Selasa, Jun 23, 2015

ANTARA DUA JALAN


أولا - وهدينا النجدين – البلد 10
dan kami telah menunjukan kepadanya dua jalan(kebaikan dan keburukan

Disinilah Allah memberikan pilihan kepada kita,sehingga tidak ada alasan ketika kita melakukan keburukan itu adalah suatu takdir Allah, karena kita melakukan keburukan adalah karena pilihan kita bukan karena Allah memaksa kita, semua yang ada di depan kita adalah pilihan, maka hidup kita adalah pilihan, maka ketika kafir pun ia sudah mendapatkan pilihan mau muslim atau kafir, kalau dia kufur dia tidak mau memilih jalan kebaikan, kalau dia pilih muslim maka ia memilih jalan kebaikan. Bahkan ketika di alam roh pun kita sudah ditawarkan pilihan oleh Allah SWT untuk memilih ….Alastu birobbikum (bukankah Aku Tuhan kalian) kalau kita mengakui tidak mengatakan ‘Bala’ (ya,…Engkaulah Tuhanku) maka dia tidak bisa atau mati sebelum lahir, tapi karena semua yang lahir itu mengatakan ‘Bala’ (ya,…Engkaulah Tuhankau) maka ia lahir dalam kondisi fitrah atau muslim.

Kalau ada orang yang kufur kalau tidak mempunyai tawaran maka ia diampuni oleh Allah SWT. Seperti orang-orang yang tidak beriman tidak ada utusan kepada mereka, tidak ada Rasul menyampaikan islam kepada mereka, kata para ulama aqidah mengatakan mereka semua berada di dalam masyiah Allah kehendak Allah nanti di akhirat, kalau Allah berkehendak, Allah akan memberikan nikmat kepadanya, kalau Allah berkehendak menyiksa, Allah akan menyiksa dirinya.

Jadi orang-orang yang tidak pernah mendengar islam sama sekali, tidak memiliki pilihan untuk masuk islam maka mereka berada dalam kehendak Allah. Di zaman sekarang semua sudah disampaikan lewat media-media yang ada, Allah berfirman :
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
“Kami tidak memberikan azab ,menyiksa suatu kaum sampai kami mengutus kepada mereka Rasul (15 Al isra’)

ayat ini memberikan kesimpulan kepada ulama aqidah bahwa seseorang yang belum pernah mendengar islam maka ia tidak di azab oleh Allah.Maka ayat ini berisi pilihan,kemudian ketika kita disuruh memilih kedua jalan itu maka memberikan sayangnya kepada kita,dengan menunjukan jalan kebaikan dan keburukan.

ثالثا - مَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ   قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
 -‏ سورة الزمر الآية 9

(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, "Apakah sama orang-orang yang mengetahui  dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran. 10. Katakanlah (Muhammad), "Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Umar bahwa yang dimaksud dengan, amman huwa qaanit… ([apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung] ataukah orang yang beribadah…) dalam ayat ini (az-Zumar: 9) ialah ucapan ‘Utsman bin ‘Affan (yang selalu bangun malam sujud kepada Allah swt.)
Menurut riwayat Ibnu Sa’d dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, orang yang dimaksud dalam ayat 9 adalah ‘Ammar bin Yasir.
Menurut riwayat Juwaibir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Ibnu Mas’ud, ‘Ammar bin Yasir, dan Salim, maulaa Abu Hudzaifah.
Menurut riwayat Juwaibir yang bersumber dari ‘Ikrimah, orang yang dimaksud dalam ayat 9 ini adalah ‘Ammar bin Yasir.
ثانيا - قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ – المائدة 100
Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dan al-Ashbahani di dalam Kitab at-Targhib, yang bersumber dari Jabir, bahwa ketika Nabi menerangkan haramnya arak, berdirilah orang baduy dan berkata: “Saya pernah menjadi pedagang arak, dan saya kaya raya karenanya. Apakah kekayaanku ini bermanfaat apabila saya gunakan untuk taat kepada Allah?” Nabi menjawab: “Sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali yang baik.” Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 100) yang membenarkan ucapan Rasulullah saw.

رابعا –وَمَا يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ {19} وَلَا الظُّلُمَاتُ وَلَا النُّورُ {20} وَلَا الظِّلُّ وَلَا الْحَرُورُ {21} وَمَا يَسْتَوِي الْأَحْيَاءُ وَلَا الْأَمْوَاتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُسْمِعُ مَنْ يَشَاءُ ۖ وَمَا أَنْتَ بِمُسْمِعٍ مَنْ فِي الْقُبُورِ {22} إِنْ أَنْتَ إِلَّا نَذِيرٌ {23} سورة فاطر
(19) Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat.(20) Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengan cahaya,(21) Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yang panas, (22) Dan tidak (pula) sama orang yang hidup dengan orang yang mati. Sungguh, Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang Dia kehendaki dan engkau (Muhammad) tidak akan sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar, (23) Engkau tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan.
خامسا - لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا – النساء (95)
Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak ikut berperang) tanpa mempunyai 'uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari al-Barra’. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan yang lainnya, dari Zaid bin Tsabit; ath-Thabarani dari Zaid bin Arqam; dan Ibnu Hibban dari al-Falatan bin ‘Ashim.

At-Tirmidzi-pun meriwayatkan hadits seperti ini, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, dengan tambahwan bahwa yang mengucapkan “saya buta”, adalah ‘Abdullah bin Jahsy dan Ibnu Ummi Maktum. Dipaparkan di dalam kitab Turjumaanul Qur’aan. Dan hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari berbagai sumber, dengan periwayatan mursal. Bahwa ketika turun ayat, laa yastawil qaa-iduuna minal mu’miniin… (tidaklah sama antara Mukmin yang duduk [yang tidak ikut berperang]…) (an-Nisaa’: 95), bersabdalah Nabi saw.: “Panggillah si anu.” Maka datanglah ia membawa tinta dengan alat tulisnya. Bersabdalah Rasulullah saw: “Panggillah si anu.” Maka datanglah ia membawa tinta dengan alat tulisnya. Bersabdalah Rasulullah saw.: “Tulislah. Laa yasytawil qaa’iduuna minal mu’minin…. (tidak sama antara Mukmin yang duduh [yang tidak ikut berperang]…).” Di belakang Rasulullah saw. ada Ibnu Ummi Maktum. Ia berkata: “Ya Rasulallah, saya buta.” Maka turunlah kelanjutannya:…. ghairu ulidl dlarar…(… yang tidak mempunyai uzur…) sampai akhir ayat (an-Nisaa’: 95) sebagai pengecualian bagi orang yang berhalangan (darurat).

KENALI SAHABAT RASULULLAH IAITU AMR IBNUL JAMUH-YANG CACAT KAKINYA
Dengan cacat pincangku ini, aku bertekad merebut surga…!”
Ia adalah ipar dari Abdullah bin Amr bin Haram, kerana menjadi suami dari saudara perempuan Hindun binti Amar;
Ibnul Jamuh merupakan salah seorang tokoh penduduk Madinah dan salah seorang pemimpin Bani Salamah…
Ia didahului masuk Islam oleh puteranya Mu’adz bin Amr yang termasuk kelompok 70 peserta bai’at ‘Aqabah. Bersama shahabatnya Mu’adz bin Jabal, Mu’adz bin Amr ini menyebarkan Agama Islam di kalangan penduduk Madinah dengan keberanian luar biasa sebagai layaknya pemuda Mu’min yang gagah perwira…
Telah menjadi kebiasaan bagi golongan bangsawan di Madinah, menyediakan di rumah masing~masing salinan berhala-berhala besar yang terdapat di tempat-tempat pemujaan umum yang dikunjungi oleh orang banyak. Maka sesuai dengan kedudukannya sebagai seorang bangsawan dan pemimpin Amru bin Jamuh juga mendirikan berhala di rumahnya yang dinamakan Manaf.
Puteranya, Mu’adz bin Amr bersama temannya Mu’adz bin Jabal telah bermufakat akan menjadikan berhala di rumah bapanya itu sebagai barang permainan dan penghinaan. Di waktu malam mereka menyelinap ke dalam rumah, lain mengambil berhala itu dan membuangnya ke dalam lubang yang biasa digunakan manusia untuk membuang hajatnya.
Pagi harinya Amr tidak melihat Manaf berada di tempatnya yang biasa, maka dicarinyalah berhala itu dan akhirnya ditemukannya di tempat pembuangan hajat. Bukan main marahnya Amr, lalu bentaknya: “Keparat siapa yang telah melakukan perbuatan durhaka terhadap tuhan-tuhan kita malam tadi…?” Kemudian dicuci dan dibersihkannya berhala itu dan dibelinya wangi-wangian.
Malam berikutnya, berdua Mu’adz bin Amr dan Mu’adz bin Jabal memperlakukan berhala itu seperti pada malam sebelumnya. Demikianlah pula pada malam-malam selanjutnya. Dan akhirnya setelah merasa bosan, Amar mengambil pedangnya lalu menaruhnya di leher Manaf, sambil berkata: ”Jika kamu betul-betul dapat memberikan kebaikan, berusahalah untuk mempertahankan dirimu … !”
Pagi-pagi keesokan harinya Amr tidak menemukan berhalanya di tempat biasa… tetapi ditemukannya di tempat pembuangan hajat, dan tidak sendirian, berhala itu terikat bersama bangkai seekar aniing dengan tali yang kuat. Selagi ia dalam kehairanan, kekecewaan serta amarah, tiba-tiba datang lah ke tempatnya itu beberapa orang bangsawan Madinah yang telah masuk Islam. Sambil menunjuk kepada berhala yang tergeletak tidak berdaya dan terikat pada bangkai anjing itu, mereka mengajak akal budi dan hati nurani Amr bin Jamuh untuk berdialog serta membeberkan kepadanya perihal Tuhan yang sesungguhnya, Yang Maha Agung lagi Maha Tinggi, yang tidak satu pun yang menyamai-Nya. Begitupun tentang Muhammad saw, orang yang jujur dan terpercaya, yang muncul di arena kehidupan ini untuk memberi bukan untuk menerima, untuk memberi petunjuk dan bukan untuk menyesatkan. Dan mengenai Agama Islam yang datang untuk membebaskan manusia dari belenggu segala macam belenggu dan menghidupkan pada mereka ruh Allah serta menerangi dalam hati mereka dengan cahaya-Nya.
Maka dalam beberapa saat, Amr telah menemukan diri dan harapannya… Beberapa saat kemudian ia pergi, dibersihkahnya pakaian dan badannya lalu memakai minyak wangi dan merapikan diri, kemudian dengan kening tegak dan jiwa bersinar ia pergi untuk bai’at kepada Nabi terakhir, dan menempati kedudukannya di barisan orang-orang beriman.
Mungkin ada yang bertanya, kenapa orang-orang seperti Amr ibnul Jamuh, yang merupakan pemimpin dan bangsawan di kalangan suku bangsanya, kenapa mereka sampai mempercayai berhala-berhala itu sedemikian rupa? Kenapa akal fikiran mereka tak dapat menghindarkan diri dari kekebalan dan ketololan itu? Dan kenapa sekarang ini, setelah mereka menganut Islam dan memberikan pengorbanan, kita menganggap mereka sebagai orang-orang besar?
Di masa sekarang ini, pertanyaan seperti itu mudah saja timbul, kerana bagi anak kecil sekalipun tak masuk dalam akalnya akan mendirikan di rumahnya barang yang terbuat dari kayu lalu disembahnya, walaupun masih ada para ilmuwan yang menyembah patung.
Amr ibnul Jamuh telah menyerahkan hati dan hidupnya kepada Allah Rabbul-Alamin. Dan walaupun dari semula ia telah berbai’at pemurah dan dermawan, tetapi Islam telah melipatgandakan kedermawanannya ini, hingga seluruh harta kakayaannya diserahkannya untuk Agama dan kawan-kawan seperjuangannya.
Pernah Rasulullah saw menanyakan kepada segolongan Bani Salamah iaitu suku Amr ibnul Jamuh, katanya: “Siapakah yang menjadi pemimpin kalian, hai Bani Salamah?” Ujar mereka: “Al-Jaddu bin Qeis, hanya sayang ia kikir…”. Maka sabda Rasulullah pula: “Apa lagi penyakit yang lebih parah dari kikir! Kalau begitu pemimpin kalian ialah si Putih Keriting, Amr ibnul Jamuh…!” Demikianlah kesaksian dari Rasulullah saw ini merupakan penghormatan besar bagi Amr! Dan mengenai ini seorang penyair Anshar pernah berpantun:
 “Amr ibnul Jamuh membiarkan kedermawanannya merajalela, dan memang wajar, bila ia dibiarkan berkuasa, jika datang permintaan, dilepasnya kendali hartanya, silakan ambil, ujarnya, kerana esok ia akan kembali, berlipat ganda!”
Dan sebagaimana ia dermawan membaktikan hartanya di jalan Allah, maka Amr ibnul Jamuh tak ingin sifat pemurahnya akan kurang dalam menyerahkan jiwa raganya! Tetapi betapa caranya? Kakinya yang pincang menjadi penghadang badannya untuk ikut dalam peperangan. Ia mempunyai empat orang putera, semuanya beragama islam dan semuanya satria bagaikan singa, dan ikut bersama Nabi saw dalam setiap peperangan serta tabah dalam menunaikan tugas perjuangan.
Amr telah berketetapan hati dan telah menyiapkan peralatannya untuk turut dalam perang Badar, tetapi putera-puteranya memohon kepada Nabi agar ia mengurungkan maksudnya dengan kesedaran sendiri, atau bila terpaksa dengan larangan dari Nabi.
Nabi pun menyampaikan kepada Amr bahawa Islam membebaskan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidakmampuan disebabkan cacat kakinya yang berat itu. Tetapi ia tetap mendesak dan minta diizinkan, hingga Rasulullah terpaksa mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.
Kemudian datanglah Masanya perang Uhud. Amr lalu pergi menemui Nabi saw, memohon kepadanya agar diizinkan turut, katanya: “Ya Rasulallah, putera-puteraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersama anda. Demi Allah, aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut syurga!”
Kerana permintaannya yang amat sangat, Nabi saw memberinya izin untuk turut. Maka diambilnya alat-alat senjatanya, dan dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira, ia berjalan berjingkat-jingkat. Dan dengan suara beriba-iba ia memohon kepada Allah: “Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku!”
Dan kedua pasukan pun bertemulah di hari uhud itu. Amr ibnul Jamuh bersama keempat putranya maju ke depan menebaskan pedangnya kepada tentara penyeru kesesatan dan pasukan syirik.
Di tengah-tengah pertarungan yang hiruk-pikuk itu Amr melompat dan bersijingkat, dan sekali lompat pedangnya menyambar satu kepala dari kepala-kepala orang musyrik. Ia terus melepaskan pukulan-pukulan pedangnya ke kiri ke kanan dengan tangan kanannya, sambil menengok ke sekelilingnya, seolah-olah mengharapkan kedatangan Malaikat dengan secepatnya yang akan menemani dan mengawalnya masuk syurga.
Memang, ia telah memohon kepada Tuhannya agar diberi syahid dan ia yakin bahawa Allah swt pastilah akan mengabulkannya. Dan ia rindu, amat rindu sekali akan berjingkat dengan kakinya yang pincang itu dalam syurga, agar ahli syurga itu sama mengetahui bahawa Muhammad Rasulullah saw itu tahu bagaimana caranya memilih shahabat dan bagaimana pula mendidik dan menempa manusia.
Dan apa yang ditunggu-tunggunya itu pun tibalah, suatu pukulan pedang yang berkelebat, memaklumkan datangnya saat keberangkatan, yakni keberangkatan seorang syahid yang mulia, menuju syurga jannatul khuldi, syurga Firdausi yang abadi!
Dan tatkala Kaum Muslimin memakamkan para syuhada mereka, Rasulullah saw mengeluarkan perintah:
“Perhatikan, tanamkanlah jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr ibnul Jamuh di makam yang satu, kerana selagi hidup mereka adalah dua orang shahabat yang setia dan saling menyayangi!”
Apabil Ummu Walid membawa ketiga-tiga mayat iaitu mayat suaminya Amru bin Jumuh, mayat anaknya Walid bin Amru dan saudaranya Abdullah di atas belakang unta untuk di bawa pulang ke Madinah, unta engga berjalan. Lalu Rasulullah saw bertanya apakah Amru ada menyebut sesesuatu sebelum dia keluar berjuang, kata Ummu Walid ada  wahai Rasulullah, katanya jangan kembalikan aku ke rumahku. Maka disebabkan itu Rasulullah mengarahkan mayatnya disemadikan di Uhud bersama-sama syuhada’ uhud yang lain.
Kedua shahabat yang saling menyayangi dan telah menemui syahid itu dikuburkan dalam sebuah makam, yakni dalam pangkuan tanah yang menyambut jasad mereka yang suci setelah menyaksikan kepahlawanan mereka yang luar biasa.
Dan setelah waktu berlalu selama 46 tahun di pemakaman dan penyatuan mereka, datanglah banjir besar yang melanda dan menggenangi tanah pekuburan disebabkan digalinya sebuah mata air yang dialirkan Muswiyah melalui tempat itu. Kaum Muslimin pun segera memindahkan kerangka para syuhada.
Kiranya mereka sebagai dilukiskan oleh orang-orang yang ikut memindahkan mereka: “Jasad mereka menjadi lembut, dan hujung-hujung anggota tuhuh mereka jadi melengkung!”
Ketika itu Jabir bin Abdullah masih hidup. Maka bersama keluarganya ia pergi memindahkan kerangka bapanya Abdullah bin Amr bin Haram serta kerangka bapa kecilnya Amr ibnul Jamuh… Kiranya mereka dapati kedua mereka dalam kubur seolah-olah sedang tidur nyenyak. Tak sedikit pun tubuh mereka dimakan tanah, dan dari kedua bibir masing-masing belum hilang senyuman manis alamat redha dan bangga yang telah terlukis semenjak mereka dipanggil untuk menemui Allah dulu.
Apakah anda sekalian merasa hairan? Tidak, janganlah merasa hairan! Kerana jiwa-jiwa besar yang suci lagi bertaqwa, yang mampu mengendalikan arah tujuan hidupnya, membuat tubuh-tubuh kasar yang menjadi tempat kediamannya, memiliki semacam ketahanan yang dapat menangkis sebab-sebab kelapukan dan mengatasi bencana-bencana tanah.
Sumber : Buku Rijal Haular Rasul (Khalid Muh.Khalid)


سادسا - لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ – الحشر 20
Tidak sama para penghuni neraka dengan para penghuni surga; para penghuni surga itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.





Jumaat, Jun 12, 2015

KHAUZ DAN KIRMAN DAN KAITAN DENGAN IRAQ



Menguak Misteri Bani Qanthura, Benarkah mereka Koalisi Amerika-Eropa yang menggempur negeri 1001 malam ?

Salah satu riwayat ‘ajaib’ tentang nasib Iraq di akhir zaman adalah riwayat tentang invasi Bani Qanthura terhadap Iraq. Dalam sebuah riwayat Rasulullah saw menjelaskan bahwa di akhir zaman nanti akan terjadi penyerbuan bangsa Qanthura’ terhadap Bashrah, sebuah negeri kaum muslimin yang berada di tepi sungai Dajlah (Tigris hari ini). Dalam peperangan tersebut umat Islam berhasil mengalahkan bangsa Qanthura’.
Dari Abu Bakrah bahwasanya Rasulullah telah bersabda:
يَنْزِلُ نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي بِغَائِطٍ يُسَمُّونَهُ الْبَصْرَةَ عِنْدَ نَهْرٍ يُقَالُ لَهُ دِجْلَةُ يَكُونُ عَلَيْهِ جِسْرٌ يَكْثُرُ أَهْلُهَا وَتَكُونُ مِنْ أَمْصَارِ الْمُهَاجِرِينَ قَالَ ابْنُ يَحْيَى قَالَ أَبُو مَعْمَرٍ وَتَكُونُ مِنْ أَمْصَارِ الْمُسْلِمِينَ. فَإِذَا كَانَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ جَاءَ بَنُو قَنْطُورَاءَ عِرَاضُ الْوُجُوهِ صِغَارُ الْأَعْيُنِ حَتَّى يَنْزِلُوا عَلَى شَطِّ النَّهْرِ فَيَتَفَرَّقُ أَهْلُهَا ثَلَاثَ فِرَقٍ فِرْقَةٌ يَأْخُذُونَ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَالْبَرِّيَّةِ وَهَلَكُوا وَفِرْقَةٌ يَأْخُذُونَ لِأَنْفُسِهِمْ وَكَفَرُوا وَفِرْقَةٌ يَجْعَلُونَ ذَرَارِيَّهُمْ خَلْفَ ظُهُورِهِمْ وَيُقَاتِلُونَهُمْ وَهُمْ الشُّهَدَاءُ
“Akan ada segolongan kaum dari umatku yang menetap di sebuah daerah yang mereka namakan Bashrah, di sisi sebuah sungai yang disebut Dijlah (Dajlah), dan di atas sungai itu ada sebuah jembatan. Penduduk daerah itu akan bertambah banyak, dan ia akan menjadi salah satu negeri dari negeri-negeri orang-orang yang berhijrah. [Perawi Muhammad ibnu Yahya berkata: Abu Ma’mar meriwayatkan dengan mengatakan: negeri-negeri kaum muslimin].

Kelak di akhir zaman Bani Qanthura’ yang berwajah lebar dan bermata sipit akan datang menyerbu, sehingga mereka mencapai tepian sungai Dajlah. Pada saat itulah penduduk daerah itu akan terpecah menjadi tiga kelompok. Satu kelompok mengikuti ekor sapi (menuntun binatang mereka) dan menyelamatkan diri ke pedalaman, Mereka akan binasa. Satu kelompok lainnya memilih menyelamatkan dirinya dengan jalan memilih kekafiran. Adapun kelompok terakhir menempatkan keluarganya di belakang punggung mereka dan bertempur melawan musuh. Mereka itulah orang-orang yang akan mati syahid.”[1]
 
Dalam lafal yang lain diterangkan bahwa sisa-sisa kelompok umat Islam yang berperang ini akan mampu mengalahkan Bani Qanthura’:
فَيَتَفَرَّقُ الْمُسْلِمُونَ ثَلَاثَ فِرَقٍ فَأَمَّا فِرْقَةٌ فَيَأْخُذُونَ بِأَذْنَابِ الْإِبِلِ وَتَلْحَقُ بِالْبَادِيَةِ وَهَلَكَتْ وَأَمَّا فِرْقَةٌ فَتَأْخُذُ عَلَى أَنْفُسِهَا فَكَفَرَتْ فَهَذِهِ وَتِلْكَ سَوَاءٌ وَأَمَّا فِرْقَةٌ فَيَجْعَلُونَ عِيَالَهُمْ خَلْفَ ظُهُورِهِمْ وَيُقَاتِلُونَ فَقَتْلَاهُمْ شُهَدَاءُ وَيَفْتَحُ اللَّهُ عَلَى بَقِيَّتِهَا.
“Adapun satu kelompok yang terakhir menempatkan keluarganya di belakang punggung mereka dan mereka maju berperang menyongsong musuh. Orang-orang yang terbunuh di antara mereka adalah orang-orang yang mati syahid, dan Allah akan melimpahkan kemenangan kepada mereka melalui orang-orang yang tersisa.”[2]

Inikah bani Qanthura yang akan menggempur Bashrah ?
Bashrah adalah sebuah kota yang dibangun oleh sahabat ‘Utbah bin Ghazwan pada masa penaklukkan Persia di zaman pemerintahan khalifah Umar bin Khatab. Imam Syamsul Haq ‘Azhim Abadi mengutip penjelasan imam al-Asyraf bahwa yang dimaksud dengan Bashrah dalam hadits ini adalah Baghdad yang mendapat julukan negeri kedamaian (madinat al-salam). Alasannya, Dajlah adalah sebuah sungai, sementara jembatan Dajlah tersebut berada di tengah (atas) sungai Dajlah, bukan di tengah kota Bashrah sendiri.

Nabi menyebutkan daerah tersebut dengan nama Bashrah, mengingat di luar kota Baghdad —tepatnya di dekat pintu gerbang masuk kota Baghdad— terdapat sebuah tempat yang disebut Bab Bashrah, pintu gerbang Bashrah. Jadi Nabi menunjuk kota Baghdad dengan menyebutkan satu bagian darinya. Beliau menyebut nama Basrah, namun yang beliau maksudkan adalah Bab Bashrah, pintu gerbang Bashrah.

Pada masa Nabi, Baghdad belumlah berwujud seperti keadaannya hari ini. Bahkan nama Baghdad sendiri juga belum ada. Saat itu ia tak lebih dari sebuah daerah pedalaman dalam kekuasaan imperium Persia yang begitu luas.[3] Oleh karenanya dalam hadits ini Rasulullah n menyebutkan bahwa pada masa yang akan datang ia akan menjadi salah satu negeri kaum muslimin. “…dan ia akan menjadi salah satu negeri dari negeri-negeri kaum muhajirin (dalam riwayat Abu Ma’mar: negeri-negeri kaum muslimin).”demikian sabda beliau.[4]
Siapa Sebenarnya Bani Qanthura’?
Hadits di atas menjelaskan dua ciri fisik Bani Qanthura’, yaitu wajah yang lebar dan mata yang sipit. Apabila dua sifat fisik ini dikaitkan dengan hadits-hadits shahih lainnya yang menjelaskan identitas bangsa yang mempunyai ciri-ciri fisik serupa, akan nampak jelas bahwa yang dimaksud dengan Bani Qanthura’ dalam hadits ini adakah bangsa Turk. Hadits-hadits shahih yang menerangkan hal ini, antara lain adalah:
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah n bersabda,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ التُّرْكَ قَوْمًا وُجُوهُهُمْ كَالْمَجَانِّ الْمُطْرَقَةِ يَلْبَسُونَ الشَّعَرَ وَيَمْشُونَ فِي الشَّعَرِ
“Kiamat tidak akan terjadi sehingga kaum muslimin berperang melawan bangsa Turk, yaitu sebuah kaum yang wajah mereka bagaikan perisai yang berlapis, mereka memakai pakaian yang terbuat dari bulu, dan memakai alas kaki yang juga terbuat dari bulu.”[5]

Hadits di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan bani Qanthura’ adalah bangsa Turk. Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits shahih ini dalam bab “Qital al-Turk”, perang melawan bangsa Turk. Begitu pula imam Ahmad, Abu Daud, Abu Bakr bin Syaibah, dan para ulama lain menempatkan hadits tentang Bani Qanthura’ di atas dalam kumpulan hadits yang membahas perang umat Islam melawan bangsa Turk. Salah seorang perawi dalam riwayat Ahmad, yaitu al-‘Awwam bin Hausyab dengan tegas menyimpulkan hal ini.

Bangsa Turk yang dimaksudkan dalam hadits ini, wallahu a’lam bi-shawab, tidak terbatas pada penduduk sebuah negera yang kini dikenal dengan nama internasional Republik Turki semata. Sekalipun Republik Turki hari ini adalah sebuah negara sekuler yang didirikan oleh Musthafa Kamal Al-Yahudi, namun mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin. Padahal hadits-hadits shahih di atas menyebutkan bahwa bangsa Turk yang memerangi kaum muslimin di akhir zaman adalah orang-orang kafir.

Dalam menjelaskan tentang pasukan yang akan menyertai Dajjal, al Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan bahwa “Menurut lahirnya -wallahu a’lam- yang dimaksud dengan Tark itu adalah pembantu-pembantu Dajjal.”[6]. Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari Abu Hurairah: “Tidaklah datang kiamat sehingga kamu memerangi bangsa Khauz dan Kirman dari orang-orang Ajam yang wajahnya merah, hidungnya pipih (pesek), ma­tanya sipit, wajahnya seperti tembaga, dan sepatunya beludru.“[7].

 Penjelasan di atas menyebutkan bahwa kelak bangsa Turk atau bani Qanthura juga termasuk yang akan bergabung dengan pasukan Dajjal di akhir zaman. Ini semakin menguatkan bahwa Bani Qanthura atau bangsa Turk bukanlah penduduk Turki hari ini yang mayoritas beragama Islam. Bila mereka termasuk pembantu setia Dajjal, maka kedekatan mereka dengan Yahudi secara ideologi dan kebangsaan juga semakin meyakinkan.

Jika mereka bukan penduduk negara yang hari ini dikenal dengan nama Republik Turki ini, lantas siapa gerangan bangsa Turk yang akan memerangi kaum muslimin di akhir zaman tersebut ?

Penjelasan yang lebih benar dan logis adalah pendapat para ulama yang menyatakan bahwa bangsa Turk adalah sebuah nama bagi bangsa manapun yang memenuhi ciri-ciri yang digambarkan dalam hadits di atas. Selain wajah lebar-tebal seperti perisai berlapis, wajah kemerah-merahan, hidung yang pesek, dan mata yang sipit, hadits-hadits di atas masih menyebutkan dua sifat lain yang bisa menunjukkan jatidiri bangsa yang dimaksud. Kedua ciri tersebut adalah memakai pakaian yang terbuat dari bulu dan memakai alas kaki yang juga terbuat dari bulu.

Imam Syamsul Haq ‘Azhim Abadi dalam ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud menulis bahwa riwayat imam Muslim dengan lafal ‘mereka memakai pakaian yang terbuat dari bulu, dan memakai alas kaki yang juga terbuat dari bulu’ secara tegas menunjukkan bahwa pakaian mereka terbuat dari bulu, demikian pula halnya dengan alas kaki (sandal dan sepatu) mereka. Sebagaimana dikatakan oleh imam Ibnu Dihyah dan para ulama yang lain, model pakaian seperti ini disesuaikan dengan iklim lingkungan tempat mereka tinggal. Mereka tinggal di daerah-daerah yang diselimuti oleh salju-salju yang sangat tebal.

Selain ciri-ciri fisik dan geografis sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits-hadits di atas, bangsa Turk adalah bangsa yang disatukan oleh bahasa induk yang sama, yaitu Bahasa Altaic. Bahasa Altaic adalah induk bahasa-bahasa yang dipergunakan di kawasan yang luas di Eurasia, sejak dari Turki di Barat sampai ke Laut Okhotsk di Timur. Mayoritas pakar bahasa menjelaskan bahwa rumpun bahasa Altaic terdiri dari tiga kelompok bahasa cabang; bahasa Turki, bahasa Mongolia, dan bahasa Tungusi. Sebagian pakar bahasa menyebutkan bahwa yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Altaic adalah bahasa Korea, bahasa Jepang, dan adakalanya bahasa Ainu, bahasa yang digunakan oleh sejumlah kecil masyarakat di Jepang bagian Utara.

Dari penjelasan ini, tentu tidak lagi mengejutkan kita apabila para ulama menyebutkan bahwa negeri yang didiami oleh bangsa Turk merupakan sebuah negeri yang sangat luas, dinisbahkan kepada nama bangsanya, negeri Turkistan. Wilayahnya membentang dari negeri Khurasan bagian Timur hingga negeri Cina bagian Barat, dan melintang dari daerah utara India hingga mencapai ujung dunia (kutub utara).[8]
 
Secara nash syar’i tidak ada dalil yang shahih yang bisa dijadikan dasar untuk menentukan pendapat mana yang lebih benar. Pun secara sejarah sulit untuk membuktikan silsilah nasab sebuah bangsa besar yang telah berkembang, menyebar, dan mendiami sebuah kawasan bumi yang begitu luas, sejak ratusan atau bahkan ribuan tahun sebelum masehi ini. Barangkali karena alasan ini pula, para pakar hadits dan sejarah sekaliber Ibnu Jarir al-Thabari, Ibnu Atsir al-Jazri, Yaqut al-Yamawi, Ibnu Katsir al-Dimasyqi, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan lain-lain tidak menyebutkan pendapat mana yang lebih kuat.

Dari berbagai hadits shahih yang menyebutkan ciri-ciri fisik dan kondisi geografis negeri bangsa besar Turk ini, setidaknya para pakar hadits dan sejarah telah bisa meraba-raba suku bangsa dan negeri mana saja yang tergolong dalam keluarga besar bangsa dan negeri Turk. Sekali lagi, pendapat mereka adalah berdasar ijtihad dan hipotesa semata, sehingga kemungkinan terjadinya perbedaan pendapat sangatlah terbuka.

Kemenangan yang Sulit
Sepanjang sejarah, umat Islam telah merasakan pahit getirnya keganasan bangsa Turk. Bangsa Mongol pernah menyerbu negeri-negeri kaum muslimin di Asia Tengah dan Asia Barat hingga mencapai Baghdad dan meruntuhkan khilafah ‘Abbasiyah, membunuh penduduk sipil, membumihanguskan seluruh bangunan, dan meninggalkan negeri-negeri tersebut bak kota mati yang sunyi, hancur, dan penuh dengan bangkai manusia yang menyebarkan bau busuk dan wabah penyakit.

Di akhir zaman bangsa Turk kembali mengincar sebuah negeri penting kaum muslimin yang berada di tepi sungai Dajlah, bernama Bashrah (baca:Baghdad). Pada masa itu Bashrah merupakan sebuah negeri umat Islam yang sangat strategis. Rasulullah n sendiri menjelaskan bahwa Bashrah pada saat itu akan menjadi salah satu negeri tujuan hijrah kaum muslimin.
يَكْثُرُ أَهْلُهَا وَتَكُونُ مِنْ أَمْصَارِ الْمُهَاجِرِينَ – قَالَ أَبُو مَعْمَرٍ: وَتَكُونُ مِنْ أَمْصَارِ الْمُسْلِمِينَ-
Penduduk negeri itu akan bertambah banyak, dan ia akan menjadi salah satu negeri dari negeri-negeri kaum muhajirin [atau negeri-negeri kaum muslimin].

Ketika Mereka Terpecah menjadi Tiga Golongan
Saat menghadapi musuh yang sangat kuat dan melakukan serangan mendadak ini, umat Islam akan terpecah menjadi tiga golongan:
Pertama, golongan yang lebih mengutamakan keselamatan nyawa, keluarga, dan harta kekayaannya atas keselamatan agama. Mereka akan melarikan diri ke pedalaman dengan membawa seluruh harta kekayaan yang mampu mereka bawa, utamanya hewan ternak. Mereka justru akan menemui kebinasaan di daerah-daerah pedalaman.

Kedua, golongan hipokrit-munafik yang membeo kepada pihak yang berada di atas angin. Mereka adalah golongan yang menjalankan agama dengan perhitungan untung-rugi. Di satu sisi mereka melihat perjuangan membela Islam dan kaum muslimin akan membawa resiko bagi nyawa, harta, dan keluarga. Di sisi lain, bergabung dengan barisan bani Qanthura’ merupakan jalan pintas untuk meraih keselematan dan keuntungan. Mereka pun akhirnya menanggalkan keislaman mereka, memilih kekafiran, meminta jaminan keamanan kepada musuh, dan bergabung dalam barisannya.

Ketiga, golongan pejuang yang rela mempersembahkan harta dan nyawa mereka demi tegaknya panji Islam dan selamatnya anak keturunan kaum muslimin. Kedatangan musuh yang sangat tiba-tiba dengan kekuatan dahsyatnya, plus kabur dan murtadnya dua pertiga umat Islam tidak menyiutkan nyali mereka. Justru mereka meyakininya sebagai kebenaran janji Allah dan Rasul-Nya. 

Mereka menempatkan seluruh anak-istri di belakang punggung mereka. Mereka bertempur dengan gigih berani, menahan laju gempuran pasukan bani Qanthura’. Di antara mereka akan banyak yang gugur sebagai syuhada’. Dengan izin Allah kaum muslimin yang tersisa akan mampu meraih kemenangan dan menghancurkan musuh.[9]

Bilakah Hal Itu Terjadi?
Imam Ali Mula al-Qari berpendapat bahwa peristiwa penyerbuan bani Qanthura’ ke Bashrah ini sudah terjadi pada bulan Shafar tahun 656 H. Untuk bisa menentukan kebenaran atau kesalahan pendapat ini, kita perlu melihat terlebih dahulu kronologi penyerbuan tentara Mongol ke kota Baghdad tahun 656 H. Setelah itu barulah kita bisa membandingkannya dengan hadits-hadits tentang bani Qanthura’.
[1]. HR. Abu Daud: Kitab al-malahim bab fi al-Bashrah no. 3752, Ahmad, Musadad, Abu Daud al-Thayalisi, dan Ibnu Hiban. Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini hasan dan sanadnya baik dalam Shahih Sunan Abi Daud, Misykat al-Mashabih: Kitab al-fitan no. 5432, dan Shahih al-Jami’ al-Shaghir no. 8107.

[2]. HR. Ahmad, Abu Daud al-Thayalisi, Ahmad bin Mani’, dan Abu Bakr bin Syaibah Al-hafizh al-Bushairi dalam Ittihaf al-Khairah al-Maharah bi-Zawaid al-Masanid al-‘Asyrah menyatakan para perawinya tsiqah.
[3]. Kota Baghdad dibangun oleh khalifah kedua dari dinasti Abbasiyah, yaitu amirul mukminin Abu Ja’far al-Manshur pada tahun 146 H/763 M.
[4]. ‘Aunul Mabud Syarh Sunan Abi Daud juz 9 h.. 344. Imam Ali Mula al-Qari juga memberikan penjelasan yang serupa dengan penjelasan imam al-Asyraf. Imam Syamsul Haq ‘Azhim Abadi mengutip penjelasan kedua ulama ini tanpa memberikan sanggahan. Wallahu a’lam, mungkin ini menunjukkan persetujuan beliau atas penjelasan kedua ulama ini.
[5]. HR. Bukhari: Kitab al-jihad wa al-siyar no. 2711, Muslim: Kitab al-fitan wa asyrath al-sa’ah no. 2912, dan Abu Daud: Kitab al-malahim no. 3749, dengan lafal Muslim.
[6] An-Nihayah Fil Fitan wal Malahim 1: 117
[7] Shahih Bu­khari, Kitab Al-Manaqib, Bab ‘Alamatin Nubuwwah Fil Islam 6: 604
[8]. Lihat Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, 10/393 dan Mu’jam al-Buldan 1/409-410.
[9]. Perpecahan umat Islam Bashrah menjadi tiga kelompok saat menghadapi serangan bani Qanthura’ di akhir zaman ini, juga digambarkan oleh Ibnu Taimiyah saat menerangkan kondisi kaum muslimin di Syam saat mendengar berita penyerbuan tentara Mongol ke Damaskus tahun 702 H. 

Dalam Majmu’ Fatawa, 28/416-417, beliau menuturkan, “Dalam menghadapi fitnah (penyerangan tentara Mongol) ini, masyarakat terpecah menjadi tiga golongan: Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang mendapatkan kemenangan) yaitu kelompok yang berjihad melawan para penyerang yang berbuat kerusakan, Ath-Thaifah Al-Mukhalifah (kelompok musuh) yaitu kaum agresor dan ‘sampah-sampah’ kaum muslimin yang bergabung ke dalam barisan mereka, dan Ath-Thaifah Al-Mukhadzilah (kelompok yang melemahkan semangat) yaitu umat Islam yang hanya berpangku tangan dan enggan berjuang melawan musuh, sekalipun ke-Islaman mereka benar (tidak murtad dengan memihak musuh)

Khamis, Jun 11, 2015

5 Kelebihan Orang Yang Selalu Berpikir Positif

Janet's Rich Banana Bread Recipe
Berpikir positif jelas sangat bermanfaat sekali bagi kehidupan seseorang. Selain baik bagi kesehatan, tentu saja berpikir positif juga bermanfaat bagi kesuksesan. Sudah ada banyak artikel yang di tulis di blog ini terkait berpikir positif. Anda bisa membacanya lagi.
Selain memiliki banyak manfaat dari berpikir positif. Orang yang selalu berpikir positif memiliki banyak kelebihan dibanding orang lain yang tidak melakukannya. Kali ini kita akan membicarakan tentang bagaimana kelebihan orang yang selalu berpikir positif tersebut. Berikut adalah kelebihannya.

1.Orang berpikir positif lebih tahu apa yang mereka sukai.

Biasanya orang yang berpikir positif mereka lebih tahu apa saja yang mereka sukai.Misalnya yang berhubungan dengan hobi. Hal ini bisa dilihat dari kebiasaan mereka menghabiskan waktu, menontong TV, dan kebiasaan membeli barang, orang-orang yang berpikir positif tidak mudah terpengaruh oleh selera orang lain karena mereka tahu benar akan pilihan dan kesukaannya.

2.Orang berpikir positif senantiasa terus belajar

Orang-orang yang berpikiran positif selalu belajar selama hidup. Selama memiliki waktu, mereka akan menggunakannya untuk belajar. Mereka haus akan pengetahuan. Meski pendidikan formal telah usai, namun mereka tetap sadar bahwa dunia luar adalah tempat pembelajaran lain yang tak kalah sempurna untuk dijelajahi. Mereka sangat senang dengan belajar dan terus belajar.

3.Orang yang berpikir positif Selalu Percaya Diri

Kelebihan lainnnya orang yang selalu berpikir positif selalu percaya diri. Mereka percaya diri tidak hanya dalam penampilan tetapi mereka juga percaya diri yang berasal dari dalam diri yaitu percaya akan kemampuan dirinya sehingga berani bertindak dan mengambil setiap keputusan. Percaya diri membuat mereka berani bertindak dan kemungkinan lebih berhasil dari mereka yang penakut.

4.Selalu bersyukur di setiap keadaan

Orang yang berpikir positif selalu bersyukur disetiap keadaan. Tidak hanya dalam keadaan senang atau sedang mendapatkan sesuatu. Ketika mereka mendapat masalah pun mereka juga bersyukur karena mereka percaya masalah adalah pelajaran berharga yang juga patut disyukuri.

5.Orang yang berpikir positif selalu tampil Apa adanya

Orang yang berpikir positif berbeda dengan orang yang berpikir negatif. Mereka lebih suka tampil apa adanya. Seperti itulah mereka. Beda dengan orang yang berpikiran negatif yang selalu berusaha untuk memakai topeng, berpikir positif akan membuat seseorang tetap tampil apa adanya. Sebab tidak ada hal buruk yang berusaha untuk disembunyikan.
Itulah kelebihan-kelebihan dari mereka yang berpikir positif. Memang untuk bisa berpikir positif tidaklah mudah. Namun, kalau sudah tahu caranya maka berpikir positif bukan lagi sesuatu yang sulit dan tidak mungkin. Jika anda ingin mempelajari bagaimana caranya berpikir positif silahkan baca artikel kami sebelumnya.