta juga orang lain untuknya.

Oleh karenanya seorang anak boleh mendoakan isighfar untuk ayahnya, atau seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain, namun tidak boleh dikatakan seorang anak men-taubatkan bapaknya atau seorang rakan mentaubatkan kawannya.

Ketiga :

Taubat memiliki syarat harus berhenti dari dosa yang ditaubati. Adapun istighfar tidak disyaratkan demikian.

Oleh karenanya ada suatu masalah penting yang dikaji oleh para ulama berkaitan hal ini, yakni apakah istighfar bermanfaat tanpa taubat?

Maksudanya apabila seorang beristighfar sementara ia masih terus melakukan maksiat, apakah istighfar itu bermanfat? Misalnya seorang merokok dan ia mengakui bahwa rokok itu haram, kemudian beristighfar, namun tidak berhenti dari merokok, apakah istighfarnya tersebut dapat menghapus dosa merokok yang ia lakukan? Mengingat salah satu syarat taubat adalah berlepas diri dari dosa yang ditaubati.

Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini :

Pendapat 1:

Istighfar tidak bermanfaat tanpa taubat. Karena istighfar adalah jalan menuju taubat. Sehingga apabila maksud tidak tercapai maka istighfar yang dilakukan menjadi sia-sia. Maka menurut ulama yang memegang pendapat ini, istighfar yang dilakukan oleh perokok pada isu di atas tidak bermanfaat.

Pendapat 2:

Istighfar bermanfaat meski pelaku belum bertaubat. Karena dalam hadis-hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dibedakan antara istighfar dan taubat. Seperti hadis berikut,

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sungguh diriku beristighfar dan bertaubat dalam sehari lebih dari 70 kali” (Muttafaqun’alaih).

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “… 100 kali“.

Pada hadis di atas istighfar dan taubat disebutkan secara terpisah. Menunjukkan bahwa istighfar dapat bermanfaat dengan sendirinya, meski tidak diiringi taubat.

Maka, menurut para ulama yang memegang pendapat ini, istighfar yang dilakukan oleh perokok pada isu di atas bermanfaat. Boleh jadi Allah mengijabahi permohonan ampunnya meskipun ia belum bertaubat.

Keadaan Istighfar

Namun ada kesimpulan yang sangat baik dari guru kami; Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili -hafidzohullah- ketika mengkompromikan dua pendapat di atas. Beliau menjelaskan bahwa istighfar ada dua keadaan :

Pertama :

Istighfar / permohonan ampun untuk pelaku dosa yang dilakukan oleh orang lain.

Seperti istighfarnya Malaikat untuk orang yang duduk di tempat sholat selama wudhunya tidak batal, para Malaikat mendoakannya,

اللهم اغفرله اللهم ارحمه

“Ya Allah ampunilah dan rahmatilah dia..” (HR. Bukhori dan Muslim, dari Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-).

Atau istighfar anak untuk orang tuanya,

رب اغفر لي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

“Ya Tuhanku ampunilah aku dan kedua orangtuaku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku di waktu kecil“.

Nabi juga pernah memerintahkan para sahabat beliau ketika raja Najasi meninggal dunia, untuk mendoakan ampunan untuknya,

استغفروا لأخيكم

“Doakanlah istighfar untuk saudara kalian..” (HR. Bukhori dan Muslim).

Beliau juga bersabda sesuai menguburkan salah seorang sahabat beliau,

استغفروا لأخيكم واسألوا له التثبيت فإنه الآن يسأل

“Doakan istighfar untuk saudara kalian. Dan mohonkan untuknya ketetapan hati, karena dia sekarang sedang ditanya” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Hakim).

Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan istighfar untuk mayit bukan taubat untuk mayit. Mengingat perbuatan ini diperintahkan oleh syariat, menunjukkan bahwa istighfar untuk mayit dapat bermanfaat. Karena Allah tidaklah memerintahkan sesuatu kecuali perbuatan yang bermanfaat. Ini adalah kaedah yang sangat penting dalam agama kita.

Kedua :

Istighfar pelaku dosa untuk darinya sendiri.

Yang tepat, istighfar seperti ini dapat bermanfaat untuk pelakunya mesti ia belum bertaubat, namun, dengan syarat, istighfar tersebut muncul karena rasa takutnya kepada Allah ‘azza wa jalla yang sebenarnya dan jujur. Maka orang seperti ini berada pada dua situasi : antara takut kepada Allah dan kalah oleh hawa nafsu. Saat rasa takut muncul ia beristighfar dan saat ia dikalahkan oleh syahwatnya ia terjerumus dalam dosa, dan ia menyedari bahwa yang dilakukan adalah dosa. Istighfar untuk orang seperti ini kita katakana bermanfaat untuknya.

Adapun istighfar yang hanya di lisan, bukan karena takut kepada Allah, maka ini istighfar yang dusta. Seorang mengatakan astaghfirullah, akan tetapi dalam hatinya tidak ada rasa bersalah, takut kepada Allah dan kesadaran bahwa yang dilakukan adalah dosa. Maka istighfar seperti ini tidak bermanfaat sama sekali.

Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– ketika menjawab permohonan Abul Qosim al Maghribi –rahimahullah-, untuk menuliskan wasiat untuknya yang kemudian tulisan tersebut dikenal dengan Al Wasiyyah As Sughro, menyatakan,

فإن الله قد يغفر له إجابة عن دعائه، وإن لم يتب، فإذا اجتمعت الاستغفار و التوبة فهو الكمال

“Allah boleh jadi mengampuninya sebagai pengabulan atas doanya, meski ia belum bertaubat. Namun bila berkumpul antara istighfar dan taubat maka itulah yang sempurna” (Al Wasiyyah As Sughro, hal. 31. Tahqiq Sobri bin Salamah Sāhin).

Bila seorang dapat mengumpulkan istighfar dan taubat, maka itulah yang sempurna dan diharapkan. Sebagaimana Allah mengumpulkan kedua hal ini dalam firmanNya,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah. Lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka (beristighfar), siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?! Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu (bertaubat), sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imron : 135).

Seperti yang dilakukan Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam, “Demi Allah, sungguh diriku beristighfar dan bertaubat dalam sehari lebih dari 70 kali” (Muttafaqun’alaih).




Selasa, Februari 18, 2020

Tiada Kurang Jika Bersedelah

*Diangkat Darjat Orang Pemurah dan Pemaaf* عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
 Daripada Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah pasti menambahkan kemuliaan kepada seorang hamba yang memiliki sifat memaafkan. Tidak ada balasan bagi seseorang yang rendah hati kepada Allah, kecuali Allah mengangkat darjatnya” (HR Muslim No: 4689) Status: Hadis Sahih Pengajaran: 1. Sedekah dalam apa jua bentuk seperti wang ringgit, barangan, mahupun makanan tidak akan mengurangkan harta malah menyuburkan hartanya.
 عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَنْفِقِي وَلَا تُحْصِي فَيُحْصِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَلَا تُوعِي فَيُوعِيَ اللَّهُ عَلَيْكِ Daripada Asma RA Rasulullah SAW bersabda: Bersedekahlah, jangan engkau menghitung-hitungnya, agar Allah tidak menghitung-hitung pemberian-Nya kepadamu dan janganlah engkau mengumpul-ngumpulkannya (tidak bersedekah) agar Allah tidak kikir kepadamu” (HR Bukhari No: 2402) Status: Hadis Sahih 2. Orang yang memaafkan, Allah akan menambah kemuliaan untuknya di sisi Allah. 3. Pemaaf dapat menghilangkan rasa permusuhan dan memperbanyakan sahabat 4. Pemaaf akan melahirkan sifat tawaduk, menghilangkan sifat sombong dan angkuh. Firman Allah:
 خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ (١٩٩)
 Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. (QS. Al-A’raf 7:199) 5. Allah mengangkat darjat kepada orang yang tawadukk. Tawaduk ialah bersikap rendah hati iaitu sifat yang diperintahkan di dalam Islam. Di dalam Al-Quran Allah berfirman:
 وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
 “Dan rendahkanlah dirimu kepada kaum mukminin yang mengikutimu.” (Al Hijr: 88) Marilah kita jadi pemurah, pemaaf dan rendah hati 18 Februari 2020 24 Jamadil Akhir 1441H

Rasulullah Beri Amaran Dgn Sembelih Kpd Quraisy

Abdullah bin Amr melanjutkan, “Aku mengetahui hal itu dari ekspresi wajah beliau. Kemudian beliau berlalu. Ketika beliau melewati mereka untuk kali kedua, mereka kembali mencelanya seperti semula. Dan aku bisa mengetahui hal itu dari wajahnya. Beliau tetap berlalu (tidak memperdulikannya). Lalu beliau melewati mereka untuk kali ketiga, mereka kembali mencelanya seperti semula. Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
تَسْمَعُونَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، أَمَا وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِالذَّبْحِ
“Dengarlah wahai orang-orang Quraisy, demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam genggamannya, sungguh aku datang untuk menyembelih kalian!!”
Maka kata-kata itu menjadikan mereka ngeri. Sehingga, tidak ada seorang pun dari mereka kecuali seakan-akan di atas kepalanya ada seekor burung yang hinggap”. (HR. Ahmad 6739).
Begitulah sesingga terdiamnya semuanya, burung pun hinggap karena mengira mereka patung.


Khamis, Februari 06, 2020

ZALIM DALAM HADITH 24 RIYADUSSOLIHIN


Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah #24

الحَدِيْثُ الرَّابِعُ وَالعِشْرُوْنَ

عَنْ أَبِى ذَرٍّ الغِفَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَفِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ: يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِى أَهْدِكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِى أُطْعِمْكُمْ يَا عِبَادِى كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ فَاسْتَكْسُونِى أَكْسُكُمْ يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ يَا عِبَادِى إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Hadits Ke-24

Dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meriwayatkan dari Allah ‘azza wa Jalla, sesungguhnya Allah telah berfirman:

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.

Wahai hamba-Ku, kalian semua adalah orang yang lapar, kecuali orang yang Aku beri makan, maka hendaklah kalian minta makan kepada-Ku, pasti Aku memberinya. Wahai hamba-Ku, kalian semua asalnya telanjang, kecuali yang telah Aku beri pakaian, maka hendaklah kalian minta pakaian kepada-Ku, pasti Aku memberinya.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan dapat membinasakan-Ku dan kalian tak akan dapat memberikan manfaat kepada-Ku. Wahai hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antara kalian, tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun. Jika orang-orang yang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang paling jahat di antara kalian, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit pun juga.

Wahai hamba-Ku, jika orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antara kalian, sekalian manusia dan jin yang tinggal di bumi ini meminta kepada-Ku, lalu Aku memenuhi seluruh permintaan mereka, tidaklah hal itu mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali sebagaimana sebatang jarum yang dimasukkan ke laut.

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya inilah amal perbuatan kalian. Aku catat semuanya untuk kalian, kemudian Kami akan membalasnya.

Maka barang siapa yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah dan barang siapa mendapatkan selain dari itu, maka janganlah sekali-kali ia menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 6737]

Keutamaan hadits di atas

Dalam lanjutan lafaz hadits di atas,

قَالَ سَعِيدٌ كَانَ أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِىُّ إِذَا حَدَّثَ بهَذَا الْحَدِيثِ جَثَا عَلَى رُكْبَتَيْه

Sa’id berkata bahwa dulu ketika Abu Idris Al-Khawlaniy (yang meriwayatkan hadits ini) jika dia membacakan hadits ini dia langsung tersungkur untuk berlutut.” Lihat Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:33.

Kami katakan: Suatu pelajaran penting dari kisah ini. Lihatlah bahwa para salaf dahulu, hati-hati mereka lebih terpengaruh dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kandungannya yang sangat mendalam dan begitu mengena. Mereka tidaklah terpengaruh dengan cerita-cerita bualan dan fiktif seperti kebiasaan orang saat ini. Orang-orang saat ini hanya bisa terpengaruh jika membaca novel yang menyedihkan yang sebenarnya ditulis atas dasar bualan. Dan inilah tipu daya iblis terhadap mereka. Novel-novel saat ini membuat mereka menjauh dari Al-Qur’an dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam serta jalan hidup salaf (generasi terbaik umat ini) yang sebenarnya penuh dengan lautan ilmu dan terdapat kisah-kisah/ pelajaran-pelajaran yang amat menyentuh hati. Tetapi saat ini banyak yang melalaikannya. Hati siapakah yang rusak? Hati ulama terdahulu ataukah orang saat ini?

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)

Allah mengharamkan tindak zalim

Dalam hadits ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”

Berikut adalah perkataan Syaikh Abdul Muhsin dalam Fath Al-Qawi, “Kezaliman adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Allah telah mengharamkan kezaliman atas dirinya dan menghalanginya dari dirinya. Padahal Allah itu memiliki qudrah (kemampuan), namun tidak ada kezaliman dari Allah selamanya. Hal ini disebabkan kesempurnaan keadilan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ

Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Mukmin: 31)

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menzalimi hamba-hambaNya.” (QS. Fushshilat: 46)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا

Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun.” (QS. Yunus: 44)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah.” (QS. An Nisaa’: 40)

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا



Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal yang saleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula) akan pengurangan haknya.” (QS. Thaha: 112). Maksudnya adalah tidak perlu takut (gusar) dengan kebaikan yang berkurang ataupun kejelekan yang bertambah atau pula akan ditimpakan kejelekan dari orang lain.

Ayat-ayat di atas dijelaskan tentang dinafikannya (ditiadakannya) kezaliman dari Allah Ta’ala, maka ini mengandung adanya penetapan sifat keadilan yang sempurna dari Allah Ta’ala.

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata,“Allah menciptakan perbuatan hamba, di dalamnya terdapat suatu bentuk kezaliman yang dilakukan oleh hamba tersebut, maka ini tidaklah berarti Allah juga bersifat zalim. Sebagaimana Allah juga tidak disifati dengan sifat-sifat jelek lainnya yang dilakukan oleh hamba, walaupun setiap perbuatan hamba adalah makluk dan takdir (ketetapan) Allah. Allah tidaklah disifati kecuali dengan perbuatan-Nya saja dan tidak disifati dengan perbuatan hamba-Nya. Setiap perbuatan hamba adalah makhluk dan ciptaan-Nya. Namun, Allah tidaklah disifati dengan sesuatu dari perbuatan hamba tersebut. Allah hanyalah disifati dengan sifat dan perbuatan yang Dia melakukannya sendiri. Wallahu a’lam.” (Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam, 2:36)
Zalim Itu 2 Bahagian

Kezaliman itu ada dua. Pertama, menzalimi diri sendiri, yang paling parah adalah berbuat syirik. Sebagaimana disebutkan dalam ayat,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.” (QS. Luqman: 13)

Kedua, seorang hamba menzalimi orang lain. Dalam hadits disebutkan,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا

Sesungguhnya darah, harta, kehormatan di antara kalian itu haram sebagaimana haramnya hari kalian ini, bulan kalian ini, dan negeri kalian ini.” (HR. Bukhari, no. 67 dan Muslim, no. 1679)

 Semua hamba dalam keadaan tak tahu arah









Dalam lanjutan hadits ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.”

Disebutkan dalam Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (2:39), sebagian orang mungkin ada yang mengatakan bahwa hadits ini bertentangan dengan hadits ‘Iyadh bin Himar di mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنِّى خَلَقْتُ عِبَادِى حُنَفَاءَ

Aku menciptakan hamba-Ku dalam keadaan berada di jalan yang lurus.” (HR. Muslim, no. 2865). Dalam riwayat lainnya dikatakan, “Dalam keadaan muslim lalu setan mengalihkannya dari jalan yang lurus.”

Hal ini tidaklah demikian. Tetapi yang dimaksudkan adalah bahwa Allah menciptakan Bani Adam (keturunan Adam) dalam keadaan menerima Islam dan condong kepadanya, bukan pada yang lainnya.

Namun, setiap orang tidaklah bisa tetap dalam fitrah ini kecuali dengan adanya kekuatan. Yaitu seseorang harus mempelajari Islam. Karena seseorang sebelum belajar, dia berada dalam keadaan jahil (bodoh), tidak mengetahui apa-apa, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ

 Dari Anas RA berkata; Rasulullah SAW bersabda: ‘Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim (aniaya) dan yang dizalimi”. Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, jelas kami faham menolong orang yang dizalimi tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zalim?” Beliau bersabda: “Pegang tangannya (agar tidak berbuat zalim) “. Sahih Bukhari 2264:

JIKA SYI'AH MEMAKI SAHABAT RASULULLAH DAN SAIDITUNA AISYAH




Jika kamu mendengar salah seorang Syiah mencaci maki (Sayyidina) Umar (bin Khattab), tanya kepadanya, mana Umar yang kamu maksud? Umar bin Ali bin Abi Thalib, Umar bin Hasan bin Ali, Umar bin Husein bin Ali, Umar bin Ali Zainal Abidin bin Husein apa Umar bin Musa kadzim?

Ketika kamu mendengar diantara mereka mencaci maki (Sayyidah) Aisyah (binti Abu Bakar) "Aisyah di neraka, Aisyah di neraka!!", maka tanyakan Aisyah mana yang kamu maksud? Aisyah binti Ja'far Shadiq, Aisyah binti Musa Kadzim, apa Aisyah binti Ali Ridla??

Saat kalian mendengar mereka mencaci maki (Sayyidina) Abu Bakar (As-Ahiddiq), tanyakan juga Abu Bakar mana yang kamu maksud? Abu Bakar bin Ali bin Abu Thalib, Abu Bakar bin Hasan bin Ali, Abu Bakar bin Husein bin Ali apa Abu Bakar bin Musa Kadzim??

Kemudian tanyakan juga kenapa para Ahlu Bait menamakan anak-anak mereka dengan nama-nama tersebut (Abu Bakar, Umar, Aisyah)? Tidak lain adalah sebuah wujud penghormatan dan memuliakan pemilik nama juga mengekalkan kebaikan mereka.

Semoga Allah tidak memberkahi setiap orang yang memaki-maki sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.



-Grand Syekh Al-Azhar Ahmad At-Thayyib.

Golongan Yang Dijauhkan Dari Syurga



عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ خَبٌّ وَلَا بَخِيلٌ وَلَا مَنَّانٌ وَلَا سَيِّئُ الْمَلَكَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ الْمَمْلُوكُ إِذَا أَطَاعَ اللَّهَ وَأَطَاعَ سَيِّدَهُ

Daripada Abu Bakar Ash Shiddiq RA dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Tidak akan masuk syurga seorang penipu, orang yang bakhil, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberiannya dan _*pemimpin yang berperangai buruk*_. Orang yang pertama kali akan masuk syurga adalah hamba  yang taat kepada Allah dan kepada tuannya (majikannya)." (HR Ahmad No: 32) Status: Isnad Maqbul

Sabtu, Januari 04, 2020

ZALIM DENGAN MAKNA 'KURANG'



Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin memiliki penjelasan yang bagus dalam memaknai zalim. Beliau mengatakan:

 واعلم أن الظلم هو النقص، قال الله تعالى (كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِمْ مِنْهُ شَيْئاً) (الكهف: 33) ، يعني لم تنقص منه شيئاً، والنقص إما أن يكون بالتجرؤ على ما لا يجوز للإنسان، وإما بالتفريط فيما يجب عليه. وحينئذٍ يدور الظلم على هذين الأمرين، إما ترك واجب، وإما فعل محرم

Ketahuilah bahwa zalim itu adalah an naqsh (bersikap kurang). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya):
‘Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu lam tazhlim (tidak kurang) buahnya sedikitpun‘.

Maksudnya tidak kurang buahnya sedikit pun. Bersikap kurang itu bisa jadi berupa melakukan hal yang tidak diperbolehkan bagi seseorang, atau melalaikan apa yang diwajibkan baginya. Oleh karena itu zalim berporos pada dua hal ini, baik berupa meninggalkan kewajiban atau melakukan yang haram” (Syarah Riyadush Shalihin, 2/486).

Rabu, Januari 01, 2020

SESALAN KETIKA DI AKHIRAT


Harini. Mereka yg gemar mengumpul kesenangan dunia dan sekalian isi semahunya. Ia tetap tak mampu beli sesalan di akhirat.

 * *وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِي الْأَرْضِ لَافْتَدَتْ بِهِ ۗ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ ۖ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ*
Dan pada masa itu sekiranya tiap-tiap seorang yang berlaku zalim (kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain) itu mempunyai segala yang ada di bumi, tentulah ia rela (màu) menebus dirinya dengan semuanya itu (dari azab yang akan menimpanya); dan mereka tetap akan merasa sesal serta kecewa manakala melihat azab itu; dan Allah putuskan hukum di antara mereka dengan adil serta mereka tidak akan dianiaya dengan keputusan itu. *Surah Yunus, Ayat 54*

Oleh itu janganlah kita tergolong dari orang-orang yang seperti dalam ayat di atas, jika ingin menyesal, menyesallah ketika di dunia, kerana masih ada peluang untuk ubah serba sedikit.

Khamis, Disember 05, 2019

AL QURAN MEMINTA ALLAH SUPAYA DIBERI PERHIASAN KEPADA PEMBAANYA


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَالَ: يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ. فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ .ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ. فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ. ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ. فَيَرْضَى عَنْهُ. فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ. وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً. رواه الترمذي

Abu Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda : Pada hari kiamat nanti al-Qur’an akan datang dan berkata : Wahai Tuhan berilah ia perhiasan. Maka dipakaikanlah mahkota kemuliaan. Kemudian al-Qur’an berkata lagi : Wahai Tuhan tambahkanlah. Maka dipakaikanlah perhiasan kemuliaan. Kemudia al-Qur’an berkata lagi : Wahai Tuhan Ridoilah ia. Maka Tuhanpun meridoinya. Kemudian dikatakan kepadanya : Bacalah dan naiklah ! Maka untuk setiap ayat yang dibacanya akan ditambahkan satu kebaikan.

Isnin, November 18, 2019

Jaminan Syurga


 عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اضْمَنُوا لِي سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنْ لَكُمْ الْجَنَّةَ اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

Daripada 'Ubadah bin Ash Shamit bahawa Nabi SAW bersabda: "Jaminlah enam perkara untukku dari diri kalian, nescaya aku akan menjamin syurga untuk kalian;

jujurlah jika berbicara, tepatilah jika kalian berjanji, tunaikanlah amanah jika kalian diserahi amanah, jagalah kemaluan kalian, tundukkan pandangan kalian dan tahanlah tangan kalian." (HR Ahmad No: 21695) Status: Hadis Hasan

Pengajaran: Rasulullah SAW memberi jaminan setiap Muslim akan masuk Syurga jika memelihara enam perkara:

1. Jujur jika berbicara. Kejujuran adalah jalan yang lurus dimana orang yang tidak jujur, dia akan celaka dan binasa. Kejujuran membezakan antara munafik dan beriman.

2. Menepati janji. Tidak memenuhi janji adalah diantara sifat munafik.

3. Menunaikan amanah. Amanah berkaitan dengan hak Allah dan hak manusia yang wajib ditunaikan

4. Memelihara kemaluan (kecuali untuk pasangan yang sah dan halal).

5. Menundukkan pandangan. Menjaga pandangan adalah modal pokok untuk menjaga kemaluan. Siapa yang tidak menjaga pandangannya, dia telah menempatkan dirinya ke tempat kehancuran

6. Menahan tangan. Seorang Muslim tidak menganggu, menyakiti saudara Muslim yang lain, teman, mahupun tetangganya baik dengan lisan mahupun tangannya. Mereka merasa aman dengan kehadiran dirinya. Ayuh kita berlaku jujur, tepati janji, tunaikan amanah, jaga kemaluan, tundukkan pandangan dan menahan tangan.

Khamis, November 14, 2019

Taman Syurga


Sabda Rasulullah s.a.w. :-

 إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Maksudnya : “Apabila kamu melalui (bertemu) dengan taman-taman syurga (di atas muka bumi ini), maka hendaklah kamu berhenti untuk menikmati (hasilnya). Lalu Sahabat pun bertanya: Apakah dia taman-taman Syurga tersebut? Rasulullah berkata: Majlis-majlis ilmu. (Hadis riwayat at-Tirmizi).

Selasa, Oktober 29, 2019

Mujaddid Setiap 100 Tahun

DIUTUSKAN MUJADDID SETIAP SERATUS TAHUN

Rasulullah sollahu alaihi wasallam pernah bersabda tentang kedatangan Mujaddid yang bermaksud pembaharu agama pada setiap hujung seratus tahun, hadisnya sebagaimana berikut.

Dari Abu Hurairah ra., telah meriwayatkan dari Rasulullah saw bahawa baginda bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang memperbaharui untuk umat agama mereka

(HR Abu Dawud no. 4291, Disahihkan oleh as-Sakhawi di al-Maqâshid al-Hasanah (149) dan al-Albani di as-Silsilah ash-Shahîhah no. 599)

Dalam pada itu terdapat juga hadis yang lain yang agak sama dengan hadis tersebut, Kata Ahmad bin Hambal, diriwayatkan dari Rasulullah Sollahu alaihi wasallam :

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُقَيِّضُ فِي رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ

Sesungguhnya Allah membatasi pada penghujung setiap seratus tahun orang yang mengajarkan masyarakat agama mereka.

Seorang mujaddid tentunya orang yang sangat berpengaruh pada masanya, ia mesti memiliki syarat khusus sebagaimana yang disebutkan Ibnu Ziyâd dalam kitab Ghayah Talkhis al-Murâd fî Fatawa Ibn Ziyâd, yaitu:

ومن شروط المجدد أن تمضي المائة … وينصر السنة في كلامه، وأن يكون جامعاً لكل فنّ، وكونه فرداً كما هو المشهور في الحديث وعند الجمهور.

“Di antara syarat-syarat seorang mujaddid yaitu melampaui seratus tahun, menolong sunnah serta kalamnya, menguasai seluruh fann ilmu, dan dia tunggal sebagaimana pendapat yang masyhur dalam hadis menurut jumhur ulama.”


LIMA PERINGKAT PEMERINTAHAN SEJAK DARI ZAMAN RASULULLAH SOLLAHU ALAIHI WASALLAM

Dua hadis di atas yang menyebut tentang tempoh seratus tahun boleh pula di kaitkan dengan hadis lima peringkat pemerintahan yang pernah disabdakan baginda sollahu alaihi wasallam. Sabda Rasulullah sollahu alaihi wasallam :

أخبر رسول الله صلى الله عليه وسلم عن فترات الحكم في حياة المسلمين فقال: تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن يكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت.

Telah mengkhabarkan Rasulullah SAW telah : “Telah berlaku zaman pemerintahan Nubuwwah ke atas kamu, maka berlakulah zaman pemerintahan nubuwwah sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkat zaman itu seperti yang Dia kehendaki.” Kemudian belakulah zaman pemerintahan Khulafa’ Ar Rasyidin yang berjalan sepertimana zaman Kenabian. Maka berlakulah zaman itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya. Lalu berlakulah zaman pemerintahan yang mengigit (Zaman Fitnah - keamiran / beraja / zaman kesultanan) Berlakulah zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya pula. Kemudian berlakulah zaman penindasan dan zaman penzaliman (Zaman pemerintahan diktator dan demokrasi) dan berlakulah zaman itu seperti mana yang Allah kehendaki. Kemudian berlakulah pula zaman kekhalifahan (Imam Mahdi dan Nabi Isa as) yang berjalan di atas cara hidup Zaman Kenabian.” Kemudian Rasulullah SAW pun diam....(Kiamat)

(Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal R.H dari Sahabat Rasulullah Nuaman bin Basyir R.A dari Huzaifah R.A di dalam kitabnya Musnad Al Imam Ahmad bin Hanbal, Juzuk 4, halaman 273. Juga terdapat dalam kitab As-Silsilatus Sahihah, Jilid 1,hadis nombor 5.)

Pemerintahan Pertama Hingga Ke 3

Dalam hadis di atas memaklumkan bahawa tiga pemerintahan telahpun berlalu, iaitu pemerintahan nubuwwah, pemerintahan Khulafa’ Ar Rasyidin dan pemerintahaan yang menggigit.

Pemerintahan Nubuwwah bermaksud pemerintahan baginda Rasulullah sollahu alaihi wasallam yang berakhir dengan kewafatan baginda pada tahun 11 Hijrah.

Pemerintahan Ke 2 ialah pemerintahan sahabat yang empat, iaitu Saidina Abu Bakar, Saidina Umar, Saidina Usman dan Saidina Ali rodiyallahu anhum ajma’in. Pemerintahan ini berakhir dengan Khalifah Ali Rodiyalah anhu.


Pemerintahan Ke 3, ialah pemerintahan yang menggigit. Erti menggigit ialah menggigit al Quran, bermaksud pemerintah-pemerintah di peringkat ini masih lagi memerintah negara masing-masing dengan undang-undang al Quran. Tempohnya hingga jatuhnya kerajaan Othmaniyah pada tahun 1924.


Pemerintahan Keempat & Kelima

Pemerintahan keempat yang digelar dalam hadis tersebut pemerintahan yang menyombong. Digelar dengan gelaran tersebut kerana pemerintah-pemerintah peringkat ini meninggalkan perlaksanaan hukum-hukum Al Quran dan As Sunnah.

Peringkat keempat ini sedang berlangsung sekarang, ramai juga ulama yang mengatakan peringkat keempat ini bermula dari jatuhnya Khilafah Othmaniah di Turki iaitu dari tahun 1924 hingga sekarang ini. Jika dikaitkan dengan hadis 100 tahun di atas, maka jumlahnya tahun 2024.

Berdasarkan hadis 100 tahun di atas menunjukkan bahawa tempoh pemerintahan ke 5 sudah sangat hampir. Juga memberi kita satu fahaman bahawa Mujaddid bagi hujung 100 tahun ketika zaman kita ini bakal datang dalam masa terdekat, dan kemungkinan mujaddid tersebut ialah Imam Mahdi.