Rabu, April 01, 2015

Putera Harun Ar Rasyid Yang Sangat Tawadhu'



Khalifah Harun Ar Rasyid rah.a mempunyai seorang putera sekitar enam belas tahun. Ia sering bergaul dengan para ahli zuhud dan tokoh-tokoh agama pada masa itu. Ia sering mengunjungi tanah kuburan, duduk di tepi kubur dan berkata, “Ada masanya ketika kamu tinggal di dunia ini dan kamu sebagai tuannya, tetapi ternyata dunia tidak melindungimu dan nasibmu berakhir di kubur. Seandainya aku tahu apa yang engkau alami sekarang ini, tentu aku ingin mengetahui apa yang kamu katakan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepadamu.”

Ia sering membaca syair :

Pemakaman menakutkanku setiap hari dan ratapan wanita-wanita yang berduka cita membuatku sedih.

Pada suatu hari, anak itu datang ke istana ayahnya Harun Ar Rasyid, yang sedang duduk bersama ajudan pribadinya, para pejabat dan tamu-tamu terhormat lainnya. Sedangkan puteranya itu berpakaian sangat sederhana, dengan sorban di kepalanya. Ketika orang-orang istana itu melihatnya demikian, mereka berkata, “Keadaan anak ini menghina Amirul Mukminin di hadapan para bangsawan, jika ia dapat memperingatkannya, mungkin anak itu akan menghentikan kebiasaannya.”

Khalifah mendengar ucapan itu, maka ia berkata kepada anaknya, “Anakku sayang, engkau telah mempermalukanku di hadapan para bangsawan.”

Anak itu tidak berkata sepatah katapun atas ucapan ayahnya. Bahkan ia memanggil seekor burung yang bertengger di dekat situ, “Wahai burung, aku memohon kepadamu, demi Dzat yang menciptakanmu, datanglah dan duduklah di atas tanganku.”

Burung itu terbang menghampirinya dan hinggap di atas tangannya. Kemudian anak itu menyuruhnya terbang lagi, dan burung itu pun terbang lagi ke tempat semula. Kemudian ia berkata kepada ayahnya, “Ayahku sayang, sesungguhnya kecintaanmu kepada dunia inilah yang memalukan diriku. Aku telah memutuskan untuk berpisah denganmu.” Setelah berkata demikian, ia pergi hanya berbekal Al Quran saja.

Ketika ia memohon pamit kepada ibunya, ibunya memberi sebuah cincin yang sangat indah dan mahal, (agar ia dapat menjualnya jika ia memerlukan uang). Anak laki-laki itu pergi ke Basrah, dan bekerja bersama para buruh. Namun ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan ia gunakan upahnya sehari untuk satu minggu, dengan menggunakan (satu danaq) seperenam dirham setiap hari.

Kisah selanjutnya diceritakan oleh Abu Amir Bashri rah.a., ia berkata, “Pada suatu ketika, sebelah dinding rumahku roboh dan aku membutuhkan seorang tukang batu untuk memperbaikinya. Ada seseorang yang memberitahuku bahwa ada seorang anak laki-laki yang dapat mengerjakan pekerjaan tukang batu. Maka akupun mencarinya. Di luar kota, aku melihat seorang pemuda tampan sedang duduk di tanah sambil membaca al Quran dengan sebuah tas di sisinya. Aku menanyainya, apakah ia mau bekerja sebagai buruh? Ia menjawab, “Tentu, kita telah diciptakan untuk bekerja. Pekerjaan apakah yang tuan inginkan untukku?”

Kukatakan bahwa aku membutuhkan seorang tukang batu untuk mengerjakan bangunan. Ia berkata, “Aku mau asalkan upahku satu dirham dan satu danaq sehari. Dan aku akan berhenti kerja dan pergi ke masjid bila tiba waktu shalat, kemudian kulanjutkan pekerjaan tersebut setelah shalat.” Aku menyetujuinya.

Akhirnya ia ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu. Pada sore harinya, aku kembali, dan aku sangat terkejut melihat bahwa ia telah melakukan pekerjaan seperti sepuluh orang tukang batu yang mengerjakannya. Akupun memberinya dua dirham. Tetapi ia menolak upah yang melebihi satu dirham dan satu danaq. Kemudian ia pergi hanya dengan upah yang telah disetujui.

Keesokan paginya, aku pergi lagi mencarinya, tetapi aku diberi tahu bahwa ia hanya bekerja pada hari Sabtu saja. Dan tiada seorangpun yang dapat menemukannya pada hari-hari lainnya. Karena aku sangat puas dengan pekerjaannya, maka kuputuskan untuk menunda pembangunan dindingku pada Sabtu depan. Pada hari Sabtu itu, aku mencarinya lagi dan kudapati ia di tempat yang sama sedang membaca al Quran sebagaimana biasa. Aku mengucapkan salam kepadanya, “Assalamu Alaikum.”

“Wa Alaikumus Salam.” Balasnya.

Ia bersedia bekerja lagi untukku dengan syarat yang sama. Ia pun ikut bersamaku dan mulai mengerjakan dinding itu lagi.

Disebabkan rasa heranku, bagaimana ia dapat mengerjakan pekerjaan sepuluh orang pekerja seorang diri seperti pada hari Sabtu yang lalu, maka akupun mengintipnya bekerja tanpa sepengetahuannya. Aku melihatnya dengan sangat takjub, bahwa ketika ia meletakkan adukan semen di dinding, maka batu-batu itu dengan sendirinya menyatu. Akhirnya aku sadar dan meyakini bahwa anak itu adalah kekasih Allah Swt.Sebagaimana hamba-hamba-Nya yang khusus saja yang mendapatkan pertolongan ghaib seperti itu dari Allah Swt.

Sore harinya, aku ingin memberinya tiga dirham, tetapi ia hanya mengambil satu dirham dan satu danaq kemudian pergi, sambil berkata, “Aku tidak membutuhkan lebih dari ini.” Aku menunggu minggu berikutnya, lalu aku mencarinya pada Sabtu berikutnya, tetapi aku tidak berhasil menemukannya.

Aku bertanya kepada orang-orang. Ada seorang laki-laki memberitahuku bahwa anak itu sedang mengalami sakit selama tiga hari dan berbaring di tempat yang sepi. Kemudian aku membayar seseorang untuk mengantarkanku ke tempat itu. Setibanya di sana, ia sedang berbaring di atas tanah tak sadarkan diri. Kepalanya berbantalkan sepotong batu. Aku menyalaminya, tetapi ia tidak membalasnya. Aku berkata, “Assalamu Alaikum.” lebih keras lagi. Ia membuka matanya sedikit dan mengenaliku. Aku baringkan kepalanya di pangkuanku, tetapi ia kembali meletakkan kepalanya di atas batu, dan membaca beberapa syair. Dua diantaranya masih kuingat, berbunyi demikian :

“Wahai kawanku, janganlah engkau terpedaya dengan kemewahan dunia. Karena hidupku akan berlalu. Kemewahan hanyalah untuk sekejap mata. Dan bila engkau mengusung jenazah ke pemakaman, ingatlah suatu hari engkaupun akan diusung ke pemakaman.”

Kemudian anak itu berkata kepadaku, “Abu Amir! Jika ruhku telah melayang, mandikanlah aku dan kafanilah aku dengan pakaian yang kupakai sekarang.”

Sahutku, “Sayangku, aku tidak keberatan membelikan kain baru untuk kafanmu.”

Ia berkata, “Orang yang masih hidup lebih menginginkan pakaian yang baru daripada yang mati.”

Anak itu menambahkan, “Kafan (lama ataupun baru) akan segera membusuk. Yang tinggal dengan seseorang setelah kematian adalah amal perbuatannya. Berikan sorban dan kendi airku kepada penggali kuburku dan jika engkau telah memakamkanku, sampaikan al Quran dan cincin ini kepada khalifah Harun Ar Rasyid. Tolonglah agar langsung ke tangannya dan katakan kepadanya, “Benda-benda itu dipercayakan kepadaku oleh seorang lelaki asing yang memintaku untuk menyampaikannya kepada engkau dengan pesan, “Wahai ayah, perhatikanlah, jangan sampai engkau meninggal dalam kelalaian dan terpedaya oleh dunia.”

Dengan kata-kata itu di bibirnya, anak itu meninggal dunia. Saat itu barulah kusadari bahwa anak itu adalah seorang pangeran.

Setelah wafat, akupun memandikannya, mengafaninya dan membaringkannya dalam kubur sesuai dengan pesannya. Lalu kuberikan sorban dan lothanya kepada penggali kuburnya. Kemudia aku pergi ke Baghdad untuk menyampaikan cincin dan al Quran kepada khalifah.

Sungguh beruntung, setibanya aku di sana, baru saja iringan khalifah keluar istana. Aku berdiri di sebuah tempat yang agak tinggi sambil memperhatikan pawai itu. Tidak lama kemudian keluarlah satu pasukan terdiri dari seribu orang berkuda, diikuti oleh sepuluh pasukan lagi yang masing-masing terdiri dari seribu orang berkuda.

Diantara pasukan yang terakhir, terlihatlah Amirul Mukminin, maka akupun langsung memanggilnya dengan berteriak, “Amirul Mukminin, aku mohon kepadamu, atas nama hubungan kekeluargaan dengan Rasulullah Saw., berhentilah sebentar.”

Amirul Mukminin berhenti dan melihat sekeliling, lalu aku maju kedepannya dan menyerahkan kedua benda amanat dari almarhum putera pangeran itu, lalu aku berkata, “Benda-benda ini telah dipercayakan kepadaku oleh seorang pemuda asing yang kini telah meninggal dunia, ia berwasiat agar benda-benda ini disampaikan langsung ke tangan tuan.”

Khalifah memandangi cincin dan al Quran itu sambil menundukkan kepalanya dengan sedih. Aku melihat air matanya mengalir, kemudian ia menyuruh pengurus istana untuk mengantarku ke istananya. Aku tinggal bersama pengurus istana itu.

Setelah khalifah kembali pada sore harinya. ia menyuruh agar tirai-tirai istana diturunkan, dan menyuruh pengurus istana agar agar membawaku ke hadapannya, kemudian ia berkata, “Lelaki itu hanya akan menimbulkan kesedihan bagiku.”

Pengurus istana menemuiku dan berkata, “Amirul Mukminin memanggilmu, namun ingatlah, jiwanya sedang bergoncang. Jika engkau ingin mengatakan sesuatu dalam sepuluh kata, cobalah mengatakannya dengan lima kata saja.”

Kemudian ia mengantarkanku ke kamar pribadi khalifah. Kulihat khalifah sedang duduk seorang diri, lalu ia menyuruhku untuk duduk di dekatnya. Ia bertanya kepadaku, “Apakah kamu mengenal anakku?”

Jawabku, “Ya.”

Ia bertanya, “Apa saja yang ia lakukan untuk menafkahi hidupnya?”

Kukatakan bahwa ia bekerja sebagai tukang batu. Amirul Mukminin bertanya, “Apakah engkau juga pernah mempekerjakannya sebagai tukang batu?”

Aku berkata, “Ya, pernah kulakukan.”

Amirul Mukminin berkata, “Apakah tidak terpikir olehmu, bahwa ia berhubungan keluarga dengan Rasulullah Saw.?” (Harun Ar Rasyid adalah keturunan Abbas r.a. paman Rasulullah Saw.)

Jawabku, “Wahai Amirul Mukminin! Pertama aku memohon ampun kepada Allah Swt. dan aku meminta maaf kepadamu, karena aku mengetahuinya setelah ia meninggal dunia.”

Khalifah berkata, “Apakah engkau memandikannya dengan tanganmu sendiri?”

Aku berkata, “Ya.”

Ia berkata, “Biarlah kusentuh tanganmu.” Kemudian ia memegang tanganku ke dadanya dan mengusap-usap dadanya dengan tanganku, lalu ia membaca beberapa bait syair yang bunyinya :

“Wahai engkau yang menjauhkan dariku.
Hatiku larut dalam kesedihan atasmu.
Mataku mengalirkan air mata penderitaan.
Wahai engkau yang jauh pemakamannya.
Terlalu jauh. Kesedihanmu lebih dekat di hatiku.
Benar, kematian itu membingungkan kesenangan yang tertinggi di dunia.
Wahai anakku yang menjauh dariku.
Engkau bagai bulan yang tergantung di atas dahan perak.
Bulan telah menetap di kubur, sedang dahan perak menjadi debu.”

Kemudian Harun Ar Rasyid memutuskan untuk pergi ke Basrah mengunjungi makam puteranya dan aku menemaninya. Ketika berdiri di sisi makam puteranya, Harun Ar Rasyid membaca syair berikut ini :

“Wahai pengembara ke alam yang tidak diketahui.
Tidak akan engkau kembali ke rumah.
Kematian telah merengutmu di awal masa remajamu.
Wahai penyejuk mataku, engkaulah pelipur laraku.
Kediaman hatiku, di kesunyian.
Engkau telah merasakan racun kematian.
Yang seharusnya ayahmulah yang minum di usia tuanya.
Sungguh setiap orang akan merasakan kematian.
Apakah ia seorang pengembara atau penduduk kota.
Segala puji bagi Allah Yang Esa. Yang tidak mempunyai sekutu.
Karena ini adalah bukti dari keputusannya.”

Pada malam berikutnya setelah menunaikan kebiasaan ibadah harianku, dalam tidurku aku bermimpi melihat sebuah istana berkubah penuh nur. Di atasnya ada awan dari nur yang menaunginya. Dari awan nur itu keluarlah suara almarhum pemuda itu yang berkata, “Abu Amir, Semoga Allah Swt. menganugerahimu pahala terbaik.”

Aku bertanya kepadanya, “Sahabatku, apa yang telah engkau alami di alam sana?”

Ia berkata, “Aku telah diakui di hadapan Tuhanku Yang Maha Pemurah dan Yang merasa senang denganku. Ia telah memberiku karunia yang mata tidak pernah melihatnya, telinga tidak pernah mendengarnya dan akal tidak dapat memikirkannya.”

Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata, “Di dalam Taurat tertulis bahwa Allah Swt. menyiapkan suatu karunia bagi mereka yang meninggalkan tempat tidurnya untuk menangis kepada Tuhan mereka (dalam shalat Tahajjud) yang tidak pernah mata melihatnya, tidak pernah telinga mendengarnya, tidak pernah terpikirkan oleh akal seseorang dan tidak ada seorangpun atau malaikat yang mengetahuinya, dan tidak pernah diketahui oleh siapapun. Allah Swt. berfirman di dalam al Quran :

“Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”
(As Sajdah ayat 17)

Kemudian arwah pemuda itu berkata kepadaku (dalam mimpi), “Allah Swt. telah berjanji kepadaku, bersumpah demi keagungan-Nya. bahwa Ia akan menganugerahi kehormatan dan karunia semacam itu kepada semua yang keluar dari dunia seperti aku, tanpa ternodai olehnya”

Penulis Raudh berkata bahwa kisah ini juga telah sampai kepadanya melalui periwayat yang lain. Ditambahkan dalam riwayat ini bahwa seseorang bertanya kepada Harun Ar Rasyid mengenai puteranya. Ia berkata, “Puteraku dilahirkan sebelum aku diangkat sebagai khalifah. Ia diasuh dan diajarkan adab dan sopan santun dengan sangat baik. Ia telah mempelajari al Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya. Tetapi ketika aku diangkat menjadi khalifah, ia meninggalkanku dan pergi. Kebesaran duniawiku tidak memberikan kesenangan dalam hidupnya. Dan ia tidak ingin memanfaatkannya sedikitpun. Ketika ia akan pergi, aku meminta ibunya agar memberinya sebuah cincin mutiara yang indah. Namun ia menolak memakainya dan mengirimnya kembali sebelum ia wafat. Anak itu sangat patuh kepada ibunya.” (Raudh)

Harun Ar Rasyid rah.a, -yang puteranya tidak menyukai dunia- terkenal sebagai khalifah yang sangat shaleh dan budiman. Biasanya, jika seseorang memilki kekuasaan dan harta kekayaan, suka tergelincir dalam perbuatan-perbuatan buruk, tetapi sejarah membuktikan bahwa ia banyak terjun dalam hal agama. Selama masa kekhalifahannya, ia shalat nafil seratus rakaat setiap hari hingga wafatnya. Ia suka bersedekah dari saku pribadinya seribu dirham setiap hari. Ia juga memimpin pasukan jihad dan beribadah haji dua tahun sekali.

Apabila beribadah haji, ia membawa seratus alim ulama dan putera mereka bersamanya. Dan pada tahun-tahun ia berjihad, ia akan mengirim tiga ratus orang rakyatnya untuk pergi haji. Ia menanggung biaya-biaya perjalanan, makanan dan pakaian mereka. Ia memberikan pelayanan dan pakaian yang terbaik untuk mereka. Ia pun biasa memberi hadiah kepada siapapun yang meminta pertolongannya, dan menolong siapapun atas kehendaknya tanpa diminta. Ia sangat mencintai alim ulama, yang mendapat penghormatan tersendiri di istananya.

Suatu ketika, muhaddits terkenal Abu Muawiyah ad Dharir (bermakna yang buta) makan bersama Harun Ar Rasyid. Setelah makan, ketika ulama buta itu berdiri untuk mencuci tangannya, khalifah langsung mengucurkan air ke atas tangannya., dan berkata bahwa ia melakukan itu karena penghormatannya kepada ilmunya.

Abu Muawiyah ad Dharir rah.a. berkata, “Suatu ketika, pada saat aku menceritakan kepadanya tentang hadits Rasulullah Saw. tentang perdebatan antara Adam a.s. dan Musa a.s. ada seseorang laki-laki yang duduk di dekatnya berkata, “Di mana mereka telah bertemu?”

Mendengar hal ini, Harun Ar Rasyid langsung berseru marah, “Mana pedangku? Biar kupenggal leher orang zindiq ini. Ia berani membantah hadits Rasulullah Saw.?”

Dan Harun Ar Rasyid sering menangis keras bila ada nasehat yang ditujukan kepadanya. (Sejarah Baghdad- Al Khatib).

Sumber : Fadhilah Sedekah – Maulana Muhammad Zakariyya Rah.a

Selasa, Mac 24, 2015

Bahlul Sebenarnya Nama Orang Cerdik Zaman Khalifah Harun Ar Rasyid

Perkataan 'Bahlul' sering kita dengar diucapkan oleh masyarakat setempat terutamanya untuk menyatakan seseorang itu bodoh atau lurus bendul. Tapi tahukah anda asal usul perkataan Bahlul itu sendiri? Tahukah anda yang sebenarnya asal-usul orang-orang terdahulu melemparkan perkataan 'Bahlul' kepada seseorang itu adalah sebagai satu doa yang baik?
Bahlul merupakan satu perkataan yang berasal dari arab dan ia berasal dari satu nama jolokan yang diberikan kepada seseorang yang bernama Wāhab ibn Amr. Wahab ibn Amr atau Bahlul hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyidin. Sebenarnya Wāhab ibn Amr terkenal sebagai seorang hakim dan juga ilmuan Islam pada zamannya. Dia dikenali sebagai Bahlul kerana dia telah meninggalkan kekayaannya dan hidup dengan gaya yang selekeh.
Terdapat banyak kisah-kisah yang memaparkan kebijaksanaan Bahlul sendiri. Disini kami paparkan tiga cerita berkenaan bahlul.
Cerita 1
Pada suatu hari, Khalifah Harun Al-Raysid bersama isterinya lalu dihadapan Bahlul yang sedang membuat rumah dari tanah liat. Maka Harun berlakukan dialog antara Al-Rasyid, isterinya dan Bahlul.
Harun : Hey Bahlul, kau buat apa?
Bahlul : Aku sedang buat rumah rumah syurga.
Isteri Harun : Boleh aku beli?
Bahlul : Boleh..
Isteri Harun : Berapa?
Bahlul : 10 Dirham
Isteri Harun membayar jumlah tersebut kepada Bahlul.
Harun : Kau dah kena tipu hidup-hidup dengan Bahlul.

Pada malamnya Harun Al-Rasyid bermimpi satu rumah besar yang tersangat cantik yang tertulis nama isterinya, Siti Zubaidah di dalam syurga. Harun cuba untuk masuk ke dalam rumah itu tetapi dihalang oleh pengawal di rumah itu.

Harun : Ini rumah isteri aku.
Pengawal : Memanglah, tapi ini bukan rumah kau.

Bagun pada pagi berikutnya Harun Al-Rasyid bangun dan kelam kabut pergi mencari Bahlul.

Harun : Bahlul, aku nak beli rumah kau.
Bahlul : Boleh.
Harun : Berapa?
Bahlul : 10,000 Dirham.
Harun : Eh, kenapa semalam 10 Dirham?
Bahlul : Semalam kau tak nampak..Hari ni kau dah nampak!

Cerita 2
 
Pada suatu hari, Harun Al-Rasyidin memberikan Bahlul sebatang kayu dan berkata, "Batang kayu ini ya Bahlul, milik seorang lelaki yang paling bodoh atas muka bumi ini. Jika kamu terjumpa dengan seorang lelaki yang lebih layak memiliki kayu ini lebih dari kamu, berikanlah kepadanya". Dan Bahlul menjadi bahlul mengambil batang kayu tersebut.

Beberapa tahun selepas itu, Harun Al-Rasyid jatuh sakit dan tak ada sebarang ubat-ubatan yang boleh menyembuhkannya. Bahlul datang untuk melawan Harun Al-Rasyid untuk bertanya khabar dan terjadi satu perbualan yang menakjubkan.

Harun : Tak ada apa yang boleh menyembuhkanku!
Bahlul : Kau mahu ke mana?
Harun : Aku akan pergi ke dunia lain.
Bahlul : Kedunia lain? Berapa lama kau akan pergi? Bila kau akan balik?
Harun : O Bahlul! Tak ada siapa yang akan kembali selepas ke dunia itu.
Bahlul : Jadi kau mesti dah buat persiapan rapi untuk perjalanan ini. Perjalanan yang kekal. Kau dah siapkan tentera untuk tunggu kedatangan kau? Sebagai persiapan apabila kau sampai disana?
Harun : Tak ada yang pergi dengan kau Bahlul. Dan aku tak membuat sebarang persiapan.
Bahlul : Ya Amirul Mukminin, sebelum ini kau menghantar tentera sebagai persiapan rapi untuk satu perjalanan yang hanya berjumlah sehari dua! Dan kini kau akan pergi ke satu tempat yang kau akan tinggal disitu selamanya. Dan kau tidak membuat sebarang persiapan untuk menghadapinya?
Bahlul : Nah ambil batang kayu ini. Nampaknya aku dah jumpa seseorang yang lebih layak untuk memilikinya.

Cerita 3
Berikut pula adalah kisah Bahlul dengan Sheikh Junid, seorang ulama sufi dan juga wali Allah. Satu hari Syeikh Junid Al-Baghdadi bertemu Bahlul lalu meminta nasihat. Bahlul lalu bertanya:

Bahlul: Bagaimana kamu makan?
Junid: (Menerangkan adab2 makan berdasarkan Sunnah dan doa2 makan)
Bahlul: Bagaimana kamu berpakaian?
Junid: (Menerangkan adab2 makan berdasarkan sunnah dan doa berpakaian)
Bahlul: Bagaimana kamu tidur?
Junid: (Menerangkan adab2 tidur mengikut sunnah dan doa2 tidur)
Bahlul: Sebenarnya jawapan2 kamu tidak tepat. Sekiranya kamu makan mengikut adab dan doa sekalipun tapi sekiranya makanan itu dari sumber yang haram buat apa? Sekiranya kamu berpakaian dengan adab dan doa tapi tidak menutup aurat serta sumbernya adalah haram buat apa? Sekiranya kamu tidur dengan adab dan doa tapi di hatimu masih menyimpan dendam dan kebencian sesama Muslim buat apa?


Menurut dari tiga cerita ini jelas sekali Bahlul bukanlah seorang yang bodoh atau lurus bendul. Dia sebenarnya bijak dan juga sarkastik. Sedangkan Sheikh Junaid sendiri pun datang mengadap Bahlul untuk mendapatkan nasihat dan dari cerita yang ketiga jelas Bahlul ini seorang wali Allah.

Suatu ketika Khalifah Harun al Rasyid yang sedang meminum arak, bertanya kepada Bahlul al Majnun yang datang berkunjung kepadanya mengenai arak. 
Sang Khalifah bertanya kepada Bahlul, “Apakah haram memakan anggur?” Bahlul menjawab, “Tidak”

Sang Khalifah bertanya lagi, “Bagaimana jika, setelah memakan anggur, seseorang itu meminum air?” Bahlul menjawab, “Tidak ada masalah”
“Setelah memakan anggur dan meminum air, seseorang itu berjemur di bawah mentari?” tanya Sang Khalifah lagi. Bahlul menjawab, “Tidak ada masalah”
Sang Khalifah kembali bertanya, “Lalu, mengapa apabila anggur dicampur air yang dibiarkan di bawah mentari bagi tempoh tertentu menjadi haram?” 

Bahlul kembali bertanya kepada Sang Khalifah, “Apabila tanah diletakkan di atas kepala seseorang, apakah ada bahayanya?” Sang Khalifah menjawab, “Tidak”
Bahlul menyambung lagi pertanyaannya, “Setelah itu, air disiram ke atas tanah di kepala itu, apakah akan mengakibatkan kesakitan?” Sang Khalifah menjawab, “Tidak”

Bahlul lalu menyoal lagi, “Dan jika tanah itu digaul dengan air untuk dibuat bata, lalu dilontarkan ke kepala seseorang, apakah akan menyebabkan kesakitan?” Sang Khalifah menjawab, “Benar, bahkan akan mencederakan kepalanya”

Bahlul lalu menjelaskan, “Sepertimana tanah dan air yang diadun untuk menjadi bata bisa mencelakai seseorang, begitulah juga campuran anggur dan air yang menjadi sesuatu yang memudharatkan yang oleh syariah dilarang dan ditetapkan sebagai tidak suci. Meminum arak membawa kemudharatan dan peminumnya wajib dihukum”.

Sang Khalifah berasa sangat tertekan dengan jawaban Bahlul, lalu mengarahkan pelayannya membawa pergi arak tersebut.

Hari ini penggunaan perkataan bahlul telah disalah ertikan oleh masyarakat yang menggunakanan perkataan itu untuk menyatakan seseorang itu bodoh. Sebenarnya perkataan itu dilemparkan oleh orang-orang tua kepada seseorang seperti ibu kepada anak adalah sebagai satu doa yang baik. Mengharapkan orang itu menjadi seperti Bahlul. Namun apabila lama kelamaan perktaan itu disalah ertikan oleh masyarakat kita. Wallahualam.. -

Selasa, Mac 10, 2015

Jenazah & Keranda Masih Sempurna

Article ini dicopy paste dari : http://dakwahtablighmalaysia.blogspot.com/2015/02/penggali-kubur-terkejut-beruk.html

ALOR SETAR – Beberapa penggali kubur terkejut apabila menemui keranda dan jenazah masih sempurna walaupun sudah dikebumikan hampir 15 tahun lalu ketika kerja menggali kubur dilakukan di Tanah Perkuburan Islam Masjid Al-Irfan, Derga di sini, pada Selasa.

Penggali kubur, Mansor Ahmad, 57, berkata, mereka mendapat arahan dari pihak pengurusan untuk menggali kubur bagi mengebumikan jenazah baru yang meninggal dunia kerana sakit jantung, bersebelahan kubur berkenaan.

“Selepas menggali tanah sedalam satu meter, tiba-tiba tanah bersebelahan runtuh dan kami dapati sebuah keranda yang masih sempurna di dalamnya. Kami terkejut kerana keranda itu sudah dikebumikan 15 tahun lalu.

“Bagaimanapun keranda itu masih sempurna seperti baharu sahaja dikebumikan. Tambah pelik, keranda itu berada dalam ruang yang kosong dan tanah tidak pula menutupinya,” kata Mansor kepada Sinar Harian.

Kain kafan masih putih

Mansor berkata, bagi memastikan keadaan jasad terbabit, dia membuka keranda dan melihat jenazah masih lagi sempurna dan tilam yang ada di dalam bagi melapik jenazah masih lagi kelihatan seperti baru.

“Oleh kerana kerja menggali kubur terpaksa dilakukan, saya memegang jenazah dan menolak keranda itu masuk ke dalam dan merasai jasad terbabit seperti baru dikebumikan,” katanya.

Kain kafan jenazah juga masih lagi putih dan tidak berbau.

“Pengalaman itu merupakan kali kedua saya alami sejak menjadi penggali kubur hampir 40 tahun di tanah perkuburan ini.

“Sebelum ini, pada 1980-an, saya serta beberapa rakan pernah terdengar ketukan sesuatu dari dalam kubur hingga menyebabkan imam terpaksa dipanggil bagi menyelesaikannya,” katanya.

Menurutnya, jenazah masih sempurna ditemui itu ialah seorang guru, Mohd Najib Abdullah yang meninggal dunia dalam kemalangan jalan raya di Mersing, Johor dan jenazah dibawa pulang dari Mersing dan dikebumikan di situ.

Syukur kebesaran ALLAH SWT

Sementara itu, bapa Allahyarham, Abdullah Omar, 75, dari Kampung Alor Melong di sini, berkata, semasa keluarganya mendapat tahu tentang keadaan jenazah anaknya itu, dia sungguh terharu dan bersyukur dengan kebesaran ALLAH SWT.

Katanya, semasa kerja menggali kubur dilakukan, seorang daripada anaknya turut berada di situ dan terkejut apabila melihat jenazah abang sulung mereka masih sempurna.

“Pada masa itu, semua yang ada tergamam melihat kubur yang sekian lama itu masih lagi sempurna apatah lagi keranda itu seperti berada di dalam gua.

“Anak saya bersyukur kerana inilah pengalaman pertamanya melihat jenazah lama yang masih lagi sempurna apatah lagi darah daging sendiri,” katanya.

Abdullah berkata, semasa arwah dikafankan serta dibawa pulang dengan kenderaan jenazah dahulu, pemandu kenderaan terbabit memaklumkan kepadanya bahawa sepanjang perjalanan dari Mersing, dia sentiasa terhidu bau wangi di dalam kenderaan sehinggalah tiba di kampungnya.

“Bagaimanapun pada masa itu pakcik hanya mendengar sahaja dan berdiam.

“Tetapi dengan peristiwa ini, sekali lagi ALLAH SWT menunjukkan kebesaran terutama kepada kita yang masih hidup ini,” katanya.

Al-Quran jadi teman rapat

Menurutnya semasa meninggal dunia, anaknya itu berusia 29 tahun dan dia seorang yang pendiam serta tidak banyak bercakap tetapi suka menolong saudara-mara dan rakan-rakan.

“Dia tidak pernah ingkar arahan jika diberikan tanggungjawab malah kerap membantu ibunya di dapur. Sebelum menjadi guru, dia pernah tinggal di Maahad Tahfiz Al-Quran Derga selama beberapa bulan dengan bekerja sebagai warden di situ.

“Selain itu, arwah anak saya mengajar akademik kepada pelajar tahfiz di situ serta turut menjadi imam. Al-Quran merupakan teman rapatnya walaupun dia tidak menghafalnya,” katanya.

Mansor berkata, semasa arwah anaknya itu menetap di maahad terbabit, pelajar di situ sangat sukakannya sehingga setiap kali tiba musim cuti persekolahan, dia akan pulang melawat pelajar serta sentiasa prihatin dengan pengajian mereka.

“Di antara anak didiknya di maahad terbabit ialah bekas Adun Bukit Lada, arwah Ahmad Izzat Shauki,” katanya, lapor Sinar Harian.