Hari itu, di salah satu sudutnya Masjid Nabawi berkumpullah Abu Qudamah dan para sahabatnya.
Di hati para sahabatnya, Abu Qudamah adalah orang yang sangat dikagumi. Itu karena Abu Qudamah adalah seorang mujahid. Berjihad dari satu front ke medan-medan jihad lainnya. Seolah hidup beliau, beliau persembahkan untuk berjihad.
Debu yang beterbangan, kilatan pedang, hempasan anak panah, derap kuda adalah hal yang sudah biasa bagi beliau. Pengalaman, tragedi, kisah dan momen pun telah banyak beliau saksikan di setiap gelanggang perjuangan jihad.”Abu Qudamah, ceritakanlah pada kami kisah paling mengagumkan di hari-hari jihadmu,” tiba-tiba salah seorang sahabatnya meminta.
“Ya,” jawab Abu Qudamah.Beberapa tahun lalu. Aku singgah di kota Recca. Aku ingin membeli onta untuk membawa persenjataanku.
Saat aku sedang bersantai di penginapan, keheningan pecah oleh suara ketukan.Ku buka ternyata seorang perempuan.”Engkaukah Abu Qudamah?” tanyanya.”Engkaukah yang menghasung umat manusia untuk berjihad?” pertanyaannya yang kedua.
“Sungguh, Allah telah menganugerahiku rambut yang tak dimiliki wanita lain. Kini aku telah memotongnya. Aku kepang agar bisa menjadi tali kekang kuda. Aku pun telah menutupinya dengan debu agar tak terlihat.
Aku berharap sekali agar engkau membawanya. Engkau gunakan saat menggempur musuh, saat jiwa kepahlawananmu merabung. Engkau gunakan bersamaan saat kau menghunus pedang, saat kau melepaskan anak panah dan saat tombak kau genggam erat.
Kalau pun engkau tak membutuhkan, ku mohon berikanlah pada mujahid yang lain. Aku berharap agar sebagian diriku ikut di medan perang, menyatu dengan debu-debu fi sabilillah.
Aku adalah seorang janda. Suamiku dan karib kerabatku, semuanya telah mati syahid fi sabilillah. Kalau pun syariat mengizinkan aku berperang, aku akan memenuhi seruannya,” ungkapnya sembari menyerahkan kepangan rambutnya.
Aku hanya diam membisu. Mulutku kelu walau tuk mengucapkan “iya”.”Abu Qudamah, walaupun suamiku terbunuh, namun ia telah mendidik seorang pemuda hebat. Tak ada yang lebih hebat darinya.
Ia telah menghapal Al-Qur’an. Ia mahir berkuda dan memanah. Ia senantiasa sholat malam dan berpuasa di siang hari. Kini ia berumur 15 tahun. Ialah generasi penerus suamiku. Mungkin esok ia akan bergabung dengan pasukanmu. Tolong terimalah dia. Aku persembahkan dia untuk Allah. Ku mohon jangan halangi aku dari pahala,” kata-kata sendu terus mengalir dari bibirnya.
Adapun aku masih diam membisu. Memahami kalimat per kalimat darinya. Lalu tanpa sadar perhatianku tertuju pada kepangan rambutnya.”Letakkanlah dalam barang bawaanmu agar kalbuku tenang,” pintanya.
Tahu aku memperhatikan kepangan rambutnya.
Aku pun segera meletakkannya bersama barang bawaanku. Seolah aku tersihir dengan kata-kata dan himmah (tekad) nya yang begitu mengharukan.Keesokan harinya, aku bersama pasukan beranjak meninggalkan Recca.Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada seorang penunggang kuda yang memanggil-manggil.
“Abu Qudamah!” serunya.
“Abu Qudamah, tunggu sebentar, semoga Allah merahmatimu.”
Kaki pun terhenti. Lalu aku berpesan kepada pasukan, “tetaplah di tempat hingga aku mengetahui orang ini.”
Dia mendekat dan memelukku.”Alhamdulillah, Allah memberiku kesempatan menjadi pasukanmu. Sungguh Dia tidak ingin aku gagal,” ucapnya.
“Kawan, singkaplah kain penutup kepalamu dahulu,” pintaku.
Ia pun menyingkapnya. Ternyata wajahnya bak bulan purnama. Terpancar darinya cahaya ketaatan.”Kawan, apakah engkau memiliki Abi?” tanyaku.
“Justru aku keluar bersamamu hendak menuntut balas kematian Abi. Dia telah mati syahid. Semoga saja Allah menganugerahiku syahid seperti Abi,” jawabnya.
“Lalu, bagaimana dengan Ummi? Mintalah restu darinya terlebih dahulu. Jika merestui, ayo. Jika tidak, layanilah beliau. Sungguh baktimu lebih utama dibandingkan jihad. Memang, jannah di bawah bayangan pedang, namun juga di bawah telapak kaki ibu.”
“Duhai Abu Qudamah. Tidakkah engkau mengenaliku.”
“Tidak.”
“Aku putra pemilik titipan itu. Betapa cepatnya engkau melupakan titipan Ummi, pemilik kepangan rambut itu”
“Aku, insya Allah, adalah seorang syahid putra seorang syahid. Aku memohon kepadamu dengan nama Allah, jangan kau halangi aku ikut berjihad fi sabilillah bersamamu. Aku telah menyelesaikan Al-Qur’an. Aku juga telah mempelajari Sunnah Rasul. Aku pun lihai menunggang kuda dan memanah.Tak ada seorang pun lebih berani dariku. Maka, janganlah kau remehkan aku hanya karena aku masih belia.”
Ummi telah bersumpah agar aku tidak kembali. Beliau berpesan; Nak, jika kau telah melihat musuh, jangan pernah kau lari. Persembahkanlah ragamu untuk Allah. Carilah kedudukan di sisi Allah. Jadilah tetangga Abimu dan paman-pamanmu yang sholeh di jannah. Jika nantinya kau menjadi syahid, jangan kau lupakan Ummi. Berilah Ummi syafa’at. Aku pernah mendengar faedah bahwa seorang syahid akan memberi syafaat untuk 70 orang keluarganya dan juga 70 orang tetangganya. Ummi pun memelukku dengan erat dan mendongakkan kepalanya ke langit;
Rabbku.. Maulaku.. Inilah putraku, penyejuk jiwaku, buah hatiku.. aku persembahkan ia untukmu. Dekatkanlah ia dengan ayahnya,” terang sang pemuda.Kata-katanya terus mendobrak tanggul air mataku. Dan akhirnya aku benar-benar tak kuasa menahannya. Aku tersedu-sedu. Aku tak tega melihat wajahnya yang masih muda, namun begitu tinggi tekadnya. Aku pun tak bisa membayangkan kalbu sang ibu. Betapa sabarnya ia.Melihatku menangis, sang pemuda bertanya, “Paman, apa gerangan tangisanmu ini? Jika sebabnya adalah usiaku, bukankah ada orang yang lebih muda dariku, namun Allah tetap mengadzabnya jika bermaksiat !?”
“Bukan,” aku segera menyanggah.
“Bukan lantaran usiamu. Namun aku menangis karena kalbu ibumu. Bagaimana jadinya nanti jika engkau gugur?”
Akhirnya aku menerimanya sebagai bagian dari pasukan. Siang malam si pemuda tak pernah jemu berdzikir kepada Allah Ta’ala. Saat pasukan bergerak, ia yang paling lincah mengendalikan kuda. Saat pasukan berhenti istirahat, ia yang paling aktif melayani pasukan. Semakin kita melangkah, tekadnya juga semakin membuncah, semangatnya semakin menjulang, kalbunya semakin lapang dan tanda-tanda kebahagiaan semakin terpancar darinya.
Kami terus berjalan menyusuri hamparan bumi nan luas. Hingga kami tiba di medan laga bersamaan dengan bersiap-siapnya matahari untuk terbenam.Sesampainya, sang pemuda memaksakan diri menyiapkan hidangan berbuka untuk pasukan. Memang, hari itu kami berpuasa. Dan dikarenakan hal inilah juga khidmatnyakepada pasukan selama perjalanan, dia tertidur pulas. Pulas sekali hingga kami iba membangunkan. Akhirnya, kami sendiri yang menyiapkannya danmembiarkan si pemuda tidur. Saat tidur, tiba-tiba bibirnya mengembang menghiasi wajahnya.”Lihatlah, ia tersenyum!” kataku pada teman keheranan.
Setelah bangun, aku bertanya padanya, “kawan, saat tertidur kau tersenyum. Apa gerangan mimpimu?”
“Aku mimpi indah sekali. Membuatku bahagia,” jawabnya.”Ceritakanlah padaku!” pintaku penasaran.”
Aku seperti di sebuah taman hijau nan permai. Indah sekali. Pemandangannya menarik kalbuku untuk berjalan-jalan.Saat asyik berjalan, tiba-tiba aku berdiri di depan istana perak, balkonnya dari batu permata dan mutiara serta pintu-pintunya dari emas.Sayang, tirai-tirainya terjuntai, menghalangiku dari bagian dalam istana. Namun tak lama, keluarlah gadis-gadis menyingkap tirai-tirainya.
Sungguh wajah mereka bagaikan rembulan. Kutatap wajah-wajah cantik itu dengan penuh kekaguman, amboi cantiknya.”Marhaban,” kata salah seorang dari mereka tahu ku memandanginya.
Aku pun tak tahan hendak menjulurkan tangan menyentuhnya. Belum sampai tangan ini menyentuh, dia berkata, “Belum. Ini belum waktunya. Janganlah terburu-buru.”
Telingaku juga menangkap sebuah suara salah seorang mereka, “Ini suami Al Mardhiyah.”
Mereka berkata kepadaku,”kemarilah, yarhamukalloh.”
Baru saja kakiku hendak melangkah, ternyata mereka telah berdiri di depanku.
Mereka membawaku ke atas istana. Di sebuah kamar, seluruhnya dari emas merah yang berkilauan indahnya. Dalam kamar itu ada dipan yang bertahtakan permata hijau dan kaki-kakinya terbuat dari perak putih. Dan di atasnya. . .seorang gadis belia dengan wajah bersinar lebih indah dari sekedar rembulan!!
Kalaulah Allah tidak memantapkan kalbu dan penglihatanku, niscaya butalah mataku dan hilanglah akalku karena tak kuasa menatap kecantikannya!!
“Marhaban, ahlan wa sahlan, duhai wali Allah. Sungguh engkau adalah milikku dan aku adalah milikmu” katanya menyambutku, membuatku tak terasa hendak memeluknya.”Sebentar. Janganlah terburu-buru. Belum waktunya. Aku berjanji padamu, kita bertemu besok selepas sholat dhuhur. Bergembiralah,” sang pemuda mengakhiri kisahnya. Lalu, aku berusaha membangkitkan himmahnya, “Kawan, mimpimu begitu indah. Engkau akan melihat kebaikan nantinya.” Kami pun bermalam dengan perasaan takjub dan kagum akan mimpi sang pemuda.
Esok hari, kami bersiap menghadapi kaum kafir. Barisan diluruskan, formasi dan strategi dimatangkan, senjata tergenggam kuat dan tali kekang kuda dipegang erat.Semangat pun semakin berkobar saat mendengar hasungan, “wahai segenap para tentara Allah, tunggangilah kuda-kuda kalian. Bergembiralah dengan jannah. Majulah kalian, baik terasa ringan oleh kalian ataupun terasa berat.”
Tak lama, skuadron pasukan kuffar tiba di hadapan kami. Banyak sekali, bagaikan belalang yang menyebar kemana-mana.Perang campuh pun terjadi. Kesunyian pagi hari sontak terpecah oleh teriakan skuadron kuffar dan gema takbir kaum muslimin. Suara senjata yang saling beradu, berbaur dengan riuh rendah suara para prajurit yang sedang bertaruh nyawa.Tiba-tiba aku mengkhawatirkan pemuda itu. Iya, dimana pemuda itu…Dimana pemuda itu ? Ku berusaha mencari di tengah medan laga. Ternyata dia di barisan depan pasukan muslimin. Dia merangsek maju, menyibak skuadron kuffar dan memporak porandakan barisan mereka.
Dia bertempur dengan hebatnya. Dia mampu melumpuhkan begitu banyak pasukan kuffar. Namun begitu, tetap saja hati ini tak tega melihatnya. Aku segera menyusulnya di depan.
“Kawan, kau masih terlalu muda. Kau tak tahu betapa liciknya pertempuran.Kembalilah ke belakang,” teriakku mencoba menyaingi suara riuh pertempuran, sambil menarik tali kekang kudanya.
“Paman, tidakkah kau membaca ayat {{ wahai segenap kaum mukmin, jika kalian telah bercampuh dengan kaum kuffar, maka janganlah kalian mundur ke belakang }} [Al Anfal:15]. Sudikah engkau aku masuk neraka ?” serunya menimpali. Saat kucoba memahamkannya, serbuan kavelari kuffar memisahkan kami. Aku berusaha mengejarnya, namun sia-sia. Peperangan semakin bergejolak.
Dalam kancah pertempuran, terdengarlah derap kaki kuda diiringi gemerincing pedang dan hujan panah.Lalu mulailah kepala berjatuhan satu persatu. Bau anyir darah tercium dimana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan.Dan tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah. Demi Allah, perang itu telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang di atas kepala yang tak henti-hentinya,menjadikan suhu memuncak. Kedua pasukan bertempur habis-habisan.
Saat perang usai, aku segera mencari si pemuda. Terus mencari di medan laga. Aku khawatir dia termasuk yang terbunuh. Aku berkeliling mengendarai kuda di sekitar kumpulan korban. Mayat demi mayat, sungguh wajah mereka tak dapat dikenali, saking banyaknya darah bersimbah dan debu menutupi.
Dimana sang pemuda ? Aku terus melanjutkan pencarian. Dan tiba-tiba aku mendengar suara lirih, ”Kaum muslimin, panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari!”
Itu suaranya, teriakku dalam kalbu. Kucari sumber suara, ternyata benar, si pemuda. Berada di tengah-tengah kuda bergelimpangan.Wajahnya bersimbah darah dan tertutup debu. Hampir aku tak mengenalnya.
Aku segera mendatanginya. “Aku di sini! Aku di sini! Aku Abu Qudamah!” isakku tak kuasa menahan tangis. Aku sisingkan sebagian kainku dan mengusap darah yang menutupi wajah polosnya.”Paman, demi Rabb ka’bah, aku telah meraih mimpiku. Akulah putra ibu pemilik rambut kepang itu. Aku telah berbakti padanya, ku kecup keningnya dan ku hapus debu dan darah yang terkadang mengalir di wajahnya,” kenangnya. Sungguh aku benar-benar tak kuasa dengan kejadian ini.
“Kawan, janganlah kau lupakan pamanmu ini. Berilah dia syafa’at nanti di hari kiamat.”
“Orang sepertimu tak kan pernah kulupakan.””Jangan!” serunya lagi saat kucoba mengusap wajahnya. “Jangan kau usap wajahku dengan kainmu. Kainku lebih berhak untuk itu. Biarkanlah darah ini mengalir hingga aku menemui Rabb-ku, paman.
Paman, lihatlah, bidadari yang pernah kuceritakan padamu ada di dekatku. Dia menunggu ruhku keluar. Dengarkanlah kata-katanya; sayang, bersegeralah. Aku rindu.Paman, demi Allah, tolong bawalah bajuku yang berlumuran darah ini untuk Ummi. Serahkanlah padanya, agar beliau tahu aku tak pernah menyia-nyiakan petuahnya. Juga agarbeliau tahu aku bukanlah pengecut melawan kaum kafir yang busuk itu. Sampaikanlah salam dariku dan katakan hadiahmu telah diterima Allah.Paman, saat berkunjung ke rumah nanti, kau akan bertemu adik perempuanku. Usianya sekitar sepuluh tahun. Jika aku datang, ia sangat gembira menyambutku. Dan jika aku pergi, ia paling tidak mau kutinggalkan.
Saat ku meninggalkannya kali ini, ia mengharapkanku cepat kembali. “Kak, cepat pulang, ya.” Itulah kata-katanya yang masih terngiang di telingaku. Jika engkau bertemu dengannya, sampaikan salamku padanya dan katakan; Allah-lah yang akan menggantikan kakak sampai hari kiamat, ” kata-katanya terus membuat air mataku meleleh. Menetes dan terus menetes membuat aliran sungai di pipi.”Asyhadu alla ilaaha illalloh, wahdahu laa syarikalah, sungguh benar janji-Nya. Wa asyhadu anna muhammadarrosululloh. Inilah apa yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya dan nyatalah apa yang dijanjikan Allah dan rasul-Nya,” itulah kata-kata terakhirnya sebelum ruh berlepas dari jasadnya. Lalu aku mengkafaninya dan menguburkannya.Aku harus segera ke Recca, tekadku. Aku segera pergi ke Recca. Tak lain dan tak bukan tujuanku hanyalah ibu si pemuda.
Celakanya aku, aku belum mengetahui nama si pemuda dan dimana rumahnya. Aku berkelililing ke seluruh kota Recca. Setiap sudut, gang dan jalan ku telusuri. Dan akhirnya aku mendapatkan seorang gadis mungil. Wajahnya bersinar mirip si pemuda.
Ia melihat-lihat setiap orang yang berlalu di depannya. Tiap kali melihat orang baru datang dari bepergian, ia bertanya, “Paman, anda datang darimana?”
“Aku datang dari jihad,” kata lelaki itu.
“Kalau begitu kakakku ada bersamamu?” tanyanya
“Aku tak kenal, siapa kakakmu.” kata lelaki itu sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang kedua dan tanyanya, “Paman, anda datang dari mana?”
“Aku datang dari jihad,” jawabnya.
“Kakakku ada bersamamu?”, tanya gadis itu.
“Aku tak kenal, siapa kakakmu.” jawabnya sambil berlalu.
Gadis itu pun tak bisa menahan rindu kepada sang kakak. Sambil terisak-isak, dia berkata,”mengapa mereka semua kembali dan kakakku tak kunjung kembali?”
Aku iba kepadanya. Ku coba menghampiri tanpa membawa ekspresi kesedihan.
“Adik kecil, bilang sama Ummi, Abu Qudamah datang.”
Mendengar suaraku, sang ibu keluar.”Assalamu’alaiki,” salamku.”Wa’alaikum salam,” jawabnya.
“Engkau ingin memberiku kabar gembira atau berbela sungkawa?” lanjutnya.
“Maksud, ibu ?”
“Jika putraku datang dengan selamat, berarti engkau berbela sungkawa. Jika dia mati syahid, berarti engkau kemari membawa kabar gembira,” terangnya.”Bergembiralah. Allah telah menerima hadiahmu.”
Ia pun menangis terharu.
“Benarkah?”
“Iya.
“Benar-benar ia tak kuasa menahan tangis.”Alhamdulillah.Segala puji milik Allah yang telah menjadikannya tabunganku di hari kiamat,” pujinya kepada Zat Yang Maha Kuasa.
Para sahabat Abu Qudamah mendengarkan kisahnya dengan penuh kekaguman.”Lalu gadis kecil itu bagaimana?” tanya salah seorang dari mereka.”Dia mendekat kepadaku. Dan kukatakan padanya, “Kakakmu menitipkan salam padamu dan berkata; Dik, Allah-lah yang menggantikanku sampai hari kiamat nanti”. Tiba-tiba dia menangis sekencang-kencangnya. Wajahnya pucat. Terus menangis hingga tak sadarkan diri. Dan setelah itu nyawanya tiada.
Sang ibu mendekapnya dan menahan sabar atas semua musibah yang menimpanya.Aku benar-benar terharu melihat kejadian ini. Aku serahkan padanya sekantong uang, berharap bisa mengurangi bebannya.Sang ibu pun melepas kepergianku. Aku meninggalkan mereka dengan kalbu yang penuh kekaguman, ketabahan sang ibu, sifat ksatria sang pemuda dan cinta gadis kecil itu kepada kakaknya…(SELESAI)
Sabtu, April 15, 2017
Shilah As Syam Al Adawi
Kisah ini sangat menarik sekali,
sekaligus mengharukan. Betapa tidak? Bagaimana terkoleksi pada seorang tokoh
dua sifat; seorang yang ahli ibadah tapi juga pemberani di medan perang. Ia
menjadi rebutan para komandan pasukan Islam dalam peperangan mereka karena
keberanian dan doanya. Ia bernasib mujur karena mendapatkan isteri yang ahli
ibadah pula dan seorang putra yang pemberani. Kekhusyu’an shalatnya tidak
terpengaruh oleh kedatangan singa yang hendak menerkamnya bahkan singa itu
kemudian tunduk padanya…
“Shilah Bin Asy-yam al-‘Adawi menuntut
ilmu dari sebagian besar sahabat dan mencontoh cara hidup halal dan akhlak
mereka,” (Ucapan al-Ashbahaani) Shilah ibn Asyam al-‘Adawi seorang ahli ibadah
dari para ahli ibadah malam…seorang pejuang dari para pejuang siang. Apabila
kegelapan telah menutupkan tirainya ke alam semesta dan manusia terlelap dalam
tidur…ia pun bangkit dan menyempurnakan wudlu, kemudian ia berdiri di mihrabnya
dan masuk dalam shalatnya serta mendapatkan suka cita dengan Rabbnya. Maka,
bersinarlah cahaya ilahi dalam dirinya, menyinari bashirahnya ke penjuru
dunia…memperlihatkannya akan ayat-ayat Allah di ufuk.
Disamping itu semua, ia adalah orang yang
hobby membaca al-qur’an di waktu fajar. Apabila sepertiga malam terakhir telah
tiba, ia mencondongkan bengkaunnya kepada juz-juz al-qur’an…Mulailah (lidahnya)
mentartil ayat-ayat Allah yang jelas dengan suara merdu dan suara tangisan.
Terkadang ia mendapatkan kelezatan al-qur’an yang menyentuh ke dalam hatinya
dan mendapatkan ketakutan kepada Allah dengan akal jernihnya. Pada sisi lain,
ia merasakan al-qur’an berisi ancaman yang memecah hatinya… Shilah ibn Asyam
tidak pernah bosan dari ibadahnya ini sekalipun.
Tidak ada bedanya apakah di rumahnya atau
dalam perjalanan, di saat sibuk atau di saat waktu luangnya. Ja’far ibn Zaid
menghikayatkan, “Kami keluar bersama salah satu dari pasukan muslimin dalam
sebuah perang ke kota “Kabul“ (ibukota Afghanistan, terletak dekat sungai
Kabul) dengan harapan Allah akan memberikan kemenangan kepada kami. Dan adalah
Shilah ibn Asyam berada di tengah pasukan. Ketika malam telah menutupkan
tirainya –dan kami berada di tengah perjalanan-, para pasukan menurunkan
bekalnya dan menyantap makanannya lalu menunaikan shalat ‘Isya…
Mereka kemudian pergi menuju ke
kendaraannya mencari kesempatan untuk istirahat di sisinya… Maka, aku melihat
Shilah ibn Asyam pergi menuju ke kendaraannya sebagaimana mereka pergi. Ia lalu
meletakkan pinggangnya untuk tidur sebagaimana yang mereka lakukan. Aku lantas
berkata dalam hati, “Dimanakah yang orang-orang riwayatkan tentang shalatnya
orang ini dan ibadahnya serta apa yang mereka sebarkan tentang shalat malamnya
hingga kakinya bengkak?!
Demi Allah, aku akan menunggunya malam
ini hingga aku melihat apa yang dikerjakannya.” Tidak lama setelah para
prajurit terlelap dalam tidurnya…hingga aku melihatnya bangun dari tidurnya dan
berjalan menjauh dari perkemahan, bersembunyi dengan gelapnya malam dan masuk
ke dalam hutan yang lebat dengan pepohonannya yang tinggi dan rumput liar.
Seakan-akan belum pernah dijamah sejak waktu yang lama.
Aku berjalan mengikutinya… Sesampinya ia
di tempat yang kosong, ia mencari arah kiblat dan menghadap kepadanya. Ia
bertakbir untuk shalat dan ia tenggelam di dalamnya…aku melihatnya dari
kejauhan. Aku melihatnya berwajah berseri…tenang anggota badannya dan tenang
jiwanya. Seakan-akan ia menemukan seorang teman dalam kesepian, (menemukan)
kedekatan dalam jauh dan cahaya yang menerangi dalam gelap.
Di saat dia demikian…tiba-tiba muncul
kepada kami seekor singa dari sebelah timur hutan. Setelah aku merasa aku
merasa yakin darinya, bahwa yang datang itu macan hatiku serasa copot saking
takutnya. Aku lalu memanjat sebatang pohon yang tinggi untuk melindungiku dari
ancamannya. Singa tersebut terus saja mendekat kepada Shilah ibn Asyam,
sedangkan ia tenggelam dalam shalatnya hingga jaraknya tinggal beberapa langkah
saja darinya…Dan demi Allah ia tidak menoleh kepadanya…tidak mempedulikannya…
Tatkala ia sujud, aku berkata, “Sekarang (saatnya) ia akan menerkamnya.”
Ketika ia bangkit dari sujudnya dan
duduk, singa itu berdiri di hadapannya seakan-akan memperhatikannya. Ketika ia
salam dari shalatnya, ia memengkaung kepada singa itu dengan tenang…dan
menggerakkan kedua bibirnya dengan ucapan yang tidak aku dengar. Dan tiba-tiba
saja singa tersebut berpaling darinya dengan tenang, dan kembali ke tempat
semula. Di saat fajar telah terbit, ia bangkit untuk menunaikan shalat fardlu.
Kemudian ia mulai memuji Allah AWJ dengan pujian-pujian yang aku belum pernah
mendengar yang sepertinya sekalipun.
Ia kemudian berdoa, “Ya Allah,
sesungguhnya aku memohon kepadaMu agar menyelamatkan aku dari neraka…Apakah
seorang hamba yang berbuat salah seperti aku berani untuk memohon surga
kepadaMu?!” Ia terus saja mengulang-ulangnya hingga ia menangis dan membuatku
ikut menangis.
Kemudian ia kembali ke pasukannya tanpa
ada seorang pun yang tahu. Nampak di mata orang-orang, seakan-akan ia baru
bangun dari tidur di kasur. Sedangkan aku kembali dari mengikutinya, dan aku
merasa (lelah dari) begadang malam…badan penat…dan ketakutan terhadap singa…dan
apa-apa yang Allah Maha Tahu dengannya.
Di samping itu semua, Shilah ibn Asyam
tidak pernah membiarkan satu kesempatan dari kesempatan-kesempatan mauidzah dan
peringatan kecuali ia memanfaatkannya. Dan metodhe dakwahnya adalah ia menyeru
kepada jalan Rabbnya dengan hikmah dan mauidzah hasanah. Jiwa-jiwa yang lari ia
condongkan (dekatkan)…hati-hati yang keras ia lemahkan (lunakkan).
Di antaranya, bahwa ia pernah keluar ke
daratan di tanah Bashrah untuk khalwah (menyepi) dan beribadah… Lalu sekelompok
pemuda yang akan bersenang-senang melewatinya… Mereka bermain-main…bersendau
gurau dan bergembira… Ia (Shilah) menyalami mereka dengan halus… Dan dengan
lembut ia berkata kepada mereka, “Apa yang kalian katakan tentang suatu kaum
yang ber’azm untuk safar karena suatu urusan besar, hanya saja mereka di waktu
siang berbelok dari jalan untuk berbuat sia-sia dan bermain-main….dan di waktu
malam mereka tidur untuk istirahat. Maka kapankah kalian melihat mereka
menyelesaikan perjalanannya dan sampai di tempat tujuan?!” Dan ia terbiasa
mengucapkan kalimat tersebut di saat itu dan pada saat yang lain…
Pada suatu ketika ia bertemu dengan
mereka dan ia mengucapkan kata-katanya tersebut kepada mereka… Maka, salah
seorang pemuda dari mereka bangkit dan berkata, “Sesungguhnya dia –demi Allah-
tidak memaksudkan perkataannya kepada siapapun selain kita. Kita di siang hari
bermain-main….dan di malam hari tidur…” Kemudian pemuda tersebut memisahkan
diri dari teman-temannya dan mengikuti Shilah ibn Asyam sejak hari itu. Ia
terus menemaninya hingga kematian menjemputnya.
Di antaranya pula, bahwa pada suatu siang
ia pernah pergi bersama sekelompok sahabatnya kepada suatu tujuan. Lalu
lewatlah di depan mereka seorang pemuda yang menakjubkan dan bagus
penampilannya…. Pemuda tersebut memanjangkan kain celananya hingga ia
menyeretnya di tanah seperti orang sombong… Para sahabatanya lalu bermaksud
(melakukan tindakan) terhadap pemuda tersebut, mereka ingin mencemoohnya dengan
perkataan dan memukulnya dengan keras…
Maka Shilah berkata kepada mereka,
“Biarkan aku, yang akan menyelesaikan urusannya.” Ia mendekati pemuda tersebut
dan berkata dengan kelembutan seorang ayah yang penuh sayang…dan bahasa seorang
sahabat yang jujur, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya aku punya hajat
kepadamu.” Pemuda itu berhenti, dan berkata, “Apa itu wahai paman?” Ia berkata,
“Hendaklah kamu mengangkat kainmu, sesungguhnya yang demikian itu lebih suci
untuk pakaianmu…lebih bertakwa kepada Rabbmu…dan lebih dekat dengan sunnah Nabimu.”
Dengan rasa malu pemuda itu berkata, “Ya, dengan senang hati…” Kemudian ia
segera mengangkat kainnya. Shilah berkata kepada sahabatnya, “Sesungguhnya yang
seperti ini lebih baik daripada apa yang kalian inginkan…kalau seengkauinya
kalian memukulnya dan mencemoohnya niscaya ia akan memukul dan mencemooh
kalian…dan tetap membiarkan kainnya menjulur menyapu tanah.”
Pada suatu kali seorang pemuda dari
Bashrah mendatangainya dan berkata, “Wahai Abu ash-Shahbaa, ajari aku apa-apa
yang telah Allah ajarkan kepadamu.” Maka Shilah tersenyum dan berseri wajahnya,
dan ia berkata, “Sungguh kamu telah mengingatkan aku -wahai anak saudaraku-
tentang kenangan lama yang tidak aku lupakan…dimana pada saat itu aku seorang
pemuda sepertimu…Aku mendatangi orang yang tersisa dari sahabat Rasulullah SAW,
dan aku berkata kepada mereka, “Ajarilah aku apa-apa yang telah Allah ajarkan
kepada kalian.” Mereka berkata, “Jadikanlah al-Qur’an sebagai penjaga jiwamu
dan kebun hatimu. Dengarkan nasehatnya dan nasehatilah kaum muslimin dengannya.
Perbanyaklah berdoa kepada Allah AWJ
semampumu.” Anak muda itu berkata, “Berdoalah untukku, semoga engkau dibalasi
dengan kebaikan.” Ia menjawab, “Semoga Allah menjadikanmu senang (antusias)
untuk memperoleh yang kekal (akhirat)…dan menjadikanmu zuhud terhadap yang fana
(dunia)…dan menganugrahkan keyakinan kepadamu yang mana jiwa menjadi tenang
kepadanya, dan dibutuhkan kepadanya dalam agama.” Shilah memiliki seorang misan
perempuan bernama “Mu’âdzah Al-‘Adawiyah.”..Dia adalah seorang tabi’in sepertinya…di
mana ia pernah bertemu dengan ummul mukminin ‘Aisyah RA dan mengambil ilmu
darinya.
Kemudian al-Hasan al-Bashri –semoga Allah
mengharumkan ruhnya- berjumpa dengannya dan mengambil (ilmu) darinya. Ia
seorang wanita yang bertakwa dan suci…taat ibadah dan zuhud. Di antara
kebiasaannya adalah apabila malam tiba, ia berkata, “Bisa jadi ini adalah malam
terakhir bagiku, maka janganlah kamu tidur hingga pagi….”
Dan apabila siang tiba, ia berkata,
“Mungkin ini adalah hari terakhir bagiku, maka janganlah pinggang ini merasa
tenang hingga sore.” Di musim dingin, ia mengenakan pakaian yang tipis sehingga
rasa dingin menghalanginya untuk condong kepada tidur dan berhenti dari ibadah.
Ia menghidupkan malamnya dengan shalat dan banyak beribadah.
Apabila rasa kantuk mengalahkannya ia
berjalan berputar-putar di rumahnya dan berkata, “Wahai jiwa, di depanmu ada
tidur panjang…besok kamu akan tidur panjang di kuburan…entah di atas penyesalan
atau di atas kesenangan. Maka pilihlah untuk dirimu wahai Mu’aadzah pada hari
ini apa yang kamu sukai agar kamu besok menjadi apa.” Shilah ibn Asyam walaupun
begitu kuat dalam beribadah dan begitu tinggi zuhudnya tidaklah ia membenci
sunnah Nabinya SAW (dalam hal menikah), ia lalu meminang anak perempuan
pamannya (misannya) “Mu’aadzah” untuk dirinya. Ketika hari disandingkannya ia
kepada Shilah, keponakan laki-lakinya mengurusinya dan membawanya ke kamar
mandi kemudian memasukkannya menemui istrinya di rumah yang diberi wewangian…
Setelah keduanya bersama-sama, ia berdiri
shalat dua rakaat sunnah, ia (istrinya) berdiri shalat dengan shalatnya dan
mengikutinya. Kemudian sihir shalat menarik keduanya hingga keduanya berlanjut
shalat bersama hingga fajar menjadi terang. Di pagi harinya, keponakannya
datang menemuinya dan berkata, “Wahai paman, anak perempuan pamanmu telah
disandingkan kepadamu, lalu kamu berdiri shalat sepanjang malam dan kamu
meninggalkannya.” Ia menjawab, “Wahai anak saudaraku…sesungguhnya kemarin kamu
telah memasukkan aku ke sebuah rumah yang dengannya kamu telah mengingatkan aku
kepada neraka…kemudian kamu memasukan aku ke tempat lain yang dengannya kamu
mengingatkan aku kepada surga…Pikiranku terus saja memikirkan keduanya hingga
pagi.”
Anak muda itu berkata, “Apa itu wahai
paman?!” Ia menjawab, “Sungguh kamu telah memasukkan aku ke kamar mandi, maka
hawa panasnya telah mengingatkan aku akan panas neraka…kemudin kamu memasukkan
aku ke rumah pengantin, sehingga bau harumnya mengingatkan aku kepada wangi
surga…”
Shilah ibn Asyam bukan hanya orang yang
banyak khasyah kepada Allah dan banyak bertaubat, ahli ibadah dan zuhud semata.
Disamping itu ia adalah seorang penunggang kuda (prajurit) yang kuat dan
pahlawan yang berjihad. Sedikit sekali medan pertempuran yang mengenal seorang
pemberani yang lebih kuat darinya…lebih kuat jiwanya…dan lebih tajam tebasan
pedangnya.
Sehingga para panglima muslimin
berlomba-lomba untuk menariknya kepada (pasukan) mereka. Setiap dari mereka
ingin memperoleh kemenangan dengan keberadaannya di perkemahannya, agar dengan
karunia keberaniannya ia memetik kemenangan besar yang dicita-citakan. Ja’far
ibn Zaid meriwayatkan, ia menuturkan, “Kami keluar dalam suatu peperangan.
Dan bersama kami ada Shilah ibn Asyam dan
Hisyam ibn ‘Aamir…Ketika kami telah bertemu musuh, Shilah dan sahabatnya
melesat dari barisan kaum muslimin dan keduanya menerobos kumpulan musuh,
menusuk dengan tombak dan membabat dengan pedang, sehingga keduanya memberi
pengaruh yang besar terhadap front depan pasukan. Maka sebagian panglima musuh
berkata kepada sebagian yang lain, “Dua orang tentara muslimin telah menurunkan
(menimpakan) kepada kita hal seperti ini, bagaimana jadinya apabila mereka
seluruhnya memerangi kita? Tunduklah kalian kepada hukum muslimin dan tunduklah
dengan taat kepada mereka.”
Pada tahun 76 H, Shilah ibn Asyam keluar
dalam sebuah peperangan bersama pasukan muslimin menuju negeri Maa waraaun
nahri* dan ia ditemani oleh anaknya. Ketika kedua pasukan saling berhadapan,
dan perang semakin berkecamuk. Berkatalah Shilah kepada anaknya, “Wahai
anakku…majulah dan perangilah musuh-musuh Allah sehingga jika kamu syahid, aku
akan mengharap pahalanya dari Allah Dzat yang tidak akan pernah hilang
titipan-titipan di sisi-Nya.”
Pemuda
tersebut melesat memerangi musuh layaknya anak panah yang melesat dari
busurnya, ia terus saja bertempur hingga jatuh tersungkur syahid. Tidak
berlangsung lama, sehingga ayahnya pergi mengikutinya. Ia terus berjihad
sehingga mati syahid di sampingnya. Ketika berita kematian keduanya sampai ke
Bashrah, para wanita segera menemui “Mu’aadzah al-Adawiyah” untuk menghiburnya.
Ia lalu berkata kepada mereka, “Apabila kalian datang untuk mengucapkan selamat kepadaku, maka selamat datang atas kalian…namun apabila kalian datang untuk hal lain, maka kembalilah dan semoga kalian dibalasi dengan kebaikan…” Semoga Allah menjadikan wajah-wajah yang mulia ini berseri… Dan semoga Allah membalasinya dengan kebaikan atas Islam dan Muslimin. Sejarah manusia tidak mengenal yang lebih bertakwa dan lebih suci darinya
Sabtu, April 01, 2017
Abdullah Ibn Zubair Dan Mu’awiyah Bin Abi Sufyan
كان لعبد الله بن الزبير- رضي الله عن
Adalah
Abdullah Ibn Zubair mempunyai-
مزرعة في المدينة مجاورة لمزرعة يملكها
معاوية بن أبي سفيان- رضي الله عنهما
Sebuah
kebun di Madinah bersebelahan dengan kebun yang dimiliki oleh Mu’awiyah bin Abi
Sufyan
خليفة المسلمين في دمشق..
Khalifah
Muslimin yang berada di Damsyik
وفي ذات يوم دخل عمال مزرعة معاوية إلى
مزرعة ابن الزبير، وقد تكرر منهم ذلك في أيام سابقة؛ فغضب ابن الزبير وكتب لمعاوية
في دمشق وقد كان بينهما عداوة قائلاً في كتابه
Pada
suatu hari, pekerja kebun Mu’awiyah telah menceroboh kebun Abdullah Ibn Zubair,
dan telah melakukannya beberapa kali sebelum itu, Perbuatan itu telah
membuatkan Abdullah Ibn Zubair marah lalu menulis surat kepada Mu’awiyah yang
berada di Damsyik.
من عبدالله ابن الزبير إلى معاوية
Daripada
Abdullah Ibn Zubair kepada Mu’awiyah,
ابن هند آكلة الأكباد أما بعد..
anak
kepada Hindun pemakan Hati. Adalah dimaklumkan
فإن عمالك دخلوا إلى مزرعتي،
Bahawa
pekerja kamu telah menceroboh kebun kepunyaan ku
فمرهم بالخروج منها،
Arahkan
mereka supaya keluar daripadanya,
أو فوالذي لا إله إلا هو
Jika
tidak, demi Allah yang tidak ada tuhan selainnya
ليكونن لي معك شأن
Akan
berlaku sesuatu yang tidak diingini Antara kita.
فوصلت الرسالة لمعاوية،
Setelah
sampai surat kepada Mu’awiyah
وكان من أحلم الناس، فقرأها
Lalu dia
membacanya, Muawiyah adalah seorang yang berjiwa mulia
ثم قال لابنه يزيد: ما رأيك في ابن
الزبير أرسل لي يهددني ؟
Lalu dia
berkata kepada anaknya Yazid: apa pendapat kamu tentang Abdullah Ibn Zubair dia
mengutus surat mengugut aku?
فقال له ابنه يزيد: أرسل له جيشاً أوله
عنده وآخره عندك يأتيك برأسه
Yazid
berkata: hantar kepadanya bala tentera yang barisan pertama dihadapannya dan
barisan terakhir dihadapan kamu, mereka penggal kepalanya dan bawanya kepada
kamu.
فقال معاوية:"بل خيرٌ من ذلك
زكاةً وأقربَ رُحماً
".
Mu’awiyah
berkata kepada anaknya: “yang lebih baik daripada itu, bersih dan lebih dekat kasih
mesranya” (al-Kahfi 81)
فكتب رسالة إلى عبدالله بن الزبير يقول
فيها
Lalu
Mu’awiyah mengutus surat kembali kepada Abdullah ibn Zubair:
من معاوية بن أبي سفيان إلى عبدالله بن
الزبير ( ابن أسماء ذات النطاقين ) أما بعد
Daripada
Mu’awiyah bin Abi Sufyan kepada Abdullah Ibn Zubair (anak Asma’ yang mempunyai
dua simpulan)
فوالله لو كانت الدنيا بيني وبينك
لسلّمتها إليك
Demi
Allah, jika Dunia itu hanya milik kita berdua, akan ku serahkannya kepadamu.
ولو كانت مزرعتي من المدينة إلى دمشق
لدفعتها إليك،
Sekiranya
aku memiliki kebun seluas Madinah hingga ke Damsyik akan aku serahkan kepadamu
فإذا وصلك كتابي هذا فخذ مزرعتي إلى
مزرعتك وعمّالي إلى عمّالك؛
Jika
sampai sahaja suratku ini kepadamu, engkau ambillah kebunku itu dan pekerjaku
menjadi pekerjamu.
فإن جنّة الله عرضها السموات والأرض
Sesungguhnya
(kebun) syurga Allah itu seluas langit dan bumi
فلمّا قرأ ابن الزبير الرسالة بكى حتى
بلّ لحيته بالدموع، وسافر إلى معاوية في دمشق وقبّل رأسه،
Setelah
membaca surat tersebut Ibn Zubair menangis sehingga basah janggutnya dengan
linangan air mata, lalu Ibn Zubair pergi ke Damsyik bertemu Mu’awiyah dan
mencium dahinya.
وقال له: لا أعدمك الله حُلماً أحلّك
في قريش هذا المحل.
Dan
berkata kepadanya: Allah tidak hilangkan sifat lemah lembutmu sewaktu bersama
quraish hingga ke tempat ini.
دائماً تستطيع إمتلاك القلوب بحسن
تعاملك وحبك للغير..
Kamu
sentiasa dapat menundukkan hati manusia dengan pergaulanmu yang baik dan
kasihnya kamu kepada orang lain.
وتذكر دوما بأن
Ingatlah
bahawa:
• من ابتغى
صديقاً بلا عيب، عاش وحيداً
Siapa
mencari teman tanpa cacat cela, dia akan hidup bersendirian.
• من ابتغى
زوجةً بلا نقص، عاش أعزباً
Siapa
mencari isteri tanpa ada kekurangan, dia akan hidup membujang.
• من ابتغى
قريباً كاملاً، عاش قاطعاً لرحمه
Siapa
mencari teman karib yang sempurna, hidupnya akan memutuskan hubungan
silaturrahim
فلنتحمل وخزات الآخرين حتى نعيد
التوازن إلى حياتنا
Biarlah
Kita menanggung keperitan orang lain agar wujudnya keseimbangan dalam
hidup
إذا أردت أن تعيش سعيدا
Jika ingin
hidup bahagia:
فلا تفسر كل شيء
Jangan
terlalu menafsirkan semua perkara
ولا تدقق بكل شيء
Jangan
terlalu menghalusi semua perkara
ولاتحلل كل شيء
Jangan
terlalu menganalisa semua perkara
فإن الذين حللوا الألماس وجدوه فحمــا
Kerana
jika dikaji, asalnya berlian dari arang batu
لا تحرص على إكتشاف الآخرين أكثر من
اللازم ، الأفضل أن تكتفي بالخير الذي يظهرونه في وجهك دائماً ، و اترك الخفايا
لرب العباد
Jangan
terlalu suka mencari keperibadian seseorang lebih dari sepatutnya, sebaiknya
memadai dengan kebaikan yang kamu Nampak sahaja, tinggalkan apa yang tidak kamu
Nampak kepada hitungan Allah.
(لو
اطّلَعَ الناس على ما في قلوب بعضهم البعض لما تصافحوا إلا بالسيوف)
(sekiranya
semua manusia mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati masing-masing, mereka
tidak akan bersalaman kecuali dengan menggunakan pedang)
Langgan:
Catatan (Atom)