Ahad, Disember 08, 2013

SURAH AT TORIQ SEBAGAI KAJIAN MENGENAI KOMET HALLEY



Membaca dan memahami Al-Qur'an, bagi saya lebih dari sekedar kewajiban atau "ritual" setelah sholat, tapi juga sebagai suatu kegiatan yang sangat menyenangkan, menarik, dan tantangan. Ya, tantangan... karena terkadang saya banyak menemukan hal-hal atau penjelasan-penjelasan yang tidak mudah untuk saya pahami. Sehingga menuntut saya untuk terus mempelajarinya.

Seperti dalam Surat Ath-Thaariq, saya pernah bertanya-tanya, sebenarnya "Apa" atau "Siapa" yang turun dari langit itu?
Setelah bertanya, mencari tahu, berdiskusi dan membaca literatur-literatur muslim serta menelaah ayat-ayat Al-Qur'an sebelum dan sesudahnya dari surat tersebut, hasilnya tidak cukup memuaskan untuk memenuhi rasa keingintahuan saya. Namun akhirnya, saya menemukan samar-samar jawaban untuk pertanyaan saya itu. Dan sebagai seorang yang suka dengan Astronomi, saya merasa sangat takjub, ternyata tentang Komet Halley sudah ada penjelasannya didalam Al-Qur'an. Selain merasa takjub, saya juga merasa jadi orang yang benar-benar bodoh. 
Ya... Bagaimana tidak, selama ini saya mencari tahu tentang Komet Halley dan tentang luar angkasa itu dari buku-buku berbahasa asing. Kenapa saya pilih buku-buku berbahasa asing? karena biasanya kalau buku ilmu pengetahuan import penjelasannya detail dan memuaskan. Padahal sebenarnya saya tidak perlu melakukan itu, karena saya telah memiliki buku yang  sempurna. Yaa, saya memiliki beberapa Al-Qur'an di rumah, namun ternyata saya belum mampu menggali isinya.

Saya benar-benar merasa malu sama Allah...

Kembali tentang Surat Ath-Thaariq, Surat Ath-Thaariq yang dalam mushaf Al-Qur’an merupakan Surat ke-86 dan terdiri dari 17 ayat, diwahyukan di Makkah pada tahun kedelapan masa kenabian, yaitu sekitar tahun 618 Masehi, sesudah Surat Qaaf dan Surat al-Balad. Pada saat itu kaum musyrikin sedang frustrasi melihat perkembangan Islam yang makin pesat. Berbagai teror dan intimidasi tidaklah menggoyahkan iman kaum Muslimin yang dari hari ke hari makin banyak jumlahnya. Maka orang-orang Quraisy di Makkah merancang rekayasa jahat terhadap Nabi Muhammad s.a.w. beserta para shahabat beliau berupa pengucilan dan pemboikotan dari segala aktivitas. Para pembesar Quraisy melarang penduduk Makkah untuk melakukan transaksi apapun dengan kaum Muslimin, termasuk kegiatan jual beli dan pernikahan. Dalam situasi demikian inilah Surat ath-Thaariq diwahyukan oleh Allah SWT.

Salah satu perbedaan antara Surat-surat Makkiyah (yang diwahyukan di Makkah) dan Surat-surat Madaniyah (yang diwahyukan di Madinah) adalah bahwa pada Surat-surat Makkiyah Allah sering bersumpah dengan berbagai fenomena alam ciptaan-Nya, agar manusia benar-benar memperhatikan atau menalari secara serius hal-hal yang disumpahkan Allah itu. Kalimat sumpah itu diawali oleh kata wa (“demi”) yang terdapat pada 17 Surat (37, 51, 52, 53, 68, 74, 77, 79, 85, 86, 89, 91, 92, 93, 95, 100, 103), dan kata laa uqsimu (“tidak, Aku bersumpah”) yang terdapat pada tujuh Surat (56, 69, 70, 75, 81, 84, 90). Selain dengan fenomena alam, Allah juga bersumpah dengan Kitab Al-Qur’an pada lima Surat (36, 38, 43, 44, 50).

Saya mengetahui  tentang komet Halley ada didalam Al-Qur'an itu dari sebuah buku. Karena saya benar-benar lupa apa judul dan siapa penulis buku itu juga lupa baca buku itu dimana, saya mencari penjelasan tentang Komet Halley dalam surat Ath-Thaariq itu di internet dan saya menemukan ada beberapa yang share mengenai itu. Dan yang menurut saya yang penjelasan jelas dan mudah dipahami adalah tulisan dari bapak Irfan Anshory, dengan penambahan terjemah bahasa Inggris, berikut ulasannya.

Surat Ath-Thaariq (86) ayat 1 sampai dengan 17, selain terjemahan dalam bahasa Indonesia, saya cantumkan juga terjemahan bahasa Inggris :
وَالسَّمَاء وَالطَّارِقِ
Demi langit dan "At-Taariq";
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ
Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia "At-Taariq" itu? -
النَّجْمُ الثَّاقِبُ
(At-Taariq) ialah bintang yang menembusi (sinaran cahayanya);
إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ
Tiada sesuatu diri juapun melainkan ada malaikat yang menjaga (keadaannya serta menyimpan catitan mengenai segala bawaannya).
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ
(Setelah mengetahui yang demikian), maka hendaklah manusia memikirkan: dari apa ia diciptakan
خُلِقَ مِن مَّاء دَافِقٍ
Ia diciptakan dari air (mani) yang memancut (ke dalam rahim)
يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ
Yang keluar dari "tulang sulbi" lelaki dan "tulang dada" perempuan.
إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa untuk mengembalikannya (hidup semula sesudah mati),
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ
Pada hari didedahkan segala yang terpendam di hati (dari iktiqad, niat, dan lain-lainnya)
فَمَا لَهُ مِن قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ
Maka (pada saat itu) tidak ada bagi manusia sebarang kekuatan (untuk membela diri), dan tidak ada penolong (yang dapat memberikan pertolongan).
وَالسَّمَاء ذَاتِ الرَّجْعِ
Demi langit yang berulang-ulang mencurahkan hujan
وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ
Dan bumi yang merekah mengeluarkan tumbuh-tumbuhan,
إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ
Sesungguhnya keterangan Al-Quran adalah kata-kata pemutus (yang sebenar),
وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ
Dan bukanlah ia kata-kata yang olok-olok
إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْداً
Sesungguhnya mereka (yang menentangmu, wahai Muhammad) bermati-mati menjalankan rancangan jahat
وَأَكِيدُ كَيْداً
Dan Aku pula tetap bertindak membalas rancangan jahat (mereka, dan menggagalkannya)
فَمَهِّلِ الْكَافِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْداً
Oleh itu janganlah engkau hendakkan segera kebinasaan orang-orang kafir itu, berilah tempoh kepada mereka sedikit masa

1. Wassamaa-i waththaariq
وَالسَّمَاء وَالطَّارِقِ
Demi langit dan yang datang pada malam hari,
I swear by the heaven and the comer by night
Allah SWT bersumpah dengan langit (as-samaa’) serta dengan suatu benda langit yang disebut ath-thaariq. Istilah ini berasal dari kata kerja tharaqa yang artinya “mengetuk”, satu akar kata dengan thariiq (“jalan; tempat kaki mengetuk”) dan mithraq (“palu; alat pengetuk”). Dalam bahasa Arab sehari-hari, istilah thaariq digunakan untuk menyebut tamu yang jarang muncul dan tiba-tiba datang di malam hari, atau seperti kata Prof. Dr. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Juz 30, “orang yang mengetuk pintu tengah malam agak keras, supaya yang empunya rumah lekas bangun, karena dia membawa berita penting”, atau seperti penjelasan Prof. Dr. Muhammad Asad dari Austria dalam buku tafsirnya The Message of the Qur’an (“Pesan Al-Qur’an”), “a person who comes to a house by night to knock at the door”.
Dengan demikian jelaslah bahwa ath-thaariq dalam ayat ini adalah benda langit yang dijangka kehadirannya. Tidak setiap malam kita dapat menyaksikannya di langit, sebab dia datang sewaktu-waktu atau secara periodik. Benda langit yang seperti itu tiada lain adalah komet, yang oleh nenek moyang kita disebut “bintang berekor”.

Mohammed Marmaduke Pickthall, ulama Muslim berkebangsaan Inggris, dalam terjemahan Al-Qur’an The Meaning of the Glorious Koran, ketika membahas Surat at-Thaariq mengatakan
: Some have thought that it refers to a comet which alarmed the East about the time of the Prophet’s call. Others believe that this and other introductory verses, hard to elucidate, hide scientific facts unimagined at the period of revelation (“Beberapa penafsir berpendapat bahwa at-thaariq merujuk kepada sebuah komet yang menggemparkan Dunia Timur semasa dakwah Nabi. Para penafsir lain meyakini bahwa ayat ini dan beberapa ayat pembuka dalam surah lainnya, yang sukar untuk dijelaskan, menyembunyikan fakta-fakta ilmiah yang tidak terbayangkan pada periode turunnya wahyu”).
2. Wamaa adraaka maa ththaariq
وَمَا أَدْرَاكَ مَا الطَّارِقُ
tahukah kamu apakah yang datang pada malam hari itu?
And what will make you know what the comer by night is?
Sering juga diterjemahkan secara bebas: “Tahukah kamu apakah ath-thaariq itu?” Allah menggunakan kalimat wa maa adraaka (“tahukah kamu”) hanya dalam 10 surah (69, 74, 77, 82, 83, 86, 90, 97, 101, 104) untuk mempertegas istilah-istilah yang unik. Biasanya wa maa adraaka digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan hari kiamat (yaumud-diin, yaumul-fashl, haqqah, qaari`ah) atau azab neraka (saqar, sijjiin, haawiyah, huthamah) atau sesuatu yang misteri seperti lailatul-qadr.
Satu-satunya benda langit yang dijelaskan dengan wa maa adraaka hanyalah thaariq. Hal ini memperkuat pencarian kita bahwa thaariq adalah benda langit yang “tidak biasa” atau “jarang datang”, yaitu komet yang muncul sekali dalam puluhan atau ratusan tahun. Benda-benda langit yang lain, seperti matahari (syams), bulan (qamar), bintang (najm), gugus bintang (buruuj) dan planet (kaukab), tidak pernah diterangkan dengan wa maa adraaka sebab istilah-istilah itu memang sudah jelas maknanya dan bendanya dapat kita saksikan setiap waktu.
Identifikasi benda langit thaariq dengan "komet" ditunjang oleh data astronomi. Ketika Surat ath-Thaariq diwahyukan Allah pada tahun kedelapan kenabian atau tahun 618 Masehi, pada tahun itu muncul komet besar yang termasyhur dalam sejarah, yaitu apa yang sekarang kita namakan Komet Halley.
Periode kedatangan komet ini pertama kali diteliti oleh ahli astronomi Inggris, Edmond Halley (1656–1742). Komet Halley datang rata-rata 76 tahun sekali, dan tahun kedatangannya ternyata dicatat oleh berbagai bangsa sepanjang zaman. Data astronomi telah merakam kehadirannya mulai tahun 390 sampai 1986 Masehi. Inilah tahun-tahun kedatangan Komet Halley: 390, 467, 542, 618 (zaman Nabi), 695, 772, 847, 923, 998, 1074, 1151, 1226, 1302, 1379, 1456, 1531, 1607, 1682 (zaman Halley), 1758, 1835, 1910, 1986 (mungkin Anda menyaksikannya), dan Insya Allah kelak akan muncul kembali tahun 2061 atau 2062.
3. Annajmu tstsaaqib
النَّجْمُ الثَّاقِبُ
(yaitu) bintang yang cahayanya menembus,
The star of piercing brightness;
Benda-benda langit selain matahari dan bulan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah umum najm (jamak atau pluralnya nujuum), berasal dari kata kerja najama yang artinya “muncul kecil-kecil secara berserakan”.
Itulah sebabnya istilah najm dapat juga berarti “rerumputan” yang berserakan di permukaan bumi, seperti pada Surah ar-Rahmaan ayat 6:
وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ
Rerumputan dan pepohonan kedua-duanya bersujud kepada Allah
Dalam kebanyakan ayat-ayat Al-Qur’an, kata najm tepat diterjemahkan “bintang”, tetapi dalam Surat ath-Thaariq ini kita terjemahkan dengan istilah umum “benda langit”.
 Adapun kata tsaaqib berasal dari kata kerja tsaqaba yang artinya “melubangi”, satu akar kata dengan tsuqbah (“lubang”), mitsqab (“bor, alat melubangi”) dan tsaaqibaat (“hewan pelubang” atau ordo Rodentia dalam biologi). Jadi tsaaqib berarti “sesuatu yang melubangi”.
 Informasi Allah dalam ayat 3 ini makin memperkuat penafsiran kita bahwa ath-thaariq memang ternyata komet. Sebagaimana dipelajari dalam ilmu astronomi, komet adalah benda langit yang diameternya puluhan kilometer, tersusun dari campuran es (air padat) yang meliputi lima perenam bagian dan sisanya kotoran debu. Itulah sebabnya komet-komet dijuluki dirty snowballs. Mereka mengelilingi matahari seperti planet-planet tetapi orbitnya berbentuk ellips yang sangat jauh, sehingga komet-komet ini muncul sekali dalam puluhan atau ratusan tahun. Ketika sebuah komet mendekati matahari, panas matahari mencairkan dan menguapkan material es, membentuk “ekor” atau “rambut” berukuran ribuan kilometer yang tampak dari bumi. Itulah sebabnya benda langit ini dinamai komet, berasal dari kata Yunani, koma, yang berarti “rambut”. (Tanda baca ‘koma’ adalah ‘titik yang diberi rambut’).
Kini diketahui bahwa pada tapal batas tatasurya di seberang planet Pluto terdapat “sarang komet” yang disebut Oort Cloud, dari nama astronom Belanda Jan Hendrik Oort (1900–1992), dan diperkirakan mengandung ribuan komet.
Pada proses pembentukan tatasurya (solar system), komet-komet membombardir atau melubangi permukaan planet-planet bertanah (terrestrial planets) yang dekat dengan matahari, termasuk bumi, menyumbangkan air yang merupakan syarat mutlak adanya kehidupan. Di antara planet-planet penerima air itu, hanya planet bumi yang mampu menjaga air dalam wujud cairan. Venus terlalu panas sehingga air menguap, sedangkan Mars terlalu dingin sehingga air membeku.
Tanpa proses pelubangan dari komet-komet, bumi kita tidak mempunyai air! Sungguh Maha Benar Allah yang berulangkali menegaskan dalam Al-Qur’an nazzalnaa mina s-samaa’i maa’ (“Kami telah menurunkan air dari langit”), sebab air di bumi ini memang berasal dari langit, yaitu sumbangan dari komet (thaariq) yang merupakan “benda langit yang melubangi” (an-najmu ts-tsaaqib).
Penelitian terhadap spektrum-spektrum yang dipancarkan oleh Komet Halley (1986), Komet Shoemaker-Levy (1994), Komet Hyakutake (1996), Komet Hale-Bopp (1997) Komet Wild-2 (2000) dan Komet Borrelly (2001) menunjukkan bahwa perbandingan isotop hidrogen dan deuterium pada H2O air laut ternyata sama persis dengan pada H2O komet-komet tersebut. Fakta ini merupakan bukti kimiawi bahwa air di bumi memang berasal dari komet! Jadi komet-komet dikirimkan Allah SWT untuk membawa materi paling berharga sebagai syarat kehidupan kepada planet bumi, yaitu air. Adanya air menyebabkan bumi merupakan satu-satunya komponen tatasurya yang layak untuk tempat berkembangnya makhluk hidup. Tanpa adanya air, kehidupan di muka bumi mustahil terjadi.
Dr.Molly Bloomfield, dalam bukunya Chemistry and the Living Organism (John Wiley & Sons, New York, 1996, hal. 270), menerangkan: Over 100,000 comets had collided with the Earth during its first billion years, brought water to the Earth’s surface. (“Lebih dari 100.000 komet telah berbenturan dengan Bumi selama semiliar tahun pertamanya, membawa air ke permukaan Bumi”).
Dr. Isaac Asimov, dalam bukunya Frontiers: New Discoveries about Man and His Planet, Outer Space and the Universe (Mandarin Paperbacks, London, 1991, hal.219), mengatakan: In the early times of the solar system, there were a large number of collisions between comets and the planetary bodies. The Earth was hot and dry to begin with, and cometary collisions have supplied us with much of our ocean and atmosphere. All this we can now reason out as a result of the close study of Halley’s comet in 1986. (“Pada masa-masa dini tatasurya, terdapat sejumlah besar perbenturan antara komet-komet dan planet-planet. Bumi panas dan kering pada mulanya, dan perbenturan-perbenturan dengan komet telah menyuplai kita dengan sebagian besar samudera dan atmosfer. Semua ini baru sekarang dapat kita kemukakan sebagai hasil dari studi jarak dekat terhadap komet Halley pada tahun 1986”).
Dr. Timothy Ferris, dalam bukunya The Whole Shebang: A State-of-the-Universe Report (Simon and Schuster, New York, 1997, hal.176 dan 179), menegaskan: We owe our existence to Earth’s bombardment by the icy comets abounded in the infant solar system. Primordial comets have formed the oceans and rained down the amino acids from which life originated here. Evidence for cometary cornucopias of life-brewing water and amino acids may be found in the spectra of modern comets .... Had comets not ferried ice to Earth, we might have had no oceans. And without organic molecules contributed by the comets, Earth might have remained devoid of life. (“Kita berhutang eksistensi kita kepada pembombardiran Bumi oleh komet-komet es yang berlimpah ketika tatasurya masih dalam usia muda. Komet-komet purba telah membentuk samudera-samudera dan mencurahkan asam-asam amino yang mengawali kehidupan di sini. Bukti bahwa air dan asam-asam amino pembuat kehidupan bersumber pada komet dapat ditemukan pada berbagai spektrum komet-komet modern .… Seandainya komet-komet tidak mengangkut es ke Bumi, mungkin kita tidak mempunyai samudera. Dan tanpa molekul-molekul organik yang disumbangkan komet-komet, Bumi mungkin tetap kosong dari kehidupan”).
4. In kullu nafsin lammaa 'alayhaa haafizh
إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ
tidak ada suatu jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya.
There is not a soul but over it is a keeper.

Setiap makhluk hidup (kullu nafsin) tanpa kecuali memperoleh pemeliharaan dari Allah SWT, dengan tersedianya air di bumi yang membentuk kehidupan serta membuat bumi ini nyaman sentosa bagi berlangsungnya kehidupan. Allah menegaskan bahwa setiap makhluk hidup tercipta dari air, sebagaimana tercantum dalam Surat al-Anbiyaa’ ayat 30: wa ja`alnaa mina l-maa’i kulla syai’in hayy (“Dan Kami menjadikan dari air segala sesuatu yang hidup”), serta Surat an-Nahl ayat 65: wa l-Laahu anzala mina s-samaa’i maa’an fa ahyaa bihi l-ardha ba`da mautihaa (“Dan Allah menurunkan dari langit air, maka hiduplah dengan air itu bumi sesudah matinya”).

Banyak makhluk hidup yang tidak memerlukan oksigen atau udara, tetapi tidak ada kehidupan yang bisa survive tanpa air. Sekitar 70% berat tubuh kita tersusun dari air, dan tanpa adanya air metabolisme pada tubuh makhluk hidup tidak mungkin berlangsung. Tidak ada benda lain yang lebih berharga dari air. Di samping untuk metabolisme tubuh, kita memerlukan air untuk mandi, bersuci, memasak, mencuci, menyirami tanaman, dan mengairi lahan pertanian. Air juga berfungsi sebagai sarana olah raga dan rekreasi, serta merupakan salah satu sumber energi baik energi uap maupun energi listrik.

Struktur molekul air yang unik, dengan atom pusat oksigen yang mengikat dua atom hidrogen, menyebabkan keistimewaan sifat-sifat fisika dan kimia yang tidak dimiliki oleh materi yang lain. Perbedaan keelektronegatifan (kemampuan menarik elektron) yang sangat besar antara hidrogen dan oksigen menyebabkan ikatan O—H pada molekul air sangat polar, sehingga air merupakan pelarut yang sangat baik untuk berbagai jenis zat padat, cairan, dan gas.

Hal ini menyebabkan air mampu membawa zat-zat makanan melalui jaringan dan organ makhluk hidup serta menjadi zat pembersih yang ampuh. Air mempunyai viskositas yang sangat rendah, sehingga air mudah mengalir, cepat meluncur turun, dan mudah dipompa ke atas. Dengan demikian air sangat mudah diambil dan segera dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.

Air mempunyai kalor penguapan yang sangat tinggi. Hal ini sangat penting bagi tubuh kita, sebab sejumlah besar dari panas tubuh dapat dihilangkan dengan penguapan hanya sejumlah kecil air melalui kulit. Dengan demikian suhu tubuh kita selalu terjaga secara optimal. Penyerapan energi ketika air diuapkan oleh sinar matahari serta pembebasan energi itu ketika uap air berkondensasi menjadi hujan yang kembali ke bumi sangat berperan dalam mendistribusikan energi dari matahari ke seluruh permukaan bumi. Air juga mempunyai kapasitas kalor (kemampuan menyimpan panas) yang sangat tinggi, sehingga air memanas dan mendingin lebih lambat daripada kebanyakan zat lain. Hal ini akan melindungi makhluk hidup dari malapetaka apabila suhu mendadak berubah. Jumlah air yang berlimpah di permukaan bumi bertindak sebagai termostat raksasa yang mengatur suhu bumi sehari-hari.

Ikatan hidrogen yang ada di antara molekul-molekul air menyebabkan air berekspansi atau membesar volumenya ketika membeku (padahal zat-zat lain ketika membeku justru menyusut), sehingga es memiliki kerapatan yang lebih kecil dari air. Akibatnya es mengambang di atas permukaan air. Hal ini menyebabkan ikan dan hewan air lainnya dapat bertahan hidup pada musim salju. Sungguh beraneka ragam pemeliharaan yang dianugerahkan Allah SWT terhadap makhluk hidup melalui kegunaan dan sifat-sifat air.

5. Falyanzhuri l-insaanu mimma khuliq
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?
So let man consider of what he is created

6. Khuliqa min maa-in daafiq
خُلِقَ مِن مَّاء دَافِقٍ
Dia diciptakan dari air yang dipancarkan,
He is created of water pouring forth,

7. Yakhruju min bayni shshulbi wattaraa-ib
يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ
yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.
Coming from between the back and the ribs.

Untuk ayat 5-7 :

Para penafsir umumnya berpendapat “air yang memancar” itu adalah sperma laki-laki. Seandainya yang dimaksudkan sperma, tentu Allah SWT menggunakan kata madfuuq (bentuk pasif yang berarti “terpancar”), sebab sperma tidak dapat memancar dengan sendirinya. Kenyataannya Allah memakai kata daafiq (bentuk aktif “memancar”) yang biasanya digunakan untuk air yang keluar dari sumbernya dalam tanah.
Sudah tentu ayat 5—7 ini merupakan rangkaian yang tidak terpisahkan dari ayat-ayat sebelumnya. Oleh karena komet (thaariq) bertindak sebagai benda langit yang melubangi permukaan bumi (an-najmu ts-tsaaqib), air yang dibawanya terperangkap dalam lapisan kulit bumi, lalu air itu memancar kembali ke permukaan untuk menjadi sarana reaksi-reaksi kimia pembentuk kehidupan, yang harus melibatkan air baik sebagai bahan baku (reaksi-reaksi hidrolisis) maupun sebagai pelarut.

Kulit bumi tempat air memancar itu tersusun dari bebatuan yang keras (shulb) dan tanah atau debu yang lembut (taraa’ib). Kata shulb berarti “sesuatu yang keras”, berasal dari kata kerja shaluba (“mengeras”), dan satu akar kata dengan shaliib (“kayu yang keras”) dan tashallub (“kekerasan benda” atau hardness). Kata taraa’ib berarti “sesuatu yang berdebu”, dari kata kerja tariba (“menjadi debu”), dan satu akar kata dengan turab (“debu tanah”) dan matrabah (“tunawisma yang tidur di tanah”). Dalam masyarakat Arab dahulu, anak-anak sebaya sering bermain debu padang pasir, sehingga “teman sebaya” disebut tirb (jamak atau pluralnya atraab).
Tafsir para ulama abad pertengahan bahwa ayat-ayat ini menerangkan “sperma yang keluar dari antara tulang punggung dan tulang dada” sudah saatnya kita tinggalkan, sebab sperma tidak dikeluarkan dari sana! Allah SWT menakdirkan bahwa benih dari laki-laki itu diproduksi pada dua butir testis yang terdapat dalam skrotum (“kantong” di sela-sela paha).
Sel-sel sperma berukuran 5 mikrometer (0,005 milimeter), terdiri dari kepala dan ekor, diproduksi dalam jumlah sekitar 10 juta butir setiap hari setelah seorang laki-laki memasuki masa pubertas. Sel-sel sperma ini dikeluarkan dari testis melalui epididimis, masuk ke saluran vas deferens untuk dibawa menuju kelenjar prostat. Kelenjar prostat memproduksi cairan kental semen yang memberi sel-sel sperma energi agar tetap lincah bergerak. Dari kelenjar prostat sel-sel sperma, melalui saluran uretra pada penis, dipancarkan keluar tubuh pada saat ejakulasi.
 Sejak pembentukannya sampai pengeluarannya, sperma tidak berhubungan dengan tulang punggung dan tulang dada. Jelas sekali bahwa ayat 5 hingga 7 Surat at-Thaariq bukanlah bercerita tentang sperma, tulang punggung dan tulang dada seperti penafsiran ulama-ulama zaman pra-modern, melainkan bercerita tentang air yang memancar dari antara bebatuan keras (shulb) dan tanah lembut (taraa’ib) pada kulit bumi. Penafsiran ayat-ayat ini tidak boleh kita lepaskan dari konteks ayat-ayat sebelumnya.
8.Innahu 'alaa raj'ihi laqaadir
إِنَّهُ عَلَى رَجْعِهِ لَقَادِرٌ
Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk mengembalikannya (hidup sesudah mati).
Most surely He is able to return him (to life).

9. Yawma tublaa ssaraa-ir
يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ
Pada hari dinampakkan segala rahasia,
On the day when hidden things shall be made manifest,

10. Famaa lahu min quwwatin walaa naasir
فَمَا لَهُ مِن قُوَّةٍ وَلَا نَاصِرٍ
maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak (pula) seorang penolong.
He shall have neither strength nor helper.

Untuk ayat 8-10 :

Pada Hari diverifikasi segala rahasia. Maka tiada baginya kekuatan dan tiada pembela”. Ketika Rasulullah s.a.w. mendakwahkan bahwa manusia akan dihidupkan kembali pada Hari Akhirat untuk dimintai pertanggungjawaban dan menerima ganjaran, orang-orang musyrik di Makkah menertawakan dan mengejek beliau. Dalam Surat Qaaf yang diwahyukan sebelum Surat at-Thaariq, Allah SWT merekam ejekan tersebut: A idzaa mitnaa wa kunnaa turaaban? Dzaalika raj`un ba`iid (“Apakah ketika kami telah mati dan kami telah jadi debu? Itu adalah pengembalian yang jauh”). Maka Allah menegaskan bahwa Dia benar-benar kuasa untuk mengembalikan manusia hidup di Hari Akhirat nanti, lalu manusia yang tiada kekuatan dan tiada pembela itu akan menghadapi Pengadilan Agung, di mana segala rahasia kejahatan manusia (yang mungkin tidak sempat terbongkar di dunia fana) akan mengalami verifikasi dan balasan yang setimpal.
 Jika ayat 8—10 ini kita hubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya, maka hanya orang-orang tidak berilmu yang meragukan kekuasaan Allah untuk menghidupkan kembali manusia. Orang-orang berilmu akan menjadi saksi bahwa bumi ini asalnya memang tidak mempunyai kehidupan, lalu Allah mengirimkan air melalui komet-komet ke Bumi untuk memungkinkan terciptanya makhluk-makhluk hidup termasuk manusia. Bagi Allah yang memiliki sifat yubdi’u wa yu`iid (Maha Memulai dan Maha Mengembalikan) seperti tercantum dalam Surat al-Buruuj ayat 13, mengembalikan manusia kepada kehidupan di Akhirat nanti sama mudahnya dengan mengembalikan komet-komet mengunjungi Bumi. Maha Benar Allah dalam firman-Nya pada Surat Aali `Imraan ayat 18: syahida l-Laahu annahuu laa ilaaha illaa huwa wa l-malaa’ikatu wa ulu l-`ilmi (“Bersaksi Allah bahwa tiada Tuhan melainkan Dia, serta juga bersaksi para malaikat dan orang-orang yang mempunyai ilmu")
11. Wassamaa-i dzaati rraj'i
وَالسَّمَاء ذَاتِ الرَّجْعِ
Demi langit yang mengandung hujan,
I swear by the rain-giving heavens,

Berdasarkan konteks ayat-ayat awal dari Surat ath-Thaariq ini, ada dua kemungkinan tafsiran mengenai ar-raj`i (“sesuatu yang kembali”). Mungkin dia adalah komet (thaariq), yang memang selalu kembali mengunjungi bumi dalam periode tertentu. Mungkin pula dia adalah air (maa’), yang selalu “pergi dan kembali” dalam siklus hidrologi.

Air menutupi 70% permukaan bumi, dan 97% dari seluruh air di bumi berada pada samudera. Setiap hari sekitar sepertiga dari jumlah energi sinar matahari yang sampai ke bumi dipergunakan untuk menguapkan kira-kira 1000 km kubik (satu triliun meter kubik) air samudera, sungai, danau dan telaga. wap air lalu menyebar di lapisan atmosfer untuk mengatur kelembaban dan suhu. Kemudian wap air itu mengalami kondensasi dan turun ke permukaan bumi berupa hujan atau salju. Akhirnya air yang terkumpul di darat mengalir dalam bentuk sungai-sungai untuk kembali menuju samudera.

12. Wal-ardhi dzaati shshad'i
وَالْأَرْضِ ذَاتِ الصَّدْعِ
dan bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan,
And the earth splitting (with plants);

Di lingkungan tatasurya kita, Bumi merupakan planet bertanah (terrestrial planet) yang paling besar. Empat planet yang lebih besar dari bumi (Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus), dan juga matahari, tersusun dari gas-gas hidrogen dan helium. Sebagai “dunia non-gas” yang terbesar, Bumi memiliki suhu internal paling tinggi dibandingkan dengan planet-planet lain, sehingga Bumi mempunyai kulit yang paling tipis dengan kedalaman cuma sekitar 50 km. Suhu internal yang tinggi menyebabkan kulit tipis itu terbelah menjadi enam atau tujuh belahan besar (dan beberapa belahan lebih kecil) yang disebut lempeng (plate). Lempeng-lempeng ini menyetel secara pas seakan-akan dilekatkan oleh seorang tukang kayu yang piawai. Itulah sebabnya mereka dinamai lempeng-lempeng tektonik (bahasa Yunani, tektones, berarti “tukang kayu”).

Lapisan di bawah kulit bumi memiliki suhu cukup panas sehingga mampu bergerak, dan gerakan ini mendorong lempeng-lempeng kesana kemari. Akibatnya terjadilah pembentukan benua dan pulau-pulau serta pembentukan palung (basin) yang merupakan wadah bagi samudera. Meskipun pergeseran lempeng-lempeng tektonik yang dinamis ini sering menimbulkan gempa bumi, bahkan mungkin gelombang tsunami, janganlah kita melupakan kenyataan bahwa lempeng-lempeng itu merupakan kurnia Allah yang patut kita syukuri! Seandainya bumi tidak mempunyai belahan berupa lempeng-lempeng tektonik, tentu ocean basin tidak terbentuk sehingga air akan menutupi seluruh permukaan bumi, dan makhluk yang hidup di darat termasuk manusia tidaklah terbayangkan adanya. Sungguh Maha Pengasih Allah yang telah menyediakan segala fasilitas untuk manusia, meskipun manusia terlalu sering tidak tahu diri (kanuud) kepada Khaliqnya.

13. Innahu laqawlun fashl

sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman yang memisahkan antara yang hak dan yang bathil.
Most surely it is a decisive word,

14. Wamaa huwa bilhazl
وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ
dan sekali-kali bukanlah dia senda gurau.
And it is no joke.
Untuk ayat 13-14 :
Segala yang difirmankan oleh Allah, mulai dari komet (thaariq) yang mengirimkan air (maa’) sampai kepada belahan (shada`) yang dimiliki bumi untuk menampung air sebagai sumber kehidupan, serta kehidupan kita di dunia fana ini akan dikembalikan Allah kepada kehidupan akhirat yang abadi, semuanya itu merupakan “kata keputusan” (qaulun fashl) yang tegas-tandas dan sama sekali bukanlah sesuatu yang hazl, kalimat senda gurau atau main-main. Ejekan dan rongrongan dari kaum musyrikin kepada kaum Muslimin hanyalah ibarat gonggongan anjing kepada kafilah yang sedang berlalu.

15. Innahum yakiiduuna kaydaa
إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْداً
Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya.
Surely they will make a scheme,

16. Wa-akiidu kaydaa
وَأَكِيدُ كَيْداً
Dan Aku pun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.
And I (too) will make a scheme.

17. Famahhili lkaafiriina amhilhum ruwaydaa
فَمَهِّلِ الْكَافِرِينَ أَمْهِلْهُمْ رُوَيْداً
Karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar.
So grant the unbelievers a respite: let them alone for a
Untuk ayat 15-17 :
Inilah ‘gong akhir’ dari seluruh rangkaian firman Allah dalam Surat ath-Thaariq. Seperti telah kita bahas pada bagian awal, Surat ini diwahyukan ketika kaum Muslimin sedang mengalami pemboikotan oleh kaum musyrikin Quraisy. Allah menegaskan bahwa rencana jahat mereka akan sia-sia, karena Allah sendiri mempunyai Rencana Agung untuk menyempurnakan cahaya agama ini sampai akhir zaman. Penangguhan kekalahan kaum musyrikin itu ternyata memang cuma sebentar saja.

Empat tahun sesudah Surat ath-Thaariq turun, Rasulullah s.a.w. beserta para shahabat hijrah ke Madinah (622 M), dan delapan tahun kemudian (630 M) kota Makkah ditaklukkan Rasulullah s.a.w. tanpa pertumpahan darah. Ketika Rasulullah s.a.w. wafat tahun 632, seluruh penduduk Semenanjung Arabia telah memeluk Islam. Hanya satu abad sesudah Rasulullah wafat, kekuasaan Islam membentang dari Spanyol sampai Xinjiang.

Pusat khalifah Islam di Baghdad dihancurkan oleh bangsa Mongol tahun 1258, tetapi siapa menyangka bahwa laskar penakluk itu berduyun-duyun masuk Islam dan menyebarkan agama Allah di kawasan Kaukasus dan Laut Kaspia, lalu anak cucu mereka menegakkan kesultanan Mongol (Moghul) di India dari abad ke-16 sampai abad ke-19. Kekuasaan Islam selama delapan abad di Spanyol (711–1492) memang hilang, tetapi sebagai gantinya muncul kesultanan Turki Usmani yang tahun 1453 menaklukkan Konstantinopel, ibukota kekaisaran Romawi, lalu menguasai seluruh Semenanjung Balkan sampai awal abad ke-20. Bahkan ketika hegemoni politik kaum Muslimin mulai redup pada abad ke-17, Islam melalui jalur perdagangan tersebar luas di Asia Tenggara dan Afrika Timur. Sejarah telah membuktikan kebenaran Rencana Allah!

Dr.Lothrop Stoddard, seorang orientalis terkemuka dari Universitas Harvard, dalam bukunya, The Rising Tide of Color, London, 1926, hal.65, mengomentari perkembangan Islam sebagai berikut: The proselyting power of Islam is extraordinary, and its hold upon its votaries is even more remarkable. Throughout history there has been no single instance where a people, once become Muslim, has abandoned the faith. Extirpated they may have been, but extirpation is not apostacy. This extreme tenacity of Islam, this ability to keep its hold once it has got a footing, must be borne in mind when considering the future of regions where Islam is today advancing (“Kekuatan Islam dalam mengubah kepercayaan manusia sungguh luar biasa, dan daya ikatnya di kalangan pemeluk-pemeluknya bahkan lebih hebat lagi. Sepanjang sejarah tidak pernah ada satu contoh pun di mana suatu masyarakat, sekali menjadi Muslim, telah meninggalkan agama ini. Mereka mungkin pernah dimusnahkan, tetapi pemusnahan bukanlah kemurtadan. Keteguhan Islam yang berlebihan ini, kemampuan untuk menjaga daya ikatnya sekali ia memperoleh tempat berpijak, haruslah diperhatikan sungguh-sungguh ketika mewacanakan masa depan kawasan-kawasan di mana Islam sekarang berkembang.”)

Majalah Islamic Horizons edisi Juli-Agustus 1990, yang diterbitkan oleh Islamic Society of North America (ISNA) di Amerika Serikat, mengutip hasil penelitian dari Worldwide Church of God, badan misionari Nasrani yang berpusat di California, terhadap tiga Abrahamic religions (“agama-agama Ibrahim”) yang dipublikasikan oleh majalah mereka, The Plain Truth. Menurut hasil penelitian itu, dalam kurun waktu 50 tahun (1934-1984) pemeluk agama Yahudi hanya meningkat 4 persen, sementara pemeluk Nasrani meningkat 47 persen, sedangkan pemeluk Islam meningkat 235 persen
Meskipun Islam merupakan agama universal yang paling muda usianya, kini Islam menempati peringkat kedua terbanyak jumlah pemeluknya sesudah Nasrani. Dari seluruh penduduk bumi yang pada tahun 2005 mencapai 6,300 miliar, umat Islam berjumlah 1,550 miliar (24 %), di bawah umat Nasrani (Katolik, Protestan, Ortodoks, Anglikan, Kibti, Maroni, Advent, Mormon, dll.) yang berjumlah 2,220 miliar (35 %). Di benua Asia dan benua Afrika, Islam menempati peringkat pertama, masing-masing 1,058 miliar (27 %) dan 422 juta (52 %). Angka-angka ini tercantum dalam buku TIME Almanac 2005 with Information Please (Houghton Mifflin, Massachusetts).

Di benua Eropa, Islam merupakan agama kedua terbesar meskipun pemeluknya hanya 50 juta. Sekitar 16 juta umat Islam berdiam di Rusia, 21 juta di Eropa Timur, sedangkan 13 juta lagi berdiam di Eropa Barat, terutama di Perancis, Jerman, dan Inggris. Majalah Newsweek, 29 Mei 1995, dengan artikel berjudul "Muslim Europe”, melaporkan bahwa Muslims outnumbered both Protestants and Jews in the predominantly Roman Catholic countries of Belgium, France, Italy and Spain. (“Jumlah umat Islam melampaui umat Protestan dan Yahudi pada negara-negara yang umat Katoliknya sangat dominan, yaitu Belgia, Perancis, Italia dan Spanyol”).

Di benua Amerika, umat Islam masih sedikit, sekitar delapan juta jiwa, sebab Islam di kawasan ini merupakan agama yang relatif baru. Menurut buku The World Almanac 2005, terdapat enam juta umat Islam di Amerika Serikat, 600 ribu di Kanada, 200 ribu di Meksiko, dan satu juta di kawasan Amerika Selatan: Brazil, Suriname, Trinidad-Tobago dan Guyana. Demikian pula di Australia dan kawasan Pasifik, jumlah umat Islam baru berkisar antara 500 ribu sampai satu juta.

Dr.John L.Esposito, editor buku The Oxford History of Islam (Oxford University Press, London, 1999), dalam Bab “Introduction”, mengatakan: Although Islam is the youngest of the major world religion, Islam is the second largest and fastest-growing religion in the world. To speak of the world of Islam today is to refer not only to countries that stretch from North Africa to Southeast Asia but also to Muslim communities that exist across the globe (“Meskipun Islam termuda di antara agama besar dunia, Islam merupakan agama terbesar kedua dan paling cepat pertumbuhannya di dunia. Pembicaraan tentang Dunia Islam hari ini merujuk bukan hanya kepada negeri-negeri yang membentang dari Afrika Utara ke Asia Tenggara tetapi juga kepada komunitas-komunitas Muslim yang ada di seluruh penjuru bumi”).
Majalah National Geographic bulan Januari 2002, dalam artikel “The World of Islam”, mengemukakan: Some 1.3 billion human beings, a fifth of mankind, embracing Islam that make it the fastest growing on Earth, with 80 percent of believers now outside the Arab world (“Sekitar 1,3 miliar jiwa, seperlima umat manusia, memeluk Islam yang menjadikannya agama yang paling cepat pertumbuhannya di Bumi, dengan 80 persen orang-orang beriman sekarang berada di luar dunia Arab”). Majalah termasyhur itu juga melaporkan bahwa umat Islam di Amerika Serikat pada tahun 2001 mencapai enam juta jiwa.

Dalam majalah The Economist, edisi 13 September 2003, terdapat hasil survei “Islam and the West” yang menyatakan bahwa umat Islam di muka bumi berjumlah 1,5 miliar jiwa (“Around one in four of the people in the world are Muslims”), antara lain 196,3 juta di Indonesia (“the world’s most populous Muslim country”), 133,1 juta di Cina, 26,7 juta di Rusia, dan 10,4 juta di belahan benua Amerika. “It is indeed the world’s fastest-growing religion,” demikian komentar The Economist.
Majalah Time, edisi 23 Mei 1988, dengan artikel berjudul “American Facing Toward Mecca”, mencatat jumlah 4.644.000 umat Islam pada saat itu serta lebih dari 600 buah Islamic Center di seluruh Amerika Serikat. Lalu majalah terkemuka itu memperkirakan: US Muslim are expected to surpass Jews in number and, in less than 30 years, become the country’s second largest religious community after Christians (“Muslim Amerika Syarikat diperkirakan akan melampaui umat Yahudi dalam jumlah penganut dan, dalam waktu kurang dari 30 tahun, menjadi komunitas agama terbesar kedua di negeri ini sesudah umat Nasrani”).
Perkiraan majalah Time di atas kini makin mendekati kenyataan. Hal ini diakui oleh majalah Nasrani terbesar di Amerika Serikat, Christianity Today, edisi bulan Maret 2005: Words unfamiliar to most Americans are now heard daily on the evening news: jihad, Islam, Allah, Quran, fatwa, imam, ummah, Ramadan. Today, there are approximately seven million Muslims and more than 13000 mosques in North America. Now the Muslims are our neighbors (“Kata-kata yang asing bagi kebanyakan orang Amerika kini terdengar setiap hari pada berita petang: jihad, Islam, Allah, Qur’an, fatwa, imam, ummah, Ramadhan. Hari ini, terdapat sekitar tujuh juta Muslim dan lebih dari 13000 masjid di Amerika Utara. Sekarang orang-orang Muslim merupakan para tetangga kita”).

Selasa, Oktober 08, 2013

ASAL USUL SYI'AH

Fahaman atau kumpulan syiah ini bukannya wujud semasa, atau sebelum zaman Rasulullah, malah zaman Khalifah Ali pun, kumpulan syiah ini belum wujud lagi. Golongan Ansar, Muhajirin, Aus, Khazraj dan Khawarij adalah sebahagian nama-nama golongan yang pernah tercatat dalam sejarah Rasulullah. Tiada bukti yang tertulis menunjukkan wujudnya satu fahaman atau kumpulan yang dinamakan syiah ketika itu. Istilah "syiah" ini mula digunakan selepas kesyahidan cucu Rasulullah s.a.w, Saidina Husain bin Ali.

Syiah dari pandangan golongan syiah itu sendiri bererti pengikut, penyokong dan pencinta yang merujuk kepada Saidina Ali r.a dan ahlul baitnya.

Menerusi ulama syiah, Fairuz Abadi di dalam Qamus al-Lughat pada kalimat “شَاعَ” menyatakan: Syiah umumnya bererti setiap orang yang mengakui kepimpinan Ali dan Ahlul Baitnya.
Dari mana penggunaan perkataan "Syiah" ini di ambil?
Syiah dari sudut bahasa bererti pengikut. Perkataan ini ada disebutkan di dalam ayat al-Quran menerusi surah as-Safat: 83
واِنَّ مِن شِيعَتِهَ لاِبرَاهِيم
“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk Syiah-nya (pengikut Nuh)”
Sementara di dalam ayat lain:
هذا مِن شِيعَتِهِ وهذا من عَدُوِّهِ فاسْتَغَاثَهُ الذِي مِنشِيعَتِهِعَلى الذِي مِن عَدُوِّهِ
“(Orang) ini adalah dari Syiah-nya (pengikutnya) dan (orang) ini adalah dari musuhnya. Lalu Syiah-nya meminta bantuan darinya terhadap lawan musuhnya” [al-Qasas: 15]
Ayat-ayat al Quran ini tidak merujuk kepada golongan syiah (al-Ithna ‘Asyariyyah, Ismailiyyah, Zaidiyyah dsb) yang kita kenali pada hari ini, malah tidak wujud pun pada zaman Nabi Ibrahim. Maksud syiah di dalam al Quran itu merujuk kepada pengikut sesuatu kaum/umat pada masa itu. Istilah itu adalah sekadar kata umum yang bererti pengikut, bukannya nama khas yang dikhususkan kepada pengikut Ali dan Ahlul Baitnya.
Kumpulan yang bersimpati kepada kesyahidan dan amat menyanjungi Saidina Husain telah mengguna pakai perkataan "syiah" di dalam al Quran, untuk menamakan kumpulan mereka. Dan seterusnya istilah syiah ini sudah menjadi hak eksklusif khusus bagi golongan ini.

Permulaan Kemunculan Syiah
Yang biasa menjadi pendapat umum, Syiah dikatakan puak yang menyokong Saidina Ali bin Abi Talib r.a. dalam pertelingkahannya dengan Muawiah bin Abi Sufyan r.a. Namun tidak bermakna pengikut Ali itu syiah dan pengikut Muawiah itu Sunni. Malah, ramai tokoh ahli sunni berkeyakinan bahawa dalam perselisihan yang berlaku di antara dua sahabat Rasulullah s.a.w ini, kebenaran lebih berpihak kepada pihak Ali berbanding dengan Muawiyah.
Sebenarnya, puak Syiah ini muncul selepas pertelingkahan Saidina Husain yang tidak mengiktiraf kekhalifahan Yazid bin Muawiah.
Kisahnya bermula apabila Saidina Husain berangkat dari Madinah menuju ke Kufah, Iraq setelah penduduknya berjanji untuk menyokong, melindungi serta membantunya sekiranya diserang mana-mana pihak. Namun janji-janji tersebut tidak dilaksanakan dan seterusnya menjadi punca syahidnya Husain di pertempuran Karbala.
Setelah Saidina Husain syahid, sebahagian mereka telah menyesali dosa mereka dan memberontak kepada pemerintahan Bani Umayyah. Mereka inilah dikenali sebagai syiah. Ketika itu tidak ada perbezaan akidah melainkan perbezaan gerakan politik yang menentang pemerintahan Bani Umayyah. Ini bermakna Syiah adalah satu gerakan politik semata-mata di awal kemunculannya.

Permulaan Gerakan Anti-Sahabat
Gerakan anti-sahabat Rasulullah dimulai oleh Abdullah ibn Saba’ (Ibn Saba') yang berasal dari kota Sana’a, Yaman. Dia adalah seorang bangsa yahudi yg menganut islam pada zaman Uthman tetapi tidak memperbaiki keislamannya.
Saidina Uthman bin Affan diangkat menjadi Khalifah selepas Khalifah Umar bin Khatab dibunuh oleh Abu Lu’lu Al-Majusi . Ketika itu, berlaku pergolakan dan keresahan di kalangan umat Islam. Dengan ketegasan sikap dan kebijaksanaan Uthman, suasana pemerintahan dapat dikendalikan dengan aman dan ramai yang memeluk islam termasuk seorang pemuda Yahudi dari Yaman bernama Abdullah bin Saba'.
Bagaimanapun, Abdullah bin Saba' mempunyai tujuan lain untuk memeluk Islam. Dia berharap Khalifah selaku pemerintah negara Islam akan memberi penghormatan kepadanya dengan diberikan jawatan kedudukan tinggi dalam kerajaan. Bagaimanapun Khalifah Uthman menolak dan berkata;
"Aku hanyalah pelayan umat, aku diangkat menjadi Khalifah bukan atas keinginan aku, tetapi kesepakatan umat Islam".
Khalifah Uthman berkata lagi,
"Tidakkah tuan tahu bahawa jawatan bukan satu kehormatan, tetapi satu amanah. Apakah tuan sanggup memikul amanah itu, sedangkan tuan baru memeluk Islam dan lebih daripada itu tidak layak sesuatu kedudukan diminta atau diminati kerana Allah yang memberi atau mencabut kedudukan seseorang".
Oleh itu Abdullah bin Saba' kecewa dan menyimpan dendam kepada Khalifah Uthman, umat Islam dan Agama Islam. Maka, antara dakyahnya ialah menabur fitnah dan menimbulkan keraguan kepada orang Islam. Beliau mengatakan bahawa pewaris Nabi dan Khalifah yang sah adalah Saidina Ali bin Abi Talib, bukannya Abu Bakar, Umar, Uthman atau sahabat-sahabat lain. Dia menjelajah ke seluruh tempat untuk menyebar fitnah dan pengaruhnya tersebar luas ke Mesir, Kufah dan Basrah. Untuk menyakinkan orang ramai akan kata-katanya dan bukannya atas kepentingan diri sendiri, beliau mengguna dan menjaja nama Saidina Ali dan keluarga Rasulullah s.a.w (ahlul bait). Kononnya hujah-hujah beliau adalah datangnya dari mulut Saidina Ali dan Rasulullah sendiri.
Beliaulah juga orang yang terawal meletakkan Saidina Ali ke tahap yang lebih tinggi dari Rasullullah s.a.w. Beliau pernah berkata," Sesungguhnya yang menjadi Nabi pilihan Allah adalah Ali bin Abi Talib. Hanya kebetulan pada ketika itu malaikat Jibrail mengantuk sehingga wahyu Allah diberikan kepada Muhammad, iaitu orang yang tidak berhak".
Mendengar berita itu, Ali bin Abi Talib sangat marah, dan ketika beliau diangkat menjadi khalifah keempat mengganti Uthman, beliau memerintahkan Abdullah bin Saba' diusir dari Madinah. Tidak berhenti setakat itu, Abdullah bin Saba' tetap meneruskan untuk memporak peranda sesama kaum muslimin serta hubungan Saidina Ali dan para sahabat yang lain secara halus.
Hakikatnya Abdullah bin Saba' serta pengikut-pengikutnya bukanlah penyokong tulen atau syiah Saidina Ali tetapi berpura-pura menjadi pengikut kuat Saidina Ali dan Ahlul Bait. Beliau juga mempunyai ramai pengikut yang dikenali sebagai Sabaiyyah juga tergolong sebagai orang-orang munafik yang lagaknya seperti orang Islam yang taat dan menyelinap dalam tentera Ali. Golongan Sabaiyyah ini lah yang menjadi punca berlakunya Perang Jamal.
Bagi golongan sunni, Ibn Saba' atau Sabaiyyah adalah perintis kepada perpecahan umat Islam dan seterusnya mendorong kepada beberapa pecahan ummah termasuk kemunculan fahaman syiah. Beliau lah sebagai tokoh berperanan utama yang menyelipkan pemikiran-pemikiran sesat dalam ajaran syiah.
Kitab-kitab Syiah seperti Syarh Nahjul Balaghah Li Ibn Abil Hadid ada menceritakan berkenaan Ibn Saba' walaupun terdapat golongan syiah yang menafikan kewujudan seseorang yang bernama Ibn Saba' atau Abdullah bin Saba'.
Pemilihan Khalifah Selepas Umar Al-Khattab
Pada tahun 644M, Khalifah Umar Al-Khattab mati dibunuh oleh seorang Majusi bernama Abu Lu'lu'ah al-Farisi. Pembunuhan ini berpunca dendam Abu Lu'Lu'ah kepada Umar yang tidak memihaknya dalam isu kharaj (seperti cukai) dengan majikannya. Di kala ini, Pembunuh Umar r.a. ini disanjung dan dipuja oleh penganut Syiah Imamiyyah. Mereka mengunjungi dan menghormati kuburnya di Kashan, Iran kerana telah berjaya membunuh Umar r.a. Malah beliau digelar Baba Syuja'uddin (Sang pembela agama yang gagah berani).
Abu Lu'lu'ah menikam Khalifah Umar sebanyak enam kali dengan pisau bermata dua sewaktu Umar mengimami solat subuh di Masjid al-Nabawi, Madinah. Tikaman di bahagian perut menyebabkan punca kematian Sayyidina Umar. Sebaik saja menikam Khalifah Umar, Abu Lu'luah cuba lari tetapi ditahan oleh para sahabat yang lain. Apabila ditahan menyebabkan dia terus menggunakan pisaunya untuk menikam mereka yang cuba menangkapnya. Ini menyebabkan berbelas orang sahabat gugur syahid dan cedera. Akhirnya Abdullah bin 'Auf az-Zuhri berjaya memegang bajunya dan terus menariknya sehingga dia rebah di atas lantai. Melihat dirinya telah terkepung, maka dia terus membunuh dirinya sendiri dengan menggunakan pisau ditangannya.
Berbeza ketika Khalifah Abu Bakar meninggal dunia, beliau hanya menamakan Umar sebagai penggantinya yang layak sebagai khalifah. Tetapi Umar Al-Khattab telah menamakan 6 orang pengganti. Antaranya Abu Ubaidah Al Jarrah, Ali bin Abi Talib, Abdul Rahman bin Auf dan Usman bin Affan. Sebenarnya pilihan pertama Umar adalah Abu Ubaidah Al-Jarrah tetapi beliau telah meninggal dunia di Syam akibat wabak taun.
Ketika Umar merasakan dirinya tidak mampu bertahan lama, beliau mengusulkan (penggantinya), " Aku tidak akan membuatnya maka sesungguhnya orang yang lebih mulia daripadaku telah meninggalkan urusan ini(pemilihan) kepada muslimin maka Rasulullah S.A.W sendiri meninggalkan urusan ini. Sekiranya aku membuat pemilihan maka aku akan memilih orang yang lebih baik daripadaku iaitu Saidina Abu Bakar. Jika Abu Ubaidah bin Jarrah masih hidup, nescaya aku akan melantiknya. Jika Salim Abu Huzaifah masih hidup nescaya aku akan melantiknya". Kemudian beliau memanggil Abdul Rahman bin 'Auf lalu berkata :"Aku mahu memberi sumpah setia kepadamu". Mendengar kata-kata Saidina Umar itu lalu Abdullah bin 'Auf bertanya :" Adakah engkau telah bermesyuarat dalam perkara ini?. Jawab beliau :"Demi Allah aku belum lagi berbuat demikian". Kata Abdul Rahman bin 'Auf :"Demi Allah aku tidak masuk campur dalam masalah ini selama-lamanya". Perintah beliau :" Carilah kata putus sehingga aku boleh melantik daripada kalangan mereka yang telah dipilih oleh Rasulullah S.A.W yang mana baginda redha dengan mereka". Abdul Rahman bin 'Auf terus memanggil Saidina Ali, Saidina Uthman, Zubair bin al-Awwam dan Sa'ad bin al-Waqas. Dia berkata :" Tunggulah kehadiran saudaramu Talhah yang mana dia sekarang berada di luar Madinah dan jika tidak maka laksanakan urusan kamu".
Dua hari selepas peristiwa serangan itu, iaitu pada subuh hari pertama bulan Muharram tahun 22 hijrah Khalifah Umar menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia 63 tahun iaitu sama dengan umur Rasulullah S.A.W dan Sayyidina Abu Bakar ketika wafat. Suhaib ar-Rumi telah mengimamkan solat jenazah. Beliau dikebumikan dalam bilik Sayyidatina 'Aisyah selepas mendapat keizinannya, iaitu disebelah makam Rasulullah S.A.W dan Sayyidina Abu Bakar.
Pada hari itu juga para ahli majlis Syura telah bermesyuarat. Daripada keenam-enam sahabat, kesemuanya menolak dan hanya tinggal Ali, Abdul Rahman dan Uthman sahaja.
Abdul Rahman bin Auf juga menarik diri tetapi beliau menawarkan diri untuk menjadi orang tengah. Beliau akan membuat bancian di kalangan penduduk Madinah sama ada mahu Ali bin Abi Talib ataupun Uthman bin Affan sebagai khalifah. Setelah membuat bancian beliau telah berjumpa dengan keduanya dan mereka redha dengan apa juga keputusan Abdul Rahman.
Lalu Abdul Rahman mengangkat tangan Uthman dan menyatakan orang Madinah lebih ramai memilih beliau. Perkara ini menjadi titik tolak perpecahan umat Islam ketika itu kerana pihak yang menyokong Ali mendakwa Abdul Rahman tidak berlaku adil kerana beliau mempunyai hubungan persaudaraan sepupu dengan Uthman. Bagaimanapun Ali menyakini amanah yang dilakukan oleh Abdur Rahman dan membaiat Uthman sebagai khalifah Islam.

Pembunuhan Khalifah Uthman
Khalifah Uthman merupakan seorang pemimpin yang lemah lembut, zuhud dan sangat sabar. Beliau memegang jawatan khalifah ketika umurnya hampir 80 tahun. Kerajaan Islam dalam keadaan aman semasa 6 tahun awal pemerintahannya, sehinggalah berlakunya fitnah yang dicetuskan oleh Abdullah Ibn Saba’ (Ibn Saba) yang amat memusuhi Khalifah Uthman.
Ibn Saba memfitnah Uthman menyalah guna kuasa dengan memberi kekayaan kepada keluarga dan saudara maranya, merampas tanah orang miskin, gabenor2 Uthman yang zalim dan sebagainya. Walaupun Uthman telah menghantar surat menjelaskan perkara sebenar kepada jajahan pemerintahan Islam tetapi tidak berjaya meredakan fitnah tersebut.
Mereka yang terpengaruh dengan fitnah Ibn Saba termasuk dari Kufah, Basra dan Mesir telah berjumpa dengan Uthman supaya meletak jawatan. Mereka inilah digelar sebagai kumpulan Sabaiyyah oleh sejarawan Islam. Para sahabat di Madinah ketika itu mencadangkan supaya Uthman menahan kumpulan ini tetapi Uthman berlembut dan memaafkan mereka.
Golongan Sabaiyyah makin berani membuat surat palsu dari Saidina Ali (kepada penduduk Mesir), Zubir Awwam (kepada penduduk Kufah) dan Abi Talhah (kepada penduduk Basra) untuk memujuk mereka menyerang Madinah. Mereka menggunakan nama ketiga-tiga mereka ini kerana mereka sahabat nabi yg dijamin syurga dan dihormati. Penduduk Syam tidak dipengaruhi oleh pemberontak ini kerana penduduk di situ tidak akan mempercayai surat tersebut memandangkan Gabenor Syam, Muawiyah adalah saudara kepada Uthman.

Akhirnya golongan Sabaiyyah berjaya mempengaruhi ramai orang Islam untuk mengepung rumah Uthman di Madinah ketika musim haji. Mereka memilih musim haji kerana ramai sahabat nabi akan pergi menunaikan haji ke Mekah. Terdapat beberapa sahabat yang cuba menolong Uthman termasuk Abu Hurairah, Hisam iaitu wakil yang dihantar oleh Saidina Ali dan beberapa orang lain. Tetapi Uthman menyuruh mereka pulang dan tidak memerlukan perlindungan.

Sebenarnya Uthman sudah merasakan beliau akan dibunuh pada hari pengepungan tersebut. Beliau juga bermimpi bertemu Rasulullah dan berbuka dengan baginda pada malam itu. Beliau memakai seluar kerana khuatir auratnya akan terlihat jika beliau dibunuh nanti.

Pada 656 masihi, ketika tu Uthman telah berusia 90 tahun. Pemberontak menyerbu masuk ke rumahnya ketika beliau sedang berpuasa dan membaca masyhaf Al-Quran. Pemberontak tersebut menghentak kepala Uthman dengan besi hingga darahnya terkena masyhaf Al-Quran tersebut. Masyhaf tersebut masih boleh dilihat pada masa ini. Pemberontak kemudiannya memotong jari tangan isteri Uthman, Nailah.

Maka terjadilah fitnah terbesar dalam dunia Islam ketika itu iaitu pembunuhan seorang khalifah Islam yang menyebabkan perpecahan yang lebih besar dari sebelum itu. Selama 5 hari selepas itu umat Islam tidak ada pemimpin, sedangkan pemberontak masih berada di dalam Madinah iaitu kira-kira 2000-3000 orang.

Ahli Syura dan penduduk Madinah mendesak Saidina Ali supaya menjadi pengganti khalifah walaupun pada awalnya Saidina Ali menolak cadangan tersebut. Perkara pertama yang beliau ingin lakukan ialah mencari pembunuh Uthman dan menghapuskan golongan Sabaiyyah yang menghasut para sahabat dan orang Islam. Tetapi beliau tidak bertindak dengan segera dan perlu lebih berhati-hati kerana pemberontak-pemberontak masih ramai di Madinah dan orang Islam masih berpecah belah yang memihak kepada Uthman dan sebahagian lagi mereka yang termakan hasutan golongan Sabaiyyah. Walaupun begitu, kedua-dua pihak di Madinah ini tidak memusuhi dan memerangi Khalifah Ali, melainkan penduduk luar Madinah yang tidak berpuas hati dengan kelewatan Khalifah Ali untuk bertindak menangkap pembunuh Uthman.

PERGOLAKKAN PEMERINTAHAN KHALIFAH ALI RA
Selepas kematian Uthman, lebih ramai pemberontak masuk ke dalam kota Madinah hingga jumlahnya mencecah 5,000-6,000 orang. Pemberontak tersebut juga merupakan dari kalangan orang-orang Islam terutamanya dari Kufah, Basra dan Mesir yang berjaya diperdaya oleh golongan Sabaiyyah.

Kota Madinah kian tidak tenteram dengan ketiadaan pemimpin dan ini mendedahkan umat Islam kepada bahaya, maka segeralah para sahabat ridwanullahi ‘alaihim mencari calon yang paling layak. 3 nama untuk menggantikan Uthman iaitu Ali bin Abi Talib, Abi Talhah dan Zubair bin Awwam, namun mereka menolaknya. Menurut Muhammad al-Hanafiah (Muhammad bin ‘Ali bin Abi Talib r.a), ayahnya pernah berkata kepada orang ramai, “Janganlah kamu memilih aku, sesungguhnya aku lebih baik menjadi Wazir (pembantu Khalifah) berbanding menjadi Amir (Khalifah)”.

Menurut riwayat lain, daripada Abu Basyir al-’Abidi “Selepas terbunuhnya Uthman r.a, berhimpunlah golongan Muhajirun dan Ansar termasuk Talhah dan Al-Zubair berjumpa dengan Ali r.a untuk di bai’at sebagai khalifah, Namun Ali berkata: “Aku tidak berhajat akan urusan kamu, aku bersama kamu, sesiapa sahaja yang kamu pilih, aku akan meredhainya, maka pilihlah (selain aku) demi Allah”. Lalu mereka (para sahabat) berkata: “Kami tidak akan memilih selain kamu”. Kata Abu Basyir lagi“Mereka datang kepada Ali berkali-kali sehingga yang kali terakhirnya mereka berkata kepadanya: “Sesungguhnya tidak boleh bagi manusia tanpa adanya pemimpin sedangkan telah berlanjutan masa (tanpa pemimpin)”. Lalu kata Ali kepada mereka: “Sesungguhnya kamu telah berulang kali datang kepada aku dan kamu enggan (memilih selain aku) dan sesungguhnya aku hendak berkata suatu perkara jika kamu menerimanya, maka aku menerima permintaan kamu, jika tidak maka aku tidak berhajat akannya (tidak berhajat menjadi Khalifah)”. Mereka berkata: “Apa sahaja yang kamu katakan, akan kami akan terima Insya-Allah”.

Akhirnya Ali ketika itu berumur 58 tahun, menerima jawatan tersebut dan orang pertama yang membai’at beliau adalah Talhah dengan lisan, diikuti dengan Sa’ad (ibn Abi Waqqas r.a) dengan tangannya. Turut membai’at beliau, ialah Al-Zubair bin al-’Awwam r.a. Namun sesetengah riwayat mengatakan Talhah dan Az-Zubair membai'at dalam keadaan paksa-rela oleh situasi yang ditimbulkan oleh pemberontak. Pemberontak juga pernah mengugut bunuh Ibn Umar sekiranya (Ibn Umar) tidak bersetuju menjadi khalifah. Malah Ali juga sendiri tidak mahu dilantik sebagai khalifah sekiranya tiada bai'at dari para sahabat. Oleh itu, pemberontak mendesak para sahabat supaya Ali dilantik sebagai khalifah. Jika tidak kota Madinah berubah menjadi lebih parah.

Untuk mengelak masalah yang lebih besar sebelum para pemberontak itu bertindak di luar jangkauan melantik orang yang menjadi boneka mereka sebagai khalifah dan menyebabkan urusan pemilihan khalifah terkeluar dari tangan sahabat ridwanullahi ‘alaihim dan jatuh ke tangan pemberontak, maka Talhah dan Az-Zubair bergegas membai’at Ali r.a. Talhah dan Az-Zubair mengakui Ali adalah orang yang paling layak dilantik sebagai khalifah tetapi bukan dalam keadaan situasi yang mendesak itu.

Perlantikan Saidina Ali sebagai Khalifah menyebabkan ramai dikalangan penduduk Mekah, Mesir dan beberapa kawasan jajahan Islam lain mempersoalkan perlantikan tersebut. Ini adalah kerana mereka pernah mendapat surat daripada Saidina Ali , kononnya meminta penduduk disitu menyerang kota Madinah sewaktu pemerintahan Khalifah Uthman. Sedangkan mereka tidak menyedari bahawa surat itu adalah palsu yang diedarkan oleh golongan Sabaiyyah yang dipimpin oleh Abdulah bin Saba'.

Dengan kenaikan Ali sebagai khalifah seolah-olah mengesahkan surat itu benar-benar ditulis oleh Ali sendiri. Ini juga merupakan satu perancangan licik golongan Sabaiyyah memecahkan perpaduan umat Islam. Malah Khalifah Ali sendiri tidak tahu siapa penulis sebenar surat tersebut. Hakikatnya Khalifah Ali juga tidak menyedari ada dalang sebenar (Sabaiyyah) kerana mereka juga hidup seperti orang Islam (munafik).

Khalifah Ali berpendapat bahawa pemberontakan yang berlaku terhadap Khalifah Uthman adalah berpunca daripada gabenor-gabenor di tanah jajahan tidak disenangi rakyat atau gagal mententeramkan rakyatnya daripada memberontak terhadap pemerintahan Uthman. Oleh itu beliau telah menggantikan semua gabenor-gabenor yang dilantik oleh Uthman termasuk Muawiyah di Syam. Di Basrah, Abdullah bin Amir digantikan dengan Uthman bin Hanif, Saad bin al-as menggantikan Amran bin Syahab di Kufah dan di Syam, Muawiyah digantikan dengan Syahab Bin Hanif.

Khalifah Ali juga berpendapat tindakan ini juga dapat meredakan kemarahan orang yang tidak suka kepada gabenor pemerintahan Uthman sebelum ini. Tetapi hal ini semakin menimbulkan prasangka di kalangan sahabat yang lain. Malah seorang sahabat iaitu Al-Mughirah menasihati Ali supaya jangan memecat gabenor Uthman ketika itu. Uthman tidak pernah terus memecat gabenor yang dilantik oleh Umar sebelumnya. Ia akan menimbulkan fitnah. Tetapi Ali bertegas meneruskan hasratnya.

Pada mulanya Khalifah Ali memang berazam mencari pembunuh Uthman yang sebenar, namun pergolakan umat Islam ketika itu menyebabkan Khalifah Ali lebih menumpukan untuk perkukuhkan dahulu negara Islam dan menenangkan umat Islam. Malah tiada seorang saksi pun yang berani tampil melihat pembunuhan Uthman. Khalifah Ali tidak mampu menghukum semua pemberontak kerana jumlahnya yang ramai, mereka terdiri kaum muslimin dan tidak semua terlibat dalam pembunuhan Uthman.

Sebelum Perang Jamal tercetus, Khalifah Ali pernah berkata “Bagaimana aku hendak bertindak dengan kaum yang kita tidak kuasai? Tiada cara hendak cari pembunuh Uthman kerana mereka ramai dan tiada saksi ketika pembunuhan di rumah Uthman. Siapa yang tahu cara untuk mencari pembunuh Uthman sila bagitau aku!“. Sahabat semua diam termasuk termasuk Zubair dan Talhah. Dan akhirnya mereka taat kepada Khalifah Ali. Namun akibat fitnah dan perancangan licik golongan pemberontak dan Sabaiyyah, berlakulah peperangan Jamal.

Khalifah Ali kemudiannya telah mengubah ibukota Islam dari Madinah Ke Kufah atas alasan Madinah tidak selamat untuk diduduki lagi untuk mentadbir negara Islam. Beliau wafat selepas sembahyang Subuh di Masjid Kufah pada 17 Ramadan 41 Hijrah / 661 Masihi kerana dibunuh oleh seorang puak Khawarij, Abdul Rahman bin Muljam. Puak Khawarij merupakan bekas pengikut Khalifah Ali yang tidak berpuashati perjanjian damai dengan Muawiyah sewaktu Perang Siffin. Khawarij berpakat untuk membunuh Ali r.a, Mu’awiyah r.a, Amr bin Ash r.a dan Abu Musa al-Asy’ari r.a. Bagaimanapun rancangan pembunuhan itu hanya berjaya ke atas Khalifah Ali.

Jenazah Khalifah Ali kemudiannya dikebumikan di Dar al-Imarah (Kufah). Namun bagi golongan syiah beranggapan beliau dikebumikan di Mashhad al-Najf.

PERANG JAMAL

Pengenalan
Perang Jamal atau Perang Unta berlaku pada 11 Jamadilakhir 36H atau Disember 657M yang mengambil masa tidak sampai sehari. Peperangan ini berpunca daripada salah faham di antara pihak Khalifah Ali dan pihak Saiditina Aishah yang menyebabkan 10-13 ribu tentera terkorban termasuk dua sahabat besar Rasulullah s.a.w, Talhah & Zubair al Awwam. Salah faham ini ditimbulkan oleh pihak munafik pimpinan Abdullah bin Saba’ (Sabaiyyah) yang membuat huru-hara selepas perbincangan perdamaian tercapai di anatara kedua-dua pihak. Peperangan ini merupakan perang saudara pertama kaum muslimin yang berakhir dengan kemenangan dipihak Khalifah Ali. Peperangan ini dinamakan peperangan Jamal (unta) kerana Aisyah menunggang unta ketika berperang.

Rombongan Aisyah, Talhah dan Az-Zubair
Ketika pemberontakan ke atas Khalifah Uthman tercetus, Saiditina Aisyah pada masa itu berumur 40 tahun berada di Mekah menunaikan haji. Aisyah telah mengumpul orang Islam dan penduduk di Mekah untuk membantu Uthman menghadapi pemberontakan di Madinah. Ketika dalam perjalanan menuju ke Madinah, diberitakan Uthman telah dibunuh. Ketika itu para sahabat mempunyai beberapa cadangan kepada Aisyah, sama ada meneruskan perjalanan ke Madinah atau, menuju ke Syam untuk meminta bantuan Muawiyah, namun akhirnya mereka memilih jalan menuju ke Basrah.

Mereka berasakan Kota Madinah dalam keadaaan tidak tenteram setelah jatuh ke tangan pemberontak yang masih ramai disitu. Sekiranya tetap meneruskan perjalanan ke Madinah, Aisyah dan rombongannya akan berada pada situasi yang membahayakan kerana mereka adalah dari kalangan orang yang menyokong Uthman. Mereka menuju ke Basrah untuk merancang strategi dan mengumpul kekuatan menangani pemberontak yang memecah belah umat Islam, dan berazam memulih kembali perpaduan umat Islam. Walaupun Ali kemudiannya telah dilantik sebagai Khalifah, mereka tidak berpuas hati kerana Ali dilihat gagal menghukum pembunuh Uthman, seolah-olah Ali dalam keadaan terikat dan tertekan dikelilingi golongan pemberontak.

Selepas Talhah dan Zubair membai'ah Saidina Ali sebagai Khalifah, mereka meminta izin untuk melakukan umrah. Ketika dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Aisyah, di dalam pertemuan itu mereka bersepakat untuk meminta Khalifah Ali mempercepatkan qisas (hukuman) keatas pembunuh Uthman.

Apabila melihat Aisyah dan pasukannya pergi ke Basrah, golongan munafik Sabaiyyah menyalakan api fitnah dengan menyebar berita kononnya pemergian Aisyah tersebut adalah mengumpul kekuatan dan menuju ke Madinah untuk memberontak kekhalifahan Ali.

Semangat Perdamaian
Apabila Ali mendengar khabar angin itu, beliau mengutuskan al-Qa’ qa’ untuk berjumpa Aisyah, Talhah dan Zubair di Basrah.

Menurut Ibn Kathir menulis: “Sesungguhnya Ali telah mengutuskan al-Qa`qa` sebagai utusan menemui Talhah dan Zubair untuk mengajak mereka kepada kesatuan dan jamaah dan menyatakan kepada mereka berdua betapa bahayanya perpecahan dan perselisihan. Lalu al-Qa`qa` menuju ke Basrah dan orang yang pertama ditemuinya ialah Aishah."

Beliau berkata: “Wahai Ummu Mukminin, apakah yang mendorong ibu menjejakkan kaki di bumi ini?”.

Aishah menjawab: “Wahai anakku, untuk mendamaikan antara manusia.”

Kemudian al-Qa`qa` meminta supaya Aishah memanggil Talhah dan al-Zubair, lalu mereka berdua pun datang.

Al-Qa`qa` berkata kepada mereka “Saya telah bertanya kepada Ummu Mukminin sebab mengapa beliau menjejakkan kaki ke sini dan beliau menjawab untuk mendamaikan antara manusia.”

Lalu mereka berdua menyatakan: “Kami pun dengan tujuan yang sama.” Talhah dan al-Zubair juga mengatakan bahawa mereka datang hanya untuk mendamaikan antara manusia.

Mereka juga menjawab: “Kamu memang benar dan melakukan yang terbaik. Oleh itu, pulanglah, jika Ali datang dan dia berpandangan seperti kamu, keadaan akan menjadi baik.”

Lalu al-Qa`qa` pulang menemui Ali dan mencerita apa yang berlaku dan Ali amat gembira.

Aishah telah menulis surat kepada kepada Ali menyatakan beliau datang untuk tujuan perdamaian. Kemudian Ali menulis kepada Talhah dan al-Zubair: “Jika pendirian kamu berdua masih kekal seperti ketika al-Qa`qa` meninggalkan kamu berdua, maka tunggulah sehingga kami datang dan membincangkan perkara ini. Lalu mereka berdua menjawab: “Sesungguhnya kami masih lagi berpendirian seperti ketika al-Qa`qa` meninggalkan kami iaitu untuk berdamai.

Khalifah Ali menghebah berita perdamaian ini kepada kaum muslimin, namun terdapat golongan yang membenci situasi perdamaian ini terutamanya dari golongan Sabaiyyah.

Pertemuan Ali dan Aisyah
Khalifah Ali bersama tentera-tenteranya (sebagai langkah berjaga-jaga) menuju ke Basrah untuk tujuan perdamaian dengan Saiditina Aisyah. Malangnya kebanyakan tentera yang mengikut Ali adalah dikalangan pemberontak (dari golongan munafik Sabaiyyah) yang menyelinap di dalam tentera muslimin. Ramai sahabat tidak mahu serta dalam rombongan tersebut. Abu Musa dan anaknya, Hassan bin Ali telah menasihati Ali supaya jangan keluar kerana tindakan itu lebih membawa keburukan. Tetapi ijtihad Ali adalah untuk membawa keamanan.

Apabila kedua-dua pasukan saling berhadapan, Khalifah Ali berjumpa dengan Thalhah dan Zubair. Beliau mengimbas kembali akan saat manis ketika bersama Rasulullah s.a.w dan berperang melawan orang musyrikin. Aisyah, Zubair dan Talhah meminta Ali mencari pembunuh Uthman. Tetapi Ali dengan tegas menjelaskan dalam keadaan sekarang, permintaan itu adalah mustahil tanpa sokongan dan perpaduan umat Islam khususnya dari kalangan para sahabat. Malah bilangan pemberontak yang juga dari kalangan umat Islam sangat ramai di Madinah dan amat sukar mengenapasti siapakah pembunuh Uthman yang sebenar. Aisyah menyedari kesilapan mereka tidak berbai'ah kepada Ali dan memberitahu kepada rombongannya, mereka tersilap dalam hal ini dan mereka akan bersatu bersama Khalifah Ali untuk menguatkan kembali perpaduan umat Islam dan mencari pembunuh Uthman yang sebenar.

Menurut al-Imam Ibn Hazm rahimahullah (456H): “Dan adapun (pemergian) Ummul Mukminin (Aisyah), al-Zubair dan Thalhah radhiallahu 'anhum berserta orang-orang yang bersama mereka (ke Basrah), tidaklah mereka sedikit jua bertujuan membatalkan kekhalifahan Ali, mereka tidak mencabar jawatan tersebut, mereka tidak menyebut apa-apa kecacatan yang merendahkan beliau daripada jawatan tersebut, mereka tidak bertujuan mengangkat khalifah baru yang lain dan mereka tidak memperbaharui bai‘ah kepada sesiapa yang lain. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat diingkari oleh sesiapa jua dengan apa cara jua.”

Golongan Sabaiyyah berasa terancam dengan perdamaian tersebut. Pada malamnya, mereka merancang untuk melagakan kedua-dua pihak Ali dan Saiditina Aisyah. Jika umat Islam bersatu, pasti akan memudahkan tindakan diambil ke atas para pembunuh Uthman. Sekiranya umat Islam kekal berpecah, selagi itulah para pembunuh Uthman akan terselamat daripada apa-apa tindakan. Jika mereka tidak bertindak cepat, lambat laun tembelang mereka akan pecah, dan mereka pasti di qisaskan atau di hukum. Dianggarkan jumlah mereka menyelinap dalam tentera Ali ketika itu dikatakan mencecah 1,000-2,000 orang.

Mereka segera mengatur rancangan dan membuat keputusan bahawa satu kumpulan dari mereka akan berada di pihak Aishah manakala satu lagi kumpulan kekal di dalam pasukan Ali. Mereka akan bertindak secara senyap untuk mencetuskan kekacauan dengan saling menyerang di antara satu sama lain menyebabkan berlaku kekeliruan kepada kedua-dua belah pihak.

Berlakunya Perang
Sebelum subuh, golongan Sabaiyah menyerang pasukan Aisyah secara mengejut. Dalam suasana terperanjat daripada tidur, pasukan Aisyah menyangka bahawa tentera Ali telah berlaku khianat dan menyerang mereka.

Golongan Sabaiyyah disebelah pasukan Aisyah berteriak bahawa tentera Ali telah menyerang curi dan menipu mereka. Sebagai tindakan mempertahankan diri sendiri, mereka menyerang balas ke atas tentera Ali.

Golongan Sabaiyyah disebelah pasukan Ali pula berteriak bahawa rombongan Aisyah telah menyerang. Lalu Pasukan Ali menyangka pasukan Aisyah telah berlaku khianat dan menyerang mereka. Dengan itu mereka menyerang balas untuk mempertahankan diri. Tidak sesiapapun di kalangan mereka yang menyedari perkara sebenar yang terjadi. Disitulah bermulalah Perang Jamal sekali pun kedua-dua pihak pada asalnya tidak berniat untuk berperang.

Syaikh al-Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah (728H) meringkaskan detik-detik ini dalam satu perenggan: “Mereka (para pembunuh Uthman) menyerang khemah Thalhah dan al-Zubair. Lalu Thalhah dan al-Zubair menyangka bahawa Ali telah menyerang mereka, maka mereka menyerang kembali untuk mempertahankan diri. Seterusnya Ali pula menyangka bahawa mereka (Thalhah dan al-Zubair) menyerangnya, maka Ali menyerang kembali untuk mempertahankan diri. Maka berlakulah fitnah (peperangan) tanpa ia menjadi pilihan mereka (kedua-dua pihak). Manakala Aisyah radhiallahu 'anha hanya berada di atas pelana untanya, beliau tidak menyerang dan tidak memerintahkan serangan. Demikianlah yang diterangkan oleh tidak seorang daripada para ilmuan dalam bidang sejarah (Ahl al-Ma’rifat bi al-Akhbar).” [Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah fi Naqd Kalam al-Syi‘ah wa al-Qadariyyah (diteliti oleh M. Rasyad Salim; Muassasah Qurtubiyyah, 1986), jld. 4, ms. 317]

Al-Hafiz Ibn Katsir rahimahullah (774H) memperincikan detik-detik tercetusnya Perang Jamal: “Orang-orangpun merasa tenang lagi lega …… pada waktu malamnya kedua-dua pihak bermalam dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Akan tetapi para pembunuh Uthman melalui malam tersebut dalam keadaan yang seburuk-buruknya. Mereka berbincang dan bersepakat untuk mengobarkan peperangan pada awal pagi esoknya. Mereka bangun sebelum terbit fajar, jumlah mereka menghampiri seribu orang. Masing-masing kelompok bergabung dengan pasukannya lalu menyerang mereka (pasukan Aisyah) dengan pedang."

Tentera Ali berjaya menguasai peperangan tersebut kerana pada masa itu, pasukan Aishah tidak mempunyai kelengkapan yang mencukupi. Ini adalah kerana tujuan kedatangan mereka adalah bukan untuk berperang tetapi untuk mencari jalan perdamaian.

Dalam peperangan ini, Aisyah tidak melibatkan diri dalam medan pertempuran tetapi unta yang dinaiki Aisyah telah terbunuh tertusuk tombak. Lalu Aisyah terjatuh dari unta tersebut.

Pembunuhan Talhah dan Az-Zubair
Sewaktu pertempuran berlaku, Khalifah Ali sempat bertemu Zubair dan Talhah, katanya;

“Wahai Zubair, aku minta kau jawab kerana Allah!”

“Tidakkah engkau ingat, sewaktu Rasulullah menghampiri kita yang sedang berkumpul bersama, lalu beliau (Rasulullah) bersabda;

“Wahai Zubair, tidakkah engkau mengasihi Ali..”

Kemudian engkau menjawab “Kenapa pula aku tidak mengasihi saudara sepupuku, anak kepada ibu dan bapa saudaraku, serta se akidah denganku…”

Rasulullah bersabda lagi “Hai Zubair demi Allah, bila engkau memeranginya (Ali), jelas engkau telah berlaku zalim kepadanya…”

Sewaktu itu Zubair tersedar akan kesilapannya “Ya, sekarang aku ingat, hampir aku terlupa (sabda Rasulullah), demi Allah aku tidak akan memerangimu."

Talhah dan Zubair menarik diri dari perang saudara itu. Mereka mengundur diri setelah tahu kedudukan sebenar peperangan itu, tambahan pula apabila mereka terlihat Ammar bin Yasir berperang di pihak Ali. Mereka teringat sabda Rasulullah kepada Ammar “Yang akan membunuhmu ialah golongan yang derhaka…”

Bagaimanapun, Zubair diekori oleh Amru bin Jurmuz, lalu dibunuh sewaktu Zubair sedang solat, manakala Talhah dipanah/lembing oleh rakan sepasukan iaitu, Marwan bin Hakam, setelah mendapati Talhah mengundur diri dari berperang. Ketika itu Talhah berusia 63 tahun.

Ketika Ali nampak jasad Talhah yang terkorban, beliau turun dari kuda mengangkat mayat Talhah dan menangis sambil berkata “Semoga Allah merahmatimu Aba Muhammad, sesungguhnya aku berasa amat sedih melihat engkau dibunuh di bawah bintang di langit. Kalaulah aku mati dahulu tentu aku tak melihat peristiwa ini“.

Manakala Zubair menuju ke Wadi Suba’, tetapi di bunuh oleh Amir bin Jurmuz ketika solat. Si pembunuh juga membawa pedang Zubair bin Awwam yang dibunuh dengan gembira dan menyatakan mereka berjaya membunuh Zubair. Lalu Ali berteriak si pembunuh itu akan dibalas dengan api neraka. Ini adalah kerana Ali mendengar Rasulullah berkata dalam hadisnya yang menyatakan, berikan neraka kepada pembunuh Zubair. Zubair ini adalah penolong nabi. Rasulullah pernah berkata “Setiap nabi mempunyai seorang penolong, Zubair ini adalah penolongku“. Ali telah menyembahyangkan semua mayat dari kedua-dua tentera.

Ketika Ali menatap pedang Zubair beliau berkata“Demi Allah pedang ini sudah banyak berjasa, digunakan oleh pemiliknya (Zubair) untuk melindungi Rasulullah dari ancaman bahaya…”

KESAN PEPERANGAN

Peperangan ini membawa kepada kesedihan dan penyesalan di antara kedua-dua pihak. Mereka menyedari ditipu oleh golongan yang tidak menyokong perdamaian (golongan Sabaiyyah).

Saidina Hassan Bin Ali r.a pernah berkata kepada ayahnya,“ Wahai Ayah, telah aku nasihati mu, supaya engkau jangan menghantar tentera keluar.”

Aisyah juga dihantar pulang ke Madinah dengan dikawal oleh sepasukan wanita bersenjata lengkap. Khalifah Ali berpesan kepada tenteranya supaya tidak menjadikan peperangan ini seperti peperangan lain (dengan tentera musyrikin) kerana perang ini berlaku sesama kaum muslimin. Harta peperangan pihak Aishah tidak boleh dijadikan sebagai ghanimah. Mereka yang lari tidak boleh dikejar dan yang terbunuh hendaklah disemadikan sebagai seorang Islam.

Akibat daripada peperangan itu, penentangan terhadap Khalifah Ali semakin memuncak terutamanya dari Muawiyah biMengenali asal usul fahaman syiah 

Description: http://1.bp.blogspot.com/-a_E1O3WvTwQ/UgRsH336WFI/AAAAAAAAen0/IM7IH2AEDU8/s640/1003503_552525461449364_650168559_n.jpg