Jumaat, Januari 18, 2019

Kisah Pemuda Ashabul Kahfi

Dalam surat Al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khaidir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.

Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim.

Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.

Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-‘Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).

Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara jelas jalan ceritanya. Penulis kitab Fadha’ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya.

Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi:  Al-Kahf Ayat 10

 إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا 10.
(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:

Di kala Umar Ibnul Khattab memegang jawatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: “Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar.

Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi.”

“Silakan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan,” sahut Khalifah Umar. “Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?” Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. “Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu?

Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! 

Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?”

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: “Bagi Umar, jika ia menjawab ‘tidak tahu’ atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!”

Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: “Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!”

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: “Kalian tunggu sebentar!” Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: “Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!” Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: “Mengapa?” Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w.

Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: “Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!” Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: “Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan.

Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!” Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!” “Ya baik!” jawab mereka. “Sekarang tanyakanlah satu demi satu,” kata Ali bin Abi Thalib.

Mereka mulai bertanya: “Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?” “Induk kunci itu,” jawab Ali bin Abi Thalib, “ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!”

Para pendeta Yahudi bertanya lagi: “Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!”

أشهدُ ألا إله إلا الله وأشهدُ أن محمدا رسول الله
Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: “Orang itu benar juga!” Mereka bertanya lebih lanjut: “Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!”

Jawab Ali “Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta,” jawab Ali bin Abi Thalib. “Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!”

Firman Allah Ta’ala :

وَإِنَّ يُونُسَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ
sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul
إِذْ أَبَقَ إِلَى الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ
(ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan,
فَسَاهَمَ فَكَانَ مِنَ الْمُدْحَضِينَ
Kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian – 141
فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ
Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela – 142
فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ
Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah – 143
لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
Niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.

Daripada Sa’ad bin Abi Waqas RA bahawa Nabi SAW bersabda:

 دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الحُوتِ: لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ، فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ
Maksudnya: “Doa Nabi Yunus ketika baginda berdoa di dalam perut ikan paus: “Sesungguhnya tiada Tuhan (yang dapat menolong) melainkan Engkau! Maha Suci Engkau! Sesungguhnya aku adalah daripada orang-orang yang menganiaya diri sendiri”. Maka sesungguhnya tidak seorang muslim itu apabila berdoa dengannya untuk sesuatu perkara (masalah) melainkan Allah SWT akan memustajabkan baginya”. [Riwayat al-Tirmizi (3505)][Syeikh Syuaib al-Arna’outh berpendapat sanad hadith ini sebagai hasan]

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: “Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!”

Ali bin Abi Thalib menjawab: “Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: “Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!” An-Naml Ayat 18

 حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ 18.
Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: “Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular).”

Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: “Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!” Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam.
Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda.” “Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan,” sahut Imam Ali. “Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?” Tanya pendeta tadi. Ali bin Ali Thalib menjawab: “Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya.

Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu.” Pendeta Yahudi itu menyahut: “Aku sudah banyak mendengar tentang Qur’an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!” Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang.

Lalu ia berkata: “Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di Àdalam wilayah Turki).

Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus.

Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana.” Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!” Ali bin Abi Thalib menerangkan: “Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak.

Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas.

Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala.” Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?” “Hai saudara Yahudi,” kata Imam Ali menerangkan, “mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam.

Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja.

Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri.”

Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: “Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!” Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: “Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius.
Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan. Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung.

Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya. Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.

Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai “tuhan” dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t. Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya.

Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t. Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja.

Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan –seorang cerdas yang bernama Tamlikha– memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: “Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan.”

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum.

Teman-temannya bertanya: “Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?” “Teman-teman,” sahut Tamlikha, “hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur.” Teman-temannya mengejar: “Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?” “Sudah lama aku memikirkan soal langit,” ujar Tamlikha menjelaskan.”

Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: ‘siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Luqman Ayat 10

 خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ وَأَلْقَىٰ فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ ۚ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا فِيهَا مِنْ كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ 10.
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik. Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Yunus Ayat 5

 هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ 5.
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?’
Kemudian kupikirkan juga bumi ini: ‘Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?’

Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: ‘Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius’…”

 وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ 
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah yang mengeluarkan kamu dari perut ibu-ibu kamu dalam keadaan tidak tahu apa-apa, lalu Allah menjadikan untuk kamu pendengaran, penglihatan, dan akal fikiran agar kamu bersyukur - An Nahl 78

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: “Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!” “Saudara-saudara,” jawab Tamlikha, “baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!” “Kami setuju dengan pendapatmu,” sahut teman-temannya.

Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.

Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: “Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar.”

Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu. Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka.

Kepada penggembala itu mereka bertanya: “Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?” “Aku mempunyai semua yang kalian inginkan,” sahut penggembala itu. “Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri.

Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!” “Ah…, susahnya orang ini,” jawab mereka. “Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?” “Ya,” jawab penggembala itu.
Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: “Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian.” Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya.”

Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: “Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?” “Hai saudara Yahudi,” kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, “kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu. Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: “Hai manusia, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t.” Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua.”

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: “Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!” Imam Ali menjelaskan: “Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!” Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali.

Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Al-Kahf Ayat 18
 وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ ۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ ۖ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ ۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا 18.
Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri.
Raja Diqyanius sangat gusar. 

Bersama 80,000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur. Kepada para pengikutnya ia berkata: “Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!” Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen).

Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: “Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu.” Dalam gua tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.

Al-Kahf Ayat 25
 وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka.

Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: “Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!”

Al-Kahf Ayat 12
 ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا
Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu] yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya.

Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: “Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi.”

Al-Kahf Ayat 19
 وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ ۚ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا 19.

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". Mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini).

Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun Tamlikha kemudian berkata: “Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan.

Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!” Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah.”

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: “Kusangka aku ini masih tidur!” Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal.

etibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: “Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?” “Aphesus,” sahut penjual roti itu. “Siapakah nama raja kalian?” tanya Tamlikha lagi. “Abdurrahman,” jawab penjual roti. “Kalau yang kau katakan itu benar,” kata Tamlikha, “urusanku ini sungguh aneh sekali!

Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!” Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!” Imam Ali menerangkan: “Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!”

Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: “Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!” “Aku tidak menemukan harta karun,” sangkal Tamlikha. “Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!” Penjual roti itu marah. Lalu berkata: “Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?”

Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: “Bagaimana cerita tentang orang ini?” “Dia menemukan harta karun,” jawab orang-orang yang membawanya. Kepada Tamlikha, raja berkata: “Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat.”

Tamlikha menjawab: “Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!” Raja bertanya sambil keheran-heranan: “Engkau penduduk kota ini?” “Ya. Benar,” sahut Tamlikha. “Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi. “Ya, ada,” jawab Tamlikha. “Coba sebutkan siapa namanya,” perintah raja. Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan.

Mereka berkata: “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?” “Ya, tuanku,” jawab Tamlikha. “Utuslah seorang menyertai aku!” Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. 

Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: “Inilah rumahku!” Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: “Kalian ada perlu apa?” Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: “Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!” Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: “Siapa namamu?” “Aku Tamlikha anak Filistin!” Orang tua itu lalu berkata: “Coba ulangi lagi!” Tamlikha menyebut lagi namanya.

Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: “Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka.” Kemudian diteruskannya dengan suara haru: “Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!”

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: “

Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?” Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua. “Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua,” demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya. Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu.

Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: “Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!” Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua.

Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: “Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!” Tamlikha menukas: “Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?” 

Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,” jawab mereka. Al-Kahf Ayat 26
 قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ ۚ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا. Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan

 وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا.
Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi “Tidak!” sangkal Tamlikha. “Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!” Teman-teman Tamlikha menyahut: “Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?” “Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha balik bertanya. “Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,” jawab mereka. Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!” Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas.

Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka. Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu.” Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu.”

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman: “Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, “Binalah di atas mereka satu bangunan;

Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka.” Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, “Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid.”
Al-Kahf Ayat 21 وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ ۖ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِمْ بُنْيَانًا ۖ رَبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ ۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِمْ مَسْجِدًا 21.
Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: “Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka.

Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?” Pendeta Yahudi itu menjawab: “Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!” 

Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha ‘ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w. redit   Kisah Lengkap Pemuda Ashabul Kahfi: Keagungan Allah, Kehebatan Ali, Kecerdasan Tamlikha * Dalam surat Al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khaidir as serta kisah Dzulqarnain.
Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.

Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.

Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-‘Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).

Selasa, Januari 15, 2019

10 SERUAN BUMI KEPADA MANUSIA


قال انس بن ملكٍ رضي الله عنه إن الأرضَ تُنَاْديْ كُلَّ يومٍ بعَشرِ كلماتٍ وتقولُ
Anas bin Malik RA mengatakan bahawa bumi ini menyeru setiap hari dengan 10 macam seruan, iaitu :

(a)  Pertama
با ابن آدم تَسعَى على ظهرِي ومَصيْرُك في بطني
Wahai anak Adam, engkau berjalan di atas belakangku, sedangkan tempat kembalimu di dalam perutku.

(b)  Kedua
وتَعصي على ظهاري وتُعَذَّبُ في بَطْني
Engkau berbuat dosa di atas belakangku, sedangkan engkau akan disiksa di dalam perutku.

(c)  Ketiga
وتضحَكُ على ظهرِي وتبكِي في بَطْني
Engkau tertawa di atas belakangku, sedangkan engkau akan menangis di dalam perurku.

(d)  Keempat
وتَفْرَحُ على ظهرِي وتحْزَنُ في بَطْني
Engkau bergembira di atas belakangku, sedangkau engkau akan bersedih di dalam perutku.

(e) Kelima


وتجمعُ المالَ على ظهرِي وتَنْدَمُ في بَطْني
Engkau mengumpulkan harta di atas belakangku, sedangkan engkau akan menyesal di dalam perutku.
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي ﷺ قال: ما من يوم يُصبحُ العبادُ فيه إلا ملكان ينزلان فيقول أحدهما: اللهم أعطِ منفقاً خلفاًً، ويقول الآخر: اللهم أعطِ ممسكاً تلفاً[1]، متفق عليه.
Tiap menjelang pagi hari dua malaikat turun. Yang satu berdoa: "Ya Allah, karuniakanlah bagi orang yang menginfakkan hartanya tambahan peninggalan." Malaikat yang satu lagi berdoa: "Ya Allah, timpakan kerusakan (kemusnahan) bagi harta yang ditahannya (dibakhilkannya)." (Mutafaq'alaih)
Bagi tiap sesuatu terdapat ujian dan cobaan, dan ujian serta cobaan terhadap umatku ialah harta-benda. (HR. Tirmidzi)
Akan datang bagi manusia suatu jaman dimana orang tidak peduli apakah harta yang diperolehnya halal atau haram. (HR. Bukhari)

(f)  Keenam
وتأكُلُ الحرامَ على ظَهْريْ وتأكُلُك الدِّيْدَان في بَطْني
Engkau memakan makanan yang haram di atas belakangku, sedangkan cacing-cacing akan memakanmu di dalam perutku
KISAH MENANGISNYA USMAN BIN AFFAN RA
Dari Hani’ Maula Utsman berkata bahwa ketika Utsman bin Affan berdiri di depan kuburan, beliau Menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya. Lalu dikatakan kepadanya, “Diceritakan kepadamu tentang Surga dan Neraka kamu tidak menangis, tetapi kamu menangis dari ini.” Maka beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الْقَبْرَ أَوَّلُ مَنْزِلٍ مِنْ مَنَازِلِ الْآخِرَةِ فَإِنْ نَجَا مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَيْسَرُ مِنْهُ وَإِنْ لَمْ يَنْجُ مِنْهُ فَمَا بَعْدَهُ أَشَدُّ مِنْهُ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَيْتُ مَنْظَرًا قَطُّ إِلَّا الْقَبْرُ أَفْظَعُ مِنْهُ
“Kuburan adalah awal rintangan dari beberapa rintangan alam akhirat. Jika sukses di alam itu maka setelahnya lebih mudah, dan jika tidak sukses maka setelahnya lebih susah.” Kemudian beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, “Tiada pemandangan yang pernah saya lihat melainkan kuburan yang paling menyeramkan.” (Hasan, HR. Tirmidzi dan Ibnu Majjah, lihat Shahihul Jami’ No.5623)
Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan, seandainya ada orang yang selamat darinya, maka selamatlah Sa’ad Bin Mu’adz…” Sa’ad Bin Mu’adz akan mengalami himpitan kubur, padahal ia adalah seorang pemimpin penuh kemuliaan, kematiannya menggoncangkan ‘Arasy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, Kasyahidannya disaksikan oleh 70 ribu malaikat…
(g)       Ketujuh
وتَخْتَاْلُ على ظَهْرِي وتَذُلُّ في بطْنِي
Engkau sombong di atas belakangku, sedangkan engkau akan merasa hina di dalam perutku.
Sombong atau dalam istilah Arabnya Al-Bathar, dalam kamus lisan Al-Arab disebutkan bahwa arti kata bathar sinonim dengan takabur yang berarti sombong. Rasulullah SAW dalam hadis menjelaskan definisi sombong :
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Sombong  ialah tidak menerima kebenaran dan menghina sesama manusia.
وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الأرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولا
dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Al Isra’ 37
وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ
60. dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat Dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri? Az Zumar 60

(h) Kelapan
وتمشِيى على ظهرِي وتَقَعُ حَزِيْناً  في بَطْني
Engkau berjalan-jalan di atas belakangku, sedangkan engkau akan jatuh dalam kesedihan dalam perutku.

(i)    Kesembilan

وتمشِى في نُورِ السَّماءِ والقَمَرَ و السِّراجَ على ظهرِي وتقَعُ في الظُّلُماتِ في بَطْني
Engkau berjalan di bawah cahaya matahari, bulan dan lampu, sedangkan engkau akan berada di tengah-tengah kegelapan di daam perutku

(j)    Kesepuloh

وتمشِيى على الْمَجَامِعِ على ظهرِي وتقعُ وحِيْدا في بَطْني
Engkau berjalan-jalan bersama manusia lain, sedangkan kamu akan tinggal bersendirian di dalam perutku.

Sabtu, Disember 29, 2018

Poket Bocor Serta Kepelikan Manusia

🌴POKET BOCOR🌾

Imam Masjidil Haram dalam khutbahnya mengatakan:
إحذروا الكيس المثقوب
Hati-hatilah dengan poket yg bocor
" تتوضأ أحسن وضوء " لكــن. .. تسرف في الماء' كيس مثقْوب
Engkau telah berwudhu' dgn sebaik-baik wudhu' akan tetapi engkau boros memakai air, (itu sama dengan) poket bocor
" تتصدق عَلى الفقراء بمبلغ ثم .. تذلهم وتضايقهم *كيس مثقْوب.
Engkau bersedekah kepada fakir miskin kemudian engkau menghina dan menyusahkan mereka, (itu seperti) poket bocor
تقوم الليل وتصوم النهار وتطيع ربك" لكــن. .. قاطع الرحم كيس مثقْوب
Engkau solat malam hari, puasa di siang hari dan mentaati Tuhanmu, tapi engkau memutuskan (tali) silaturrahim, (jelas itu adalah) poket bocor
تصوم وتصبر عَلى الجوع و العطش" لكـن .. تسب وتشتم وتلعن كيس مثقْوب
Engkau berpuasa dan sabar dengan haus dan lapar, tapi engkau menghina dan mencaci, (sama dengan) poket bocor
" تلبسين الطرحه والعباية فوق الملابس "لكـن .. العطر فواح كيس مثقْوب
Engkau memakai penutup muka dan baju labuh , tapi minyak wangi baunya menyengat, (itu) poket bocor
تكرم ضيفك وتحسن إليه لكـن .. بعد خروجه تغتابه وتخرج مساوئه كيس مثقْوب
Engkau memuliakan tamumu dan berbuat baik kepadanya, tapi setelah dia pergi engkau mengumpatnya, (sungguh itu) poket bocor
أخيرا ً لا تجمعوا حسناتكم في كيس مثقْوب . تجمعوها بصعوبة من جهة .. ثم تسقط بسهولة من جهه أخرى..
يا رب اسألك لي ولأحبتي الهداية والغفران .
Pada akhirnya engkau hanya mengumpulkan kebaikanmu dalam poket bocor, satu sisi engkau mengumpulkan dengan susah payah kemudian engkau menjatuhkannya dengan mudah di sisi lain.
Ya Rabb, kami mohon hidayah dan ampunan atas kami dan orang-orang yg kami cintai

PERKARA PELIK KEPADA MANUSIA TERUTAMA YANG ISLAM
عجائب الشعب العربي :
Keganjilan-keganjilan kaum muslimin umumnya :
1- لايستطيع السفر للحج لأن تكلفة الحج مرتفعه .. لكن يستطيع السفر رغبةً في تغيير الجو !
ألا إن سلعة الله غالية
1. Tidak mampu pergi haji kerana pembiayaannya besar, akan tetapi sanggup pergi melancong mengganti suasana,
bukankah perdagangan Allah itu mahal
2- لايستطيع شراء الأضحية لغلاء السعر لكن يستطيع شراء آيفون لمواكبة الموضة.
ألا إن سلعة اللَّـه غالية
2. Tidak sanggup membeli haiwan korban kerana harganya yg mahal, tapi sanggup membeli iPhone sekadar ganti model baru. bukankah perdagangan Allah itu mahal

3- يستطيع قراءة محادثات تصل إلى ١٠٠ محادثه في اليوم ..
ولا يستطيع قراءة ١٠ آيات من القرآن بحجة ليس لديه وقت لقراءة القرآن
ألا إن سلعة الله غالية
Sanggup membaca chating hingga seratus percakapan setiap hari, namun tidak sanggup membaca 10 ayat Al-Qur'an dengan dalih tiada waktu yg cukup untuk membaca. bukankah perdagangan Allah itu mahal
قليل من سيرسلها لأنه يشعر بالحرج .
Sedikit yg mahu menyebarkannya/ memviralkannya kerana merasa berat..
تخيل ان الله يراك وانت تنشرها لاجله.
Impikan di fikiranmu bahwa Allah selalu melihatmu.. Dan engkau menyebarkannya keranaNya..
اذا اعجبتك الفكرة .. فانشرها .
وإذا لم تعجبك .. فمر كأنك لم ترى شيئا.
Jika engkau rasa terpanggil disebabkan tulisan ini maka sebarkanlah.. Namun jika tidak, maka anggaplah engkau tidak pernah lihat..
ياربu من يرسلها ترزقه من حيث لايحتسب
Ya Rabb... Siapa yg mahu menyebarkan tulisan ini berilah rezeki kepadanya dari arah yg tidak disangka-sangka...

Ameen Ya Rabbal Alameen.

Khamis, Disember 27, 2018

Hakikat Kebahagiaan

👉"Hakikat Kebahagiaan"💖
👤Seorang lelaki kaya memandang keluar jendela & nampak seorang lelaki miskin mengutip sesuatu dari tongsampah. Katanya , "Syukur Allah. Aku tak miskin".
👤Lelaki miskin itu memandang sekeliling & nampak seorang lelaki bogel berkelakuan tidak tentu arah di jalanan. Katanya , "Syukur Allah. Aku tidak gila".
👤Lelaki gila memandang ke depan & nampak ambulans membawa seorang pesakit. Dia berkata, "Syukur Allah. Aku tidak sakit".
👤Org sakit di hospital melihat troli yg mengusung mayat menuju ke bilik mayat. Dia berkata: "Syukur Allah, aku belum mati".
👉💀Hanya orang mati saja yg tidak dpt bersyukur & berterima kasih kpd Allah.
❔Kenapa tidak kita bersyukur hari ini atas keberkatan hidup, dan peluang menikmati hari baru? 😨*Apakah sebenarnya kehidupan?*
👉Untuk memahami kehidupan, pergilah ke 3 lokasi ini : *1. Hospital *2. Penjara *3. Tanah perkuburan 🏥Di hospital, akan kau fahami tiada ada yg lebih indah dari *kesihatan*.
🚓Di penjara, kau akan tau *kebebasan* adalah amat berharga.
💀Di tanah perkuburan, kau akan sedar kehidupan ini tiada apa2. Tanah yg kita pijak hari ini, akan jadi bumbung kita esok hari.
⏩Kebenaran yg menyedihkan : Kita dtg tanpa apa2, kita pergi juga tanpa apa2. Jadi mari kita rendahkan diri & mensyukuri serta berterima kasih kpd Allah sepanjang masa utk segala2 nya.

Anak Yatim

Anak yatim merupakan seorang anak yang telah kehilangan bapaknya, karena itulah kita sebagai umat Islam patut menyantuni anak yatim. Terutama sebagai Muslim kita patut menyayangi anak yatim dan membantunya dalam berbagai hal. Menyantuni anak yatim pun telah dianjurkan di dalam Al-Quran, begitupun terdapat beberapa Kumpulan Hadits Rasulullah tentang Anak Yatimdiantaranya adalah:

1. Hadits riwayat Imam Bukhari
 عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
Dari Sahl bin Sa’ad r.a berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.” Daud a.s berkata: “Bersikaplah kamu kepada anak yatim sebagaimana seorang bapak yang penyayang.” Dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara  anak yatim di surga, seperti ini (sambil merenggangkan jari telunjuk dan jari tengah).”

2. Hadits riwayat Imam Muslim
 كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى “Orang yang menanggung (mengasuh) anak yatim miliknya atau milik orang lain, aku dan dia seperti dua jari ini di surga.” Malik (perowi hadits) mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Muslim)   Baca juga: Peran Ayah Masa Kini untuk Pendidikan Anak

 3. Hadits riwayat Thabrani
 مَنْ ضَمَّ يَتِيْمًا بَيْنَ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ فِيْ طَعَامِهِ وَ شَرَابِهِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ
Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Thobrani, Shahih At Targhib Al Albani bahwa: “Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim di antara dua orang tua Muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.” Terdapat seorang lelaki datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabi pun bertanya padanya: sukakah kamu? Jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu dapat terpenuhi? Kasihilah anak yatim dengan mengusap mukanya, serta berilah makan dari makananmu, maka niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu dapat terpenuhi.”

4. Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud ياَ سَائِبُ انْظُرْ أَخْلاَقَكَ الَّتِيْ كُنْتَ تَصْنَعُهَا فِيْ الجْاَهِلِيَّةِ فَاجْعَلْهَا فِيْ اْلإِسْلاَمِ. أَقْرِ الضَّيْفَ و أَكْرِمِ الْيَتِيْمَ وَ أَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ
“Wahai Saib, perhatikanlah akhlak yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, maka laksanakanlah pula dalam keislaman. Jamulah tamu, muliakanlah anak yatim dan berbuat baiklah kamu pada tetanggamu.” Dari beberapa hadits tersebut maka dapat diketahui bahwa memuliakan anak yatim memang dianjurkan dan bahkan dijanjikan surga. Karena itu, kita harus menyantuni anak yatim dimanapun dan kapanpun, dan cara paling mudah adalah dengan memberi makan anak yatim serta menyayanginya layaknya menyayangi anak kandung sendiri.

Rabu, Disember 26, 2018

Kisah Pelik Ajaib

♦قصة عجيبة في فضل الصدقة روى الإمام الشوكاني في كتابه الرائع «البدر الطالع بمحاسن ما بعد القرن السابع»(493/1) في ترجمة علي بن محمد بن أحمد البكري من علماء اليمن في القرن التاسع الهجري . ومفاد هذه القصة أن رجلاً من أهل بلدة باليمن تسمى الحمرة وتقع في غرب اليمن قريبًا من ساحل البحر الأحمر، كان يعمل بالزراعة، ومشهورًا بالصلاح والتقوى وكثرة الإنفاق على الفقراء وخاصة عابري السبيل، وقد قام هذا الرجل ببناء مسجد، وجعل فيه كل ليلة سراجًا يوقد لهداية المارة وطعام عشاء للمحتاجين، فإن وجد من يتصدق عليه أعطاه الطعام وإلا أكله هو وقام يصلي لله عز وجل تنفلاً وتطوعًا، وهكذا دأبه وحاله. وبعد فترة من الزمن وقع القحط والجفاف بأرض اليمن، وجفت مياه الأنهار وحتى الآبار، وكان هذا الرجل يعمل في الزراعة، ولا يستغني عن الماء لحياته وزراعته، وكانت له بئر قد غار ماؤها، فأخذ يحتفرها هو وأولاده، وأثناء الحفر وكان الرجل في قعر البئر انهارت جدران البئر عليه، وسقط ما حول البئر من الأرض واردم البئر كله على الرجل، فيأس منه أولاده، ولم يحاولوا استخراجه من البئر وقالوا قد صار هذا قبره وبكوا عليه وصلوا واقتسموا ماله ظنًا منهم وفاته. لم يعلم الأولاد ما جرى لأبيهم في قاع البئر المنهار، ذلك أن الرجل الصالح عندما أنهدم البئر كان قد وصل إلى كهف في قاع البئر، فلما انهارت جدران البئر سقطت منه خشبة كبيرة منعت باقي الهدم من الحجارة وغيرها أن تصيب الرجل، وبقي الرجل في ظلمة الكهف ووحشته لا يرى أصابعه من شدة الظلمة، وهنا وقعت الكرامة وجاء الفرج بعد الشدة، وظهر دور الصدقة في أحلك الظروف، إذ فوجئ الرجل الصالح بسراج يزهر فوق رأسه عند مقدمة الكهف أضاء له ظلمات قبره الافتراضي، ثم وجد طعامًا هو بعينه الذي كان يحمله للفقراء في كل ليلة، وكان هذا الطعام يأتيه كل ليلة وبه يفرق ما بين الليل والنهار، ويقض وقته في الذكر والدعاء والمناجاة والصلاة. ظل العبد الصالح حبيس قبره ورهين بئره ست سنوات، وهو على حاله التي ذكرناها، ثم بدا لأولاده أن يعيدوا حفر البئر وإعمارها من جديد، فحفروها حتى وصلوا إلى قعرها حيث باب الكهف، وكم كانت المفاجأة مروعة والدهشة هائلة عندما وجدوا أباهم حيًا في عافية وسلامة، فسألوه عن الخبر فأخبرهم وعرفهم أن الصدقة التي كان يحملها كل ليلة بقيت تحمل له في كربته وقبره كل ليلة حتى خرج من قبره بعد ست سنوات كاملة. ●وصدق رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم إذ قال: "صنائع المعروف تقي مصارع السوء والآفات والهلكات". صححه الألباني رحمه الله. منقول

Rabu, Disember 12, 2018

Graviti Menurut Al Quran

Al jazibiyyah/ graviti menurut al Quran.

Kita sedia maklum bahawa tetapnya kita bergerak atas muka bumi ini kerana adanya graviti..semua yg dibaling jatuh semula ke bumi kerana graviti..setakat itu sahaja kita diajar di sekolah. Tp sedarkah kita siapa yg menjadikannya..? Kalau difikir secara logik tentulah langit dan segala isinya akan jatuh juga ke bumi kerana graviti..tetapi ini tidak berlaku.

Allah menyebut dlm ayat 2 surah al Ra'd: Mafhumnya: "Allahlah yang mengangkat langit tanpa tiang sebagaimana  yang kamu nampak," dalam surah Fatir ayat 41: "sesungguhnya Allahlah yang menahan langit dan bumi supaya tidak tergelincir (hilang), jika kedua2nya tergelincir tidak ada seorangpun yang mampu menahannya selain Allah. Sungguh DIA Maha Penyantun lagi Maha Pengampun"

Dalam ayat lain, Allah menceritakan tentang graviti: Bukankah DIA (Allah) yang menjadikan bumi sebagai tempat yang tetap (qarar- stabil lg tenang untuk didiami)? (al-Naml:61)

Namun apabila Allah SWT menghendaki dan  membuang graviti itu, yakni tatkala tibanya hari kiamat maka gambarannya ialah:
"Apabila langit terbelah. Dan patuh kepada Tuhannya dan semestinya ia patuh. Dan apabila bumi diratakan. Dan ia memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong ..."(al-Insyiqaq:1-4)

Maka tatkala graviti sudah tiada lagi  dan berlakunya kiamat, manusia dan gunung akan berterbangan.."..dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Hari di mana manusia menjadi seperti kupu2 yang bertebaran. Dan bukit bukau menjadi seperti kapas yang ditiup.."(al Qari'ah: 3-5)

Hari2 Ganjil Umat Rasulullah

_*Baginda Nabi ﷺ bersabda (mafhumnya):*_

🕒 Akan tiba masanya atas ummat ku di mana ke khusyu'kan dlm solat akan hilang.

🕒 Akan tiba masanya atas ummat ku banyaknya kematian secara mengejut.

🕒 Akan tiba masanya atas ummat ku banyak nya gempa² bumi.

🕒 Akan tiba masanya atas ummatku di mana seseorang muslim itu tidak akan mengucapkan salam kecuali kepada orang yang ia kenal sahaja.

🕒 Akan tiba masanya atas ummat ku banyak terjadi pembunuhan sesama sendiri.

🕒 Akan tiba masanya atas ummat ku manusia saling berbangga² dengan perbuatan maksiat mereka.

Para sahabat bertanya " Bilakah itu akan terjadi wahai Rasulullah ?

Rasulullah ﷺ menjawab " Semua itu akan terjadi di akhir zaman, maka apabila hal itu sudah terjadi maka tunggulah saat kedatangan hari kiamat.

.. Hampir² semua yg disebut itu berlaku di zaman kita 😭

💔 Adalah Hari-hari yang sangat Ganjil.

Ibu² & bapa² hanya mementingkan makanan yg sedap dan pakaian yg cantik² sahaja terhadap anak² mereka.
Namun mereka lupa menanam ajaran agama dan akhlak kepada anak² mereka.

💔 *Hari² yang ganjil.*

Para pekerja tidak ikhlas bekerja dengan alasan gaji yg diberi tidak berpatutan/sedikit. Namun mereka lupa sesungguh nya Allah memberkati rezeki yang halal dan menghilangkan berkah dari rezeki yang haram.

💔 *Hari² yang Ganjil.*

Pemuda dan pemudi berjam² menghabiskan waktu mereka jalan² dan berpeleseran di Mall atau di Pasaraya. Namun mereka merasa letih dan berat untuk mengerjakan solat walau hanya satu rakaat.

💔 *Hari² Ganjil.*

Pemuda dan pemudi asyik mendengar lagu² dengan hati yang girang gembira. Namun jika untuk mendengar firman² Allah, hati mereka menjadi sesak, seolah² mereka hendak naik ke langit sedang mereka tidak tahu bahwa perkara yang halal tidak boleh bercampur dengan perkara yang haram.

💔 *Hari² sangat Ganjil.*

Kita bersungguh² berusaha sehingga mampu membeli apa yang kita suka, yg enak² dan yang bagus². Murah atau mahal, kita sanggup membayar nya walaupun dengan berapa harga sekalipun, namun ketika kita ingin menderma kedalam tabung masjid, kita akan memilih wang kita yg paling kecil sekali unutk dimasukkan kedalam tabung derma.

💔 *Hari² yang Ganjil.*

Kita set alarm sebelum tidur takut terlambat bangun untuk pergi kerja. Namun kita lupa untuk setkan alarm untuk bangun menghadap Allah ketika solat Subuh.

💔 *Hari² sangat Ganjil.*

Kita saling caci dan membicarakan keburukan makhluk² Allah, namun kita lupa akan firman Allah _*"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di datangi malaikat pengawas yang selalu hadir".*_

💔 *Hari² yang Ganjil.*

Kita mengeluh dari banyak nya musibah dan bencana, namun kita lupa akan firman Allah _*"Maha Suci Allah yang telah menggerak kan kenderaan ini untuk kami padahal kami tiada kuasa menggerakkannya".*_

💔 *Hari² yang Ganjil.*

Ibu² & bapa² membiarkan saja isteri dan anak perempuan mereka memakai pakaian dengan menampakkan aurat bahkan menimbulkan fitnah kepada orang lain tanpa ada rasa bersalah dan tidak berani untuk mencegahnya dengan alasan itu adalah hak asasi manusia, kubur masing² dll....

💔 *Hari-hari yang ganjil.*

Pada saat pesan ini sampai kepada mu, maka dengan engkau telah menjadi salah seorang yang berkongsi dalam memberikan peringatan tentang peraturan serta syariat Allah dan sunnah² _*Nabi Muhammad ﷺ.*_

Apa yang kami harapkan darimu adalah turut serta menghidupkan sebahagian dari sunnah _*Nabi ﷺ*_ ini walau hanya dengan satu perbuatan sunnah sahaja.

Jadilah anda salah seorang yang mengajak kepada kebaikan.

Abid Beribadah 500 Tahun

Di sini ada suatu kisah tentang seorang ahli ibadah yang ingin masuk syurga dengan amalannya, mari kita menelusuri kisahnya.

Dari Jabir bin Abdullah, dia berkata: “Suatu hari kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Di tengah perjalanan Rasulullah bersabda: “Sebentar tadi Jibril datang kepadaku, dia berkata: “Wahai Muhammad, dahulu kala Allah mempunyai seorang hamba yang sangat soleh. Dia beribadah kepada Allah selama lima ratus tahun. Seluruh hidupnya dia abdikan hanya kepada Allah. Dia tinggal di puncak sebuah gunung yang terletak di tengah lautan. Luas dan tinggi gunung tersebut sekitar tiga puluh hasta, sementara lautnya terbentang luas sekitar empat ribu farsakh.

Tidak jauh dari tempat dia beribadah, di kaki gunung, keluarlah air tawar sebesar jari yang keluar dari celah-celah batu sebagai tempatnya menghilangkan rasa haus. Di tempat tadi juga ada sepohon delima yang setiap malam mengeluarkan buahnya. Apabila petang hari tiba, dia turun dari puncak gunung menuju kepada air tawar tadi untuk mengambil wudhu’ sekaligus minum dan makan buah delima sebagai mengisi perutnya yang kosong. Setelah itu dia kembali beribadah. Demikianlah rutinnya sehari-hari.

Suatu hari dia memohon kepada Allah agar dimatikan dalam keadaan sujud, lalu Allah mengabulkan permohonannya itu, dia pun mati dalam keadaan sujud. Ketika dia sudah berada di hadapan-Nya (pada hari Kiamat), Allah kemudian berfirman: “Wahai hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga dengan rahmat-Ku.” Hamba itu menjawab: “Ya Allah, aku masuk syurga kerana amalku, bukan kerana rahmat-Mu.” Allah kembali berfirman: “Wahai hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga dengan rahmat-Ku.” Hamba tadi kemudian menjawab kembali: “Ya Allah, bukan kerana rahmat-Mu aku masuk ke dalam syurga, melainkan kerana ibadahku. Aku habiskan seluruh umurku hanya untuk beribadah kepada-Mu.”

Allah lalu berfirman: “Hamba-Ku ini membandingkan nikmat yang telah Aku berikan dengan amal ibadah yang telah dilakukannya. Ketahuilah wahai hamba, nikmat penglihatan sahaja yang Aku berikan kepadamu itu cukup untuk membalas amal ibadahmu yang lima ratus tahun itu, belum lagi dengan nikmat-nikmat-Ku yang lain.” Allah berfirman lagi: “Baiklah wahai hamba, mendekatlah dan jawablah pertanyaan-pertanyaan-Ku ini. Wahai hamba, siapakah yang telah menciptakanmu dari tiada?” Hamba itu menjawab: “Engkau ya Allah.” Allah kembali bertanya: “Siapa yang memberimu kesihatan sehingga kau dapat beribadah selama lima ratus tahun?” Hamba itu kembali menjawab: “Engkau ya Allah.”

Allah kembali bertanya: “Siapa yang menempatkanmu di tengah lautan sehingga kau dapat beribadah dengan tenang? Siapa pula yang telah mengeluarkan air tawar sebagai tempatmu minum padahal kau berada di tengah lautan yang masin airnya? Siapa pula yang telah mengeluarkan buah delima dari pohonnya yang selalu berbuah setiap hari sebagai makananmu padahal buah itu (sepatutnya) ada setahun sekali? Siapa pula yang mematikanmu ketika kau sedang sujud?” Hamba itu menjawab: “Engkau ya Allah.” Allah kembali berfirman: “Semua itu adalah rahmat-Ku, dan kerananya (rahmat) pula Aku memasukkanmu ke syurga. Engkaulah hamba-Ku yang paling beruntung, kerananya masuklah ke dalam syurga.” Hamba itu kemudian masuk ke dalamnya (syurga).”

(Riwayat Al-Hakim, sanadnya sahih

Saat Matinya Seorang Abid


يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنْكُمْ خَافِيَةٌ

"Pada hari itu, kamu semua dihadapkan (untuk hitungan amal); tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi (kepada Allah) dari perkara-perkara kamu yang tersembunyi" [Surah al-Haqqah 18]

#Kita semua akan mati. Kita akan dibawa mengadap Allah swt utk disoal siasat segala apa yg kita telah kerjakan sewaktu hidup di dunia. Tiada satu perkara pun yg dpt dielak atau disembunyikan samada kebaikan atau kejahatan. Semuanya akan terdedah dan didedah. Adakah kita telah bersedia utk semua itu. Selamat memikirkan masa depan kita!!

#Mari kita hayati kisah dibawah ini agar menjadi iktibar, pengajaran, persediaan sblm kita dimatikan.

Pada suatu masa dahulu terdapat seorang ‘abid tinggal di Basrah. Di saat dia menghampiri kematian, semua ahli keluarganya bersimpoh dan menangis di sisinya. Dia meminta mereka mendudukkannya. Setelah dia duduk, dia mengadap mereka satu persatu.

Dia mengadap ayahnya sambil bertanya, kenapa ayah menangis? Ayahnya menjawab: "Wahai anakku, aku menangis kerana aku teringat selepas ini aku berpisah denganmu dan aku akan keseorangan tanpamu".

Dia mengadap ibunya dan bertanya, kenapa ibu menangis? Ibunya menjawab: "Aku menangis kerana pahitnya menanggung kehilanganmu, anakku".

Dia berpaling kepada isterinya dan bertanya, kenapa engkau menangis wahai isteriku? Isterinya menjawab: "Aku menangis kerana aku akan kehilangan kebaikanmu dan aku terpaksa berhajat kepada orang lain".

Dia berpaling kepada anak-anaknya dan bertanya mereka, kenapa kamu menangis wahai anak-anakku? Anak-anaknya menjawab: "Kami menangis kerana akan jadi anak yatim yang hina dan melarat selepas ketiadaan ayah"

Ketika itu dia merenung mereka seorang demi seorang. Dan diapun menangis. Mereka bertanya, kenapa pula engkau menangis? Dia menjawab: "Aku menangis kerana aku mendapati setiap orang daripada kamu menangis untuk dirinya, bukan untuk diriku"

*Tidak adakah di kalangan kamu yang menangis kerana mengenangkan panjangnya perjalananku nanti?

*Tidak adakah di kalangan kamu yang menangis kerana sedikitnya bekalanku?

*Tidak adakah di kalangan kamu yang menangis kerana aku akan berbaring di atas pasir (di dalam kubur) kegelapan keseorangan?

*Tidak adakah di kalangan kamu yang menangis kerana aku akan berdepan dengan perhitungan yang sengit?

*Tidak adakah di kalangan kamu yang menangis kerana aku akan berdiri di hadapan Tuhan segala tuhan-tuhan?

Habis saja kata-kata itu, diapun tersungkur. Ahli keluarganya menggerak-gerakkan, tapi sayang. Dia telah pergi meninggalkan mereka semua!!

♡Bersempena berada di Jumaat yg terakhir pd tahun 1437H, marilah kita bermuhasabah dan merenung keadaan kita sebelum dijemput Allah dan kehidupan yg perlu kita hadapi selepas mati. Bahagiakah kita atau meranakah kita??. Renung2kanlah!!♡

🐊Ust naim

Jangan Ludah Malaikat

Malaikat adalah sejenis makhluk yang tak dapat dilihat tapi dipercayai dan DISENANGI semua manusia tanpa mengira agama. Banyak sekali ayat yang menunjukkan manusia kufur daripada umat lampau seperti Fir’awn pun hormati malaikat. Anda boleh rujuk ayat berikut (al-An’am 6:8, Fussilat 41: 13-14 & al-Zukhruf 43:53).

Pun begitu, ada manusia pelik yang membenci serta memusuhi Jibril AS seperti orang Yahudi. Apabila Rasulullah SAW tiba di Madinah, mereka menolak baginda kerana Jibril menjadi malaikat pembimbing baginda (Tafsir Ibn Kathir). Berikutan itu Allah menegur keras mereka dengan ayat ini:

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (97) مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ (98)

Ertinya: Katakanlah (wahai Muhammad): "Sesiapa memusuhi Jibril maka sebabnya ialah kerana Jibril itu menurunkan Al-Quran ke dalam hatimu dengan izin Allah, yang mengesahkan kebenaran kitab yang ada di hadapannya (yang diturunkan sebelumnya), serta menjadi petunjuk dan memberi khabar gembira kepada orang yang beriman". Sesiapa memusuhi Allah (dengan mengingkari segala petunjuk dan perintah-Nya), memusuhi para malaikat-Nya, para rasul-Nya, terutama sekali malaikat Jibril dan Mikail, (maka dia akan diseksa oleh Allah) kerana sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang kafir (al-Baqarah 2:97-98).

Selain itu, nabi melarang umatnya MELUDAH MALAIKAT. Eh! Mana mungkin kita akan ludah malaikat? Sabda Rasulullah SAW:

إِذَا قَامَ أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَلَا يَبْصُقْ أَمَامَهُ فَإِنَّمَا يُنَاجِي اللَّهَ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ وَلَا عَنْ يَمِينِهِ فَإِنَّ عَنْ يَمِينِهِ مَلَكًا وَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ أَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ فَيَدْفِنُهَا

Ertinya: Apabila sesiapa daripada kamu solat, maka janganlah ludah ke arah hadapannya kerana sesungguhnya dia sedang bermunajat kepada Allah selagi dia berada di tempat solatnya. JANGAN JUGA (LUDAH) KE ARAH KANANNYA KERANA PADA SEBELAH KANANNYA ADA MALAIKAT. (Jika terpaksa) maka ludahlah ke arah kiri atau di bawah tapak kakinya, lalu ditanamnya (dengan kaki) (Sahih al-Bukhari & Muslim).

Kewujudan malaikat yang dimaksudkan hadith ini adalah KETIKA DALAM SOLAT. Ia juga melibatkan solat di kawasan luar seperti di atas pasir atau tanah dan bukannya dalam masjid. Tujuan utama arahan timbus kesan ludah di bawah tapak kaki adalah untuk mengelakkan ia terkena orang lain. Ringkasnya, kita PERLU SENTIASA HORMATI PARA MALAIKAT.

Untuk hormati serta kenali mereka sudah pasti dengan mendalami agama dan bukannya “meneka perihal makhluk ghaib secara ikut-ikutan.” Antara buku ringkas yang bagus membicarakan perihal malaikat adalah – عالم الملائكة الأبرار – ALAM PARA MALAIKAT YANG BERBAKTI karya Prof Dr ‘Umar Sulayman Abdullah al-Asyqar.

 Alhamdulillah! Buku ini menjadi bahan sampingan kelas Tafsir Dhuha mingguan saya di Masjid Ibn Sina, Taman Tasik Titiwangsa, Kuala Lumpur.

- Abdullah Bukhari @ 11 December 2018 -

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=521580525015982&id=508904676283567